Logo Oneweb
Catatan Sastra

Im Krebsgang Gunter Grass
Tenggelamnya Kapal "Titanic" Jerman
Pengarang Jerman pemenang Nobel Sastra, Gunter Grass, menulis novel tentang tenggelamnya kapal "William Gustloff" pada 1945. Dia membongkar sebuah sejarah berdarah Jerman yang terbungkam selama setengah abad lebih.

Jerman, 2000

"MENGAPA baru sekarang?" tanya seseorang yang bukan aku. Karena ibundaku mengatakannya berulang kali... Karena aku ingin menangis waktu itu, ketika sangat laik meratapi laut itu, tapi aku dulu tak bisa... Karena kebenaran lebih sukar daripada tiga baris tulisan... Karena baru sekarang... Kata-kata itu masih sulit bagiku.

Paul Pokriefke, jurnalis yang menulis laporan yang disusun secara aneh ini, mendengar sebuah cerita yang diceritakan ratusan kali oleh ibunya, Tulla Pokriefke. Cerita tentang tragedi tenggelamnya kapal William Gustloff. Dia ingin merekonstruksi masa lalunya, tapi sejarah Jerman membisu saja terhadap tragedi terbesar masa itu, barangkali pula sepanjang masa. Di sebuah ruang ngobrol internet, Paul yang menyebut dirinya "David" bertemu "William" yang menyerahkan bahan lengkap mengenai peristiwa itu. Laporan itu pun dimulai.

Danzig, Januari 1945

Dia selamat bersama ratusan pengungsi lain di Gotenhafen, tak jauh dari Danzig (sekarang Gdansk, Polandia), dari musibah kapal besar ini.

Sebelumnya, ketika malam tiba, kapal "William Gustloff" itu telah sampai di laut lepas, menderu ke barat, jauh dari Tentara Merah. Tak lama setelah pukul 21.00 pada 30 Januari 1945, kapal itu dicabik-cabik oleh tiga torpedo Uni Soviet. Di dalamnya, Tulla Pokriefke merasakan guncangan hebat. Perempuan muda yang tengah hamil itu meraih perahu penyelamat sesaat sebelum kapal raksasa itu tenggelam.

Tulla beruntung, perahunya diselamatkan dua pelaut dari kapal Jerman "Lowe". Malam itu juga, putranya lahir ke dunia. Rambut di kepala bayi itu selalu berwarna putih, berkilau di antara kepala anakmayat -anak yang tak terhitung jumlahnya yang diselamatkan dari ombak laut Baltik sedingin es.

Tulla, sebenarnya Ursula Pokriefke, adalah sosok rekaan. Pembaca setia karya pengarang pemenang Nobel Sastra tahun 2000, Gunter Grass, mengenalnya sejak 1961 di novel Katz und Maus yang mengukuhkan Grass sebagai sastrawan sejak novel pertamanya, Die Blechtrommel (The Tin Drum, 1959). Tulla juga pernah muncul dalam novel Grass lain, Hundejahre (1963), sebagai warga Danzig yang ketakutan menjelang kedatangan tentara Soviet.

Tulla jadi lambang ketertarikan Grass terhadap peristiwa berdarah yang paling menyedihkan dalam sejarah Jerman, tenggelamnya kapal "William Gustloff". Sekitar 9.000 orang mati dalam peristiwa itu, 4.000 di antaranya adalah anak-anak dan orang muda. Jumlah ini enam kali lebih banyak dari korban tenggelamnya kapal Titanic. Tapi juga peristiwa yang paling diabaikan oleh elit sastra dan sejarawan Jerman sendiri.

Tabu Sejarah

Bagi generasi Jerman pascaperang, memandang warga Jerman lain sebagai korban perang adalah kekeliruan politis. "Seseorang, kami pikir, harus membayar kejahatan Jerman yang terpahami itu," kata Anje Vollmer, wakil Partai Hijau dan wakil presiden Bundestag, majelis rendah Jerman.

Penggalan sejarah itu jadi sebuah tabu. Namun, Gunter Grass datang dengan novel terbarunya, Im Krebsgang (Dalam Retrogresi), dan meruntuhkan tabu itu. Pengarang yang tahun ini berusia 75 tahun itu mengawinkan fakta dan fiksi dalam merekonstruksi musibah kapal Wilhelm Gustloff yang tenggelam antara Teluk Danzig dan pulau Bornholm. Banyak yang terluka di sana adalah serdadu Jerman. Hanya 1.200 orang yang selamat, termasuk 100 anak-anak.

Terbitnya karya Grass memicu sensasi di Jerman karena karya itu mendorong perubahan cara pandang negeri itu terhadap jutaan warganya yang mati dalam perang. Harian Jerman, Die Welt, menulis, adalah ironis bahwa Grass, orang yang secara politis berada di sayap kiri, jadi orang yang mencairkan kebekuan dan mengakhiri kebungkaman.

"Pengusiran (orang-orang Jerman dari wilayah timur) adalah satu dari tabu terbesar pascaperang yang secara ketat dipetieskan oleh orang-orang sayap kiri seperti Gunter Grass," tulis koran itu. "Sekarang, dialah di antara orang-orang yang kembali kepada soal kesadaran kolektif--apakah Jerman akan kembali normal?" tulisnya.

Majalah terkenal Jerman, Der Spiegel, edisi 6 Februari 2002, menjadikan novel Grass dan tenggelamnya kapal Wilhelm Gustloff sebagai cerita sampul dengan judul Titanic Jerman.

Majalah itu berkisah bagaimana pada 29 Januari, sehari sebelum bencana terjadi, seorang bocah bernama Egbert Worner lahir di rumah sakit kapal itu. Pada akte kelahirannya tertulis "lahir di kapal Gustloff".

Ceritanya, sang ibu kala itu tengah berusaha pulang untuk menikahi tunangannya sebelum saat melahirkan tiba. Setelah kapal selam Rusia menorpedo kapal itu, dia naik ke atas dek dengan menggendong bayinya. Dia memakai jaket penyelamat. Ketika dia berusaha mencapai perahu penyelamat, seorang prajurit berteriak, "Berikan dia padaku, Anda akan mendapatkannya kembali nanti."

Perahu penyelamat itu kemudian pergi tanpa sang putra di dekapannya dan dia menyaksikan kapal raksasa itu tenggelam. "Kupikir anakku telah meninggal. Aku gemetar," katanya. Beberapa saat kemudian, ketika dia telah selamat di atas kapal Lion, seseorang menyerahkan kepadanya sebuah bungkus hijau dan dia pun menyadari siapa yang menyelamatkan anaknya.

Tokoh fiktif Grass, Ursula Pokriefke, dikembangkan dari kisah nyata lain. Narator dalam buku itu bicara tentang kebungkaman Jerman pascaperang terhadap penderitaan itu. "Tak seorang pun ingin mendengarnya, tidak di sini di barat dan tidak pula di timur sana," katanya.

Selama beberapa dekade, Grass, kini 74 tahun, telah memimpin peran dari intelektual yang terus menekan Jerman untuk tetap mengingat masa lalunya. Pada 1990, setelah penyatuan kembali Jerman, misalnya, ia berkata: "Siapa pun yang memikirkan Jerman pada saat ini mestinya tidak melupakan Auschwitz."

*) Tulisan ini belum pernah dipublikasikan
**) Sumber: "Das tausendmalige Sterben", Der Spiegel (06/02/2002)


Lihat siapa pengunjung situs ini.