Apakah seretnya penjualan media budaya karena masalah harga atau sepinya peminat? Atau memang nasib media budaya untuk terus bergantung pada subsidi.
Hari itu Anggraini semangat sekali menyambangi tempat tongkrongannya, toko buku Gunung Agung, Jakarta. Dia adalah seorang pecinta sastra yang rajin mengoleksi karya-karya sastra bermutu. Dia hapal di mana letak rak-rak buku sastra. Kedatangannya ke toko itu untuk mengecek selisih harga yang baginya jadi faktor cukup penting untuk kantungnya yang bergaji tak seberapa di sebuah perusahaan swasta.
"Di Times Bookstore, Sogo, ada special price," katanya. Dia senang karena ternyata harga khusus untuk buku yang sama memang jauh lebih murah dari harga biasanya. "Di Times harganya 18 ribu rupiah, sedang aslinya antara 25 sampai 35 ribu rupiah," katanya. Itu harga untuk buku klasik sejenis Nostromo karya Joseph Conrad setebal 330 halaman atau seri karya William Shakespeare.
Dia mengeluhkan masih mahalnya buku-buku sastra Indonesia dibandingkan buku impor. Dia melihat bahwa untuk novel populer terjemahan seperti karya John Grisham yang diterbitkan Gramedia itu bisa mencapai Rp 30 ribu. Novel Burung-Burung Manyar karya Y.B. Mangunwijaya yang dicetak ulang Penerbit Djembatan seharga Rp 14 ribu untuk 260 halaman. Sementara buku seri Kahlil Gibran yang sedang boom terbitan Bentang Budaya itu rata-rata Rp 15 ribu.
Anggraini yakin bahwa masalah harga ini berpengaruh kuat dalam penentuan seseorang membeli karya sastra atau tidak. Dia punya koleksi majalah sastra Horison dan majalah kebudayaan Kalam meski tak banyak di rak kecil kamar kosnya. Mengapa tak berlangganan? "Lho, saya kan lebih perlu berita-berita umum, jadi beli saja majalah atau koran," katanya.
Tampaknya, media budaya di mata konsumen semacam Anggraini berada pada posisi yang sama dengan media umum. Di sini logika pasar bermain. Apakah harga memang betul jadi pertimbangan konsumen sastra?
Masalah ini sebenarnya sudah lama coba dijawab para pengelola media budaya. Majalah sastra bulanan satu-satunya di Indonesia, Horison, sudah lumayan bisa mematok harga enam ribu rupiah. Toh separuh tirasnya diborong habis Menteri Agama dan Mendikbud untuk dibagi gratis ke pesantren, madrasah, dan SMU. Model subsidi demikianlah yang membuat Horison terus bertahan hingga usianya yang ke-33 pada Juli lalu.
Namun tetap saja tiras yang mencapai 12 ribu itu dianggap kurang. Meski biaya operasional media itu berasal dari volunteer, namun logika industri media harus mereka hadapi. Harga kertas yang naik memaksanya untuk memangkas 16 halaman, padahal kalau diisi cerpen sepanjang empat halaman berarti terpaksa memotong pemuatan empat cerpen.
"Memang perkembangan media kita kini memasuki dunia industri, dan agaknya media sastra kita belum bisa memasuki dunia itu. Persoalannya agak kompleks," aku Jamal D. Rahman, redaktur media tersebut.
Eko H., Redaktur Majalah Kalam, mengakui adanya keterkaitan erat hal ini dengan perekonomian masyarakat. "Di samping masyarakat lebih suka berita aktual dan hangat. Sekarang masyarakat dibawa pemberitaan politik. Sastra belum menjadikan suatu kebutuhan," katanya.
Seperti juga Horison, Majalah Kalam pun mendapat subsidi cukup besar agar harganya terjangkau. Subsidi itu bisa mereduksi harga jual dari Rp 30 ribu menjadi Rp 18 ribu per edisi untuk tiras 2.000 eksemplar. Dengan kertas luks setebal 140 halaman, Kalam dianggap terlalu sulit dibaca dan ilmiah.
Baik pengelola Horison maupun Kalam sama-sama menyadari kalau media mereka tidak seperti es krim yang cepat laku dijual di tengah terik matahari. "Itu tak penting. Kita tahu barang ini tidak laku dijual. Kita jalan terus, itu bukan persoalan. Yang jelas kita ingin memberikan ruang kebebasan bagi masyarakat peminat sastra," kata Eko.
Sementara pihak media baru yang diluncurulangkan Juli lalu, Media Kerja Budaya (MKB) memandang masalahnya pada kapital. "Sekarang kan dalam era persaingan dan globalisasi, semua bisa menolak yang namanya kapital, tapi kalau dia menolak kapital dia akan hancur," kata Pemimpin Redaksi MKB, Razif.
MKB rencananya terbit dwibulanan seharga Rp 7.500 dengan tiras 5.000 eksemplar. Formatnya cukup mewah dengan kertas art paper dan dipenuhi esai-esai kritis. Dengan pertimbangan kapital pula, maka pengelolanya berencana untuk mengincar pemasukan iklan agar bisa menekan harganya sekarang.
Sementara Jamal memandang masalah utamanya terletak pada masalah usang, kurangnya apresiasi sastra di masyarakat. Jamal melihat bahwa lembaga pendidikan kita tak bisa membangun masyarakat sastra, akibatnya hingga mereka dewasa pun tak ada keterikatan dengan sastra.
Itulah sebabnya Horison mengeluarkan strategi pembentukan masyarakat sastra melalui sisipannya, Kaki Langit. Sisipan ini membangun apresiasi sastra murid sekolah menengah. "Hal itu diharapkan dalam jangka panjang para siswa yang membaca Kaki Langit atau Horison sekarang bisa menjadi masyarakat pembaca sastra untuk masa datang. Hanya dengan itu media sastra dapat memasuki industri pers dan media sastra nanti akan bisa marak seperti yang lain," harap Jamal .
Apakah harapan Jamal ini tak terlalu tinggi? Pendiri Kalam Goenawan Mohamad mengingatkan bahwa bagaimanapun juga peminat sastra selalu kalah jumlah dengan penonton sepak bola. "Sebab pada dasarnya peminat sastra di mana-mana sangat terbatas," ungkapnya.
GM, begitu budayawan ini biasa dipanggil, memandang soal minat sastra yang minim itu adalah hal yang biasa. Sama saja dengan peminat fisika yang sedikit. "Itu tidak salah. Itu memang watak disiplin bidang ilmu. Bidang itu memang menyebabkan orang tidak banyak mengikutinya," katanya.
Yang penting memang bagaimana media-media itu tetap ada dan menjadi ajang kreativitas kebudayaan. Apalagi sebenarnya media semacam itu sudah cukup banyak. Di fakultas sastra setiap universitas umumnya media semacam itu ada. Dengan tiga media di atas, plus Majalah Basis di Yogyakarta dan jurnal-jurnal skala kecil yang diterbitkan ragam komunitas budaya, sebenarnya jumlah itu patut disyukuri. Yah, lain lagi kalau mau bicara kapital dan profesionalisme. (sakti/dan/idi)
Goenawan Mohamad: Tidak ada Problem dengan Majalah Sastra
Mengapa pertumbuhan majalah sastra di Indonesia sangat minim di saat kebebasan pers bergulir?
Sekarang ini ukurannya apa. Bukankah majalah olahraga minim? Bukankah majalah agama minim? Tidak ada problem kan. Kalau majalah olahraga minim, majalah agama minim, majalah ilmu pengetahuan minim, berarti tidak ada problem dengan majalah sastra. Mengapa harus dipersoalkan? Justru kalau dibandingkan orang yang mengikuti pertandingan sepak bola dengan acara sastra banyakan mana? Kan lebih banyak yang menonton sepak bola. Majalah sepak bola saja tidak sampai tiga, sedangkan majalah sastra ada empat. Kenapa harus dikatakan majalah sastra minim.
Kalau melihat perkembangan majalah sastra itu sendiri sampai saat ini tanpa membandingkan dengan media lainnya?
Peminat sastra dibanding peminat sepak bola di mana-mana kalah. Di dunia mana pun kalah. Jadi kalau majalah sastra sedikit wajar. Kalau majalah sastra lebih banyak dari majalah sepak bola itu luar biasa. Sebab pada dasarnya peminat sastra di mana-mana sangat terbatas. Di Jepang buku puisi saja tidak sampai 300 ribu eksemplar, di Amerika menjadi penyair tidak akan hidup dia harus mengajar, menjadi pelayan toko, pelayan restoran, atau kerjaan lainnya.
Sebenarnya persoalan dana atau memang peminatnya yang kurang terhadap majalah sastra?
Kalau orang kurang berminat itu biasa. Saya pikir bukan soal dana. Dana bisa terjadi di mana-mana. Dana penting tapi bukan segala-galanya. Jadi persoalan dana memang harus disubsidi. Misalnya majalah fisika murni itu harus disubsidi karena memang tidak laku. Jadi sebenarnya tidak ada masalah karena orang melihat salah dalam membandingkannya. Yang saya lihat di Amerika, Eropa, Jepang tidak berbeda dengan kita.
Apa kelebihan di antara majalah sastra yang ada di Indonesia?
Begini, Majalah Kalam tiga bulanan dan tebal sehingga bisa menampung tulisan yang panjang tapi Horisan tidak bisa karena lebih tipis. Jadi dengan kata lain merupakan wadah dari kegiatan yang berbeda dan masing-masing saling membutuhkan. Masing-masing majalah sastra punya tugas. Tugas Horison adalah memperluas basis apresiasi, Kalam tugasnya memberi tempat dalam suatu arena untuk diskusi secara lebih panjang. Sedangkan Basis mungkin agak campur, tidak begitu spesifik sastra.
Apakah jumlah majalah sastra yang ada sudah cukup?
Saya pikir cukup karena dunia pemikiran Indonesia juga belum begitu maju. Tidak seperti di India. Memang tidak selalu pemikiran tinggi atau ilmu tinggi selalu diminati orang. Yang penting tugas majalah sastra adalah pertama meningkatkan mutu perdebatan pemikiran dan kreativitas. Kedua mengajak sebanyak mungkin orang mengikuti perdebatan. Ketiga memberi tempat kepada hasil-hasil pemikiran. (dan/idi)