Logo Oneweb
Catatan Tari

Winds Concert:
Mari Bebas Bersama Angin
Pada akhirnya, suatu kebebasan tetap saja terbentur oleh kebebasan yang lain. Tiga seniman berkolaborasi membicarakannya dalam bahasa angin.

''Bising!, bising!, bising...! Minggir semua, jangan ganggu aku, tahu! Aku mau tidur, mana kasurku, main ambil lagi!'' gerutu seorang perempuan sambil menutupi kupingnya dengan kapas. Ia merasa para lelaki yang sedang larut dalam bermusik dan menari itu mengganggu kebebasannya untuk menjulurkan tubuhnya. Ia justru butuh kesunyian, bukan kebisingan.

Itulah sebagian pesan dari kolaborasi Cilay, Pierre Stephane Meuge, dan Rusdy Rukmarata, dalam Winds Concert yang bercerita tentang Manusia Angin. Ketiga orang yang berbeda latar belakang berkesenian (musik), etnis, budaya, dan model kerja kreatifnya itu terbukti mampu menyuguhkan kerja barengnya dengan menarik. Pentas ini diselenggarakan oleh Eksotika Karmawibhangga Indonesia (EKI), berlangsung di Studio I EKI, Jalan Padang 30, Jakarta, Minggu (12/9), pekan lalu.

MUSIK ETNIK Mulanya, Cilay (42) masuk menempati papan rendah di kiri-belakang panggung. Lalu, pemusik yang bernama asli Muhammad Ichsan ini, melantunkan irama rebab pesisir sebagai pembuka karya musiknya. Dalam memainkan rebab pesisir itu, bunyi pelan ia jadikan sebagai simbol tradisi. Dengan melodi dan ritme yang diambil seluruhnya dari akar tradisi Minangkabau, alunan lirih gesekan alat musik etnik ini serasa memanggil-manggil.

Kemudian, Cilay bertanya: apakah tradisi akan menyampaikan sesuatu kepada saya? Melalui lantunan rebab pesisirnya, tradisi malah bertanya; apakah Anda akan semakin menjauhi saya? Dan, Cilay menjawab: tidak! ''Dalam keadaan chaos, saya malah akan semakin dekat dengan Anda (tradisi),'' kata Cilay.

Dialog itu mengawali nomor Wakalahkaram (Kita Sudah Tenggelam). Syahrial, Yaser Arafat, Riswandi, dan Taufik lalu masuk ke panggung. Salah seorang mendampingi Cilay, sedang yang lainnya menempati papan rendah di kanan depan. Saat itulah, saluang, serunai, dan sampelong, dalam melodi dan ritme yang telah diolah dan dikembangkan dari etnik Minang, ikut mengiringi bunyi rebab. Tiupan dan gesekan yang dimainkan para musisi berbusana serba hitam yang dikomandani Cilay ini mengalun dalam ritme dari detik ke detik. Terdengarlah suara seragam dalam tempo makin cepat, merendah, terus bervariasi, dari gesekan-tiupan yang piawai dan akurat. Harmoni pun terjaga.

Tiba-tiba, awak grup Cilay menghambur ke tengah panggung. Di sanalah terjadi aksi tarik menarik antara sebuah keinginan menggunakan tradisi dan meninggalkannya dan hanya menghadapi realitas masalah yang lain. Pada waktu itu, bertarunglah setiap diri untuk menentukan arah sikapnya. Karena di saat kecintaan pada tradisi sedang tumbuh, rasa bimbang justru membesar berhadapan dengan realitas keseharian.

Untungnya, suara tradisi terus memanggil-manggil. Dan, pencerahan muncul memberitahukan bahwa tradisi bisa berperan membantu mengakali bagaimana seseorang harus berlaku di tengah masyarakat yang kacau balau. ''Akhirnya, ketenggelaman kita mendapat pencerahan,'' kata Cilay kepada ADIL.

SAKSOFON Sementara saksofonis Perancis, Piere Stephane Meuge (35) membawakan lagu-lagu favoritnya yang bervariasi waktu pembuatan komposisinya. Claude Debussy Syrinx (Perancis, 1913) menampilkan nada-nada lembut dan melodius, Edgar Varese Density (Perancis, 1936) dengan nada-nada tinggi dan kuat, dan Giacinto Scelsi Tre Pezzi (Italia, 1956) mengalun dengan variasi pengulangan nada pada piece 1, nada-nada meditatif pada piece 2, dan pola yang ritmis pada piece 3. Masing-masing berdurasi 2 menit, 3 menit, dan 10 menit.

Sedangkan pada nomor keempat, Kalrlheinz Stockhausen In Freundschaft, adalah tipikal komposisi Jerman (1978). Komposisinya sangat rapi tapi kaku, namun tetap menawarkan kehangatan meskipun secara teknik merupakan bunyi-bunyian rumit secara akademis. Permainan gerak dan ayunan saksofonis juga menghasilkan bunyi, ke atas berefek keras dan ke bawah berefek rendah. Menariknya, Stephan memasukkan aransemen flute ke bunyi saksofon. Nomor ini selalu dipakai Stephan di dalam menutup konser-konser solonya. Seperti tampilannya di Jepang, Moskow, Ukraina, Zurich, dan Mongolia.

KOLABORASI Lalu, dalam Manusia Angin, dua pemusik, Cilay (dan kelompoknya) dan Pierre Stephane Meuge, bergabung mengiringi tarian Rusdy Rukmarata dari EKI. Angin menjadi lambang bagaimana para musisi dan penari tersebut membebaskan gerakan-gerakan tari, nada, dan bunyi musiknya. Tanpa batas, mereka bergerak, mengalunkan bunyi, tergantung bagaimana perasaannya ketika itu.

Cilay, Sthepane, dan Rusdy mengekspresikan kepiawaiannya dan seleranya masing-masing. Mereka mencoba menembus tata krama dan kepentingan masing-masing. Tapi di situlah justru terjadi sebuah kolaborasi yang enak dinikmati. ''Saya menikmati dan bahkan terpengaruh musiknya Cilay,'' kata Stephane kapada ADIL. Begitu pula Cilay pada Stephane, serta penikmatan Stephane dan Cilay pada tarian Rusdy, seperti yang diungkapkan kepada ADIL.

Jadi, ''Kami menginterpretasikan gerak dan musik pada angin. Mencoba menghayati sifat dari angin dalam diri kita masing-masing. Karena kita percaya bahwa angin itu satu-satunya elemen yang tidak mempunyai batas-batas ruang. Angin bisa melampaui batas-batas negara, tanah, dan lain-lain,'' kata Rusdy.

Namun, ternyata, dalam kehidupan nyata filsafat angin tak bisa begitu saja dipergunakan. Kebebasannya seringkali menerjang kebebasan lainnya. Dengan begitu manusia angin mesti diolah lebih jauh, bagaimana menempatkan kemerdekaannya agar tidak mengganggu kemerdekaan yang lainnya. Kolaborasi itu menunjukkan bagaimana caranya bisa hidup berdampingan.

Komposer, pianis, dan lektor musik, Marusya Nainggolan Abdullah, menyebut perlunya apresiasi musik (juga tari) dalam kolaborasi seperti tersebut. ''Itu sangat bagus jika kita teliti memandangnya. Sebuah apresiasi musik (dan tari) yang pantas dinikmati oleh penonton umum, apalagi bagi pecinta musik (tari) khususnya,'' komentarnya. (shodiqin nursa)


Lihat siapa pengunjung situs ini.