PEMENANG Nobel Sastra 1970, Alexander Isaevich Solzhenitsyn, menyengat kembali publik sastra dunia dengan menerbitkan buku terbarunya, Two Hundred Years Together, 1795-1995. Selama ini, Solzhenitsyn terkenal dari potret hitam kamp konsentrasi Soviet yang digambarkannya dalam novel Sehari dalam Hidup Ivan Denisovich.
Kini, Solzhenitsyn menyingkap asal usul kebencian Rusia terhadap Yahudi dalam buku terbarunya. Buku sepenjang 500 halaman dengan ratusan catatan kaki itu melukiskan bagaimana program kekerasan nasionalis di Rusia menaik dan mencapai puncaknya pada kerusuhan tahun 1903 di Chisinau, kota yang sekarang bernama Moldova. Lusinan orang terbunuh dalam kerusuhan itu.
"Aku ungkapkan kedua sisinya -orang Rusia dan Yahudi- untuk menampilkan pemahaman bersama yang toleran dan mengenali kebersalahan mereka," tulis Solzhenitsyn pada pengantar buku tersebut.
Dia mengatakan orang Yahudi dan Rusia liberal telah menuduh penguasa Czar sebagai "secara keji dan artifisial menciptakan sebuah atmosfir khusus anti-Semit". Tapi, kelompok Yahudi memandang istilah seperti "monarki", "ortodoksi", dan "perasaan nasional" sebagai menentang Yahudi secara khusus.
Di bukunya, dia mengklaim bahwa orang Yahudi sebagai katalis Revolusi Bolshevik, Bahkan, banyak pemimpin Bolshevik, termasuk Trotsky dan Lenin, yang Yahudi juga. Dia juga meluruskan posisi orang-orang Rusia, khususnya Tsar Alexander II, atas dipersalahkan sebagai penyebab kebencian Rusia terhadap Yahudi dan menyulut sejarah pembantaian selama seratus tahun. Dia sendiri terkejut ketika meneliti dan menemukan bahwa Alexander II pernah mempromosikan pendidikan tinggi bagi bangsa Yahudi.
Dalam wawancaranya dengan mingguan Moskovskiye Novosti, Solzhenitsyn mengatakan bahwa Vladimir Putin, yang mengunjunginya segera setelah terpilih sebagai presiden tahun lalu, telah mengabaikan sarannya untuk membubarkan orang-orang di sekitarnya dan mengurangi kekuasaan parlemen. "Ini benar bahwa aku bisa menawarkan semacam saran sepanjang aku bisa, tapi kontak kami tak berlanjut," katanya.
Solzhenitsyn, yang kembali dari Amerika Serikat di tahun 1994 setelah 20 tahun dalam pelarian, menghadapi serangan dari pihak-pihak yang menganggapnya anti-Yahudi. Dia meramalkan bahwa buku ini akan memberi serangan balik terhadap pengkritiknya. "Beberapa orang akan terlibat polemik karena mereka tak tahu apapun soal ini. Yang lain akan terlibat karena biasnya," katanya.
Solzhenitsyn menyatakan bahwa dia secara ketat menghindari rujukan anti-Semit dalam novelnya, Sehari dalam Hidup Ivan Denisovich. Dia juga memotret kehidupan seorang dokter Yahudi dalam Cancer Ward. Menurutnya, beberapa senator Amerika pernah menuduhnya anti-Semit berdasarkan nukilan di luar konteks dari bukunya, August 1914 .
"Banyak yang menyerangku menggunakan isu sensitif karena mereka tahu isu itu mudah dimainkan, khususnya ketika aku di Amerika," akunya. "Ini membuat atmosfirnya lebih panas. Ini bukanlah isu untuk dipermainkan. Orang harus ekstra hati-hati dengan isu semacam ini," katanya.
Dia menyatakan bahwa bangsa Yahudi telah membantu membela Rusia melawan tentara Napoleon di tahun 1912 dan mendapat posisi puncak pada birokrasi Soviet setelah Revolusi Bolshevik 1917. "Aku memahami hakikat karakter bangsa Yahudi yang sensitif, jernih, dan tanggap," katanya.
Solzhenitsyn diakui sebagai orang yang membawa nasionalisme di Rusia pasca-Soviet dan membela nila-nilai budaya di negara yang didominasi bangsa Slav itu. Dia dipenjara pada masa pemerintahan Soviet dan dilepas tahun 1974. Dia kemudian mencari perlindungan ke Amerika. Di sana, dia terus mengkritik penguasa Rusia pascakomunisme dan menyebut mereka telah mengalami degradasi moral.
Sebagai sastrawan, Solzhenitsyn punya pengaruh luas dan jadi simbol perlawanan. Dia sempat menerbitkan karya The Red Wheel, sebuah fiksi tentang Rusia di amsa perang Dunia I dan August, 1914 adalah bagian pertama dari empat volume bukunya. Solzhenitsyn pernah mendiskusikan karya terbarunya tentang bangsa Yahudi ini dengan pemenang Nobel asal Israel, Mentri Luar Negeri Shimon Peres.
Kurniawan/reuters