Logo Oneweb
Catatan Sastra

Toko Buku Pradnya Paramita yang Sepi

TOKO buku itu sepi. Ruangannya tak seberapa besar. Rak-rak buku menempel di tiga bagian dinding ruang. Tak banyak buku menarik dipajang disana. Lebih tak menarik lagi karena buku-bukunya terkesan tua, agak kusam dan lusuh.

Tapi, ada sebuah rak besi kecil berbentuk melingkar bertingkat-tingkat yang diletakkan persis di sebelah kiri pintu masuk. Di rak itulah dipajang semua buku Karl May edisi bahasa Indonesia terbitan Pradnya Paramita Jakarta.

Toko itu sendiri memang toko buku Pradnya Paramita yang terletak dalam satu kompleks dengan kantor penerbitannya, di Jalan Bunga 8-8A, Matraman, Jakarta. Kompleks itu terletak di bagian dalam sebuah jalan sempit tepat di sisi barat persimpangan Matraman-Kampung Melayu.

Penerbit Pradnya Paramita sebenarnya merupakan gabungan dari empat perusahaan Belanda setelah pemerintah Republik Indonesia melakukan nasionalisasi perusahaan Belanda di tahun 1963. Emapt perusahaan yang digabungkan itu adalah NV JB Wolters, NV Noodhofkoft, NV W Versluys, dan NV H stam. Kini, perusahaan penerbitan, percetakan, dan toko buku itu jadi salah satu Badan Usaha Milik Negara yang banyak menerbitkan buku-buku pelajaran.

Meski mengkhususkan diri menerbitkan buku pelajaran, ada beberapa judul buku fiksi yang diterbitkannya. Di antaranya adalah Rencana penyerbuan (dua jilid) dan Bumi Medan Pertempuran (lima jilid) karya L Ron Hubbard dan 25 judul buku karya Karl May, pengarang Jerman yang terkenal dengan kisah fantasi petualangannya itu. Beberapa judul seri Karl May itu antara lain Winnetou Ketua Suku Apache, Pemburu Binatang Berbulu Tebal dari Rio Pecos, Winnetou Gugur, dan Kara Ben Nemsi. Buku-buku itu tampak kesepian di ruangan yang sepi itu.

Menurut pihak penerbit, permintaan atas buku-buku Karl May cukup baik, meski tak cukup menguntungkan dalam perhitungan bisnis. Setiap tahun rata-rata sekitar 4-5 ribu eksemplar buku Karl May terjual. Jumlah ini untuk semua judul yang setiap judulnya punya jumlah jilid berbeda-beda. "Buku-buku Karl May kebanyakan laku dalam pameran-pameran dan setidaknya untuk tiga tahun terakhir angka penjualannya tak berubah," kata Gemala Paramita, Kepala Bagian Pemasaran Pradnya Paramita.

Menurut Gemala, buku yang laris adalah Karl May Seri Amerika. Dalam seri ini Karl May menuli tentang petualangan Old Shaterhand dan sahabatnya, Winnetou, di padang-padang perburuan Amerika. Sementara, judul-judul yang sedikit peminatnya ada dari Seri Timur dan Asia, seperti Hantu Pegunungan Batu dan Puri Rodriganda.

Karena angka penjualan yang tak cukup progresif itu, penerbit Pradnya tak berani mengambil inisiatif untuk merevisi buku-buku Karl May yang sejak 1960-an tak banyak perubahan itu. "Ada, misalnya, permintaan dari pembaca untuk mengubah gaya bahasa buku itu yang masih memakai gaya bahasa lama, tapi untuk mengubah seluruh judulnya tentu merupakan proyek besar yang cukup mahal," kata Anugrah Mucharani, Kepala penerbitan Pradnya Paramita.

Selain itu, banyak toko-toko buku yang punya aturan yang tak cukup mendukung terpajangnya buku-buku Karl May di rak toko mereka. "Toko-toko buku biasanya punya aturan memajang buku-buku terbitan tiga tahun terakhir. Sedangkan, buku Karl May kan lama, jadi tak mungkin dipajang disana," ungkap Gemala.

Meski demikian, permintaan pembaca atas buku-buku Karl May tetap ada. Menurut Gemala, penjualan buku tersebut di toko buku Gramedia di Pondok Indah Mall dan Matraman cukup baik. "Pesanan juga ada dari Riau dan Medan, tapi kebanyakan dari Jawa," kata Gemala.

Menurut Anugrah, pemesanan buku secara perseorangan itu biasanya untuk koleksi. "Ada yang cuma pesan satu judul untuk melengkapi koleksi mereka, ada pula yang memesan satu seri komplit," katanya.

Hingga kini, Pradnya Paramita jadi satu-satunya penerbit yang menerbitkan buku-buku Karl May. Buku-buku yang mereka jual hingga kini masih stok lama, cetakan tahun 1989. Ini menandakan tak begitu baiknya permintaan pasar. Padahal, menurut pihak Pradnya Paramita, pembelinya pun kebanyakan dari generasi tua, generasi tahun 1960-an ketika Karl May cukup diakrabi di publik pembaca Indonesia. Kalau begitu, sampai berapa lama penerbitan buku Karl May ini akan bertahan?

Kurniawan


Lihat siapa pengunjung situs ini.