Logo Oneweb
Catatan Sastra

Atraksi Empat Warna Cerpenis
Empat cerpenis senior membacakan karyanya di Taman Ismail Marzuki (TIM). Penuh warna dan menyegarkan.

Sekian hari Jakarta diharu biru demonstrasi dan kemacetan. Banyak aktivitas, termasuk kesenian, tersendat. Meski demikian, Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, tetap bernafas. Rabu (10/12), empat cerpenis yang membacakan cerpen mereka sendiri-sendiri. Meriah dan banyak penonton.

Malam itu Gerson Poyk tampil dengan Gerimis di San Fransisco, Hamsad Rangkuti membacakan Maukah Engkau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?, Putu Wijaya dengan tiga sketsa tentang Kroco, dan Danarto menyuguhkan Waktu yang Alfa. Mereka tampil dengan gayanya masing-masing dan cara berkesenian sendiri-sendiri.

Meski tajuknya cuma Baca Cerpen Empat Cerpenis, acara ini sungguh istimewa. Setidaknya bisa dilihat dari ragam gaya tampil mereka. Tak cuma itu, para cerpenis yang tergolong senior ini juga memanfaatkan berbagai medium berkesenian untuk mendukung penampilan.

Gerson yang tampil pertama, mengawalinya dengan sebuah pidato singkat tentang karyanya. Dengan alasan ''Banyak kritikus Indonesia yang tidak tahu karya saya,'' ujarnya.

Gerson bicara tentang tema cerita yang tak masuk akal pada cerpen-cerpennya. ''Di Barat, absurditas dipecahkan dengan pembunuhan dan bunuh diri. Tapi saya yakin seniman Indonesia lebih moderat untuk tidak memilih itu,'' katanya.

Maka mengalirlah kisah Gerimis di San Fransisco, oleh-olehnya ketika melawat Amerika Serikat dulu. Dengan stelan jas dan dasi rapih, Gerson tampil sebagai cerpenis ternecis di antara yang tampil. Sayang, ia tampak kurang siap, agak tergagap, dengan nada datar tanpa emosi. Keinginannya untuk membacakan lebih dari satu cerpennya pupus karena waktu terbatas.

Selanjutnya tampilan Hamsad Rangkuti yang membacakan cerpen-cerpennya dengan dukungan tarian dan musik yang betul-betul menyegarkan. Lihat saja sejak pertama naik panggung dan membacakan judul cerpennya, penonton sudah menyambutnya dengan tepuk tangan yang meriah. Tampaknya penonton rata-rata sudah membaca cerpennya, sehingga reaksi mereka spontan menanggapi penampilan Hamsad malam itu.

Biasa tampil sederhana dan tenang, malam itu Hamsad menjadi aktor yang sangat atraktif. ''Tolong ceritakan mengapa kau begitu. Dia berpaling ke arah laut, ada pulau di kejauhan...,'' tuturnya dari kursi di atas panggung tempat dia membaca cerpennya. Dan mengalirlah kisah penderitaan dan keputusasaan seorang perempuan terhadap kekasihnya itu diiringi piano Tommy F. Awuy.

Penampilan Hamsad makin menarik dengan dukungan visualisasi sepasang penari. Adegan perempuan melepaskan satu persatu pakaiannya hingga polos dan akhirnya diselubungi selembar kain dilakukan dengan memanfaatkan sebuah bidang tembus pandang. Dengan sebuah lampu yang menyorot ke depan, adegan itu menjadi siluet saja yang bisa ditangkap penonton. Tak urung gelak tawa dan senyum—entah nakal entah lucu—muncul pada penonton.

Hamsad yang bergaya realis terkenal dengan cerpennya Sukri Membawa Pisau Belati. Malam itu cerpenis dan pelukis yang telah menerbitkan dua kumpulan cerpen Lukisan Perkawinan dan Cemara itu juga membacakan cerpennya Di Kereta Api. Nampaknya kebiasaannya pulang pergi Depok-Jakarta dengan naik Kereta Rel Listrik mengilhaminya bicara tentang kekerasan dan religiositas dengan mengambil fragmen di kereta.

Toh ada saja penonton yang tertegun mendengar kisahnya. ''Pacarku juga pernah ditusuk di bus,'' komentar seorang gadis yang menyimak cerpen Hamsad dengan penuh perhatian. Rupanya kisah kekerasan yang dialami seorang pelajar di cerpennya itu menyentuh benang-benang pengalaman pribadi sang gadis.

Hamsad betul-betul menjadi bintang panggung. Tepukan yang meriah dan reaksi spontan penonton adalah hadiah yang tepat bagi pemimpin majalah kebudayaan dan sastra Horison ini. Bahkan penyair Sutardji Calzoum Bachri malam itu turut terpancing naik ke atas pangguung saat ada adegan menari diiringi musik dangdut. Kombinasi baca cerpen dengan musik dan tari yang dibuatnya terbilang istimewa dibanding pembacaan cerpen yang umumnya monoton.

Malam itu Putu Wijaya juga turut tampil. Tampak sederhana dengan topi khasnya, Putu membacakan cerpen yang mulanya berjudul Zorro, tapi belakangan diganti Kroco. Tiga sketsa kehidupan seorang pria bernama Kroco dibawakannya tanpa dukungan apa-apa. Hanya Putu sendirian di tengah panggung dengan sebuah lampu sorot dari atas. Dunia teater yang digelutinya selama ini tampil dengan kemampuannya berekpresi di panggung.

Acara malam itu ditutup oleh H. Danarto yang naik panggung berbusana serba putih dengan surban menutup kepalanya. Cerpenis yang suka mengangkat tema-tema sufistik dan mistik ini membawakan cerpen Waktu yang Alfa. Naskahnya, yang lebih mirip puisi atau doa ketimbang narasi, dibaca dengan latar belakang tarian tradisional Jawa Bedhaya Loto. Di antara sembilan penari yang menampilkan koreografi Retno Maruti itu ada Nungki Kusumastuti dan Maria D. Hoetomo.

Jadilah penampilan Danarto menjadi pementasan kolaborasi yang menyampaikan tema kemerosotan nilai-nilai kemanusiaan dalam bingkai religius dan sakral. Danarto ternyata masih konsisten dengan tema sentral karyanya.

Akhirnya pementasan malam itu menjadi pementasan yang penuh warna. Dari warna yang serius dan sakral sampai yang komikal berbau sindiran. Cerpen kemudian telah menjelma menjadi seni pertunjukan yang menarik. Nah, cerpen ternyata bisa tampil dengan wajah yang lebih bersahabat, bukan? (kurniawan)