Logo Oneweb
Catatan Tari

Kelirihan Pembayun, Kehati-hatian Maruti
Retno Maruti mementasulangi tari Sekar Pembayun dengan harapan regenerasi terjadi. Karyanya masih klasik dengan inovasi gerak dan musik. Pembayun pun jadi lirih dan hati-hati.

Sinom Logondang mengalun menyambut kedatangan Ki Ageng Mangir dan Sekar Pembayun ke hadapan Panembahan Senopati. "Duh.. Rama jejimat mami sayekti kodeng tyas ulun ing cipta labet praja mung samar kapegat ing sih (Ramanda junjunganku... terus terang hatiku waswas batinku membela negaraku namun nanda khawatir putus kasih)," tutur Pembayun di penghadapan ayahandanya.

Senapati bergeming. Dia hanya bersabda: "Wis ta nini den sumarah mring Hyang Sukma (Sudahlah, serahkan semua pada kehendak-Nya)." Pembayun pun undur dari singgasana. Dia tak (atau enggan?) menyaksikan apa yang dilakukan ayahandanya.

Ki Ageng Mangir, sang pemberontak itu, bersimpuh di kaki mertuanya yang sekaligus musuhnya. Dalam satu gerakan cepat kepala Mangir remuk di tangan Senopati. Sontak panggung Gedung Kesenian Jakarta menjadi merah darah. Kemarahan dan kematian mengakhiri pentas tari Sekar Pembayun pada Jumat malam (19/2) itu.

MASIH DI KLASIK Sekar Pembayun karya Retno Maruti ini merupakan pementasan ketiga setelah dipentaskan di tahun 1979 dan 1988. Kali ini kelompok tari Padneswara yang dipimpinnya melakukan tiga kali pentas dari Jumat (19/2) sampai Minggu (21/2) di GKJ. Sebagai tambahan, pada pentas awal ditampilkan tari langka Bedaya Ela-ela karya Agus Tasman dengan gending garapan Martopangrawit.

Mengapa dipentas ulang? Dari pengakuan Mbak Uti—panggilan akrab Retno Maruti—ada setidaknya dua alasan mengenai hal ini. Pertama, karena Mbak Uti melihat masih relevannya tema Sekar Pembayun dengan situasi aktual.

Kedua, dan juga merupakan kegelisahannya sebagai penari klasik Jawa, karena menurunnya minat angkatan muda terhadap tari klasik. Untuk ini, Mbak Uti menjawabnya dengan menyediakan khusus hari pertama diperuntukkan bagi pelajar dan mahasiswa yang berminat kepada seni tari klasik Jawa. "Terlihat betapa sedikitnya penari yang layak, yang suaranya bagus dan perannya cocok," kata Retno. "Kami ingin regenerasi," tambahnya.

Alasan pertamanya dibenarkan oleh penari Padneswara yang telah mengikuti Retno sejak lama, Nungki Kusumastuti. Sedang alasan kedua relevan dengan pandangan pengamat seni pertunjukan Sal Margiyanto beberapa waktu lalu bahwa kehadiran Retno dengan aktualisasi tari klasik Jawanya dan sederet penari-penari muda telah menggairahkan kembali dunia kesenian klasik.

"Maruti menekuni seni tari Jawa bukan dengan memfosilkannya di museum atau memajangnya di etalase kaca, tetapi dengan tak jemu menggarap dan mengaktualkannya melalui interpretasi segar bagi massa dan penonton kini," tulis Sal.

Dalam karier berkeseniannya memanglah sejak 1976 Mbak Uti sudah menciptakan beberapa koreografi tari klasik Jawa yang diolah kembali. Seperti Damarwulan dan Abimanyu Gugur (1976), Savitri (1977), Palgunadi (1978), Sekar Pembayun dan Roro Mendut (1979), Ciptoning (1983), Kongso Dewo (1989), dan Dewabrata (1998). Di tengah rekan-rekannya yang asyik menggeluti seni kontemporer, Mbak Uti tetap bertahan di klasik dan tetap diakui keberadaannya dan dirindukan kemunculannya.

Kerinduan itu tertumpah misalnya ketika dia absen selama 8 tahun, kemudian muncul dengan Dewabrata, sambutan yang luar biasa terjadi. Begitu pun dengan pentas ulang Sekar Pembayun kali ini yang dipenuhi pengunjung.

LIRIHNYA SEORANG SEKAR Sekar adalah kembang. Dia menyebarkan keharuman dan kelembutan ke sudut-sudut yang ada. Tapi hati-hatilah pada kembang mawar yang berduri. Salah-salah telunjuk bisa berdarah.

Mungkin demikian kiranya karakter seorang Sekar Pembayun yang diciptakan Mbak Uti. Murid empu tari Surakarta dan Yogyakarta (seperti K.R.T. Kusumokesowo dan Bagong Kusudiarjo) ini sangat berhati-hati menangani seni tari ini. Secara umum hampir tak ada perubahan dalam plot maupun musik yang dipakainya.

Kalaupun ada inovasi, itu terjadi pada pengkayaan gerak yang selalu diperbaharuinya, dan tambahan tembang yang dia ciptakan sendiri. "Saya ya bisa sedikit-sedikit membuat tembang," katanya merendah.

Itu bukan berarti putri dalang Susiloatmojo ini tak bisa membuat kejutan. Dalam Sekar Pembayun terbarunya, panggungnya meluas sampai ke penonton dan balkon-balkon. Balkon lantai dua dan balkon bawah yang kecil dimanfaatkannya pula. Adegan-adegan Mangir dan pasukannya yang menggugat Senopati ditampilkan lewat kemunculan mereka di balkon-balkon. Atau menjadikan jalur tengah gang tempat duduk sebagai jalan raya menuju ke singgasana raja (panggung).

Di tangan Retno, Pembayun jadi sekar yang lirih dan lembut. Sebentuk kematangan perempuan dan kecerdasan sosok duta dibangun. jadilah Pembayun menjadi figur kepahlawanan perempuan yang menonjol. Hal ini tidak ditampik oleh Retno.

Sedang relevansinya dengan keadaan sekarang juga menjadi pembenar ditampilulangnya lakon ini. Meski dia menambahkan: "Kami tidak ingin mengkritik. Kami ingin membawa rasa senang dan damai dengan sesuatu yang luar biasa yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata."

(kurniawan)

Misteri Legenda Mataram

Beberapa catatan sejarah menyatakan bahwa Senopati menjadi Raja Mataram pada 1588 dengan didampingi putra-putrinya, seperti Pangeran Puger, Pangeran Purboyo, Raden Ronggo, R.M. Jolang Pangeran Mahkota, dan Sekar Pembayun. Yang terakhir inilah yang banyak berperan dalam konflik antara Panembahan Senopati dan Ki Ageng Wonoboyo dari Mangir atau Ki Ageng Mangir.

Konon Sang Senopati kerepotan terhadap ulah Ki Ageng Mangir yang menolak pengakuannya sebagai Raja Mataram. Apalagi Mangir punya tombak ampuh bernama "Barukuping" yang sekarang menjadi senjata pusaka Keraton Yogyakarta.

Saat itu legitimasi kekuasaan Senopati memang sedang digugat. Sejumlah penguasa lokal mulai memberontak. Di antaranya penguasa Giring, Sunan Tembayat, dan Mangir sendiri.

Sang Senopati mengutus putri sulungnya, Sekar Pembayun, untuk menghadapi Mangir. Pembayun berhasil mengalahkan Ki Ageng Mangir dengan taktik "Jala Sutra". Sebuah taktik mengikat Mangir sebagai suaminya, sehingga mau tunduk pada mertua barunya, Sang Senopati.

Menurut K.R.M.T. Sindunagara, kisah Sekar Pembayun ini hanyalah sejenis Serat Andupara, yakni sastra Jawa yang bersifat mengada-ada atau kisah yang disamarkan secara simbolik sehingga sukar dikupas. Serat Andapura ini diperkirakan sebagai upaya menyamarkan aib penguasa atau legalisasi atas penyimpangan yang dilakukannya.

Bagaimanapun kisah yang populer dipentaskan dalam ketoprak ini masih menyisakan misteri. Kebenarannya terkubur dalam sejarah. Seperti ragamnya sastra-sastra lama mencatat. Kisah ini tak ada dalam Babad Tanah Jawi maupun Sajarah Dalem. Babad Galuh Mataram dan Senapati karya H.J. de Graaf hanya menyinggungnya sedikit. (kurniawan)


Lihat siapa pengunjung situs ini.