Pematung Nyoman Nuarta pernah sesumbar proyek Garuda Wisnu Kencana tahan resesi ekonomi. Ternyata tidak.
Mimpi besar masyarakat Bali untuk memiliki landmark di pulau mereka tampaknya belum akan segera terwujud. Proyek Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) yang bakal menjadi landmark Bali tersendat akibat krisis moneter.
''Saya tidak menyangka, krisis akan separah ini. Harga-harga naik secara fantastis, tidak masuk akal,'' ujar Nyoman Nuarta, pematung yang memimpin proyek GWK. Itu pernyataan baru Nyoman yang sempat berujar bahwa proyeknya tak akan terganggu oleh resesi, ketika sejumlah perusahaan besar mulai rontok.
Optimisme Nyoman, dulu, sebenarnya cukup beralasan. Sebab, 80 persen bahan proyek itumenurut penuturan Nyomanberasal dari dalam negeri. Karenanya, ia tak gentar oleh krisis. Dan ia juga tak surut ketika api melalap sebagian proyek hingga menelan kerugian sekitar Rp 400 juta, Oktober tahun lalu.
Namun ketika kurs rupiah makin tak terkendali, optimisme Nyoman mulai tampak tak realistis. Dan meski sudah berusaha maju terus, upayanya tak bertahan lama. Setelah kurs dolar melampaui Rp 7.000, langkanya makin berat dam akhirnya berhenti keitika sedolar sama dengan Rp 14.000.
Pada situasi itu, harga tembaga yang menjadi bahan utama pembuatan patung melonjak-lonjak 4-5 kali lipat. Sementara ini Nyoman memang masih memiiki stok dari pembelian saat masih murah dulu. Namun kelak, untuk merampungkan GWK yang baru 30 persen selesai, ia masih memerlukan tembaga lebih dari 1.000 lempeng.
Kenaikan harga itu saja sudah membuat kebutuhan untuk membeli tembaga sulit dikalkulasi. Apalagi bahan-bahan las seperti logam kuningan, acetylene, dan oksigen, sulit didapat. Selain harganya selangit, bahan-bahan itu kini langka di pasar. Jika diteruskan, dana Rp 80 miliar yag dianggarkan untuk proyek itu kini memang jauh dari cukup. ''Karena itu, sejak empat bulan lalu, pembuatan patung GWK terhambat,'' katanya.
Tidak total, sih. Sekitar 150 orang anak buah Nyoman di studionya di Jl. Tirtasari Selatan, Bandung, Jawa Barat, tampak mash bekerja. ''Modelingnya terus kami kerjakan. Nanti kalau situasi telah stabil, tinggal mengelaskan tembaga,'' tambah Komang, panggilan akrab pematung kondang jebolan ITB itu.
Pembuatan patung GWK di Bandung, tadinya dimaksudkan juga untuk menghemat biayakarena bahan baku pembuatannya banyak terdapat di sekitar Bandung. Patung itu pun dibuat secara terpisah-pisahsetidaknya ada 6.000 bagian yang nantinya akan dirakit di Bali.
Jika sudah berdiri nanti, patung ini akan memiliki tinggi 70 meter dan lebar 65 meter, menghadap ke Gunung Agung. Sebuah penyangga beton 55 meter, akan menjadi alasnya, sehingga GWK akan lebih tinggi daripada Patung Liberty di kota New York, AS, yang 'cuma' 93 meter. Ia akan terlihat mencorong dari Bandara Ngurah Rai, kawasan wisata Kuta, Sanur, Nusa Dua, Benoa, Tanah Lot, atau Jimbaran.
Bukan sekadar berisi patung yang cuma bisa dilihat, GWK dirancang sebagai sebuah kompleks wisata yang dikelola secara komersial dan dilengkapi berbagai fasilitas; museum karya seni, amphiteater, dan perpustakaan.
Sejak semula, Nyoman mengakui, proyek GWK memang sering terbentur-bentur masalah dana. ''Bukan karena krisis saja proyek ini tersendat-sendat,'' ujarnya, ''dan bank hanya tertarik membiayai real estate yang sekarang ambruk. Mereka tidak mengerti proyek wisata yang bisa menghasilkan duit,'' keluh Nyoman.
Anggaran yang dulu dibuat untuk proyek GWKuntuk pembuatan patung plus lanskapnyasekitar Rp 300 miliar. Namun, dana sebesar itu tak pernah bisa dipenuhi. Pemerintah, ternyata tidak bisa membantu secara penuh. Bahkan, kutipan Menparpostel Joop Ave sebesar Rp 30 miliar dari BUMN untuk menyuntik proyek GWK sempat menjadi gunjingan orang.
Gunjingan soal itu menjadikan proyek yang ditangani Nyoman tak populer. Padahal, tanpa itu pun ia pernah dituding hendak membuat mercusuar yang mubazir. Dan kalangan adat dan agama Hindu Bali sempat menyoal profil dan peletakan patung GWK. Namun, Nyoman berhasil menjelaskan 'tujuan mulia' proyek yang direstui Presiden Soeharto waktu itu.
Sementara modelling tetap dikerjakan di Bandung, pematangan lahan pancang patung GWK terus berjalan di Bukit Balangan, Ungasan, Bali. Sekitar 3 juta meter kubik deposit berupa marmer muda, kapur dan tanah biasa, yang mesti dikeruk dari atas tanah seluas 80 hektar.
Tapi, itu pun tak mulus. Pemerintah, yang menguasai sebagian lahan tak produktif itu, minta harga tebus dua kali lipat dibanding harga yang wajar. ''Padahal proyek ini untuk kepentingan bangsa dan negara,'' ungkap Nyoman, kelahiran Tabanan Bali, 14 Oktober 1951. (asep nurzaman)
Mimpi Amal Nyoman Nuarta
Nyoman sempat merogoh kocek perusahaannya sendiri, PT Nyoman Nuarta Enterprise (NEE), sebesar Rp 7 miliar, supaya mega proyeknya itu tetap jalan. Kemudian, ia pun nyaris mendapat suntikan dana dari sejumlah pengusaha nasional. Namun sial. Lagi-lagi, badai krisis membuat bantuan itu menguap sebelum cair.
Bagi seniman yang sudah mencipta sekitar 100 patung bernilai seni dan bernilai jual tinggi itu, proyek GWK seperti ladang amal. Rupanya, motif dia bukan menomorsatukan perolehan untung. Ia tidak buru-buru mamatok tarif untuk karya besarnya tersebut. Yang penting, ia bisa memberikan warisan budaya yang berharga bagi anak cucu bangsa. ''Kedengarannya memang klise,'' katanya. Tapi, itulah Nyoman, yang sudah hidup makmur dari mematung.
Proyek budayabegitu Nyoman menyebut GWKakan dilengkapi diorama perkembangan Bali dari masa ke masa. Semua itu akan terukir dalam perut patung seluas 100 x 100 meter, dengan tinggi tiga lantai. Jadi, bukan saja bisa menikmati amphitheater dan sebagainya, pengunjung pun bisa masuk ke perut patung sampai bisa menyentuh bagian dalam dada garuda.
Itulah mimpi Nyoman. Dari ruang dalam patung itu, pengunjung dapat melempar pandang ke panorama alam di sekitar GWK. Kicau burung, hijau pepohonan, danau yang jernih, dan taman yang indahseperti tergambar dalam maketakan mengundang decak kagum. Kita pun bisa menyaksikan kehebatan konstruksi baja penyangga patung. ''Saya perkirakan setiap tahunnya proyek ini akan dikunjungi sekitar empat juta orang,'' ujarnya optimis.
Bisa jadi. Karena, sejak rencana proyek ini dikumandangkan, sudah banyak orang tertarik untuk berkomentar. Baik yang mengeritik, mengecam, dan memuji. Ketika pembangunannya dimulai, kalangan seniman, arsitektur dalam dan luar negeri penasaran untuk melihat teknis rancang bangunnya. Nah, apalagi kalau sudah jadi nanti.
Tapi itu tadi, mewujudkan mimpi besar itu tidak gampang. Satu kendala terlewati, kendala lain menghadang. Bagusnya, Nyoman nampak rileks mengahdapi semua itu. ''Saya sudah terbiasa menghadapi kondisi pahit,'' kilahnya.
Maka, Nyoman pun kini dapat menghibur diri dengan mengerjakan pesanan proyek sejumlah patung dari orang Singapura, Ingris dan beberapa negara lain. ''Saya juga sedang siap-siap untuk mengikuti sayembara patung di singapura,'' katanya. Dari hasil semua itu, mungkin Nyoman bisa merogoh saku lebih dalam lagi untuk merampungkan proyek GWK. (asep nurzaman)
Nyoman Nuarta: Wisata Bali tidak Adil
Kenapa pembuatan GWK ditangguhkan?
Biaya yang mesti dikeluarkan melebihi anggaran. Kalau kita paksakan perusahaan bisa ambruk. Tapi modeling-nya tetap jalan. Bagian-bagian yang sulit sudah selesai.
Dulu Anda pernah bilang proyek ini tahan resesi?
Kita tidak menyangka harga naik tidak masuk akal. Semula kami menduga naiknya paling tinggi 20 persen. Akal sehat kita itu tidak membayangkan separah ini. Sekarang, kita masih mencoba bertahan untuk tidak melakukan PHK. Dan saya sendiri tidak minta pembayaran sekarang. Yang penting ada uang produksi dan menggaji pegawai.
Sayang memang. Bank-bank kita tidak mau bantu. Padahal, ekonomi Indonesia akan sangat terbantu oleh pariwisata Bali. Dalam enam bulan terakhir, pulau itu dikunjungi hampir 2 juta turis. Tapi pemerintah tak mau percaya.
Apa yang memotivasi Anda menjalankan proyek Patung GWK?
Tujuh puluh persen wisata Bali adalah wisata budaya. Artinya, seluruh masyarakat Bali adalah masyarakat budaya. Mereka membangunnya dengan uang sendiri. Sekarang memetik hasilnya adalah pemilik hotel, biro perjalanan, restoran dan galeri yang merasa cukup berpartisipasi dengan membayar pajak. Sedangkan pelaku budaya yang sebenarnya malah mungkin tidak dapat apa-apa selain kebanggaan.
Saya kira ini tidak adil. Jika setahun Bali dikunjungi 2 juta turis, kita bisa bayangkan berapa uang yang berputar di sana. Tapi, saya tidak mendengar ada sumbangan berarti bagi masyarakat budaya Bali. Karenanya, saya usulkan ada semacam public domain, hak cipta masyarakat ini harus dihargai dan dikompensasi dengan royalti.
Dana royalti itu bisa dipakai untuk memberi beasiswa, membangun galeri, perpustakaan, dan memperbaiki kesejahteraan masyarakat setempat.
Tapi GWK sempat mengundang protes masyarakat Bali.
Ya, dari sebagian orang yang ternyata bukan orang Bali. Mereka merasa cinta Bali tapi tidak mengerti sepenuhnya. Tapi mereka bicara melalui orang Bali. Setelah saya jelaskan, akhirnya semua bisa menerima rencana itu. (asep nurzaman)