Logo Oneweb
Catatan Tari

Citra Wisata Tari dan Batin

Siapapun tahu Indonesia sedang empot-empotan menghadapi krisis moneter. Belum lagi citra politik dan keamanan buruk santer tersebar di dunia internasional makin memperparah keadaan. Demonstrasi tanpa henti, tindak kriminal di jalanan, dan pertikaian partai-partai menjadi santapan lezat di kepala surat-surat kabar asing.

Wajarlah bila citra Indonesia di mata dunia internasional tampak buram. Memperbaiki citra ini tak mudah, apalagi keadaan di Indonesia sendiri memang demikian adanya, meskipun bisa jadi di media asing bahasa yang muncul menjadi hiperbolik. Salah satu pengaruh dari citra buram republik ini adalah makin mengecilnya tingkat ketertarikan wisatawan mancanegara untuk datang ke Indonesia. Padahal kedatangan mereka jelas sangat membantu menambah devisa negeri ini.

Tampaknya dalam konteks inilah Guruh Soekarno Putra dan Kinarya GSP (PT Gencar Semarak Perkasa) menggelar The Spirit of Indonesia Charity Night pada 16 dan 17 Oktober lalu. Pertunjukan 6 tari yang dibagi dalam dua sesi ini mengambil tempat di Balairung Sapta Pesona Departemen Pariwisata, Seni, dan Budaya, Jakarta.

Sebuah kilasan ragam budaya Indonesia coba dilukiskan. Dari klasik hingga kontemporer, yang terkait dengan kurun sejarah panjang Nusantara, terjelma dalam tari-tarian yang sudah terolah baru.

Dibuka dengan kemegahan masa Kerajaan Sriwijaya dengan tari Gending Sriwijaya penonton kembali diingatkan tentang siapa Guruh. Ya, dia sang penata tari kontemporer dengan segala kemegahan, semi kolosal, dan gemerlapan. Tentulah pangguung kecil, sempit dan sama sekali tak representatif di Balairung Sapta Pesona merusak kenikmatan.

Untuk melukiskan kemegahannya, sepenggal fragmen pertemuan Ratu Sriwijaya dan para pendeta diadakan. Sang ratu diusung para abdi dalam barisan panjang. Prosesi penyerahan sirih dan pemberian berkah berjalan dalam suasana khidmat dan ringkas.

Sayangnya The Spirit of Indonesia ini hanyalah sebuah tema besar untuk membungkus sekumpulan ragam tari. Seperti nama bagus sampul kaset yang (maunya) berisi lagu-lagu terbaik. Padahal seperti kita tahu, kalau kita memebeli kaset-kaset berlabel ''The best of...'' yakinlah adalah beberapa lagu saja yang sungguh-sungguh terbaik.

Risiko itulah yang harus diterima ketika kita menonton pertunjukan GSP kali ini. Tak semua menu yang disuguhkan itu baik adanya. Setelah kemegahan Gending Sriwijaya menggedor penonton, kita lantas disuguhkan Topeng Cirebon. Gaya, kisah, dan jiwa topeng yang menjadi kekuatan tari topeng sangat jauh berbeda dari fragmen gemerlap Gending Sriwijaya.

Ada dua tari topeng disuguhkan. Topeng Jingganom dan Topeng Temenggung Magangdiraja dan Topeng Klana Bandopati. Kesan kemegahan Gending Sriwjaya yang belum hilang, tiba-tiba dihadapkan dengan tari-tari topeng ini. Ada terasa kejanggalan dan patahan yang tak terhindarkan memang.

Untunglah selanjutnya Guruh menyuguhkan satu kepiawaiannya dalam menata tari: Bali. Pertarungan Subali dan Sugriwa dalam memperebutkan Cupu Manik Astagina dimainkan dua penari dalam tarian Legong Jobog. Dengan diawali menari dalam posisi duduk di kursi saling bersebelahan sampai akhirnya keduanya turun ke gelanggang. Itulah salah satu bentuk koreografi temuan Guruh yang sering dipuji.

Bagian akhir dari babak pertama pertunjukan adalah tari Puspa Ragam Melayu yang mirip bunga rampai. Berbagai unsur tari Melayu, baik di Sumatra maupun Kalimantan, dirangkai dalam gerak rancak dan riang. para penari memanfaatkan tari sapu tangan sebagai penutup bagian ini.

Pada bagian kedua pertunjukan dipentaskan tari Gandrung Greget Sari dan Pasundan Sari. Yang pertama berbasis tari Gandrung Bali dan Banyuwangi yang diberi sentuhan Dayak. Sedang yang kedua terdiri dari Kangkung Bali dan manuk Dadali. Dua-duanya bersuasana ceria menghantar pulang para penonton ke rumahnya.

Obsesi Guruh untuk membuat pertunjukan kolosal belum juga terwujud, termasuk dalam kesempatan ini. ''Kalau saya dikasih waktu untuk pertunjukan selama 5-6 jam atau kolosal seperti di Beijing sekarang, Madame Butterfly, atau di depan piramida Mesir Aida dengan peserta dua-tiga ratus orang mungkin akan tergambarkan secara menyeluruh,'' akunya.

Walhasil yang terlukis hanyalah sebuah ragam sepintas, selayang pandang tentang Indonesia. ''The spirit of Indonesia, memang itu bisa konotasinya semangat, sesuatu yang heroik, berapi-api, tapi selain itu kita bisa juga terjemahkan sebagai batin Indonesia. Batin Indonesia kadang-kadang berapi-api, kadang ramah tamah, lembut, manis,'' kata putra tertua Soekarno ini.

Inikah batin Indonesia itu? Tidaklah penting benar. Yang penting adalah apakah pertunjukan ini berhasil mempromosikan budaya Indonesia sebagai aset wisata Indonesia atau tidak. Toh, itu kan tujuan akhir dari malam dana The Spirit of Indonesia ini? (kurniawan)


Lihat siapa pengunjung situs ini.