Logo Oneweb
Catatan Tari

Kami Jangan Diberi Harapan
Dua koreografer besar Indonesia dan Jerman, Gusmiati Suid dan Joachim Schlomer, bertemu. Penjajakan antara keduanya memang menarik, bahkan memperjelas betapa sulitnya sebuah kolaborasi.

Kami usah diagiah angin sarugo/ kami usah diagiah arok... (... kami jangan diberi angin surga/ kami jangan diberi harapan...). Itulah penggalan tembang yang mengalun memikat bersama iringan musik yang kuat menopang gerak tari dalam pagelaran tari Face to Face, hasil kolaborasi Gumarang Sakti Dance Company dari Indonesia dan Basel Tanztheater dari Swiss, di Gedung Kesenian Jakarta, 23-25 Juli lalu.

Sebuah pantun tradisi Minang mendasari nomor pementasan Asa (di Ujung Tanduk) karya koreografer Gusmiati Suid. Pantun itu menjadi ruh dan atmosfir tarian Gusmiati yang kali ini dibantu putranya, koreografer Boi G. Sakti. Pesan pantun itu tentang harapan yang berada di ujung tanduk, yang membuat kita didera ketakutan oleh kecemasan pada sesuatu yang tidak jelas.

PENANTIAN Asa bermula dari hadirnya sepuluh penari berpakaian sederhana seperti orang kampung Minangkabau. Enam penari perempuan berbaju hitam tanpa lengan dengan bawahan dibalut kain lurik. Empat lelakinya berpakaian pencak hitam hitam.

Mereka menduduki bangku-bangku dari bambu yang ditata membentuk segi empat di bawah remang-remang cahaya lampu neon. Tata cahaya yang digarap Lutz Deppe (dari Berlin) itu sederhana tapi menarik. Lampu neon yang bertumpu pada starter itu dipermainkan, sehingga tari dibuka dengan satu per satu dari 20 lampu itu hidup perlahan-lahan hingga akhirnya terang benderang.

Lalu dentuman tambur dan rebana menggelegar. Seluruh penari menghambur, melingkar, dan berlari berputar. Mereka seolah mengharap sesuatu, tapi sia-sia. Mereka ingin merangkumnya, tapi terlepas sirna. Kekosongan yang mengancam kekukuhan yang masih tersisa.

Bangku-bangku yang dihadirkan di panggung mengingatkan kita pada balai-balai dan kursi-kursi dalam Api dalam Sekam karya Gusmiati terdahulu. Gusmiati Suid memang sangat dipuji lewat Api dalam Sekam yang dipentaskannya dalam pembukaan Art Summit Indonesia 1998.

Kini pun, Asa mengambil unsur-unsur dari tari itu. Beberapa gerakan masih dapat kita temukan. Seperti gerak gemetar dan menyentak ala orang tua yang menjadi kekhasan gerak Gusmiati, atau --tentu saja-- kembangan gerak-gerak pencak silat Minang.

Bangku itu sendiri bisa menjadi tanda bagi kekuasaan (seperti dalam Api dalam Sekam), tapi kini dia menjadi tanda penantian. Seperti bangku-bangku di ruang tunggu rumah sakit. Ini relevan dengan tema ''asa'' yang juga jadi judul tarinya.

Karena harapan harus terus ada, maka bangku sebagai simbol masih adanya kejelasan itu ditempatkan di sudut-sudut ruang (kehidupan). Usaha ini tetap tak membawa hasil, tapi penantian pun masih dilakukan melalui pencarian-pencarian.

Gerak tari terus melangkah ke segala arah angin. Keempat bangku itu juga terus bergerak ke segala arah, ke segala tempat, dipisahkan, dipadukan, lalu menyatu. Mereka secara bersamaan dengan langkah cepat berirama menuju ke empat bangku yang disusun jadi satu di tengah panggung dan berhenti mendadak di sana dalam posisi duduk atau terpekur, seakan putus asa.

Puncaknya, ketika suara serunai kembali mengalun, enam penari perempuan bersijingkat melewati empat bangku disusun bak sebuah jembatan panjang. Telapak tangan mereka menangkup membawa 'air harapan', sangat hati-hati. Namun, lagi-lagi, asa itu, tetap berhenti di ujung tanduk. Selarik cahaya jatuh ditubuh seorang penari yang berdiri tepat di ujung atas bangku yang terjungkal.

Harapan itu hanya serupa angin surga, tak berwujud pada realitas. ''Penantian yang sia-sia, penungguan terhadap sesuatu yang tidak jelas kapan datangnya,'' jelas Gusmiati kepada ADIL.

URBAN Sementara Stadt-Land-Fluss (SLF) karya Joachim Schlomer, bercerita tentang tanah, kota, dan sungai. Sebelum menata tarinya, Schlomer melihat-lihat ke Yogyakarta, menyaksikan banyak orang bekerja keras, keceriaan, serta bagaimana orang menanam padi. Sehingga dalam karyanya ia menyampaikan simbol-simbol suasana alam, tentang sungai, dan mengingatkan keadaan desa-desa. Suasana orang-orang desa saat berangkat ke pasar diiringi suara-suara alam, melalui jalanan yang diapit pohon bambu, aliran sungai, sampai ke hiruk pikuk suasana urban.

Meminjam hentakan musik Minang, Schlomer memadukan aspek radikal dari tari dan teater. Gerak lembut para penari mengalir, sesekali tubuhnya bergoyang dan kali lain melesat bebas. Dinamika urban yang dinamik berseling dengan suara gunung laun. Juga, sapu lidi yang dipakai para penari sebagai alat kerja yang khas Indonesia itu menimbulkan efek suara bagai gemerisik rumpun bambu di pedesaan.

Di sini, Schlomer mencoba membela keceriaan (gairah cinta?), tapi toh orang-orang kalah (rakyat) yang ditaklukkan persaingan urban tak terelakkan. Dinamika kehidupan masyarakat kota kentara sekali dimunculkan oleh Schlomer dengan merayakan keragaman. Kostum penarinya berbeda-beda sehingga terkesan meriah. Gerak mereka pun lebih banyak yang bersifat individual.

Asa diliputi oleh penggalian atas kenyataan sehari-hari belakangan ini, betapa kita dibawa dari suatu penantian ke penantian lain yang tak jelas hasilnya. Sedangkan SLF, meski berakhir dalam kekalahan, tapi masih menyisipkan kehangatan gairah cinta di tengah carut marut negeri ini. Dua ruang bermain; di depan layar putih dan permainan bayangan dari balik layar, membantu menceriakannya.

Nuansa cemas yang tak kunjung sampai akan penantian dalam Asa, yang mencerminkan kondisi politik Indonesia kini, sama sekali tak terjadi pada SLF. Meski harus kalah, ia malah, rasanya, suntuk saja menikmati suara-suara pedesaan, teriakan dari puncak gunung, suara lonceng bertalu-talu, gemuruh genderang, dan betapa harmoninya kehidupan orang-orang desa. Sebuah aura kecemasan Gusmiati terhadap kondisi politik berhadapan dengan gairah cinta Schlomer pada keindahan alam serta manusia.

Dalam kerja sama artistik berdasarkan suatu proses pencarian bersama itu, Gusmiati memetik kesadaran bereksplorasi atas gerak-gerak sederhana yang bersumber dari tubuh manusia dalam Asa. Sedangkan Schlomer mengeksplorasi prinsip gerak silat Minang dalam SLF. Perbedaan gerak tari Barat yang umumnya serba ke atas dan sifat Timur yang serba membumi, serta postur tubuh yang tak sepadan dan musik tradisi Minang yang mengiringinya, ternyata malah membuat kolaborasi Face to Face terasa kaya. Dua persepsi yang berbeda tentang sebuah pengalaman, harapan, dan pengertian kesenian (tari) berpadu saling melengkapi. (dikki nursa)

Kolaborasi Apa Adanya

Gusmiati Suid (57) dan Joachim Schlomer (37) mempertemukan para penarinya dalam karyanya masing-masing. Lima penari Gumarang Sakti dan lima penari Tanztheater Basel yang berbeda tradisi itu, Timur (Minang) dan Barat (Swiss), manggung bareng dalam dua tema berbeda sekaligus.

Berkat arahan dua koreografer besar asal Minangkabau dan Basel itu, para penari --yang ketika latihannya kerepotan menyamakan ritme tariannya-- tampaknya cukup berhasil menembus batas-batas budaya yang melatarinya. Begitu pula pada musik, yang digarap oleh lima pemusik dari Gumarang Sakti Dance Company untuk kedua karya tersebut.

Terbukti, riuh rendah tepuk tangan penonton tak henti-hentinya menyambut pementasan dua karya tari tersebut di setiap akhir adegan. Beberapa seniman tari juga memuji keberhasilan kolaborasi yang tak menyangkut pada tataran penciptaan tari tersebut. ''Kolaborasi apa adanya, yang tak memaksakan pada sebuah perkawinan, memang terasa lebih pas,'' kata seorang pengamat tari.

Tetapi, bukan tak mungkin melebur total sampai ke tataran penciptaan tari, karena kedua koreografer ini punya kesamaan pandangan. Sebagaimana dijelaskannya dalam katalog pertunjukan, Gusmiati memandang bahwa kesadaran pokok bertari adalah kesadaran dan selalu waspada. Sementara Schlomer menganggap tari tidak berasal dari gerak tetapi dari mata.

Gusmiati mendasarkan pada silat tradisi bukan pada cara membela diri tetapi lebih pada mengenal diri dan Schlomer menjadikan seluruh pantulan jiwa sebagai inti semangatnya. Sebab itu, kita tunggu kolaborasi berikutnya seusai Gusmiati-Schlomer pentas keliling Eropa. (dikki)


Lihat siapa pengunjung situs ini.