Logo Oneweb
Catatan Sastra

Keindahan Bunuh Diri dan Ejakulasi Pertama Yukio Mishima

SEPANJANG hidupnya, pengarang paling berpengaruh dalam sastra modern Jepang, Yukio Mishima, mengguratkan dongeng tentang kematian. Satu hari sebelum bunuh dirinya, dia memberi sentuhan terakhir pada novel terakhirnya, Tennin Gosui (Kebusukan Malaikat). Ini adalah seri keempat Laut Kesuburan setelah Kuil Senja, Kuda-Kuda yang Berlari, dan Salju Musim Semi.

Pada halaman-halaman buku itu, dia menulis: "Sesaat sebelum puncak ketika waktu harus dipotong pendek adalah puncak keindahan fisik. Keindahan yang terang dan jelas. Pada saat itu, keindahan seorang manusia dan keindahan seekor rusa kecil adalah korespondensi yang cantik. Menegakkan tanduknya dengan bangga, mengangkat tungkai kaki berbercak putih yang agak kurus dengan wajah penolakan".

Mishima tak terbantahkan sebagai figur kuat kebudayaan Jepang. Seppuku, bunuh diri dengan pedang samurai, yang dilakukannya pada 25 November 1970 jadi peristiwa penting dalam sejarah kesastraan Jepang. Seppuku itulah barangkali puncak keindahan yang dimaksudkannya.

Minggu ini, Yukio Ninagawa akan mementaskan dua teater Noh modern karya Mishima, Sotoba Komachi (Komachi di Stupa) dan Yoroboshi (Orang Buta), di Barbican, London. Teater Noh adalah jenis drama tradisional Jepang yang berkembang sejak abad ke-15. Drama ini sangat formal, keras, dan simbolik. Simbolisme artistiknya pernah menarik minat penyair W.B. Yeats untuk menirukannya pada drama eksperimennya, seperti At the Hawk's Well (1917).

Ninigawa menyebut drama itu sebagai "drama yang paling keras, romantik, dan kurang ajar". Dia adalah salah seorang sutradara teater terbaik yang pernah dimiliki Negeri Matahari Terbit itu. Sebelumnya dia sering mementaskan lakon Shakespeare, seperti King Lear, Hamlet, Macbeth, dan A Midsummer Night's Dream.

"Saya menafsir... Yoroboshi sebagai otobiografi spiritual Mishima," kata Ninigawa. Drama itu mengisahkan tentang seorang anak muda, berusia persis sama dengan Mishima, yang matanya terbakar pada sebuah serangan udara semasa perang. Anak buta itu lalu membangun sebuah dunia yang sinis dan keras dan membayangkan dunia pascaperang sebagai dunia tanpa roh, tanpa dasar.

Tafsiran Ninigawa nampaknya cukup beralasan. Mishima adalah sosok sastrawan Jepang yang disiplin dan sangat memuja nasionalisme. Namun, sang nasionalis itu patah arang ketika gagal dalam kaulifikasi militer untuk Perang Dunia II. Dia akhirnya ditugaskan ke pabrik pesawat terbang.

Hatinya makin remuk kala menyaksikan kekalahan perang Jepang yang dianggapnya sebuah dekadensi tak berampun terhadap negerinya sendiri. Reaksinya kemudian luar biasa.

Atas nama revivalisasi tradisi Samurai, dia mengorganisir 100 orang dalam Tatenokai (Masyarakat Pelindung), sebuah persaudaraan paramiliter yang menekankan latihan fisik dan bela diri.

Puncaknya, 25 November 1970, Mishima bersama empat rekannya dari Tatenokai merebut markas besar militer di Tokyo. Di sana, dia menyampaikan pidato terakhirnya yang menyerang konsitusi Jepang pascaperang dan mengajak Pasukan Bela Diri Jepang untuk memberontak demi penyelamatan budaya tradisional. Kampanyenya gagal dan Mishima pun bunuh diri.

Ada kebencian besar Mishima pada Pembaratan yang terjadi pada masyarakat Jepang modern. Tapi, dia sendiri tak lepas dari proses itu. Referensi sastranya juga mengacu pada Proust, Montherlant, dan Raymond Radiguet.

Selain itu, ada tarikan neurotik dalam pencarian identitas Jepang yang dilakukannya. Dalam Kuil Kencana, hujatannya pada Pembaratan tampil berbarengan dengan kekecewaannya pada Budhisme yang ditemukannya sebagai kepercayaan yang diimpor dari Cina.

Kepercayaan dan seks berbaur dalam kompleks neurotik itu. Ejakulasi pertamanya terjadi di hadapan sebuah lukisan reproduksi St. Sebastian karya Guido Reni. Hal yang mirip muncul pula dalam Kuil Kencana dimana sang tokoh mengidentifikasi keindahan buah dada dengan kuil kencana impiannya.

Mishima barangkali terlalu bernafsu menemukan identitas itu --yang tak lain dari identitas dirinya. Pada satu titik dia kalah, tapi dia "menegakkan tanduknya dengan bangga" pada puncak keindahan itu: kematiannya.

kurniawan/guardian

Mishima Sastrawan Jepang Abad 20

Yukio Mishima adalah nama samaran Kimitake Hiraoka (1925-1970) yang terlahir di Tokyo. Dia lulus dari Universitas Tokyo tahun 1947 dan kemudian bekerja di Kementerian Keuangan Jepang. Tapi, Mishima mundur dari pekerjaan yang hanya dijalaninya dalam sembilan bulan itu dan segera mulai menulis. Tahun 1949, dia menerbitkan novel panjang pertamanya, Kamen no kokuhaku (Pengakuan pada Sebuah Topeng).

Karyanya itu sukses dan dia terus memproduksi karya-karya yang makin mengukuhkan dirinya sebagai sastrawan besar Jepang, seperti Shiosai (Nyanyian Gelombang), Kinkakuji (Kuil Kencana, pernah diterbitkan dalam edisi Indonesia), Kinjiki (Warna-Warna Terlarang) dan Madame de Sade. Kebanyakan karyanya sudah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa,

Mishima adalah pengarang yang sangat disiplin dan berenergi besar. Dia biasanya menulis dari tengah malam hingga fajar dan menghasilkan lebih dari 100 karya, termasuk novel, cerita pendek, naskah teater Noh dan Kabuki, dan skenario film.

kurniawan/NewDawn Magazine

Karya Utama Mishima
(versi Inggris dan Jepang)

Confessions of a Mask (Kamen no kokuhaku, 1949)
Thirst for Love (Ai no kawaki, 1950)
Forbidden Colors (Kinjiki, 1952)
Twilight Sunflower (Yoru no himawari, 1953)
The Sound of Waves (Shiosai, 1954)
The Temple of the Golden Pavilion (Kinkakuji, 1956)
After the Banquet (Utage no ato, 1960)
The Sailor Who Fell from Grace with the Sea (Gogo no eikô, 1963)
Madame de Sade (Sado kôshaku fujin, 1965)
The Way of the Samurai: Yukio Mishima on Hagakure in Modern Life (Hagakure nyûmon, 1967)
Sun and Steel (Taiyô to tetsu, 1968)
Spring Snow (Haru no yuki, 1969)
Runaway Horses (Honba, 1969)
The Temple of Dawn (Akatsuki no tera, 1970)
The Decay of the Angel (Tennin gosui, 1971)
Five Modern Nô Plays (kumpulan teater Noh)
Death in Midsummer (kumpulan cerpen)
Acts of Worship (kumpulan cerpen)


Lihat siapa pengunjung situs ini.