Logo Oneweb
Catatan Tari

Balet: Tarian Rama Memberantas Angkara
Reinkarnasi Wisnu ke jasad Rama meluluhlantakkan nafsu angkara para raksasa. Grup tari India, Bharatiya Kala Kendra, mengedepankan kisah Ramayana dalam bentuk balet.

Pada mulanya adalah perang antara para dewa dan para raksasa. Para dewa yang suka perdamaian diserang oleh para raksasa. Lalu, mereka memanjatkan doa kepada Dewa Wisnu, Sang Pemelihara. Wisnu Wardana menerima dan berjanji untuk bereinkarnasi sebagai Rama.

Sendratari yang dibawakan Bharatiya Kala Kendra (BKK), sebuah kelompok tari dari New Delhi, India, itu bergulir dalam alur epos besar tanah India, Ramayana. Cerita klasik yang dibingkai keindahan cinta Rama dan Sinta tersebut digelar di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, 27 Agustus lalu. Di tempat lain juga digelar, yakni di teater terbuka candi Prambanan, Yogyakarta (28/8), dan di Medan (30/8).

Kisahnya mengalir melalui tarian. Penonton mendapat dua suguhan sekaligus. Gerak gemulai indah dari 25 penari, lalu jalan cerita perjuangan Rama membebaskan istri yang dicintainya, Sinta, hingga kembalinya pasangan sejati ini ke Ayodhya. Sayangnya, suara dan musik latar dialunkan melalui rekaman, bukan suara musik dan penyanyi aslinya yang tentunya akan lebih menarik.

RAMAYANA Inilah Ramayana versi 'sono'-nya. Tak jauh berbeda dengan yang dikenal masyarakat kita di sini sebenarnya. Adalah Rama, anak tertua dari empat bersaudara Lakshmana, Bharata, dan Shatrughana. Ayahnya, Raja Ayodhya, Dashratha dan terutama ibunya Kaushalya, membimbingnya dengan penuh cinta hingga Rama dewasa.

Suatu saat, bersama Risho Vishwamitra, atas seizin Dashratha, Rama dibawa ke hutan untuk mencegah gangguan raksasa. Ia berhasil membunuh sejumlah raksasa. Lalu, Rama diajak ke Mithila untuk mengikuti sebuah acara Raja Janaka. Dalam acara itulah, Rama dan putri raja Janaka, Sinta, saling melirik di Taman Candi Dewi Gauri. Sinta mengalungkan bunga kepada Rama. Selain itu, Rama juga menjuarai lomba panahan sebagai syarat untuk bisa menyunting Sinta. Kemudian, Rama-Sinta dengan penuh suka cita ke pelaminan.

Namun, ketika ayahnya Dashratha, bermaksud menyerahkan takhta kepadanya sebagai putra tertua, muncullah konflik. Manthra, pembantu Ratu Kaikeyi, tidak suka atas penunjukan Rama menjadi pewaris takhta. Melalui Ratu Kaikeyi, Dashratha dibujuk hingga terlaksana menyuruh paksa Rama-Sinta, serta Laskhmana (anak kedua) dan Bharata (anak ketiga) untuk tinggal di hutan Panchvati selama 14 tahun.

Di sini pun hambatan lain muncul. Ravana, Raja Lanka yang selalu diperbudak nafsu itu, menculik Sinta. Tentu saja, Rama sangat berduka. Untungnya, Jatayu, raja bangsa burung, yang sangat mengagumi Rama berusaha membebaskan Sinta. Meski kemudian ia terluka oleh Ravana.

Tapi, lagi-lagi Rama mendapat pertolongan. Ia bertemu Sugreeva, Raja Kera. Lalu, Hanoman, komandan pasukan kera, ditugaskan membantu Rama menemukan Sinta. Melalui Jatayu, Hanoman mengetahui bahwa Sinta disekap di Ashok Vatika. Hanoman menjalankan misi intelijen ke tempat penyekapan, tapi gagal. Hingga kemudian, bersama Rama, ia menyerang Ravana dan berhasil membebaskan Sinta. Lantas, Rama-Sinta kembali ke Ayodhya. Masyarakat menyambutnya gegap gempita, ''Raja (dan Ratu) pembela kebenaran datang,'' gemuruh suara rakyat itu.

PAHATAN TARI CANDI Ram Lila, penggagas pertunjukan epik besar Ramayana ini, tampaknya memijakkan gaya baletnya pada pahatan tari candi. Sikap-sikap dasar tribangga (tekukan tiga dengan tekanan di lambung), yang melandasi kebenaran dan keterampilan gerak tari menurut tradisi Hindu, disuguhkan dengan prima. Juga bawa (emosi), raga (melodi), dan tala (irama) dibawakan dengan meyakinkan.

Dalam strukturnya yang jelas, Ram Lila membawa para penarinya bergerak ritmis dengan ketentuan-ketentuan visualnya yang nyata. Berpadu dengan mudra (gerakan tangan) yang mengandung arti dan abhinaya (cara pengungkapan emosi lewat mimik muka) menafsirkan cerita.

Rata-rata penari mampu menempatkan antara irama gerak kaki, tubuh, tangan, kepala, dan irama pukulan gendang yang semakin cepat, dipadu dengan dendang syair India dan iringan sitar dalam bentuk rekaman. Gerak dan iringan yang berjeda dalam hentian mendadak itu juga menjadi daya tariknya.

Meski berembel-embel "balet", tarian Ram Lila ini masih menggunakan unsur-unsur estetika India yang menekankan sembilan rasa manusia (Lihat boks: "Tari dan Estetika India"). Dengan pementasan ini, Ram Lila bisa dibilang cukup berhasil menata epos Ramayana menjadi tarian yang memikat bersamaan dengan kian kuatnya ballet d'action, yang mulai muncul sejak abad ke-17. Hanya, dalam pemanfaatan tata lampu terasa tidak optimal. Bermacam warna lampu yang bisa menguatkan efek pencahayaan yang mendukung gerak penari terasa kurang bervariasi.

Namun begitu, pesan dramatika Ramayana tetap utuh terpahami penonton. Reinkarnasi Wisnu menjadi Rama untuk memberantas kebatilan mudah tertangkap. Pertunjukan BKK ini pun membuktikan betapa luasnya ruang bagi kreativitas sebuah mitologi semacam Ramayana. Bukankah, saban tahun, Sendratari Ramayana selalu digelar di Candi Prambanan, dan tetap saja menarik perhatian. (dikki nursa)

Tari dan Estetika India

Tari di India muncul mendampingi berbagai bentuk karya seni lain, seperti puisi, patung, arsitektur, sastra, musik dan teater. Bukti arkeologis terawal yang ditemukan adalah sebuah patung cantik seorang penari perempuan. Diperkirakan bertahun 6000 tahun sebelum Masehi. Natya Shastra karya Baharata adalah pelajaran tentang dramaturgi terawal yang sudah ditemukan. Naskah ini dipercaya ditulis antara abad kedua Sebelum Masehi dan abad kedua Masehi. Semua bentuk tari klasik India mengacu pada Natya Shastra yang dihormati sebagai Weda kelima.

Dikatakan bahwa Brahma, Sang Pencipta, menciptakan Natya, mengambil sastra dari Rig Weda, lagu dari Sama Weda, abhinaya atau ekspresi dari Yajur Weda, dan rasa atau pengalaman estetik dari Atharwana Weda. Semua bentuk tari terbangun dari sembilan rasa atau emosi, hasya (kebahagiaan), krodha (kemarahan), bhibasta (kejijikan), bhaya (ketakutan), shoka (penderitaan), viram (keberanian), karuna (kecintaan), adbhuta (ketakjuban), dan shanta (ketenteraman). Semua bentuk tari mengikuti gestur tangan yang sama atau hasta mudras untuk setiap rasa.

Dalam pentas BKK, kesembilan rasa itu bisa ditangkap dari fragmen-fragmen tariannya. Karuna misalnya pada fragmen ketika pandangan pertama terjadi antara Rama dan Sinta. Viram, ketika Rama berhasil mematahkan busur pusaka dan memenangkan sayembara. Dan seterusnya.

Tari India adalah campuran dari nritta (unsur ritmis), nritya (kombinasi dengan ekspresi) dan natya (unsur dramatik). Nritta adalah gerak tubuh yang ritmis dalam tari, tari murni. Dia tak mengekspresikan emosi apapun. Nritya biasanya dieskpresikan melalui mata, telinga, tangan, dan gerak muka. Nritya bergabung dengan nritta menciptakan program tarian biasa. Nritya terdiri dari abhinaya yang mengungkapkan sentimen dan bhava (mood atau suasana hati).

Untuk mengapresiasi natya atau drama tari, orang harus mengerti dan mengapresiasi legenda India, juga dengan tokoh mitologisnya seperti Wisnu, Laksmi, Rama, Sinta, dan Kresna. Setiap bentuk tarian juga menggambarkan inspirasi dari kisah-kisah yang mengangkat kehidupan, etika, dan kepercayaan masyarakat India. Beberapa bentuk tari rakyat dari India adalah tari Chauu dari Bihar, Garba dari Gujarat, Bhangra dari Punjab, dan Banjara dari Andhra Pradesh.(one)


Lihat siapa pengunjung situs ini.