Empat koreografer menafsir realitas, semuanya jadi tari. Ada Budha tanpa kepala, tapi juga ada manusia kesepian, uang, dan sinyal. Lantas apa itu realitas?
Kenyataan itu adalah apa yang kita lihat. Demikianlah para pengikut Shakespeare bilang. Atau pakai gaya Gertrude Stein, "kenyataan adalah kenyataan adalah kenyataan." Terserah pilih yang mana.
Yang jelas empat koreografer yang menampilkan empat karyanya di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jumat dan Sabtu malam itu (12 dan 13 Maret) punya pandangan sendiri. Namanya seniman, karya tari yang mereka hasilkan kaya nuansa dan gerak meski tetap pada satu sumbu: respons seniman tari atas "realita", yang kemudian menjadi payung besar pementasan.
Mereka adalah Djoko H.M. (Uang), M. Miroto (Kidung Wengi), Andi Abubakar (Proyeksi Signal), dan Rusdy Rukmarata (The Sound of Silence). Mereka dengan caranya sendiri-sendiri dan kepekaan kesenian yang mereka miliki mencoba menuangkannya dalam gerak-gerak tari. Dasar tari dan konsep yang mereka acu tentu saja berbeda-beda, sehingga menghasilkan pelangi karya yang layak diperbincangkan sebenarnya.
Kesempatan pertama untuk mentas adalah karya Andi Abubakar. Murid penari Bagong Kusudiardjo ini tidak menarikan sendiri karyanya, tapi dimainkan oleh Aswani Asis. Abubakar yang berdarah bangsawan Makasar ini memahami kenyataan sebagai suatu ketercerabutan dari apa yang pernah disampaikan para datu masa lalu. "Saya melihat bahwa empat yang harus dipegang, enam tuntunan jadi pemimpin, sudah dilupakan orang," katanya.
Maka sebuah lingkaran kecil dengan empat tempat dupa di empat pojok mengelilingi seorang penari. Penari itu seperti mandi asap dupa, seperti upacara-upacara tradisional pensucian diri. Kemudian lampu menggelap, dan panggung terpusat pada jumbai-jumbai lima helai kain berwarna merah, hijau, biru, kuning, dan ungu. Penari itu menari di baliknya, mengitarinya, dan sesekali muncul dari sela-sela jumbai kain dalam berbagai ekspresi.
Segalanya seakan mengungkapkan warna-warni hidup yang sudah demikian semaraknya sehingga membuat orang jadi gila. Ketika orang hendak kembali kepada pepatah petitih para datu, ada hambatan luar biasa. Gerak penari mendekati dan hendak meraih lingkaran suci dupa, disambut dengan jerit kesakitan seakan ketidaksucian telah menghalanginya memasuki dunia masa lalu yang damai itu.
Pada bagian kedua, penari Miroto membuka karyanya dengan gayanya yang biasa, sebuah tembang. Malam itu wajah Miroto dicat hitam, dengan latar panggung hitam, seakan hendak menghapus kesan bahwa ada kepala menempel di badannya. Dan ternyata maksudnya memang demikian.
"Idenya saya dapatkan ketika melihat patung Budha tanpa kepala di candi Borobudur. Saya pikir orang-orang sekarang itu begitu, tak punya kepala. Para Budha tak lagi bicara agama, tapi juga politik. Sehingga antara agama dan politik tidak lagi jelas bedanya," aku penari yang banyak belajar dari empu tari Jawa ini.
Maka patung Budha tanpa kepala itu turun dari kedudukannya di puncak candi. Setahap setahap menuruni tingkat-tingkat candi, masuk ke dunia ramai, dan turun menyaksikan riuh rendah pemilu.
Awalnya seluruh gerak berpusat pada satu lingkaran di tengah panggung. Lantas bergerak keluar, sambil sesekali menggetar-getarkan tubuhnya. Namun hampir sebagian gerak tidak pergi dari posisi awalnya, meski pada akhirnya penari itu bergerak menjauh. Miroto juga mengutip syair Zaman Edan karya Ronggowarsito seakan menegaskan inilah zaman yang dimaksud itu.
Selanjutnya kesempatan Rusdy Rukmarata meentaskan karya kolaborasi penuh improvisasi bersama pianis Dian A.G.P. dan Sujiwo Tejo. Rusdy yang memimpin Eksotika Karmawibhangga ini sudah lama bekerja sama dengan dalang Tejo dalam berbagai karya. Kali ini The Sound of Silence merupakan bentuk pertemuan tiga seniman dalam improvisasi yang longgar.
Terakhir penari kelahiran Solo, Djoko H.M., mengungkapkan keprihatinannya atas pengaruh uang dalam kehidupan manusia. "Saya terkesan dengan banyak asongan dan polisi cepek. Semuanya terkait dengan uang. Dari mana mereka mendapatkannya?" katanya.
Dengan berbasis pada teater randai, Minang, dan Tari Piring, penari Bastian menarikan karyanya ini. Dari kisah orang tua yang menanti kelahiran anaknya dengan kelesian tertentu, demonstrasi mahasiswa, Peristiwa Semanggi, Tragedi Banyuwangi, perkelahian antaragama, hingga perebutan kekuasaan menjadi bagian-bagian adegan dalam satuan-satuan tarinya.
Sebagai bagian teater, maka pemusik Syahrizal dan Risnul Kadam, serta penata musik M. Ikhlas jadi penting. Karena dalam randai, para pemusik yang merandai itu menjadi dasar ketukan langkah dan gerak penari.
Secara keseluruhan para koreografer ini berbeda tafsir dan visi berkeseniannya. Namun upaya mereka untuk menembus realitas dalam upaya menemukan suatu tafsir yang bermakna adalah sama. Kritik, makian, igauan, perenungan, atau sekadar imbauan menjadi ekspresi dasar yang bermaksud mengguncang kesadaran kita. (kurniawan)
Seniman-seniman dalam Kesepian
"Kita dalam kesepian. Kami mungkin seperti para seniman yang berada di twilight zone. Dibilang serius ternyata tidak begitu, dibilang ngepop ternyata tak mudah dipahami," kata Rusdy Rukmarata tentang karyanya, The Sound of Silence.
Mungkin inilah pengakuan yang jujur dari penari yang sedang melambung bersama grup tari pimpinannya, Eksotika Karmawibhangga. Sebelumnya, dengan karya Ken Dedes, mereka berhasil mengungkapkan sebuah kehidupan kosmopolitan yang retak. Pesta yang berantakan, dan cinta yang membiru.
Tapi penampilan Rusdy dengan beberapa karya yang sempat dipentaskannya, mengungkapkan sesuatu yang baru namun asing dalam gaya tutur tari. Kesan kosmopolit yang dibawakannya menjadikan karya-karyanya dianggap ngepop, namun masih berat untuk dibilang dangkal.
Sementara malam itu, untuk kesekian kalinya, Rusdy menggagas kembali citra metropolitan itu. The Sound of Silence berangkat dari sebuah kesepian diri di sebuah kafe. Diiringi denting piano yang dimainkan Dian A.G.P. dan cuap-cuap Sujiwo Tejo sebagai pembawa acara sebuah stasiun radio, menjadi stimulus bagi gerakan-gerakan tari Rusdy.
Tiga orang dengan tiga kerja di tiga tempat yang berbeda menyatu dalam satu hal: kesepian. Itulah tema pokok yang diangkat. Karya ini sebenarnya merupakan bagian pertama dari tiga bagian di bawah payung pementasan Trilogi Radio Pembangunan yang secara lengkap akan dipentaskan 25 Maret mendatang di Balai Budaya, Jakarta. Semuanya masih dalam satu nafas: kesepian. Kesepian di kafe, kesepian di jalan raya, dan kesepian di rumah. (kurniawan)