Logo Oneweb
Catatan NetArt

Dialog Seni dan Teknologi Digital

(Koran Tempo, 3 Juni 2002)


Percakapan ini telah tersimpan di laci digital saya cukup lama. Sebuah percakapan antara saya dengan Yayan Sofyan, Ketua Lingkungan Belajar dan Bekerja Mediakita (LBBM), yang baru saja meluncurkan dua buku elektroniknya, Membuat Musik Digital dengan ModPlug Tracker dan Riset Di Internet. Buku itu dibagi gratis lewat situs LBBM sesuai dengan misi lembaga itu yang bertujuan untuk menjembatani kesenjangan digital (digital divide) dalam masyarakat.

Saat itu saya berdiskusi dengan Yayan lewat Yahoo! Messenger--perangkat lunak milik portal terbesar dunia Yahoo! untuk berkomunikasi antarpengguna internet secara langsung--tentang sebuah tren yang kini tengah merambah dunia seni, net art namanya. Ini merupakan salah satu bentuk dari apa yang disebut media baru (new media) yang pada 21 Mei lalu didiskusikan sejumlah seniman pada sebuah seminar yang diadakan Subdit Seni Media Rekam, bagian baru di tubuh Direktorat Kesenian Deputi Bidang Pelestarian dan Pengembangan Budaya. Para pediskusi itu di antaranya seniman multimedia Krisna Murti, dosen senematografi IKJ Gotot Prakosa, dan dosen fotografi ISI Yogyakarta Surisman Marah.

Masih hangat pula dalam benak kita pada pertunjukan Music for Solo Performer (Soprano and Pre-recorded Multiple Voice) karya Tony Prabowo yang melibatkan video art karya Teguh Ostenrik di GoetheHaus, pertengahan Mei lalu. Di dunia internet, belum lama ini juga muncul perbincangan mengenai HyperMacbeth, sebuah net art karya terbaru seniman Italia, dlsan, yang ditampilkannya di HyperMacbeth.

HyperMacbeth memang meminjam Macbeth karya Shakespeare namun mencoba untuk mengubahnya ke medium baru. Karya dlsan itu menggabungkan musik elektronik dan grafis dan peletakan teks drama Macbeth secara random. Anda tak akan menemukan lagi rangka kisah Macbeth secara linier di sini. Bahkan sedari awal HyperMacbeth cuma dibuka dengan kalimat "The queen, my lord, is dead" yang setiap kata--bila Anda klik--akan mengantar ke teks random Macbeth atau suatu desain grafis.

Ada banyak bentuk dari media baru, dari video art, instalasi video, seni web, digital art, dan net art. Istilah terakhir ini pertama kali diperkenalkan seniman internet Italia, Vuk Cosic. Mulanya Cosic menggunakannya untuk menyebut karyanya pada Mei 1996 untuk sebuah konferensi "Net.art per se" di Trieste, Italia. Lalu jenis seni berkembang terutama di situs Net Time.

Media baru dengan jelas memanfaatkan teknologi digital. Tony Prabowo memanfaatkan media rekam. Teguh Ostenrik memanfaatkan slide. Cosic dan dlsan memanfaatkan internet. Yayan melihat bahwa perkembangan seni ketika bersentuhan dengan digital dapat dilihat dari dua hal, sebagai tool untuk berekspresi dan medium berekspresi.

"Sebagai tool, teknologi digital membuka kemungkinan-kemungkinan baru, memberikan peluang-peluang kepada orang atau seniman yang selama ini--katakanlah--punya kelemahan jadi terbantu," kata Yayan. Bila orang tidak mampu menggambar, ia cukup memotret dengan kamera digital lalu merekayasanya dengan software pengolah image. "Ini memperluas kemungkinan banyak orang terlibat dan bereksperimentasi dalam berkesenian. Seharusnya kemudian dunia kesenian menjadi mempunyai 'penduduk' yang lebih banyak dengan preferensi yang lebih beragam. Banyak orang yang terlibat sebagai kreator bukan cuma sebagai apresiator, " katanya.

Sebagai medium, teknologi digital memunculkan beberapa hal yang sebelumnya tak terpikir, seperti soal hak cipta, soal definisi orisinalitas. "Dua hal ini tiba-tiba menjadi tidak kompeten dibicarakan. Teknologi digital menjadi sesuatu yang berhak dimiliki oleh siapa pun. Tidak ada konsesi di medium ini," kata Yayan.

Di sini, menurut Yayan, kesenian juga mulai memasuki era open source, suatu istilah di dunia teknologi komputer di mana seorang programmer berbagi source aplikasinya sehingga bisa dikembangkan oleh orang lain. "Dalam medium digital, hampir tidak dimungkinkan ada apa yang disebut proteksi. Apa yang disebut orisinalitas hanyalah dunia digital itu sendiri. 1 0 0 1 dan seterusnya. Selebihnya adalah proses kolaborasi, interaksi antara satu gagasan dengan gagasan lain, satu orang dengan orang lain, satu sentuhan dengan sentuhan lain," katanya.

Teknologi sebagai medium ini membuka kemungkinan orang untuk berkolaborasi secara lebih luas dan terbuka yang terlihat pada net art. Yayan melukisakannya demikian: aku melukis secara digital sebuah bentuk kepala manusia, lalu kamu bisa menambahkan bentuk badan sapi di situ, jadilah sebuah karya bersama. Datang lagi si Z. Dia mengubah karya kita berdua tadi menjadi sebuah movie yang penuh animasi. Jadilah karya kita bertiga. Datang si Kus, diberinya musik, sesuai dengan interpretasi dan ekspresi dia. Jadilah karya berempat. Begitu terus.

Ketika kolaborasi terjadi inilah yang namanya orisinalitas dan keutuhan suatu karya harus dilihat dengan pendekatan berbeda. Pada pertunjukan Tony Prabowo dan Teguh Ostenrik beberapa waktu lalu, ada persoalan kolaborasi ini telah mencuat. Kita belum bisa membayangkan bagaimana bila kolaborasi itu berkembang lebih jauh. Misalkan bagaimana bila dlsan terlibat dan membuat sebuah karya seni web yang suara dan gambarnya bersumber dari Tony dan Teguh. Kesenian pada titik menawarkan ruang-ruang baru yang terbuka dan siap disikapi. (Kurniawan)


Lihat siapa pengunjung situs ini.