Inilah pesta hura-hura dengan goyang Salsa di Bengkel Night Park. Erotisme dan musik berpadu, berpuncak pada kebanalan.
Rambut perempuan itu panjang melintasi bahunya yang putih mulus, bercahaya keperakan ditimpa spot light yang berkedip. Kaus ketat tank top-nya bergantung hanya dengan dua utas tali kecil di bahu. Tubuhnya meliuk bersemangat, pusarnya berputar. Musik reggae berguncang ingar dari dua speaker di kanan kiri panggung utama yang cukup leluasa.
Astrid (21), nama wanita manis itu, bukanlah pengisi acara Longbeach Hot Salsa Party yang digelar di Bengkel Night Park, Jakarta, Jumat (17/9) malam. "Saya tamu kok mbak," ujarnya santai.
Acara ini mengajak sekitar 3.000 orang yang hadir untuk bergoyang Salsa. "Jangan malu, sungkan, atau risih. Pokoknya goyang saja. Peduli amat itu bukan goyang Salsa!" demikian kira-kira ajakan dari acara yang digelar Philip Morris Indonesia dan Kedutaan Besar Brazil ini. ''Pesta model begini digelar untuk menghilangkan stres,'' kata Dandan Hamdani, Manajer Pemasaran dan PR Bengkel Night Park.
Dengan penuh antusias para pengunjung yang rata-rata anak muda itu meluber di lantai dansa dan bergoyang sekenanya. Mereka berjejal di depan dan pinggir panggung, bergoyang bersama kelompok musik lokal Rastafara mengguyur mereka dengan siraman lagu berirama reggae. Apalagi kala lagu No Woman No Cry yang sangat familiar di kuping.
Pengunjung juga disuguhi segar lainnya: peragawati-peragawati cantik dengan swim suit, diiringi Salsa dan reggae. Mereka berlenggang lenggok di panggung, mengundang siulan nakal penonton pria. Kemudian giliran kelompok tari lokal Hot Salsa Dance tampil hot. Pakaiannya serba minim, bahkan penari wanitanya hanya menggunakan pakaian berbentuk bra plus celana pendek ketat yang pas-pasan menutup aurat.
Puncaknya, Bengkel 'dibakar' oleh pertunjukan kelompok musik tradisional dari Brazil, Joao de Barro, yang terdiri dari 18 penari dan pemusik. Inilah goyang Salsa sesungguhnya. Kostum empat penari pria dan lima penari wanitanya berumbai-umbai warna biru, kuning, merah, hijau, dan oranye. Warna khas Brazil. Pada penampilan lainnya, mereka tampil dengan kostum berbulu, selaras dengan beat Salsa yang panas.
Diiringi alunan lagu dari vokalis sekaligus koreografer Daniela, empat pria penari itu kemudian menari, meloncat-loncat di atas panggung, salto, dan berakrobat. Badan mereka lentur meliuk-liuk enteng seperti bola karet. Mereka juga menampilkan Capoeira, tari bela diri tradisional Brazil yang menggunakan keindahan gerakan-gerakan binatang dalam bertarung.
Kelompok musik terbaik Brazil yang didirikan tahun 1983 ini cukup komunikatif. Sehingga, penampilan satu jam mereka ditanggapi dengan antusias oleh penonton. Mereka, misalnya, mengajak satu-dua orang penonton untuk ikut menari Salsa di atas panggung. Sementara yang lainnya menari, para penari pria memainkan alat musik petik tradisional Brazil, berimbau, yang di bagian belakangnya dipasang belahan batok kelapa.
Di Brazil, Salsa merupakan kekayaan budaya yang didominasi oleh irama tradisional Afrika. Menurut Ian Billingham, Technical Advisor Brand Manager Longbeach, kebudayaan yang terkandung dalam Salsa inilah yang mengilhami digelarnya acara ini. ''Ini ajang berpadunya ragam budaya dalam suatu irama Salsa yang memikat,'' kata Ian.
Penampilan kelompok asal Brazil itu sendiri sebenarnya merupakan langkah awal program budaya Brazil untuk mempererat hubungan Indonesia-Brazil. ''Semoga ini bisa terus terjalin, supaya kedua negara dapat saling menikmati kekayaan budaya dan menambah erat persahabatan,'' tutur Duta Besar Brazil Indonesia, Jadiel Ferreira de Oliveira, dalam jumpa pers Rabu (15/9).
Tapi, Salsa itu kini lebih pada penyatuan erotisme, musik yang menghentak, malam yang panas, dan iklan rokok. Semuanya mengarah ke satu titik: ekstasi, setelah kebanalan, kerahasiaan, seksualitas, pornografi, dan komoditas mencapai klimaksnya. Menurut staf pengajar Institut Teknologi Bandung, Yasraf Amir Piliang, itulah kondisi posmodernisme.
Semuanya bertemu dalam gairah primordial manusia. Orang boleh berkilah, kalau ini cuma persaingan jorjoran antarpengusaha rokok. Bukankah acara serupa pernah digelar juga oleh pengusaha Pall Mall dengan acara Bubble Party, misalnya.
Namun, apa yang diinginkan para penonton ini sebenarnya. Mereka mengabaikan harga tiket masuk yang Rp 25 ribu perak itu. Mereka menisbikan suasana krisis moneter di negeri ini. "Saya pengen senang-senang saja, daripada bengong di rumah," komentar Astrid. Bersenang-senang, hura-hura, pesta, adalah suasana yang dikejar. Apa yang kemudian ditemukan pada puncak ekstasi yang banal ini? "Kekosongan," kata Yasraf sinis dalam bukunya, Dunia yang Terlipat. (laksmi/one)
Sepotong Salsa di Sebuah Klub
Salsa jadi tren, seiring populernya Jennifer Lopez dan Ricky Martin. Kini ada Salsa Club dan seorang Teges Prita Soraya (28), manajer pemasaran dan komunikasi yang tergolong pemain baru di dunia restoran dan muka lama di bidang humas. Menurut Teges, cukup sulit memperkenalkan konsep barunya ini. "All out. Harus bawa penari Brazil," kata cucu mantan Menteri Penerangan (alm.) Budiarjo ini.
Menempati tanah seluas 1400 m2 di Jl. Kemang Raya, bersebelahan dengan McDonald dan News Cafe di Kawasan Kemang, berdirilah Salsa Club. Klub ini adalah satu-satunya resto yang menyuguhkan les tari seminggu sekali seharga Rp 200.000. Animonya lumayan. Ada 12 kelas dengan 8-10 orang. Sandy Harun dan para mantan model jadi anggotanya.
Di sana juga ada bilyar, musik hidup, dan Klub Cigar yang menyediakan cerutu lokal sebagai kerja sama dengan PT Djarum. "Akhir tahun ini, punya nama merek Salsa," kata Teges yang baru menikah Februari 1999 lalu.
Teges belajar satu langkah dengan mendirikan klub itu bersama tujuh rekan, termasuk suaminya, Matteo Guerinoni asal Italia. "Apalagi soal birokrasi. Enggak boleh salah baju dan salah omong," katanya. Ketika soft opening, Teges urusi lusinan izin. "Termasuk temenan sama Pak Lurah dan izin tetangga. Kalau enggak tidak boleh buka. Seru kan," kenangnya.
Sekarang lega? " Alhamdulillah. Sempat senewen. Kata orang, gue pesimis Salsa bisa buka. Sampai kalah taruhan," ujarnya tertawa. Rencananya, tahun depan Salsa Club akan dibuka di Bali. "Pasti eksotik. Salsa aslinya memang tarian di pinggir pantai. Asyik, berkhayal aja, gue." Dan, makin ramailah Salsa. (evieta)
Salsa, Celia, dan Thalia
Salsa memang masih asing di sini, karena salah satu musik Latin yang cukup terkenal di dunia ini berasal dari Spanyol. Pada umumnya, Salsa dimainkan oleh 8-10 pemusik dan 1-2 penyanyi, dengan dilengkapi dengan permainan instrumen brass (terutama trombone), piano, gendang congo, timbales, bongos, cowbell dan instrumen perkusi lainnya.
Aslinya, dia tak lebih dari tari pergaulan masyarakat, seperti jaipong dan ronggeng. Namun, nasibnya tak jauh rupanya, karena Salsa telanjur jatuh dalam citra erotisme yang berlebihan, mengingat kebanalannya dalam olah gerak dalam berbagai pertunjukan. Namun Salsa juga punya satu nama yang patut diperhitungkan, Celia Cruz.
Celia dijuluki "Ratu Musik Salsa" dan diberi penghargaan Medali Nasional Kesenian oleh Presiden AS, Bill Clinton, pada tahun 1994. Sampai 1997, Celia telah malang melintang selama lebih dari 40 tahun dan menjadi idola dari genre Salsa di AS.
Penari Kuba yang menguasai tango dan tampil dalam berbagai film Meksiko ini menjadi subjek film dokumenter BBC, London, bertajuk My Name is Celia Cruz (1988). Dia tampil dalam film The Mambo Kings (1992) dan The Perez Family (1995).
Celia adalah warga Brazil kelahiran Havana tahun 1929 yang berimigrasi ke AS setelah Fidel Castro menguasai Kuba. Namun, di AS dia meraih sukses hingga mendapat doktor kehormatan dari Universitas Yale, menandai Hollywood Walk of Fame dengan kedua telapak tangannya, dan mendapat Grammy Award 1990 untuk albumnya, Ritmo en el corazon.
Tapi, tampaknya, kita tak kenal Celia. Tentang Brazil dan keseniannya kita lebih kenal Thalia Ariadna Sodi Miranda. Itu pemeran Rosalinda dalam telenovela Rosalinda yang rajin nongol saban sore di SCTV. (one/laksmi)