Logo Oneweb
Catatan Sastra

Aku, Sitor, dan Pejalan Iseng

(Koran Tempo, 8 Juni 2002)


Akankah kita bercinta dalam kealpaan semesta?
Bukankah udara penuh hampa ingin harga?
Mari, Dik, dekatkan hatimu pada api ini
Tapi jangan sampai terbakar sekali

(Dia dan Aku, 1953)

JAKARTA -- Penyair Sitor Situmorang hanya dua kali bertemu Chairil Anwar. Pertama di kantor redaksi harian Pedoman pimpinan Rosihan Anwar di kawasan Pasar Senen. Kedua di perpustakaan USIS, kantor penerangan Amerika Serikat. Setidaknya itulah yang dicatat Sitor dalam otobiografi Sitor Situmorang Seorang Sastrawan 45 Penyair Danau Toba (1981).

Namun, perjumpaan itu tampaknya mengesankan benar bagi penyair kelahiran Harianboho, Sumatera Utara, 2 Oktober 1924 itu. Degup revolusi tengah menyala pada 1949 ketika Sitor muda menginjakkan kakinya di Jakarta dan menghirup hawa segar kebudayaan yang tengah menjadi. Dia mulai menghayati kesenian yang ditemuinya pada tiga hal: sajak Aku Chairil, lukisan Di Depan Kelambu Sudjojono, dan poster Affandi yang berslogan Ajo, Bung!.

Lukisan Sudjojono menghenyakkannya sebagai ungkapan kemanusiaan modern dan individualitas. Sedang, "Sajak Aku bergema di hatiku sebagai jawaban yang berdentam-dentam," tulisnya. Yang berdentam itu adalah jawaban atas pertanyaan tentang identitas diri. Barangkali suasana batin semacam itulah yang menyusupi benak-benak seniman Angkatan 45 yang berada dalam lingkaran pengaruh kuat Chairil Anwar. Tak terkecuali Sitor.

Namun, Nirwan Dewanto, pengasuh jurnal Kalam, berpendapat bahwa puisi Sitor, terutama dari periode awal, khususnya kumpulan Surat Kertas Hijau, Dalam Sajak, dan Wajah Tak Bernama, berciri pada bunyi dan rupa, bahkan tertib-bunyi dan tertib-rupa. "Ciri demikian membebaskan dia dari lingkaran pengaruh Chairil Anwar dan mendekatkan dia kepada Amir Hamzah," kata Nirwan saat menjadi pembicara tunggal sekaligus moderator dalam diskusi Menimbang Sitor Situmorang (Sajak-sajak 1948-2001) di toko buku Aksara, Kemang, Jakarta Selatan, 5 Juni.

Kita kenal Amir Hamzah sebagai tokoh perpuisian lama yang mendemonstrasikan gaya perpuisian kuno, seperti pantun, gurindam, dan sonet, pada puncak keindahannya. Kita bisa menyimaknya pada antologi puisi Nyanyi Sunyi dan Setanggi Timur. Puisi Sitor pun berpola pantun dan sonet, misalkan pada puisi Dia dan Aku dan Surat Kertas Hijau. Simaklah bait pertama Surat Kertas Hijau:

Segala kedaraannya tersaji hijau muda
Melayang di lembaran surat musim bunga
Berita dari jauh
Sebelum kapal angkat sauh

Nirwan menilai puisi Sitor yang menggunakan bentuk puisi lama seperti pantun dan sonet tidaklah terutama disebabkan oleh hasrat mengikatkan diri kepada masa lampau dan tradisi. Tertib-pola puisi Sitor, katakanlah seperti pada puisi Dia dan Aku yang dibacakan Sitor sendiri pada diskusi di Aksara, digunakan sebagai, "Sarana untuk menapis dan menundukkan derau dan gebalau pengalaman modern," kata Nirwan.

Generasi Sitor, para penyair Angkatan 45, menggandrungi puisi bebas, tapi Sitor tidak. Namun, bukan berarti Sitor menghindarinya. Menurut Nirwan, Sitor menyadari puisi bebas sebagai kemubaziran yang hanya mengekor modernitas, bukan mempersoalkannya. "Atau, ia berkehendak menjadi sang lain, the other, dari kaum modernis yang menganggap diri sebagai pendukung the tradition of the new," kata pengarang buku Senjakala Kebudayaan itu.

Nirwan melihat pula bahwa puisi Sitor juga mendedahkan rupa: alam, kota, arsitektur, perempuan, alam benda. Namun, seperti pelukis, Sitor bukan realis tapi impresionis. Puisinya tidak menampilkan pemandangan itu sendiri tapi kesan atas pemandangan. Puisi Sitor boleh jadi tertib dan manis seperti lukisan Edouard Manet atau Pierre Bonnard, namun Sitor, sadar atau tak, "Selalu menyisipkan 'filsafat' ke dalamnya, khususnya kata benda abstrak, tak jarang dengan begitu kuat," tukas Nirwan yang mencontohkan kalimat "Kesepian di sini menjadi kehadiran" (Place St. Sulpice) dan "Kebosanan abadi jadilah lupa" (La Ronde).

Nirwan lantas membandingkan Sitor dengan Charles Baudelaire, penyair Prancis abad ke-19. Keduanya adalah sang flaneur: pejalan iseng tanpa tujuan yang memandang dunia sebagai hal terpecah-pecah. Tapi Sitor bukanlah flaneur sejati. "Seperti Pablo Neruda, Sitor berkelana dengan kampung halamannya dalam kopornya," tutur Nirwan.

Belakangan, Sitor melakukan rekonsiliasi dengan kampungnya, kampung yang kini diluaskannya sebagai "bangsa". Keisengan berganti ide, bahkan ideologi. Puisi-puisinya selepas 1970-an berupaya mendedahkan "aku" kembali. "Di sini tiada lagi musik atau tertib-bunyi yang bisa melunakkan isi-sajak," kata Nirwan.

Penekanan "aku" yang begitu serius membuat puisi tak pernah menjadi permainan dan humor, melainkan "filsafat". Maka, ketika kita sudah terlalu banyak mendengar khotbah, "filsafat" dalam puisi pun jadi tak penting. Kita lalu mengenang kembali puisi Sitor dari masa 1950-an, "Di mana musik dan bunyi begitu utama, sehingga kita bisa merayakan keisengan murni--dalam arti menjadi mahluk bermain, homo ludens--setelah kita menjadi begitu jinak dan seragam dalam jejaring sistem," simpul Nirwan. (Kurniawan)


Lihat siapa pengunjung situs ini.