Logo Oneweb
Catatan Tari

Flashdance, Balet, dan Creativitat
Badan orang Timur, kata Farida Oetoyo, tidak cocok untuk balet. Karena itukah perkembangan balet di Indonesia begitu lambat?

Balet konon berakar di Italia pada abad ke-15 lalu menjadi utuh di Prancis dan mencapai puncaknya di Rusia pada pertengahan abad ke-19. Dan di Indonesia, balet kalah jauh pamornya dibanding apa yang secara sembarangan disebut orang sebagai tari modern yang sering menjadi tari latar panggung musik dan ilustrasi video klip. Jenis yang terakhir itu, bahkan bisa menyelusup ke kampung-kampung. Seperti yang terjadi di Kulon Progo, Yogyakarta, beberapa waktu lalu misalnya.

Di atas panggung yang didirikan di lapangan desa sebelah rumah kepala dusun di sana, jenis tari itu tampil setara dengan dangdut dan tarian tradisional. Para remaja putrinya dengan fasih menirukan gerak-gerak tarian yang sering muncul di televisi, dengan dandanan menor ala kadarnya. Maklum desa ini terhitung miskin --satu dua tahun lalu kita biasa menyebutnya tertinggal-- sehingga menerima paket bantuan IDT (Inpres Desa Tertinggal).

Memang, sejak 'demam tari' melanda negeri ini tahun 1980-an, para remaja pada umumnya mampu menirukan gaya Jennifer Beals yang memerankan tokoh Alexandra Owen dalam film Flashdance itu. Obsesi seorang Alexandra yang bisa meraih segalanya dengan menari membuat mereka bagai kena gendam.

Bukan kebetulan bahwa tarian ala Jennifer yang menuntut stamina dan kelenturan itu kemudian sejalan dengan senam aerobik. Sehingga wajar bila senam aerobik pun berkembang dengan pesatnya. Sampai belakangan ini pada era 1990-an lahirlah generasi-generasi MTV yang menyokong perkembangan pesat para penari latar. Yang jarang dicatat adalah bahwa pada periode yang sama, tahun 1980-an, adalah masa yang sama dari berkembangnya sekolah-sekolah balet di Indonesia, setidaknya di Jakarta.

Sekolah-sekolah balet yang selama ini terkesan menutup diri itu tiba-tiba bisa cukup populer. Salah satu nama yang muncul adalah Maya Tamara. Putri dari tokoh balet dan pesenam Nanni Lubis ini memimpin Namarina Ballet - Jazz - Fitness yang berpusat di Menteng dan cabang-cabangnya tersebar di seantero Jakarta. Nama lainnya, tentulah tak asing lagi sekarang, adalah Sumber Cipta yang dipimpin Farida Oetoyo.

Itu terjadi hampir dua puluh tahun yang lalu. Kenyataannya hingga kini tari balet masih dianggap asing. Yang tersisa dan berkembang dari era 1980-an hanyalah aerobiknya. Di Jakarta sendiri sekolah-sekolah balet memang banyak. Selain dua sekolah yang disebut tadi, nama Ratna Ballet School dan Cicilia Ballet sempat mengisi panggung-panggung pertunjukan prestisius di Jakarta.

Di luar Jakarta, baru di Surabaya dan Bandung saja sekolah balet berkembang. Di dunia pendidikan, ekstra kurikuler yang dipakai lebih memilih tari tradisi klasik ketimbang tarian asing semacam balet. Nah, dengan kondisi macam ini, apakah ide dari mantan pebalet James Danandjaya tentang ''rombongan balet nasional Indonesia'' seperti tahun 1959 masih punya harapan?

Banyak hal yang tak mendukung perkembangan balet. Salah satunya adalah akar kuat dari tari tradisi yang melekat dalam budaya masyarakat Indonesia. Anak-anak di Bali sudah sejak kecil dikenalkan dengan tari Bali, wajar bila mereka akrab dengan tarian tradisinya. Daerah-daerah lain lewat berbagai bentuk upacara tradisionalnya melanggengkan tari tradisi mereka.

Memang ada keluhan banyak orang tua tentang mengapa anak muda lebih tertarik ''tari modern'' ala MTV. Pada kenyataannya tari tradisi masih tetap hidup di alam nusantara. Apalagi setelah program pariwisata digembar gemborkan di Indonesia, jenis tari tradisi seakan jadi menu wajib program kesenian daerah.

Hal lain adalah tidak diberikannya pengenalan tentang tari balet di sekolah-sekolah. Para guru umumnya --mungkin karena pengetahun dan ketrampilannya yang terbatas-- memberikan jenis tari tradisi kepada murid-muridnya. Hanya beberapa sekolah di kota-kota besar saja yang, karena komitmen gurunya, memberikan mata ajaran tari balet.

Balet juga menuntut stamina dan kelenturan luar biasa yang berbeda dari beberapa jenis tari tradisi yang menekankan pada gerak saja. Sehingga tak semua orang dengan gampang jadi pebalet. Butuh waktu lama untuk mempelajari satu persatu teknik-teknis dasar dan bunga-bunga dalam balet. Bandingkan dengan tari sapu tangan yang bisa diajarkan secara masal dan dihapal geraknya dalam tempo sehari dua.

''Orang Timur itu nggak punya badan yang cocok untuk balet klasik,'' komentar Farida Oetoyo yang telah menggeluti balet sejak usia 9 tahun.

CREATIVITAT Namun terlepas dari itu, Farida Oetoyo rupanya masih optimis dalam menciptakan sebuah kelompok tari profesional berbasis balet. Farida memilih bentuk tari kontemporer bagi kelompoknya ini, jadi tidak murni balet lagi, meskipun dasar-dasar tarinya tetap mengacu pada balet.

''Perkembangan dunia tari menuntut demikian,'' katanya. ''Kalau kita bertahan pada tari balet klasik, bisa ketinggalan nantinya,'' lanjut pebalet kelahiran Solo ini.

Maka dari tangan alumni Akademi Balet Klasik Bolshoi Teater Moskwa tahun 1965 ini lahirlah Kreativitat Dance-Indonesia Company. Ide dasarnya adalah terbentuk sebuah wadah bagi para penari yang sudah matang dalam dasar-dasar baletnya untuk menarikan tari kontemporer. Tim intinya terdiri dari lima penari.

Debutnya diawali dengan pementasan pada 10-11 September. Dengan pertimbangan tertentu Creativitat sebenarnya direncakan dipentaskan kembali pada 28-29 November di Gedung Kesenian Jakarta. Namun, karena alasan tertentu empat koreografi, yaitu dua karya Farida Oetoyo, Perjalanan 20 Detik dan Kontras, dan Asa karya Chendra Effendy, serta Lullaby karya Yudistira Syuman, batal dimainkan.

Dan pekan oertama Desember ini, Creativitat juga berencana mentas di Teater Utan Kayu. Seorang koreografer tamu, Maxine Happner, ikut serta dengan karyanya Heron dan Snow. Creativitat sendiri akan mengusung Prologue, Impak, dan Lullaby 2. Nah, kita boleh juga menonton Farida Oetoyo yang akan menari di salah satu karya itu. (kurniawan)

Farida Oetoyo: Balet yang Kontemporer

Penari kalau sudah advanced, kan mesti punya tempat dimana dia bisa menari. Dia belajar menari lima tahun, speuluh tahun, tiba-tiba nggak ada follow up-nya, kan. Itu mesti ada saluran dan wadahnya sekarang. Dari sanalah tercetus ide mendirikan Creativitat. Lalu kita melakukan pentas berulang-ulang sebagai tahap awal supaya kita dapat jaringan penonton dan penonton kenal kita dan untuk program tahun ini kita lakukan sekali lagi.

Kita memilih kontemporer, tapi saya masih tetap mengajar balet klasik di sini (di Sumber Cipta --Red), tidak mengajar kontemporer. Nanti kalau mereka sudah selesai klasiknya, mereka nantinya harus ke kontemporer, karena jamannya sekarang jaman kontemporer. Dasar klasik itu bisa kemana-mana.

Saya belajar balet itu dari Barat. Saya memang tidak belajar tradisi. Pengaruh akar itu ada. Saya pernah bikin tari Maniera itu unsurnya Bali tapi itu tetap balet. Kayak kita belajar piano klasik, kita tak bisa tiba-tiba main gamelan. Saya nggak mau munafik terhadap itu.

Kontemporer itu adalah karya hari ini yang terjadi hari ini. Saya begitu juga. Cuma saya tidak bikin klasik balet lagi, karena saya bikin sesuatu yang datang dari diri saya sendiri. Kalu klasik balet itu ada patokan semua, gerak ini campur gerak ini ada patokannya. Kalau kontemporer itu kita menemukan gerak-gerak yang lain atau kita menemukan gerak-gerak yang tidak klasik. Jadi itu individu sekali.

Gerak-gerak itu saya ambil dalam kehidupan biasa. Orang yang nengak nengok begitu kok lucu, misalnya. Atau ada yang sedang membuat gerak-gerak pemanasan, tapi kelihatannya kok lucu, begitu.(kurniawan)


Lihat siapa pengunjung situs ini.