Logo Oneweb
Catatan Sastra

Il Postino atau Apa Arti Metafora
Skarmeta mencoba menggubah puisi-puisi Neruda menjadi sebuah prosa.


DATA BUKU
JUDUL: Il Postino
PENGARANG: Antonio Skarmeta
PENERJEMAH: Noorcholis
PENERBIT: Akubaca
TERBIT: Jakarta, September 2002


BAIKLAH, aku buka catatan ini dengan sepenggal puisi Pablo Neruda, Sonet XVII (100 Sonet Cinta, 1960), dalam terjemahan bebasnya.

Aku tak mencintaimu seandainya kamu adalah mawar-tawar, topaz
atau tangkai anyelir yang menyemai api:
Aku mencintaimu seperti benda hitam yang dicintai,
secara rahasia, antara bayangan dan jiwa.

Aku mencintaimu seperti tanaman yang tidak mekar dan menyebar
tersembunyi di dalam dirinya cahaya dari bunga-bunga,
dan berkat cintamu, yang gelap di dalam tubuhku
hiduplah wewangi pekat yang terbit dari bumi.

Aku mencintaimu tanpa tahu bagaimana, atau kapan, atau dari mana,
Aku mencintaimu dengan sederhana, tanpa persoalan atau kebanggaan:
Aku mencintaimu dengan cara ini karena aku tak tahu cara lain untuk mencinta

tapi inilah, di mana tiada aku atau kamu,
begitu lekat, tanganmu di atas dadaku adalah tanganku,
begitu rapat, ketika aku jatuh lelap adalah matamu yang melindap.

Penyair Cinta

Kukira sukar menghindari diri untuk mengutip satu dua keping puisi Neruda bila membaca Il Postino karya Antonio Skarmeta ini. Bahkan sampul buku terjemahan versi Inggris dari Ardiente Paciencia ini pun perlu dihiasi sebait puisi Neruda pula. Setidaknya ini menunjukkan popularitas Neruda sebagai penyair cinta. Novel ini pun boleh jadi semacam ode atas syair-syair cinta Neruda.

Sejarah sastra Amerika Latin mencatat bahwa puisi cintanyalah yang mencuatkan Neftali Ricardo Reyes Basoalto, nama asli pemenang Nobel Sastra 1971 ini. Kumpulan puisinya, Veinte Poemas de Amor y una CancÍon Desesperada atau Duapuluh Lagu Cinta dan Sepotong Lagu Patah Hati (1924), telah terjual sejuta eksemplar lebih sejak pertama kali terbit.

Tentu saja, kita juga perlu menyebut Canto General (1950), karya monumentalnya yang berisi 340 puisi yang melukiskan sejarah Amerika Latin. Di situ termuat puisi terkenalnya, Alturas de Macchu Picchu, yang lahir setelah dia menyaksikan reruntuhan kota Inca di Peru pada 1943.

Jurus Maut

Skarmeta, sastrawan Chile dan sahabat Neruda, mencoba menggubah puisi-puisi Neruda menjadi sebuah prosa. Dia lalu butuh plot, butuh tema. Maka dipilihlah potret seorang tukang pos muda yang belajar puisi kepada sang pablo.

Peristiwa itu kebetulan terjadi. Suatu hari kantor pos di San Antonio butuh seorang tukang pos untuk Isla Negra. Lalu seorang pemuda dari keluarga nelayan yang enggan melaut, Mario Jimenez, datang melamar. Jimenez sangat girang ketika diterima bekerja meskipun gajinya kecil dan tugasnya cuma mengantar surat untuk satu orang. Karena orang yang diantar suratnya itu adalah Pablo Neruda.

Jimenez muda kemudian berusaha mati-matian agar bisa berkenalan dengan sang penyair. Usahanya berhasil dan dia menjadi sahabat Neruda. Bahkan Neruda menurunkan ilmu kepenyairan tingkat tinggi padanya: jurus maut bernama metafora.

Ketika ilmu ajaib itu diturunkan, Jimenez tentu saja bingung.

"Begini, jika kau mengatakan langit sedang menangis, apa yang kau maksudkan?" tanya Neruda.

"Gampang--hujan?"

"Nah, itulah metafora."

"Kalau cuma sesederhana itu, kenapa namanya begitu rumit?"

"Karena nama-nama segala sesuatu sama sekali tidak ada hubungannya dengan betapa sederhana atau alangkah rumitnya...," sergah Neruda agak kesal.

Ilmu itu turun juga. Penyair muda Jimenez akhirnya bisa mencipta metafora dan menghafal puisi-puisi Neruda di luar kepala. Persoalannya kemudian menjadi runyam ketika Jimenez berpuisi di muka Beatriz Gonzales, gadis cantik putri pemilik kedai di teluk. Rumitnya, sang gadis terlanjur terlena dan ibunya--yang juga pernah terpesona pada metafora Neruda--naik pitam. Tak ada cara lain bagi Jimenez selain meminta Neruda menengahi masalahnya.

Skarmeta merajut cerita dengan ringan, manis, dan penuh humor di sana sini tanpa membuat novel ini jadi kacangan. Dengan lincah Skarmeta memadukan pengetahuannya tentang puisi Neruda dengan rincian cerita dan karakter tokoh rekaannya.

Misalkan ketika mengisahkan bagaimana Jimenez belajar memasak di kedai setelah berhasil menyunting Beatriz, Skarmeta mengisahkannya dalam sebuah paragraf panjang demikian: "Kini, di samping sejumlah metafora Neruda yang terus ia pelihara dan ia ingat-ingat, pengetahuan Mario sedikit bertambah dengan nama-nama bahan-bahan makanan, yang dipuja-puja oleh sang pujangga sensual itu dalam ode-odenya: bawang merah ("mawar air yang bulat"), arthicoke ("berbusana bagai kstaria dan dipahat serapi granat"), belut ("belut besar berdaging salju"), bawang putih ("pualam mulia"),..."

Kudeta Militer

Novel ini sebenarnya mendongengkan sebuah fragmen di teluk Isla Negra dengan latar sosial politik Chile yang terjadi di masa-masa akhir kehidupan Neruda. Akhir dari novel ini melukiskan ketegangan yang terjadi ketika rumah Neruda dikepung tentara di masa kudeta militer Pinochet yang menjatuhkan Presiden Salvador Allende terjadi. Jimenez pun berjuang menemui sang pablo yang tengah terbaring sakit keras di sana untuk menjalankan tugasnya: menyampaikan telegram dan surat-surat sang penyair.

Novel ini tak berpretensi menawarkan versi lain dari kematian Neruda yang konon terkait dengan terbunuhnya Allende walau faktanya dia wafat karena leukimia. Skarmeta tetap fokus pada sosok Jimenez dan kisah Neruda dipertahankan sebagai latar.

Novel terkenal lain dengan latar semacam ini adalah karya klasik Isabel Allende, The House of the Spirits (1982). Namun, karya keponakan Salvador Allende itu lebih kental pelukisan sosial politiknya ketimbang Il Postino. Novel Allende juga muram dibanding novel Skarmeta yang segar dengan humor-humor kecilnya.

Tapi ada satu karya Skarmeta yang lain yang mengungkap fragmen kekerasan militer sebagai suasana yang kental yakni cerita pendek The Composition (2000) yang disertai ilutrasi karya Alfonso Ruano. Buku ini meraih penghargaan Jane Addams Children's Book Award 2001 dan Americas´ Prize. Isinya mengisahkan Pedro, anak Amerika Latin yang bermimpi punya bola sepak sungguhan. Suatu hari dia menyaksikan ayah kawannya diciduk tentara dan di radio dia mendengar soal kediktatoran militer. Dia ingat bahwa ayah kawannya dan juga ayahnya menentang kediktatoran. Esok harinya, sekolahnya dikunjungi wakil pemerintah yang mengumumkan lomba menulis artikel berjudul "Apa yang Keluargaku Lakukan di Malam Hari" dengan iming-iming medali emas. Pedro ingin menang dan menjual medalinya untuk ditukarkan dengan lima bola sepak. Itulah Skarmeta.
(kurniawan)