Logo Oneweb
Catatan Sastra

Pertemuan Lingga dan Yoni di Telaga Linus
Setelah 18 tahun tak muncul, Linus kembali dengan prosa liris Kisah Dewi Anjani. Masih liris dan telanjang dalam perkara seksualitas.

Perkara ketelanjangan seksualitas, tanyakan pada Linus Suryadi AG. Puncak karyanya, prosa liris Pengakuan Pariyem, Dunia Batin Wanita Jawa (1981), telah menghidupkan kembali tema klasik sastra Jawa. Ketelanjangan bahasa ala Suluk Gatoloco, Serat Darmogandul, atau Kamasutra, kembali terulang dalam karya terbarunya, Kisah Dewi Anjani.

Kisahnya merupakan fragmen dari epos besar Ramayana. Tentang Bethara Siwa yang kesengsem dengan Dewi Anjani. Fragmen sederhana itu dihidupkan kembali dan dipentaskan dengan dukungan dua pembaca, Linus sendiri dan penyair Erythrina Baskorowati, penari Jeannie Park, dan iringan karawitan Jawa Nyai Kopek alias Nyai Sentul Kenyut pimpinaan Surono.

Erythrina yang juga anggota Teater Garasi itu kedapuk membacakan "Bab I: Dewi Anjani Di Sendang Grastina". Sedang Linus, membacakan "Bab II: Dewi Anjani Di Pinggir Telaga Madirda". Di Lembaga Indonesia-Prancis, Yogyakarta, mereka menunjukan kepiawaiannya masing-masing. Suara lirih gending Jawa dilantunkan oleh pesinden Tuminingsih, ditabuhi gamelan gender Sabar, dan ditingkahi gemulai tari Jeannie mengisi ruang Auditorium LIP, 10-11 Februari lalu.

Prosa lirik Kisah Dewi Anjani merupakan perluasan dari pergulatan rohani Linus dengan Dik Pariyem, tokoh dalam prosa lirik Pengakuan Pariyem. Bedanya lebih panjang dalam naskah dan sekarang dipentaskan.

Bab "Dewi Anjani di Sendang Grastina" bercerita soal masa pertumbuhan dan pergaulan Anjani di Padepokan Grastina. Kisah ini akan hambar bila Linus tak piawai melukiskan karakter-karakter beragam dan dunia kewanitaan siswi-siswi padepokan.

Linus menjadikan nama Niken sebagai nama marga padepokan. Ada Niken Endang Puspaningrum asal Wonosari, Yogyakarta. Ada Niken Diana asal Ciamis, Jawa Barat. Ada sepasang Niken Mankeloni dan Niken Mangsimae asal Tionghoa. Para Niken punya keistimewaan masing-masing.

Erythrina melakonkan masing-masing Niken cukup menarik. Misalnya, kekenesan Niken Endang Puspaningrum, Niken yang pintar meramu jamu tradisional. ''Jamune mas, jamune mas. Ada jamu sari rapet, jamu wanita tahan nyedot,'' kata Endang. Kosa kata tabu pun jadi komoditas penghibur.

PERTEMUAN LINGGA-YONI Selanjutnya Linus mengisahkan Dewi Anjani di pinggir telaga Madirda. Telaga sunyi di tengah hutan gung liwang-liwung. Dari tanaman perdu yang tumbuh subur hingga mentari dan rembulan berlagak dan berkaca mandi di keheningan air telaga.

Di pinggir telaga, Anjani sedang tapa Nyanthuka. Puasa dan mati-raga. Proses hidupnya amat berat. Jauh dan terasing dari manusia. Ketika Bethara Siwa melanglang buana, penguasa Tribuwana itu kesengsem aura tajam yang terpancar dari tubuh Anjani. Kejantanannya bangkit. Siwa mendekap Anjani. ''Tak usah kaget, tak usah heran. Saya presidennya para dewa, saya kasmaran Anjani,'' kata Siwa merayu.

Anjani dipangku Siwa. Keintiman keduanya dibahasakan dalam pertemuan yoni Anjani dan lingga Siwa. Pelisanan oleh Linus itu kian jelas ketika Jenannie memvisualkan dengan menari Gandrung Banyuwangi dan Kenya Sinanggama Dewa dilantuni gending Lusu dan Mijil Dhempel laras pathet 9.

Kedua gending mengingatkan Anjani akan ajaran ibunya bahwa Siwa dikenal cluthak (rakus-Red). Suka mencicipi wanita muda, lalu meninggalkannya. Benar, Siwa meninggalkan Anjani hingga hamil. Kehadiran Siwa di pinggir telaga, menumbuhkan seribu tanda tanya. Apa kelanjutan nasibnya?

Apapun, Anjani menjalani nasib dengan laku prihatin. ''Saya tak akan kembali ke Grastina, tapi akan menetap disini dan membangun tenpat tinggal sebagai pertapaan Madirda,'' kata Anjani. Dan, Siwa akan datang berkunjung ke pertapaan Madirda, menutup prosa lirik Kisah Dewi Anjani.

Pementasan prosa lirik ini adalah reaktualisasi potensi seni tradisional Jawa. Mungkin kolaborasi itu sebagai penjelmaan naluri kolektif dari roh budaya etnik dalam diri Linus. Bagi seniman Kota Gudeg ini, rajutan seni semacam ini bukanlah barang asing dan baru. Ia memperlihatkan bahwa bahasa tulis sebagai lambang dapat menemukan citra yang lebih konkret dalam lambang yang lain.

Persoalannya apa sebenarnya perlambang ketelanjangan bahasa Linus ini. Hanya bermain-main dengan kata dan asosiasi seksual atau melangkah lebih jauh melampaui Pengakuan Pariyem? Bukankah ketelanjangan bahasa dalam Suluk Gatoloco, misalnya, adalah bentuk perlawanan kepercayaan setempat atas kedatangan Islam. Bukan sekedar fantasi seksual belaka. (akar/jhony)