Ini seperti harapanmu: kosong
seperti sorgamu: kosong
seperti idolamu: kosong
seperti politikusmu: kosong
seperti pahlawanmu: kosong
seperti senimanmu: kosong
seperti agamamu: kosong
(Manifesto Dada Kanibal Francis Picabia dibacakan pada Dada soiree at the Thatre de la Maison de l'Oeuvre, Paris, 27 Maret 1920)
MANIFESTO yang dicanangkan penyair Dada dari Prancis, Francis Picabia, ini seakan mewakili kecamuk gagasan dan emosi kaum Dada pada masanya. Kecamuk itu tidaklah padam meskipun puluhan tahun telah berlalu dari mula gerakan yang menggugat teknologi yang tak manusiawi dan penderitaan Perang Dunia I. Mereka juga menggugat nilai-nilai masyarakat yang mereka refleksikan sebagai kekosongan.
Kekosongan itu tercermin dalam karya-karya mereka yang mereka klaim sebagai antiestetik dan nihilis. Kekosongan itu tampil dalam bentuk karya-karya kolase seniman Dada Jerman, Hannah Hoch, pada pameran Mesin/Anti-Mesin di Galeri I See, Gedung Pusat Kebudayaan Polandia, Jl Diponegoro, Jakarta. Pameran ini menggelar karya Hannah dan Ray Bachtiar dan berlangsung 21 Juni hingga 15 Juli. Ray, seperti Hannah, adalah perupa Indonesia yang mengembangkan teknik kolase.
Pada Children karya Hannah, misalnya, ditampilkan sepotong wajah anak kecil tampak tak simetris. Mata dan mulutnya terlihat berbeda warna dan ukuran dengan pipi dan keningnya. Ia nampak melotot dan menguap dengan ekspresi aneh. Kekosongan itulah yang dikejar dalam ekspresi dan bentuk yang mengabaikan aturan baku estetika formal.
Pada pameran ini ada 32 foto kolase Hannah yang dipamerkan. Di sana, kita bisa menyaksikan perkembangan teknik dan tema Hannah. Di rentang tahun 1920 sampai 1940-an, Hannah terlihat banyak mengeksplorasi tubuh manusia. Ini terlihat dalam Love, Flight, Der Melancholiker, English Dancer, Made for a Party, dan Strong-armed Men.
Strong-armed Men (1931) seolah menyindir kekuatan fisik lelaki. Begitu juga dalam Balance. Hannah memperlihatkan keseimbangan yang satir tentang sebuah tubuh gadis kecil, berkepala lelaki dewasa, yang ditopang tangan sebuah tubuh berkepala lelaki berukuran besar.
Di periode 1940-an sampai awal 1950-an, kritik Hannah jadi lebih rumit. Hungarian Rhapsody, Dream Night, dan Silk Tail memperlihatkan gaya abstrak yang mulai mempengaruhi karya satu-satunya seniman perempuan dalam aliran Dada ini. Dalam Dream Night, Hannah seolah menghadirkan alam bawah sadar dengan menempelkan gambar bunga anggrek kalajengking di atas pentolan kepala jamur. Warna dasar foto yang hitam suram, semakin memperkuat kesan mimpi.
Menginjak periode setelah 1950-an, karya Hannah lebih berwarna. Ini terlihat dalam Composition in Grey, Epic, Totem Pole, Burst Unity, On with the Party, dan Strange Beauty. Gaya abstraknya juga terlihat lebih matang. Dalam Composition in Grey, Hannah mulai mengeksplorasi bahan selain kertas.
Hannah menggunakan benang warna kuning, untuk mengkelok-kelokkan sebuah gambar abu-abu yang tak jelas obyeknya. Pemilihan bahan dan warna yang bervariasi nampak juga dalam Burst Unity yang sekilas menyerupai bentuk bunga.
Ketelitian Hannah dalam mengeskplorasi bahan-bahan yang terkesan njlimet ini dinilai pengamat fotografi Yudhi Irawan Soeryoatmodjo cukup mengagumkan. "Dengan materi tersebut, terlihat pravisualisasi Hannah sangat matang," kata Yudi.
Pravisualisasi ini dinilai Yudi cukup penting, karena dari situ akan terlihat bagaimana eksekusi dari seorang fotografer kolase terhadap obyeknya. "Terlihat sekali dia cukup banyak melakukan perencanaan," ujar Yudi.
Hannah, seperti kebanyakan seniman Dada Jerman sezaman, menggunakan teknik kolase yang dipinjamnya dari trik tukang foto tentara Prussia. "Tapi, tujuan estetiknya, jika ada, dari jenis montase foto primitif ini adalah untuk mengidealkan kenyataan, ketika foto Dada menyusunnya untuk memberikan sesuatu yang secara keseluruhan membuat tak nyata semua penampakan dari sesuatu yang nyata yang sebenarnya telah dipotret," kata Hannah suatu kali mengenai teknik ini.
Bersama Raoul Haussman, yang kemudian menjadi teman hidupnya, Hannah Hoch, dan juga John Heartfield mendirikan kelompok Dada-Berlin, tahun 1917. Karya-karyanya banyak mengkritik tingkah laku politisi dan juga merefleksikan modernisasi di masyarakat Jerman pada pemerintahan Republik Weimar. Ia juga sering mempercandakan hubungan antar jenis kelamin secara ironis, dengan mempresentasikan lelaki secara teknik, dan wanita secara organis. Lewat pencampuran tubuh manusia, ia juga banyak mempertanyakan masalah gender.
Meninggal pada 1978, Hannah ternyata masih menyimpan keinginan untuk menjadi wanita yang berkeluarga, di tengah komitmennya untuk tetap berkesenian bersama Raoul tanpa batasan pernikahan. "Inilah yang membuat karya-karyanya banyak juga yang mengungkapkan keinginannya untuk mempunyai seorang anak," kata Yudi. Dan di Galeri I See, foto-foto tua Hannah yang bernilai tinggi (sekitar Rp 28 juta sampai Rp 360 juta), itu masih menyimpan keinginan dan pendapatnya tentang manusia dan dirinya sendiri.
f.dewi ria utari/kurniawan
Pisau Kertas pada Kamus Prancis-Jerman
Dalam Encyclopedia Britannica, Dada disebut sebagai gerakan nihilistik dalam seni yang menyebar dari Zurich, Swiss, di awal abad ke-20. Tak ada definisi tuntas tentang apa gerakan ini. Namun, secara umum, pembicaraan seputar Dada mengacu pada Cabaret (Café) Voltaire Hugo Ball, di Zurich, saat terjadi pertemuan seniman di tahun 1916 oleh sekelompok seniman muda dan pembangkang perang.
Saat itu, sebuah pisau kertas disisipkan pada kamus Prancis-Jerman yang menunjuk pada kata "dada". Kata ini dipahami oleh kelompok tersebut sebagai istilah yang tepat bagi kreasi antiestetika dan simbol kemuakan atas nilai-nilai borjuasi dan kekalahan Perang Dunia I. Pencirian lain lewat karya anggotanya, Marcel Duchamp. Pada 1913, Duchamp menciptakan karya (sekarang sudah hilang), Roda Sepeda, yang terdiri dari sebuah roda yang dipasang pada bangku tanpa sandaran.
Ketika Dada menyebar ke Jerman, Hannah Hoch bersama Raul Haussmann, Johannes Baader, John Heartfield, dan George Grosz mulai membangun gerakan Dada di Berlin. Hannah terlahir di Gotha, Thuringen, Jerman, pada 1889, dan mulai jadi seniman di usia 23 tahun dengan meninggalkan keluarga dan kotanya untuk mempelajari seni lukis di Berlin. Bagi Hannah, Dada merupakan pilihannya dalam berkesenian. Ia menggunakan prinsip Dada untuk mengkritik politik dan kecenderungan masyarakat Jerman terhadap modernisasi pada masa Republik Weimar dan gambarannya tentang wanita di media massa pada jaman itu.
Di masa pemerintahan Hitler, Hannah tetap tinggal di Jerman dan hidup di sebuah rumah kecil di Berlin-Heiligensee. Padahal, seniman lainnya banyak yang hijrah ke luar negeri. Di rumah kecilnya itu, Hannah bercocok tanam sendiri di kebunnya ketika bahan makanan sangat langka saat itu. Karya-karya fotonya disembunyikannya di kotak besi yang dikubur di halaman rumahnya. Saat terjadi penggeledehan, karya seninya bersama karya Kurt Schwitter, Grosz, dan Heartfield berhasil diselamatkan.
Usai Perang Dunia II, Hannah menjadi satu-satunya seniman yang bisa memamerkan karyanya dalam satu galeri dan menjadi satu-satunya karya montase foto terlengkap di Jerman. Sampai kematiannya pada 1978, Hannah tetap bertahan menerapkan Dada, tidak hanya dalam fotonya tapi juga dalam lukisan.
kurniawan/f.dewi ria utari