Logo Oneweb
Catatan Teater

Teater Garasi: Akhir yang Tak Berakhir Juga
Suara riuh senjata api meletus. Ledakan bom. Pesawat tempur berseliweran menjatuhkan bom-bom. Dengung sirine tanda bahaya. Diam. Di panggung seorang lelaki bersepatu bot bolak-balik membawa tangga lipat. Menegakkan tangganya di dinding. Menaiki dan membuka kerai jendela. Dia juga membuka dua selubung kain yang ternyata dua tong tersusun rapat di sudut kiri depan dan sebuah kursi dengan seseorang yang duduk dengan mata tertutup kain berdarah.

"Selesai, sudah selesai, sebentar lagi selesai. Ya, pasti sebentar lagi selesai. Sedikit demi sedikit, satu demi satu, hingga suatu hari tercipta sebuah gundukan, gundukan kecil, gundukan yang mustahil...," kata lelaki yang bernama Clov (Whani Dharmawan) tadi. Lakon Endgame yang dibawakan Teater Garasi di Teater Utan Kayu, Jakarta, 9-10 April lalu, siap pentas.

NABI NUH. Ini kali pertama Teater Garasi mementaskan naskah Samuel Becket yang terkenal dengan absurdismenya. Selama lima tahun Garasi mementaskan beragam naskah dan gaya. Dari repertoar Wah karya Putu Wijaya (1995), ...Atau Siapa Saja yang diadaptasi dari naskah Caligula Albert Camus (1996), Kapai-Kapai Arifin C. Noer (1997), hingga repertoar Tiga Kisah Cinta yang mengambil tiga naskah karya Serafin-Joaquin, John Bowen, dan David Campton (1998).

Awalnya ragam gaya teater dan muatan naskah yang dipilih Garasi adalah sebagai upaya mengolah kemampuan teaternya sendiri. Kalaupun sekarang memilih lakon Endgame yang dipilih, pertimbangannya karena ingin tampil beda.

"Umumnya sutradara ingin mencari peristiwa dramatik. Dan yang dramatik itu yang subversif. Kita bisa menciptakan yang subversif terhadap versi tertentu," jelas Yudi Ahmad Tajudin, penerjemah dan pemeran tokoh Hamm dalam Endgame, yang biasa dipanggil Ogleng. Sementara naskahnya sendiri ditimbang lebih tajam, lebih frontal, dan intensitas ditekankan.

Masalahnya Becket sangat kontroversial. Karyanya menginspirasikan setidaknya 100 buku, belum ditambah buku-buku baru tentang biografinya dan studi-studi yang terus berjalan hingga kini. Wacananya tak habis-habis dikaji.

Dalam Endgame Becket melukiskan hubungan ketergantungan antara Hamm dan budaknya, Clov. Ada dua tokoh tambahan, kedua orang tua Hamm, Nag dan Nell. Empat manusia yang tersisa di bumi yang menghabiskan waktunya dengan berbagai cerita aneh atau perbuatan ganjil. Semuanya cacat. Hamm tak bisa berdiri, Clov luka kakinya, Nag dan Nell tak bisa tegak sehingga tubuhnya disangga tong.

Dalam sebuah diskusi di Yogyakarta, November lalu, budayawan Yogya Bakdi Sumanto sempat memaparkan beberapa versi tafsiran atas naskah Endgame. Misalnya tentang hubungan nama tokoh Hamm dengan putra kedua Nabi Nuh bernama Ham. Asosiasi kisah 'permainan akhir' dengan kisah pemusnahan bumi pada masa Nabi Nuh dalam kitab Genesis.

Konon penulisan naskah ini sebagai kenangan Becket terhadap penantiannya di sebuah rumah sakit. Dia dengan tegang menunggui saudaranya menjelang ajal sambil memperhatikan pernik-pernik keganjilan suasana disana. Karya utama Becket, Waiting for Godot, diakuinya sebagai ungkapan keinginannya untuk mengakhiri Perang Dunia II.

Padahal Becket tergolong seniman paling keras kepala dan bungkam tentang karyanya. Ketika naskah Godot diumumkan meraih Nobel Sastra (1969), konon dia malah lari bersembunyi ke sebuah desa, agar tak satu pun ada wartawan yang menanyainya tentang karyanya.

MENGATASI ABSURDITAS. Namun mementaskan sebuah lakon berarti menafsir pula naskah tersebut. Dan Garasi pada akhirnya harus memutuskan untuk berpihak pada tafsirnya. Introduksi efek suara perang telah membangun imaji penonton pada suatu kurun masa perang hebat. Bisa jadi PD II, masa Becket hidup. Kostum dan rias pemainnya yang asing mengesankan profil orang Eropa. Ini bisa jadi mengikuti instruksi Becket dalam naskah ketatnya, yang bahkan hitungan langkah pun disebut.

"Kita tidak mengubahnya, tapi menegaskan apa yang diinginkan Becket," tanggap Ogleng. Penegasan yang dilakukan Garasi adalah pada penekanan penggal monolog Clov di bagian akhir. "Aku pikir Becket menolak fatalisme. Meski Endgame adalah endgame yang endless," jelasnya. Endgame memang akhir permainan yang tanpa akhir.

Fatalisme yang dimaksud adalah pilihan akhir dalam situasi absurd. Bagi para eksistensialis seperti Albert Camus, keputusan itu adalah bunuh diri. Sementara Becket lebih memaparkan situasi itu dalam cerita dan percakapan tokoh-tokohnya di panggung tanpa perdebatan filosofis berkepanjangan.

Pada penggalan monolog Clov, setelah dia membangkang terhadap tuannya, dilukiskan sebuah optimisme. Bangun suasana pesimis yang menekan sejak awal adegan, dipijarkan sedikit kecerahan dari monolog ini. Apakah ini upaya Becket mengatasi absurdisme?

Pengulangan adegan dan percakapan yang juga menegaskan absurdisme Becket akan menggiring ke pintu kebosanan penonton. Perlu sedikit kesabaran memelototi lakon berdurasi hampir 2 jam ini. Beberapa kelucuan menyisip sebagai pelepas penat. Garasi cukup bisa memunculkan sisi komedi dari lakon berat ini.

Setting panggung yang ingin dikesankan sebagai "keterpenjaraan dan keterasingan" dibangun Marzuki. Garasi tampaknya juga menyisipkan sedikit musik pengiring yang tak banyak menolong bila tujuannya untuk mengatasi kebosanan.

Namun, beberapa pengucapan tokoh-tokohnya, kecuali Hamm, terkadang kabur. Meski tokoh-tokohnya berusia lanjut, sehingga gaya tuturnya bergetar dan "berat". Namun, secara keseluruhan Garasi terbukti mampu meminkan lakon ini. Kita masih menunggu kemampuannya itu diuji kembali dalam pementasan berikutnya, Waiting for Godot, yang lebih terkenal, lebih panjang, dan konon lebih berat itu. Garasi malah akan maju dengan semua pemainnya perempuan. (Kurniawan)

Kegilaan, Absurditas, Becket,...

Kita terlahir gila. Sebagian mengingatnya demikian.

Itulah penggalan dalam lakon Waiting for Godot, karya teaterawan yang terlahir di Foxrock, Irlandia, tahun 1906, dan mengaku tanpa kehidupan kanak-kanak yang indah. Dia diterima di Trinity College, Dublin, dan akhirnya tinggal di Paris kala berusia 22 tahun. Kota inilah yang kemudian disebutnya rumahnya. Di kota itu pula dia bergabung dengan kelompok seniman garda depan seperti James Joyce, yang kemudian menjadi sahabat abadinya. Dia meraih Nobel Sastra tahun 1969. Dan dua puluh tahun kemudian dia wafat.

Becket menulis baik novel, cerpen, puisi, maupun skrip untuk radio, televisi, dan film. Namun dia justru terkenal di bidang teater. Karyanya, Waiting for Godot, digelar di teater kecil di Paris pada tahun 1953, dan kemudian menjadi satu dari karya termashur abad ini. Godot menawarkan sebuah atmosfer asing. Ia mengisahkan dua orang yang menghabiskan waktu menunggu seseorang yang tak pernah datang melewati jalan tempat keduanya berada. Karya ini pula yang menyiapkan penonton bagi karya-karyanya selanjutnya, seperti Endgame, Happy Days, dan Krapp's Last Tape.

Dia paling sering dihubungkan dengan Teater Absurd. Baik naskah panjang (Godot, Endgame), naskah sangat pendek (Ohio Impromptu, Catastrophe), maupun monolog (Rockaby, A Piece of Monologue), menyuguhkan sebuah metafor keberadaan manusia dan diskusi filsafat dan agama. Meski dia tak berhubungan dengan para filsuf eksistensialis Prancis pasca-Perang Dunia II, namun karya-karyanya banyak menggali hal yang sama dan mengajukan pertanyaan yang sama. Dalam bahasanya, "Kita terlahir gila. Sebagian mengingatnya demikian.."

Situasi absurd, tak masuk akal, bahkan gila itu mudah ditangkap dari karya-karya teaternya. Kekayaan referensinya juga muncul kuat. Baik meminjam pernyataan para penyair-penyair besar, referensi theologi Kristen, maupun diskusi filsafat. Filsuf favoritnya, Rene Descates, yang terkenal dengan pernyataan "Cogito ergo sum" (Aku berpikir, maka aku ada) mewarnai karyanya. Bahkan kumpulan puisi, Whoroscope (1930) khusus dipersembahkannya pada filsuf besar Prancis abad 17 itu.

Descartes mempertanyakan tentang kesadaran diri, ke-aku-an, yang ditemukannya dalam pikiran. Becket juga mempertanyakan keakuan manusia. Dia terus mencarinya dalam ketegangan dengan kenyataan yang ada. Secara humoris, Descates disinggungnya, seperti dalam Endgame: "Lakukan sesuatu. Temukan ide," kata Hamm saat memerintah Clov. Toh, Becket tetaplah kontroversial untuk diperdebatkan. (Kurniawan)


Lihat siapa pengunjung situs ini.