Indonesian Dance Festival menyuguhkan karya kolaborasi menarik lintas-budaya dan tarian bermutu. Mereka merekam dan mengekspresikan sekeping drama manusia dan refleksi seorang seniman.
Tari, menurut Aristoteles dalam kitab Poetic-nya, adalah gerakan ritmis yang bertujuan "untuk menghadirkan karakter manusia, sebagaimana mereka bertindak dan menderita".
Pendapat itu tampaknya masih relevan bila menyaksikan puncak pementasan karya tari kolaborasi Wen Hui (Cina) dan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta bertema Dining With 1999, dalam acara Indonesian Dance Festival (IDF) V 1999, di Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki (GBB-TIM), Minggu-Senin (19-20/9) lalu.
Pada malam penutupan itu, Wen Hui dan penari STSI menyuguhkan sebuah fragmen pendek. Berawal dari empat musisi dan seorang vokalis yang membawa tampah kecil berisi makanan sejenis sesajen, datang ke tengah panggung. Mereka bersila, lalu meletakkan tampah-tampah itu persis di depan mata kakinya masing-masing.
Lalu lima penari lelaki dalam karung goni oranye memencar ke lima penjuru mata angin, sementara layar lebar di bagian atas panggung memutar rekaman video kondisi sehari-hari di Cina.
Setelah membuang karungnya, mereka bergabung dengan para pemusik. Mereka beregerak kencang, menungging, atau diam terpaku. Musik sederhana dengan beberapa lagunya yang lirih, kadang cuma keluar dari bibir empat pemusik yang berbisik-bisik atau gemerincing sendok beradu gelas, mengiringinya.
Suasana kehidupan keseharian kota-kota Cina tergambar apik. Tayangan video menunjukkan suasana kota Beijing mulai beranjak ke senja dan tata lampu panggung meredup. Tari pun melaras dengan pelukisan itu, seperti saat bunyi kring-kring sepeda, irama tari menyamainya. "Suasana keseharian yang beragam, muncul dalam pertunjukan ini," kata Sitok Srengenge, usai pertunjukan.
Apa yang dipahami Aristoteles mengacu pada tradisi seni tragedi Yunani kuno yang memanfaatkan tari sebagai bagian dari pertunjukan drama. Namun, "adegan" yang dipentaskan Wen dan STSI lebih dari sekadar tiruan gerak manusia, tapi menyisipkan sebuah perlintasan kedua belah pihak.
Untuk menghasilkan kolaborasi ini, Wen Hui sebelumnya telah pergi ke Solo. Di sana dia berlatih dengan peserta Workshop Koreografi IDF 1999 yang ditangani bersama oleh koreografer Martinus Miroto (ISI Yogyakarta), Dewi Haflanti (IKJ), dan Mugiyono (Surakarta) di Candi Sukuh. Di sana mereka "makan malam" bersama dan menghasilkan sesuatu yang bermakna.
Namun, harus diakui bahwa Wen sangat kuat menghadirkan karakter manusia versi Aristoteles itu. Dalam karyanya, One More Breath Deeply, yang dipentaskan pada malam pembukaan, Wen berhasil menyuguhkan sebuah drama persalinan. Liukan tubuhnya dan desah napas (sebagai latar efek suara) meniti tahap-tahap paling menggetarkan bagi seorang ibu. Para penonton harus menahan napas mengikuti tampilan tunggal Wen. Tema kelahiran kemudian lebih dari sekadar sebuah fragmen kecil kehidupan.
Tari kemudian mampu berbicara tentang sesuatu, mengekspresikan pengalaman individual dalam gerak. Meski ada kecenderungan besar di dunia tari modern untuk mengembalikan tari pada gerak, tapi tren tari kontemporer membuatnya kembali "bersuara".
Suara-suara itulah yang diteriakkan oleh para penari, seperti rasa senang yang diungkap tarian Massannang karya Iin R. Joesoef Madjid yang dibawakan delapan penari perempuan berbusana adat Mammasa (Sulawesi Selatan) atau kisah kucing kesepian dalam Miauw karya Arya Yudistira Syuman. Tari Garden karya Kota Yamazaki (Jepang) yang dibawakan tujuh penari IKJ melukiskan kehidupan anak-anak muda metropolitan yang bebas dan ceria.
Selain itu, IDF kali ini didominasi oleh karya-karya yang menampilkan kontemplasi senimannya. Sebutlah Sen Hea Ha (Korea) lewat Lux Aeterna yang mengambil posisi lotus dan Kota Yamazaki lewat Shakuri menghadirkan gerak meliuk-liuk yang mengalir berkesinambunagn, berjeda, dalam tempo lambat dan rentang waktu panjang.
Kelompok tari Kretivitat mampu menampilkan buah kerja samanya dengan penata tari Korea J.O.H. Seongjoo (Second Name of that Woman) dan Amerika Serikat, Howard W. Lark (Summit). Suasana dan nuansa lembut Seongjoo, dan tatanan apik Howard W. Lark kian membuat karya-karya kolaborasinya punya kekuatan.
Seniman tari Indonesia pun demikian. Chendra Effendy dalam karyanya Nurani mengekspresikan tema dari judulnya itu dalam gerak berbasis balet dengan dibantu tiga plastik transparan sebagai seting panggung. Sementara Sulistyo Tirtokusumo menampilkan Bedoyo Suryo Sumirat dan Krisis. Yang pertama dibawakan sebagai penghargaan bagi K.G.P.A.A. Mangkunagoro I menjadi pahlawan nasional, sedang Krisis --tentu kita tahu-- tentang kondisi aktual negeri ini.
Benny Krisnawardi dengan karyanya Sumangaik, Djoko Histi Maryono (U,ang), Ratna Ully R. (Bisikan), Indra Zubir (Saat...), dan Jeffriandi Usman (Anggau), berhasil menampilkan karya mereka dengan baik yang berbasis tari tradisi.
Bintang balet Inggris di abad 18, John Weaver, suatu kali pernah menulis bahwa "Tarian adalah gerakan elegan dan teratur yang secara harmonis menyusun sebuah sikap yang cantik, dan postur tubuh yang kontras dan indah, dan menjadi bagian darinya".
Tubuh dan gerak itulah letak keindahan tari. Dan IDF kali ini telah berupaya menyuguhkan keindahan itu. Meski beberapa jenis tari sebenarnya hanya pengulangan saja dari Art Summit Indonesia 1999 lalu. Tapi, sebagai sebuah karya, mereka tetap layak diapresiasi. (dikki/one)
Dr. Sal Murgiyanto,
pengamat seni pertunjukan lulusan New Nork University
Yamazaki, Menari dengan Bunga
Pertunjukan Chinoise Flower sangat menarik. Gaya individualnya sangat kuat, tekniknya kuat sekali. Dan saya kira ini sesuai dengan selera anak muda metropolitan zaman sekarang. Karena mungkin untuk orang-orang tua, ada hal-hal yang mereka butuhkan rapi dan sebagainya.
Musik-musiknya ada yang tenang, rapi, tapi juga kita dengar musik-musik ala anak muda sekarang. Saya dengar ada musik-musik komunikasi, hubungan telegraf. Saya kira mereka mencoba mengungkapkan keseharian mereka di kota besar. Dan stamina mereka luar biasa. Dan sekian lama, nggak berhenti, bergerak terus. Saya kira sampai penontonnya yang lebih capai daripada yang menari, luar biasa fisiknya.
Basis tarinya, mereka ada modern, ada juga balet; ada seorang perempuan muda yang pakai sepatu balet, dan tubuhnya dia betul; setiap kali dia berhenti bentuknya juga bagus, gerakan dia sendiri menawan. Saya kira dia yang geraknya dari sudut balet paling tinggi. Tapi juga ada gaya tari modern yang disebut 'kontak improvisasi'; ada dua orang yang selalu lekat. Dia memang lagi tertarik untuk melakukan itu, dia beberapa kali pergi ke Amerika untuk belajar itu.
Dan yang menarik juga, ini kan yang ketiga kalinya dia pergi ke Indonesia, dia betul-betul mengamati dan memanfaatkan mencoba apa yang dia lihat di Indonesia. Gerakan yang sangat pelan, bukan Jawa, tapi dia melihat tarian Jawa yang begitu pelan, intens, dia coba lakukan. Ketika dengan gerakan dia sendiri yang spet-nya lain, spet-nya pelan, itu sangat berbeda rasanya.
Bunga yang dia pakai misalnya. Dia pernah menceritakan pada saya, dia sangat terkesan melihat betapa hubungan bunga dengan penari (tarian) di sini (Indonesia) sangat kuat, dia melihat kuda kepang di Yogyakarta di kampungnya Pak Martinus Miroto (penata tari ISI), dia sangat heran melihat penari kuda kepang itu makan bunga. Sementara di Bali, dia melihat upacara; begitu lagi, ada orang yang makan bunga, bahkan makanan dihias dengan bunga. Dia sendiri sebagai orang yang sangat senang dengan bunga; seni merangkai bunga. Makanya nama karya dia yang dia tampilkan ini memakai nama bunga. Dalam panggungnya, malah, bertaburan bunga pula. (dikki)