Logo Oneweb
Catatan Seni Rupa

Biennale XI: Prestise Ketika Dana Cupet
Biennale XI digelar di tengah situasi krisis. Untungnya, bisa disiasati.

Siapa maestro seni rupa Indonesia kini? Setelah era moi Indie, seni rupa Persagi, era Kemerdekaan, dan gebrakan Seni Rupa Baru di masa Orba, dunia seni rupa terus bergolak. Terutama bagian terakhir pergolakan itu, dapat disaksikan dalam Biennale XI di Galeri Cipta I dan II Taman Ismail Marzuki, Jakarta, yang menjadi salah satu menu Festival November 1998 untuk peringatan 30 tahun TIM, dengan tema "Evaluasi Perkembangan Seni Lukis Indonesia 1974-1978".

Biennale—pertama kali digelar 1974—ini adalah simbol prestis kesenian Indonesia. Hanya karya-karya para seniman tertentu saja yang layak digelar di sini. Hampir seratus lukisan dipamerkan. Yang jelas ruang Galeri Cipta I dan II (ditambah ruang Planetarium di kompleks TIM dipinjam juga) penuh lukisan berbagai ukuran. Maka terbentanglah karya-karya Bagong Kussudiardjo, Rudi Isbandi, Amang Rahman, Popo Iskandar dan lain-lain.

Goresan (brush stroke) mereka umumnya piawai. Kalau mau sok berteori, maka impresionisme (dalam berbagai rantingnya termasuk surealisme dan ekspresionisme) dan realisme, terutama neo-realisme, mendominasi kecenderungan estetik mereka.

Seperti Yang Tumbuh Kembali pada Musimnya dan Masih Pagi Terlalu (1993) karya Rudi Isbandi. Wajah Simpanan dan Wajah kenangan (1998) karya Aming Prayitno. Pintu Dua (1997) dan Pesta Kawin di desa (1997) karya SA Jatimanyu. Mereka mungkin mewakili impresionisme ini.

Pemandangan di Tepi Trotoar dan Menanti Sahabat (1998) karya Melodia dan karya Dede Eri Supria, Di antara Pintu Gerbang mewakili neo-realisme (realisme fotografis). Nah, ini orang dengan gampang menangkap objeknya lantaran sangat jelas, mirip cetakan foto.

Ekspresionisme Nyoman Gunarsa dalam Penari Bali I dan Penari Bali II (1998) atau Kartika Affandi yang meneruskan tradisi sang ayah, Affandi, Terbelenggu (1997) dan Potret Diri (1998) membawa orang cukup mengernyitkan dahi.

Tapi kita agak ngeh pada karya-karya realisme semacam Black Periode I dan Black Periode II (1998) karya Dan Hisman yang kontekstual. Lukisannya langsung mengingatkan kita pada peristiwa 12 Mei lalu dengan kasus perkosaannya. Dan kita agak terhibur dan damai menyaksikan lukisan AD Pirous Ketika Cahaya Itu Berbunyi: Iqra... dan Katanya Pohon Beringin Juga Tumbuh di Sorga (1997/1998) atau karya Amang Rahman, Antara Kayu Tanam-Bukit Tinggi dan Sesudah Cangar-Sebelum Lasi (1997/1998).

Dari sini harus diakui bahwa seni rupa Indonesia tak pernah mati. Para perupa terus lahir dan karya-karyanya terus bermunculan. Galeri-galeri terus bertambah banyak dan jadwal pameran memadati agenda-agenda berita kesenian. Namun bagaimana perkembangannya sekarang sebenarnya?

Banyaknya galeri dan pameran lebih menyiratkan makin gencarnya pasar seni lukis Indonesia ketimbang perdebatan sengit soal keindahan sebuah lukisan dan kemajuan seni lukis. Bukankah pusat kesenian tidak lagi di Paris tapi di New York seperti kisah Pepi, tokoh Charles Dickens dalam Great Expectation?

Kenyataannya seni lukis telah menjadi komiditi luar biasa berharga, terbukti dari bersemangatnya rumah-rumah lelang meminatinya. Bukankah Rumah Lelang Sotheby cabang Singapura dianggap penyelamat Panitia Biennale XI ketika krisis moneter Indonesia dipastikan tak akan mampu menalangi penyelenggaraan Biennale.

Total pelelangan mencapai Rp 70 juta. Setengahnya saja sudah lebih dari cukup dari dana yang dibutuhkan. Sisanya bisa ditutupi dari lelang lukisan Biennale X, 1996 lalu, plus berbagai sponsor. Nah, optimislah panitia untuk menggelar Biennale XI dan sebagian seniman cukup senang dengan hasil yang diraup di tengah cekikan krisis sekarang ini.

Toh di luar itu, perdebatan tentang konsep berkesenian tetap mengedepan. Pelukis otodidak dari Surabaya, Rudi Isbandi, menganggap bahwa seni lukis Indonesia akhir-akhir ini cenderung tanpa muatan intuitif sehingga matirasa. Pendapatnya ini disampaikan dalam seminar di arena Biennale XI pada hari Rabu (11/11) bersama beberapa pengamat seni lain seperti Jean Couteau (Bali), M. Sulebar Soekarman (Jakarta), Mamannoor (Bandung), Suwarno Wisetrotomo (Yogyakarta), dan Tommy F. Awuy dan Chandra Andre sebagai pembanding. Tentu saja berbagai pendapat bermunculan.

Namun pendapat Isbandi ini seperti mengulang makalah yang pernah ditulis almarhum pelukis S. Sudjojono menjelang akhir hayatnya di tahun 1985 silam. ''Kalau randu alas tumbuh macam randu, nyiur keluar macam pohon kelapa, mawar dan widuri mekar sehat bagus disinari matahari, dan tidak bewarna-warni berkilat bagus, licin, dingin, sebab barang tiruan dari plastik, maka baru kita bilang: rennaissance Indonesia telah datang. Ini tugas seniman. Saudara-saudara boleh pilih! Saudara seniman dalam artikata sebenarnya atau cuma pelukis musiman,'' kata pelukis gaek itu. (kurniawan)


Lihat siapa pengunjung situs ini.