Logo Oneweb
Catatan Seni Rupa

Membayangkan Nashar

(Suplemen Ruang Baca Koran Tempo, 26 Agustus 2002)

"Membuka kembali tiap-tiap lembar kehidupan itu mempunyai mempunyai rasa kenikmatan tersendiri"
(Nashar)

Kepada Nashar, kawanku yang tak kukenal.

Ada seorang pelukis bernama Nashar. Kabarnya dia lahir di Pariaman, Sumatera Barat pada 1928 dan meninggal di Jakarta pada 13 April 1994. Dia adalah legenda yang nyaris sempurna untuk seorang pelukis: lahir dalam didikan seorang ayah yang keras, dibesarkan dalam kelaparan dan penderitaan, dan jadi perupa ternama di penggalan akhir hidupnya.

Dia senang menulis catatan harian di kertas apa saja yang suka dikantonginya. Dia melakukannya karena, "Aku hanya senang mengontrol pengalamanku sendiri atau tidak untuk apa-apa. Atau mungkin juga begini: keinginan selalu timbul untuk mengerti apa-apa yang dialami dan diketahui, dari hal-hal yang kecil sekalipun."

Mengendalikan pengalaman berarti mengerti apa yang terjadi. Mengerti (understanding) adalah sebuah tindakan, sebuah proses, yang tak pernah selesai. Dia adalah sebuah gerak dialektis antara apa yang dialami dan subyek yang terus bertanya. Sebenarnyalah, buku Nashar oleh Nashar (Bentang Budaya, Juni 2002) ini memaparkan banyak pertanyaan dan sejumlah jawaban yang terus berubah. Pembaca bisa menemukan upaya Nashar memahami garis, warna, jiwa, objek lukisan, dan seterusnya, yang pada akhirnya merupakan upayanya memahami dirinya sendiri.

Nashar tak punya kawan untuk berbagi, maka diciptakannya kawan imajiner yang disebutnya "kawan yang tak kukenal". Dia menulis ribuan, mungkin jutaan, surat kepada kawannya itu, seperti pelukis Belanda, Vincent van Gogh, berkorespondensi dengan saudaranya, Theo. Dia terobsesi pada Van Gogh setelah membaca tiga jilid buku kumpulan surat pelukis itu yang dia "curi" dari lembaga kebudayaan Belanda Sticusa di Jakarta pada 1950-an.

Pelukis Tak Berbakat

Di buku ini, pembaca akan menemukan sesosok Nashar sebagai sastrawan piawai. Dia membangun sebuah plot cerita yang kuat dan mendongengkannya dengan lancar, meski kadang ada banyak rincian dan latar peristiwa yang kau lewatkan. Plot itu kau bangun dengan sosok seorang anak kecil yang bermimpi jadi pelukis. Tapi, pelukis macam apa?

Mulanya, dia ingin menjadi pelukis seperti Raden Saleh yang lukisannya begitu nyata, hidup, seakan bergerak. Dia ingin belajar menggambar di sanggar Pak Jon, sebutanmu kepada Sudjojono, di Yogyakarta. Pelukis besar itu, yang nantinya dikukuhkan sebagai Bapak Seni Lukis Modern Indonesia, hanya berkomentar pendek ketika Nashar menyerahkan sejumlah karya gambarnya: "Kau tidak punya bakat, Nas. Tapi cobalah bikin!"

Komentar itu justru mendorong Nashar untuk membikin gambar demi gambar dengan penuh semangat. Setiap hari dia serahkan gambarnya dan Sudjojono selalu berkomentar sama, hingga akhirnya Sudjojono mengijinkannya belajar melukis di sanggar meski "tanpa bakat". Dari Sudjojono dia belajar melukis objek secara teliti dan telaten. Melukis akan memakan waktu lama, bisa seminggu atau sebulan untuk menyelesaikan satu lukisan.

Tapi, ketika dia bertemu Affandi, pelukis yang terkenal sebagai perupa ekspresionis, dia malah menerima pelajaran sebaliknya: bagaimana melukis dengan cepat untuk merekam suatu objek seketika. Dari Affandi pula dia diajak melukis dengan mengambil objek kehidupan sehari-hari, objek yang terus dipertahankan Nashar hingga akhir hayatnya. Affandi sebenarnya tak banyak memberi "pelajaran", paling-paling pelukis itu hanya menasehati para pelukis muda untuk "Melukis saja yang banyak".

Maka, jadilah Nashar melukis apa saja, di mana saja dan kapan saja. Ke mana-mana dia selalu membawa buku sketsa. Dia percaya bahwa sketsa adalah lukisan juga. Waktu itu, pendapat ini belum diterima seperti sekarang. Saat itu ada saja pameran lukisan yang menolak menerima karya-karya sketsa.

Irama Jiwa

Ada dua tema saling berkaitan yang bagi Nashar penting: irama dan jiwa. Soal irama mulai dikenalnya ketika dia mendengar perbincangan dua pelukis senior saat itu, Hendra Gunawan dan Zaini. Sayang, Nashar tak merinci isi perbincangan itu, sehingga tak tergambar apa yang mereka maksud dengan ritme dalam lukisan yang menjadi ketertarikan Nashar muda.

Yang pasti, dia mencatat bahwa pandangannya tentang ritme ini mempengaruhinya melukis. Perubahan teknik melukis Nashar terjadi pada 1975 ketika ia hanya menampilkan garis dan irama di kanvasnya sementara bentuk figur surut ke belakang. Perubahan dari figuratif ke nonfiguratif ini dia akui diilhami tiga pementasan drama Putu Wijaya, Lho, Entah, dan Nol.

Saat itu Nashar terlibat dalam kelompok teaternya Putu. Saat latihan, Nashar meminta setiap pemain mengosongkan pikiran dan berekspresi secara total, setotal-totalnya. Putu sempat mencemaskan hal ini, tapi Nashar percaya "Kebebasan akan membatasi dirinya sendiri." Hasilnya, para pemain teater itu mampu memunculkan gerakan-gerakan liar yang selama ini mungkin tersembunyi. Mereka merayap, berputar-putar, bahkan membentur-benturkan badannya ke dinding.

Bagi Putu, hal tersebut melahirkan tiga karya dramanya. Bagi Nashar, hal ini mendorongnya membuat coret-coretan yang menghabiskan 500 lembar kertas selama enam bulan. Nashar kemudian menemukan jawaban yang dicarinya: rasa irama. Sayangnya, fragmen sepenting ini tidak tampil di buku ini, entah mengapa.

Soal jiwa menggugahnya ketika dia bertemu penyair Chairil Anwar. Ketika Chairil memperhatikan Nashar membuat sketsa, dia berkata, "Dari hasil sketsamu ini kelihatan kau cukup punya feeling tentang rasa derita. Menurutku, feeling saja tidak cukup. Apakah kau telah mencoba untuk menyelidiki sedalam-dalamnya penderitaan itu sendiri pada jiwa mereka?"

Pertanyaan Chairil itu membuat Nashar tak bisa tidur selama seminggu. Sejak itu dia mulai menggali apa yang disebut "penderitaan" dengan aktif memperhatikan apa yang dirasakan orang, siapa pun dia. Penggalian jiwa itu bermuara pada apa yang Nashar sebut "api", kata lain dari semangat (mungkin terkait dengan spirit).

Nashar percaya bahwa lukisan yang baik haruslah mencerminkan jiwa pelukisnya. Pendapat ini mirip dengan pendapat Sudjojono bahwa lukisan adalah "jiwa nampak". Setiap garis, warna, dan bentuk pada lukisan merupakan jiwa pelukisnya. Proses melukis Nashar kemudian adalah sebuah pergulatan batin antara objek lukisannya, kanvas yang kosong, dan dirinya sendiri.

Pergulatan itu terlihat jelas ketika Nashar mengalami kemacetan ketika melukis. Dalam salah satu surat-surat malamnya yang bertahun 1968, dia bercerita begini. Kala melukis, dia mengingat-ingat objek yang ada di sebuah kampung yang lama dia tinggali. "Perhatianku bolak balik anatara kampung dan kertas lukis," katanya.

Nashar menyadari bahwa jiwanya tak sepenuhnya berada di kertas lukis. Kemacetan ini dipecahkannya dengan mengguratkan beberapa garis awal, setelah itu kenangan tentang kampung itu ia tinggalkan sama sekali. "Aku hanya memperhatikan kemungkinan-kemungkinan yang ada di kertas lukis itu saja," katanya.

Kemungkinan-kemungkinan yang dikembangkannya itu kemudian menjadi sebuah lukisan yang juga menghasilkan kemungkinan-kemungkinan imajinatif. Dari sini tampaknya jelas, mengapa Nashar menyebut "konsep" lukisnya dengan tiga non: nonteknik, nonestetik, dan nonprakonsepsi. Dia ingin mendekonstruksi teori seni rupa yang eksis sejak dia mulai melukis.

Nashar tak begitu suka dengan teori meskipun dia percaya teori perlu diajarkan di akademi seni rupa. Nashar tak puas dengan teori yang ada karena menurutnya teori itu tak berhasil menjelaskan soal jiwa pelukisnya. Sehingga ketika dia ingin memaparkan pandangan-pandangan berkeseniannya, dia memakai istilah-istilah yang secara definitif mengacu pada teori tertentu, seperti api, jiwa, intuisi, semangat, irama, dan sebagainya.

Epilog

Kalau boleh aku simpulkan, pandangan-pandangan Nashar sebenarnya tidak berangkat dari keinginan untuk menjelaskan. Dia seperti ingin menjadi motivator, sang pendorong, bagi lahirnya pelukis sungguhan, pelukis yang menghargai dirinya dan masyarakatnya, pelukis yang jujur sejak goresan pertama kuasnya di atas kanvas.

Nashar, misalnya, bicara tentang perlunya mengasah intuisi bagi seorang pelukis semata-mata untuk menghasilkan sebuah karya yang matang. Dia tak menguraikan apa itu intuisi tapi mengajarkan bagaimana mengasahnya, yakni dengan terus menerus berusaha bersatu dengan alam, dengan objek yang dilukis, dengan kanvas, dengan warna, dengan cat. Dia biarkan murid-muridnya membebaskan diri secara total untuk mengungkapkan apa yang ingin terungkap. (Kurniawan)


Lihat siapa pengunjung situs ini.