Cinta nyatanya omong kosong dan lelaki-perempuan pun berseteru. Petaka di sini adalah kerisauan. Berhasilkah EKI menjewernya?
Wong takon wosing dur angkoro
Antarane riko aku iki
Sumebar ron ronaning koro
Janji sabar, sabar sak wetoro wektu
Kolo mangsane, ni mas Titi kolo mongso
Pamujiku dibiso
Sinudo kurban jiwanggo
Pamungkase kang dur angkoro
Titi kolo mongso.
(Orang-orang bertanya kapan angkara murka berakhir
Di antara kau dan aku
Tersebar daun-daun kara
Bersabarlah untuk sementara waktu
Suatu ketika, dinda
Pada suatu ketika
Doaku semoga
Semakin berkurang korban jiwa raga
Pengakhir angkara murka
Waktu).
Tembang bertajuk Pada Suatu Ketika itu mengiringi nomor pertama reportoar Jeweran Sumber Perkara Hari Ini: ''Laki-laki'' yang dipersembahkan Eksotika Karmawibhangga Indonesia di Teater Utan Kayu, Jakarta, Senin-Selasa (27-28/4) pekan lalu.
Tarian erotis sepasang lelaki-perempuan (Rusdy Rukmarata-Takako Leen) itu serasa lebih hidup dan lebih realis. Hubungan saling membutuhkan tergambarkan oleh adegan mesra, marah, benci, rindu, yang terus berulang. Dalam tawa ada tangis
Dalam tangis ada tawa
Tertawa dan menangis
Akan membuat hidup indah.
Namun sesuatu yang membuat hidup indah itu hanya sebuah cita-cita. Muara hubungan lelaki-perempuan ternyata untung-rugi dan kalah-menang, bukan memberi dan menerima. Itulah yang tampak pada nomor kedua, Four Musketeers.
Pada mulanya ada denting piano yang rancak mengiringi badut-badut yang bergerak lincah, jenaka, dan usil di depan dua bingkai cermin. Kadang empat lelaki muda itu tampil perkasa, lalu sedih, dan berbunga-bunga kala dua orang wanita bergantian mencium bibir mereka. Seolah-olah menggambarkan tipe lelaki sejati masa kini, bahwa lelaki harus selalu menampakkan keceriaan sang badut, seberat apa pun tantangan zaman yang dihadapi.
Nomor ini tampaknya merupakan sindiran terhadap betapa lemah sebenarnya laki-laki. Di balik kegagahannya sebetulnya mereka dikendalikan oleh perempuan. Ada fenomena zaman di mana laki-laki kemudian menjadi dingin karena wanita. Hubungan lelaki-perempuan tak bisa apa adanya, bahkan dalam bentuk anekdot para lelaki bersenang-senang tapi begitu ketemu perempuan jadi kecut. Lalu, pertanyaannya adalah kapan anak lelaki jadi dewasa?
Rupa kekonyolan lelaki itu makin jelas di nomor tari ketiga, Sudah toh, Masss.... Adegan pertarungan kalah-menang antara lelaki dan perempuan divisualkan dalam gerakan-gerakan ritmis, dinamis, dan sarat sensualitas. Dengan berfokus pada sensualitas tukang jamu, penggambarannya jadi efektif. Dari ngelindur, bangun dari tidur, melepas pakaiannya, lalu mandi, kembali berpakaian, bersolek, hingga berlatih habis-habisan mengucapkan "Jamune, Mas" dengan logat yang kenes dan menggoda.
Lalu seorang lelaki berpakaian safari bergaya pejabat bertekuk lutut di bawah kendalinya. Sang lelaki merasa berhasil menggaet si tukang jamu. Kepongahan dan kewibawaannya tampak. Tapi badannya menggigil tatkala istrinya menegur dengan ucapan halus "Sudah toh, Masss...?."
Ketika itu, muncullah dua lelaki, yang satu berdasi ala kelas menengah dan satunya berpakaian santai seperti mahasiswa. Keduanya mentertawakan laku sang pejabat. Tapi keduanya pun tak berdaya ketika serombongan wanita mengerubungi sambil mengucapkan "Sudah toh, Masss...?." Kedua lelaki itu menyambutnya dengan mengikuti gerak para perempuan. Ke mana para perempuan itu bergerak, ke sanalah kedua lelaki itu mengikutinya.
Melihat laku mereka, para perempuan itu tertawa-tawa penuh ejekan. Umpatan pun meluncur dari mulut perempuan itumaafasu!, asu! (anjing!, anjing!) ketika salah seorang lelaki terus mendekatinya. Namun tiba-tiba para perempuan menangis tersedu-sedu. ''Kekuasaan yang diperoleh malah menciptakan rasa sepi dan sesal,'' kata Rusdy Rukmarata.
Berbeda dengan di TUK, umpatan para perempuan kepada para lelaki tidak muncul ketika Eksotika Karmawibhangga Indonesia (EKI) mementaskannya di GKJ (16-17/4). Yang ada adalah pecut. Seorang lelaki (Rusdy Rukmarata) memprovokasi para lelaki-perempuan dengan pecutnya. Lalu, tiga lelaki dan dua perempuan bergumul dalam sebuah perang tanding memperebutkan pecut. Pecut yang mereka perebutkan pun berpindah-pindah tangan di antara lelaki dan perempuan. Adegan saling memecut lawan jenis pun terjadi. Terakhir kedua pecut tersebut dikuasai perempuan, lalu lampu padam tapi suara-suara lecutan terus menggema.
Meski adegan-adegan yang ditampilkan di TUK lebih santun (dengan makian), tapi yang muncul di TUK ternyata berakhir dengan kemenangan perempuan. Sementara di GKJ ajang perseteruan lelaki-perempuan itu imbang, tak ada kalah menang. Yang ada kemudian adalah bahwa letusan pecutlah yang terus menggema. Tak jelas siapa menguasainya.
Sedangkan pada adegan terakhir yang bertajuk Kampus, seorang guru (Rusdy) mengajar tari yang ditangkap secara seragam oleh siswanya. Kemudian para siswa mengembangkan geraknya sendiri-sendiri secara individual. Lalu kebebasan individuallah yang muncul. Tapi kemudian karena kebebasannya masing-masing satu sama lain saling mengganggu.
Sebuah ajaran memang bisa ditafsirkan macam-macam, bahkan menimbulkan perselisihan. Karena itu, kata Sujiwo Tejo, kebebasan individu harus tetap di dalam harmoni. Karena begitu tidak harmonis akan mengganggu ruang gerak yang lain.
Jeweran Sumber Perkara Hari Ini: ''Laki-laki'' seolah-olah menggambarkan puncak dari segala kerisauan di Indonesia yang kusut. Tesis lain dari karya Rusdy Rukmarata bersama Sujiwo Tejo yang membesut lakonnya dengan apik, memotret kegalauan tanah air tak semata-mata lewat pergumulan politik kaum elite, tapi bertolak dari konflik hubungan lelaki-perempuan. (dikki nursa)
Tradisi, EKI, dan Kosmopolitanisme
Di tahun 1996 muncul sebuah sanggar bernama Eksotika Karmawibhangga Indonesia (EKI) di Jakarta. Siswa-siswinya hidup bersama. Berlatih dan bekerja selama delapan jam sehari sebagai langkah menggapai profesionalisme berkesenian di markasnya, Jl. Dr. Saharjo 54-56 Jakarta.
EKI melangkahkan kaki di dunia seni pertunjukan dengan memproduksi beragam jenis pementasan mulai dari tari hingga pergelaran musik. Mulai dari Ken Dedes, Trilogi Radio Pembangunan, hingga Jeweran Sumber Perkara Hari Ini: "Laki-laki".
Kelompok ini mencoba membangkitkan intisari budaya-budaya Timur yang kemudian dikemas universal, bahkan berdialog dengan budaya Barat. Sebuah kosmopolitanisme sebagaimana bentuk budaya dibayangkan para intelektual Yunani kuno ingin dibentuk. Sebuah masyarakat (polites) dalam semesta dunia (kosmos).
Tak heran bila kita menyaksikan sosok Ken Dedes yang berjingkrakan di atas meja pesta pria berdasi. Dalang bertuxedo memainkan wayang garingan dengan musik karawitannya sebuah paduan suara. Lagu Ilir-ilir bersilih ganti dengan Yesterday-nya Beatles. Semua idiom baur. Yang asing jadi lenyap, karena apa pun bisa diambil, diterima.
Di satu sisi, EKI memang mencoba mengangkat ragam tradisi Indonesia. Tari, wayang, dan beberapa bentuk kesenian lainnya diambil dari berbagai pelosok daerah. Apalagi setelah dalang Sujiwo Tejo bergabung dengan EKI dan menghasilkan ragam karya kolaborasi, bahkan sebuah album kaset Nadia diluncurkan tahun lalu. Tejo yang menguasai ragam seni tradisional Jawa tampak memberi pengaruh besar dalam EKI, selain nama Rusdy dan Takako yang menguasai balet.
''Keharmonisan hubungan lelaki-perempuan menjadi salah satu tema garapan,'' kata Rusdy. Dan tampaknya memang tema hubungan lelaki-perempuan ini yang paling sering muncul sejak karya pertama EKI, Ken Dedes. Dan saat itu ada decak kekaguman atas keberanian EKI mementaskan model tari semacam itu. (kurniawan/dikki)