Logo Oneweb
Catatan Sastra

Jalan Moral Kerudung Kirmizi
Aku telah berjanji pada nuraniku untuk menjadi batu karang yang teguh di tengah gelombang samudra yang dahsyat.


DATA BUKU
JUDUL: Kerudung Merah Kirmizi
PENGARANG: Remy Silado
PENERBIT: Kepustakaan Populer Gramedia
TERBIT: Jakarta, 2002


PEMBAHASAN saya ini berangkat dari thesis yang dirumuskan sendiri oleh Remy Silado yang menempatkan dirinya sebagai pengusung moral religi. ''Sekarang sudah tidak ada nabi. Para sastrawanlah yang harus menggantikan," katanya dalam acara syukuran di Bandung atas terpilihnya Kerudung Merah Kirmizi sebagai pemenang Khatulistiwa Literary Award 2002. Motif Remy makin jelas ketika dia menilai bahwa masyarakat Indonesia sekarang ini masyarakat yang sakit. ''Sastra, aku kira bisa mengobati," katanya seperti dikutip Suara Merdeka, 21 November 2002.

Gagasan pentingnya moralitas dalam karya seni telah dipakukan dalam teori estetika jauh di masa lampau. Katakanlah, misalnya, pada kitab kuno Poetics Aristoteles pada pertengahan abad ke-4 SM. Penasehat Alexander Agung itu tidak membahas moralitas itu secara khusus tapi menyisipkannya di dalam pembahasannya mengenai karakter. "Karakter adalah apa yang mengusung tujuan moral, menunjukkan apa saja yang seseorang pilih atau hindari," tulisnya dalam Bab VI Poetics.

Doktrin seni pengusung moral yang lebih kental dideklarasikan oleh para filsuf Kristen, seperti Jacques Maritain (1882-1973) dan Aurelius Augustinus (354 SM-430 SM). "Seni bertujuan pada karya itu sendiri dan keindahannya," tulis Maritain dalam bab "Seni dan Moral" dalam Seni dan Skolastikisme (1935). "Tapi, bagi manusia yang berkarya, karya-yang-diciptakan memasukkan--dirinya--ke dalam garis moralitas, dan pada dasar ini dia hanyalah sebuah tujuan," tambahnya.

Bila Maritain menggariskan sejak dini bahwa "seni tak punya hak melawan Tuhan" maka Augustinus langsung menempatkan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan. "Tuhan ada di dalam diri kita," kata Agustinus, maka setiap karya seni akan berpartisipasi dalam kesatuan dengan Tuhan.

Merah Kirmizi

Sebelum melangkah memasuki aspek intrinsik moralitas dan ketuhanan dalam Kerudung Merah Kirmizi, izinkan saya membahas beberapa aspek yang melingkungi novel ini. Salah satu kekuatan novel-novel Remy, dari Ca-Bau-Kan (1999) sampai Kembang Jepun (2003), adalah latar sosial dan sejarah yang jelas. Misalkan Ca-Bau-Kan mengangkat latar zaman kolonial di lingkungan pedagang Tionghoa. Siau Ling berlatar Semarang abad ke-15. Paris van Java, cerita bersambung di Koran Tempo sepanjang 2002, berlatar masyarakat Belanda di masa penjajahan Belanda. Kembang Jepun berlatar masa penjajahan Jepang.

Pada Kerudung Merah Kirmizi, Remy memilih latar sosial masa Reformasi, tak lama setelah Orde Baru jatuh. Masa itu mengandaikan suatu perubahan situasi secara radikal. Ini terjadi pada tokoh utama ceritanya, Myrna Andriono, seorang janda beranak dua yang jatuh miskin sejak suaminya, pilot Andriono, meninggal dan rumahnya dirampas tangan-tangan hitam yang berkolusi dengan rezim Orde Baru.

Sudah sejak halaman pertama, novel ini menggariskan sikap moral tokoh utamanya: Atas nama cinta, hormat, ketulusan, dan putusasa, setelah janda aku tetap menyandang nama suamiku, Andriono (hal. 1). Bab awal yang merupakan prolog ini ditulis dari sudut pandang Myrna yang memperkenalkan diri kepada pembaca dan memaparkan sikap hidupnya yang merupakan inti novel ini: Aku telah berjanji pada nuraniku untuk menjadi batu karang yang teguh di tengah gelombang samudra yang dahsyat (hal 2-3).

Sebagai batu karang dengan beban dua anak yang masih kecil-kecil, Myrna yang bekerja sebagai penyanyi di lounge hotel berbintang itu harus bertahan menghadapi gelombang-gelombang besar yang menghantamnya sepanjang cerita. Dia harus berhadapan dengan banyak hal. Ada gosip buruk tetangga soal profesinya yang mereka sebut sebagai cabo yang melayani oom-oom mata keranjang. Ada gairah cinta Luc Sondak, profesor ekonomi yang kasmaran padanya. Godaan ketulusan Winata, polisi dan mantan kekasihnya di masa remaja yang menduda dan ingin menikahinya. Namun, yang terberat dan menjadi alur besar yang menentukan nasibnya adalah bagaimana dia menghadapi sepak terjang Sampurno alias Oom Sam yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.

Myrna menghadapi nasib buruk yang bertubi-tubi menimpanya dan langkah-langkah yang harus dipilihnya untuk bertahan hidup sebagai janda (bandingkan dengan tokoh Tinung dalam Ca-Bau-Kan yang menjanda di usia muda dan dipaksa melacur di Kali Jodo). Pada suatu kesempatan Ibu Myrna memberikan sehelai kerudung merah kirmizi bersulam-sulamkan anggur dan daun-daunnya kepada Myrna. "Ini cuma buat mengingat-ingat saja bahwa merah kirmizi adalah warna fiil manusia untuk hidup suci," kata ibunya (hal. 195)

Merah kirmizi adalah warna merah kotor seperti darah mati, scarlet. Hubungan warna merah kirmizi dan warna putih menjadi konsep dasar moralitas cerita. "Najan dosa manusia nepi ka beureum kawas kirmizi, bakal jadi bodas beresih kawas salju," kata ibu Myrna (hal. 195).

Remy memberi catatan kaki pada ungkapan bahasa Sunda ini dengan, "Walau dosa manusia semerah kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; dari teks Inggris: Thou your sins be as scralet, they shall be as white as snow". Jelaslah bahwa ungkapan ibu Myrna bukanlah ungkapan lazim masyarakat Sunda atau setidaknya ungkapan itu diadopsi dari luar.

Dalam semiotika, aspek pengutipan semacam ini menjadi penting, karena pengarang dengan terbuka mengumumkan adanya intertekstualitas, keterhubungan teksnya dengan teks-teks sebelumnya. Kutipan tentang dosa manusia semerah kirmizi itu dipungut dari Bibel, lengkapnya berbunyi, "Walau dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; walau berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba" (Isaiah, 1:18)

Teks ini merupakan bagian dari peringatan Tuhan terhadap penduduk Sodom dan Gomorah yang tangan-tangannya telah berlumuran dosa. Sehingga, "Apabila kamu menadahkan tanganmu untuk berdoa, Aku akan memalingkan muka-Ku, bahkan sekalipun kamu berkali-kali berdoa, Aku tidak akan mendengarkannya, sebab tanganmu penuh dengan darah."

Pergumulan Remy dengan tema keagamaan sudah muncul ketika dia menulis Parijs van Java. Di sana dia berkali-kali mengutip kalimat-kalimat dan perumpamaan-perumpamaan dari Injil. Sedangkan merah kirmizi sebagai lambang dosa dapat kita bandingkan dengan novel terkenal Nathaniel Hawthorne, The Scarlet Letter (1850). Di situ dikisahkan bagaimana Hester Prynne dinyatakan berdosa karena hamil di luar nikah dan pengadilan Salem, Massachusetts menjatuhkan hukuman padanya untuk memakai simbol "A" merah kirmizi di dadanya sepanjang hidupnya.

Namun, berbeda dengan Hester, Myrna mengenakan kerudung merah kirimizi untuk memasuki tahap penyucian diri bahwa kelak merah kirmizi akan menjadi seputih salju. Kerudung itu kemudian diserahkannya kepada Luc Sondak (bagian ini tak secara rinci dipaparkan) sebagai tanda dia telah menyerahkan diri sepenuhnya kepada lelaki itu dan mengandung bayi Luc.

Satu-satunya alasan kuat mengapa Myrna menyerahkan kerudungnya adalah karena getaran cinta yang dirasakannya. Hal ini lagi-lagi menggemakan estetika Maritain: Ama, et fac quod vis, jika kau cinta, kau dapat lakukan apa pun yang kau inginkan, kau tak akan pernah melukai cinta (Seni dan Skolastikisme).

Pembunuhan Antagonis

Satu hal yang menonjol dari plot yang dikembangkan Remy adalah struktur yang menggiring satu per satu para tokoh antagonisnya menuju jurang kematian. Meskipun terkesan bahwa pengarang masih percaya pada hukum dengan menghadirkan tokoh polisi Winata, tapi jalur "nasib" dan "ketidaksengajaan" menjadi pilihan untuk menamatkan riwayat para antagonis.

Dela, tangan kanan Oom Sam, mati terbunuh di tangan Sam. Bandit-bandit yang disewa Sam untuk membunuh Emha Isa Ibrahim (mahasiswa yang memimpin demo menentang penggusuran tanah yang hendak dikuasai Sam) mati dalam kecelakaan. Adik Sam yang perwira polisi berjuluk SSS juga mati di tangan Sam secara tak sengaja. Tangan Sam yang berlumuran darah itu saja yang masih hidup dan menghadapi pengadilan yang tak bisa dielakkannya lagi.

Mereka tamat sebagai tokoh berkat kerja "tangan-tangan tak terlihat" atau tangan nasib. Bila novel ini bermaksud bersifat didaktik untuk "mengobati masyarakat yang sakit" lalu mengapa penyelesaiannya begitu bertumpu pada tangan nasib yang sepenuhnya bersifat misteri Ilahi?

Beban moral dari novel didaktik adalah pada inti ajarannya. "Jika suatu karya seni menghasilkan obyek-obyek yang manusia tak bisa digunakan tanpa berbuat dosa, seniman yang membuat karya semacam ini (juga) berbuat dosa," tulis Saint Thomas Aquinas dalam Summa Theologia.

Pengarang novel ini kemudian kembali kepada estetika Maritain dan Augustinus dengan mengamini bekerjanya tangan Sang Maha Kuasa. Namun, dari sudut didaktis, apa yang telah novel ini berikan kepada pembaca? Apakah hidup pada akhirnya berserah diri pada nasib, seperti Myrna yang nyaris menjadi tokoh utama yang pasif dan selamat berkat tangan-tangan nasib? Maka selangkah lagi gagasan ini akan menggiring pembaca menjadi manusia fatalis.

(Kurniawan)