Logo Oneweb
Catatan Sastra

Senarai Sastra


Awal Kebangkitan Sastra?
Perjalanan sastra Indonesia kontemporer dibahas dalam Simposium Sastra Nasional Membangun Moral Bangsa Melalui Sastra di kampus Universitas Muhammadiyah, Malang, pekan lalu. Tampil dalam simposium kali ini berbagai tokoh dalam komunitas sastra, seperti Prof. Dr. Toety Heraty Noerhadi, D. Zawawi Imron, Rendra, Putu Wijaya, Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, Dr. Faruk H.T., Dr. Rachmat Djoko Pradopo, dan akademisi lainnya.
Ada percik harapan akan bangkitnya sastra dari keterpasungan masa lalu Orde Baru yang menekan dalam simposium itu. Toety Heraty memunculkan optimisme itu dengan mencontohkan materi cerita pendek dalam Derabat: Cerpen Pilihan Kompas 1999. Dari 20 cerpen itu, katanya, ada 13 cerpen yang telah bebas berekspresi.
Toety juga menekankan perlunya perubahan sikap para cendekiawan untuk lebih optimis melihat masa depan sastra dan politik Indonesia. Menurutnya, sudah tidak mungkin lagi membiarkan berbagai pencekalan karya sastra dan pementasan seperti yang terjadi di masa Orde Baru. Inilah situasi point of no return, titik tak dapat balik dalam sejarah sastra negeri ini.

Rakyat Baca Puisi
Ada yang baru dalam Festival November di TIM kali ini. Panitia menggelar Rakyat Baca Puisi pada Rabu (11/11) malam dengan pembawa acara Oppie Andaresta dan Sawung Jabo. Yang bisa baca puisi ternyata bukan cuma penyair yang menontonnya saja perlu bayar, tapi juga rakyat umum.
Pada malam itu sekitar dua puluhan orang naik ke panggung di pelataran parkir TIM membaca berbagai puisi. Dari puisi penyair terkenal semacam Sutardji Calzoum Bachri sampai puisi karya dewek.
Di tengah suasana kocak, merakyat, dan penuh celetukan para "penyair" itu naik mimbar. Ada Sardi (pesuruh di Dewan Kesenian Jakarta selama 30 tahun), ada Iman penjual ayam bakar, dan ada Iwan Nasution pedagang rempah-rempah. Ada juga tukang sate Romli yang membaca Puisi di Pantai Badur karya D. Zawawi Imron dengan mengusung angkring satenya ke atas panggung.
Ada juga Jajak Suharjo yang berprofesi sebagai hansip selama 17 tahun. Jajak bercita-cita jadi Abri tapi dilarang orang tuanya dan banting stir jadi hansip. Maka malam itu dia dengan gagah membaca Kepada Seorang Jenderal karya Trisno Sumardjo. Yang paling gerr mungkin ketika Mudrika alias Emak yang biasa menjual minuman dan air mineral di pelataran depan TIM naik ke panggung bersama keempat anjing piaraannya.
Acara malam itu ditutup dengan hiburan dari pengamen bus kota Pepeng. Lagu-lagunya yang terpleset kesana kemari soal masalah sosial dan politik aktual menyentuh sentimen penonton dan mendapat tepukan meriah. Penonton pun pulang dan setidaknya sebuah ruang publik telah sedikit diberikan oleh TIM untuk mereka, meskipun banyak yang kecewa karena tak diberi kesempatan untuk naik mimbar membacakan puisi.

Lihat siapa pengunjung situs ini.