Logo Oneweb
Catatan Tari

Mengembalikan Tari pada Gerak
Sekitar 17 koreografer berekspresi di panggung FKY XI. Sebagian yang muda ternyata cukup matang mengolah gerak dan mengeksplorasi tema. Tinggal birokrasi kesenian yang perlu lebih terbuka.

Perempuan itu bersimpuh di sana. Di panggung yang sebagiannya tertutup layar. Musik mengalun pelan. Dan dalam temaram cahaya berwarna ungu, sebagaimana pakaian yang ia kenakan, ia memulai tariannya. Sendirian ia menari, di antara set panggung sederhana yang hanya berisi sebuah level tempat beberapa pemusik berada, tersamar dari pandangan oleh lajur-lajur pita yang bergelantungan dari atas. Perempuan berwajah sedih itu menari, atau mungkin "hanya" bergerak mengikuti dorongan hatinya, meski lamat-lamat terlihat jejak gaya tari tradisional Jawa.

Tiba-tiba dari sayap panggung muncul seekor kura-kura berukuran raksasa, hampir memenuhi setengah bagian dari panggung, merayap perlahan melintasi panggung. Perempuan itu terus menari. Lalu muncul dua ekor burung merpati dari sisi kiri panggung. Sepasang merpati itu berjalan santai. Penari itu kemudian bercengkrama dengan mereka yang mematuk-matuk telinganya, hidungnya dan menggosokkan kepalanya ke pipi perempuan itu dengan mesra.

Kala sepasang merpati pergi terbang, sang penari mengepakkan tangan-tangannya, sembari diiringi musik yang menghentak cepat. Lalu dia jatuh bersimpuh kembali, melepas selendanganya, kembali bergerak lirih. Segalanya kemudian memuncak seiring hadirnya dua ekor anak ayam yang berkeciap. Diikuti yang lainnya, anak-anak ayam itu berwarna-warni itu berlarian ke sana ke mari memenuhi panggung. Perempuan penari itu dengan suka cita menari bersama mereka.

Perempuan itu, Setyawati, telah memaku tatapan mata penonton yang memenuhi Gedung Sosietet Taman Budaya malam (19/6) itu. Dan nomor tari yang berjudul Joged Srikaton itu tampaknya mampu mewakili visi dari Sepekan Pagelaran Tari: Refleksi yang berlangsung sejak tanggal 12 sampai dengan 19 Juni 1999 kemarin. Joged Srikaton seperti menyuarakan kegelisahan dan geliat perenungan seniman tari kontemporer dalam menghadapi panggung kesenian yang mereka geluti lewat bahasa gerak.

RUANG EKSPRESI. Pagelaran tari yang serangkai dengan Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) XI ini, digelar dengan menampilkan 17 koreografer dari enam kota, Yogya, Solo, Surabaya, Malang, Jakarta, dan Kalimantan. Sebagian besar terbilang muda. Hal ini memang disengaja oleh penggagas acara ini, Bimo Wiwohatmo, seorang koreografer yang selama ini telah mereguk banyak pengalaman pergaulan kreatif internasional.

"Untuk memberi kesempatan berekspresi pada koreografer muda dan sekaligus juga ruang dialog lintas etnis, usia, dan pengalaman," ujar koreografer berambut panjang ini.

Selain itu, pagelaran tari ini pun diniatkan sebagai sebuah momentum untuk melihat ulang keberadaan tari kontemporer di Indonesia beserta segenap persoalannya. Salah satu persoalan, yang telah menjadi klasik adalah, "Infrastruktur dan wadah yang dibutuhkan bagi pengembangan tari kontemporer di negara kita ini masih minim," kata koreografer jebolan Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo.

"Sementara," lanjut Bimo lagi, "Di satu sisi banyak penata tari senior memiliki kecenderungan untuk menunggu event-event semacam ini untuk menciptakan komposisi-komposisi tari mereka. Di sisi lain, talenta cemerlang dari koreografer muda yang tersebar di banyak kota, tidak memiliki cukup kesempatan untuk mengasah potensi mereka," jelasnya.

LINTAS BANTAS. Pengasahan itu tampaknya cukup berhasil dengan beragamnya tema yang berhasil dieksplorasi para seniman yang tak lagi terjebak dalam dikotomi tradisi-modern. Meskipun masih ada kegagapan di sana sini, terutama karya-karya koreografer muda semacam Dongeng Bocah yang Terlupa karya Nurcahyani. Ketergesaan dalam penggarapan menggoreskan garis-garis gerak yang belum matang, baik secara bentuk maupun gagasan, masih membayangi mahasiswa STSI Solo ini.

Berbeda dengan karya teman sejawatnya dari Solo, Mugiyono, yang mulai memperlihatkan kematangan bentuk dan ekspresi gerak dalam komposisi yang ditatanya, Njungkir. Pengalaman dan pergaulan kreatif cukup menjadi variabel yang menentukan dalam kematangan karya. Hal ini terlihat pada karya-karya koreografer dengan jam terbang tinggi, seperti Mugiyono. Juga karya Setyastuti dan Sutopo T.B. dari Yogyakarta, yang keduanya memiliki basis teknik tari tradisional yang kuat.

Catatan khusus tampaknya juga harus diberikan pada nomor tari karya koreografer muda dari Jakarta, Indra Zubir. Usahanya untuk mengembalikan tari pada gerak, setelah banyak distorsi yang muncul dari keinginan untuk menyampaikan pikiran dan gagasan lewat tari, mampu memunculkan eksplorasi bentuk yang segar. Konsentrasi yang ia berikan (hanya) pada pengolahan bentuk yang dihasilkan lewat tubuh dua orang penari dan sebuah kursi plastik. Eksplorasi bunyi mulut dan pijakan kaki di lantai panggung menghasilkan irama dan dinamika yang sempat membetot tatapan penonton.

Mestinya ruang ekspresi seperti ini juga didukung birokrasi dan lingkungan yang kondusif. "Birokrasi kesenian yang terbuka menjadi sebuah tuntutan," ujar Bimo. Maka sangat disayangkan, di tengah penyelenggaraan acara ini, terselip sebuah insiden kecil mengganggu. Ada rombongan penari dari Bandung tidak mendapatkan izin untuk melakukan persiapan yang cukup, lebih karena persoalan administratif yang tidak substansial. (yudi ahmad tajudin)


Lihat siapa pengunjung situs ini.