Pameran pelukis jalanan digelar Mal Taman Anggrek. Harga lukisannya sangat murah, meski kualitasnya patut diperhitungkan. Nasib seniman begini memang masih murung.
Ruang di sebelah counter Levi's di Mal Taman Anggrek yang biasa dipakai pameran komoditi impor, 25 November - 6 Desember lalu kosong. Yang ada cuma dinding penuh lukisan. Di tempat itu, Departemen Seni dan Kebudayaan menggelar Lomba Seni Lukis dan Bursa Pelukis Jalanan.
Pada kesempatan itu ditawarkan 296 lukisan karya 67 pelukis asal Yogyakarta, Solo, dan Bandung. Enam karya yang memenangkan lomba lukis, seperti lukisan Perang Saudara karya Edi Dolan (Bandung) dan Jendela Negeriku karya Johar Wahyu (juara kedua).
Para kolektor yang biasa menyambangi galeri atau rumah lelang mahal seperti Southeby atau Cristie's pasti akan tercengang. Soalnya, harga-harga tertinggi lukisan di pameran cuma Rp 900 ribu. Mungkin karena itu, sampai Kamis lalu, terjual 62 lukisan.
Kurator pameran, Merwan Yusuf, sebenarnya tak setuju dengan harga semurah itu. ''Tidak adil. harga itu cuma sepersepuluh nilai sebenarnya,'' ujar alumni Ecole Nationale Superiore de Beaux-arts Paris ini. Tapi itulah harga yang ditentukan oleh para pelukisnya.
Penilaian tinggi sering dikaitkan dengan spekulasi di bursa lukisan yang memang tak jelas parameternya. Namun para pelukis jalanan ini tak pongah memasang harga tinggi. Beberapa ratus ribu yang bisa masuk ke kantongnya saja sudah cukup menggembirakan. Setidaknya bisa menutupi ongkos pulang dan belanja buat orang rumah.
Merwan, yang juga kurator Museum Istiqlal, menilai karya-karya mereka cukup berkualitas, kendati tak didukung muatan akademik yang cukup. ''Mereka adalah pelukis-pelukis serius yang menghabiskan waktunya di studio,'' katanya. Sapuan kuas mereka, kata Merwan, memperlihatkan intensitas mereka di studio atau sanggar. Toh, ''Mereka masih perlu masukan,'' ujar Merwan.
Berikutnya, Merwan mencontohkan metafor-metafor yang orisinal dan membumi dari para pelukis itu. ''Lihat saja penggunaan wayang seperti karya Edi Dolan. Simbol itu ada di tengah-tengah kita tapi tidak digunakan pelukis lain,'' katanya.
Lukisan-lukisan Edi, juga Deddy Holiq, banyak menggunakan metafor wayang. Warna-warnanya pekat dan terang dalam kontras yang keras. Profil wayang kulit dan wayang golek dengan enak digabungkannya dalam satu bingkai. Formatnya pun tak melulu standar empat persegi, tapi juga bisa belah ketupat.
Sebagian besar karya yang dipamerkan memang mengekspresikan situasi sosial politik terkini dengan berbagai gaya; realistik, surealistik, bahkan kubistik. Kalau tak ada tajuk "pelukis jalanan" dalam pameran ini, tak mudah untuk menyimpulkan bahwa inilah karya-karya yang mereka bikin di gang-gang kumuh atau studio gedhek.
Wajar bila organizing committee Rosma Towidjojo Nugroho sangat empati terhadap mereka. Apalagi dia tahu para kolektor sering membeli dan menjualnya kembali dengan harga berlipat. ''Ironisnya lagi, nama pelukisnya sudah diganti,'' tandas pemilik Ross Fine Arts di kawasan Tebet Utara ini.
Nasib mereka memang terkucilkan oleh permainan bursa lukisan, sementara ruang untuk berkiprah masih sempit. Jalanan jelas tak memadai bagi karena mereka sering dikejar-kejar Tibum. Perasaan tertekan dari tindakan itu seperti terekam pada sebagian karya.
''Selama ini mereka hanya diberi ruang di Pasar Seni, tapi kesempatan itu terbatas. Harusnya mereka punya ruang yang lebih luas dan relatif permanen untuk memamerkan karyanya seperti taman-taman di Paris itu,'' Rosma berharap. Persoalannya sampai sekarang ruang itu belum ada. Trotoar Malioboro Yogyakarta, misalnya, terlalu sempit untuk berpameran. Padahal, mereka hanya butuh sebuah tenda dan kebebasan dari gangguan Tibum. Itu saja. (kurniawan)
Gerbong Pemberontak dari Bandung
Siapa pun mungkin tak mengira kalau Jitno, ayah empat anak berpostur kecil dan suka jualan lukisan di Jl. Asia Afrika, Bandung itu lulusan Akademi Akuntansi Bandung serta mengajar seni rupa di IKIP Bandung.
Dia adalah satu dari sekian pelukis, ada Ating ASG, Dede Ginanjar, Deddy Holiq dan pelukis jalanan lainnya yang tergabung dalam Sanggar Gerbong yang berdiri 1988. ''Awalnya kami memang total jalanan,'' ujar Jitno.
Di kelompok itu, mereka belajar bersama. Mereka belajar dari apa saja, buku, diskusi, atau pengamat seni rupa. Mulai dari melukis sketsa sampai pembuatan konsep. Mereka berpameran di berbagai tempat, bahkan berani melakukan bedah karya di hadapan akademisi seni rupa.
''Mereka diikat kebersamaan cita-cita dan kondisi hidup yang getir,'' komentar Merwan. Tak mengherankan, lukisan mereka memantulkan pemberontakan dan kegetiran. ''Saya seperti terobsesi oleh ketidakberdayaan setiap kali melukis,'' kata Jitno. Ekspresi wajah manusia di hampir semua lukisan Jitno memang kuyu dengan ujung mata bagian luar tertarik ke bawah.
Maka bila berperilaku agak menggegerkan, itu cerminan pemberontakan mereka. Kalau tak suka ITB, mereka akan menginjak-injak Gedung ITB sambil membacakan sajak-sajak protes. Ketika merasa tidak ditampung dalam Pekan Seni Rupa Asean di Bandung beberapa tahun lalu, mereka protes dengan mengusung lukisan-lukisannya dan digelar di alun-alun.
Ketidaksukaannya pada formalitas dijawab dengan pameran terbesar mereka tahun 1992. Pameran bertajuk "Menguak Tabir Rupa" di gedung Yayasan Pusat Kesenian (YPK) itu dibuka oleh tukang bajigur. Konsep hakekat seni rupa yang dibahas bermalam-malam itu diekspresikan dalam deretan karya mereka. Sebagai sebuah gerakan mereka mengaku mencoba mencari bentuk sebenarnya seni rupa Indonesia. ''Kami coba misalnya dengan simbol-simbol wayang,'' kata Deddy Holiq.
Toh, sebagai perupa jalanan, melukis untuk makan bukan hal yang tabu mereka akui. Sehingga mereka pun tak segan untuk melukis kartu lebaran meski mereka punya idealisme berkesenian. ''Setiap lebaran kami panen besar,'' tukas Jitno. Pada lebaran mendatang, cobalah anda jumpai mereka di sepanjang trotoar Jl. Asia Afrika. Dengan ramah mereka akan membuatkan kartu lebaran untuk anda, pembaca. (kurniawan)