Logo Oneweb
Catatan Teater

Tema Besar dengan Kanvas Kecil
Arus militerisme terus membendung kebebasan, dan disiplin menjadi kata kunci untuk melanggengkannya. Sayangnya, pemanggungan Teater Kanvas tak optimal.

''Kelaparan, penindasan, dan pembungkaman'' menjadi sebuah kewajiban bagi para tahanan politik untuk mengalaminya. Salah satu kunci yang dapat membebaskannya adalah bila mereka melepaskan segala atribut kejuangan. Tentu saja disiplin mengikuti perintah sang penguasa menjadi pelengkapnya. Itulah pesan panggung Teater Kanvas yang menyuguhkan pentas teater Melawan Arus Sepatu di Taman Ismail Marzuki, Sabtu-Minggu (3-4/7).

Sorot lampu yang sangat terang bergerak mengitari seluruh ruang gedung pertunjukan. Sorotan sarat curiga itu mengawali pementasan, bagai spot light dari menara pengawas di barak-barak militer dan penjara-penjara kelas kakap yang selalu mewaspadai kemungkinan terjadinya penyusupan atau pelarian. Lalu seorang tentara berteriak-teriak dari atas menara: ''Disiplin! Kita adalah rakyat, kita dilahirkan oleh rakyat, dan kita pun mengabdi untuk kepentingan rakyat. Maka, siapa pun yang berani mengganggu rakyat kita singkirkan mereka, kita musnahkan mereka. Disiplin!''

Lalu, tampaklah orang-orang lusuh di tengah bangunan dengan dinding-dinding yang kukuh. Orang-orang itu adalah para tahanan politik yang diciduk tanpa alasan hukum. Dari keletihan wajahnya, tampak bahwa mereka telah mengalami siksaan berat. Saban hari mereka diinterogasi untuk selalu patuh. Seperti juga dalam penjara politik Orde Baru, para tahanan politik itu datang dari berbagai macam latar belakang profesi.

Ada pemberontak, politisi, pemikir, pelukis, mahasiswa, tukang es, dan seorang gelandangan. Ada yang berwatak heroik, oportunis, masa bodoh, ataupun lugu silih berganti menjalin kisah. Dari seorang mahasiswa yang bersedia melakukan apa saja demi kebebasan, pemikir yang hanya bangga terhadap dirinya, orator yang berkoar-koar akan membunuhi para militer, sampai seorang yang selalu salat dan mengingatkan teman-temannya untuk bersabar dan terus bertahan hingga nasib menjadikannya tulang belulang.

Jalinan cerita yang meluncur selama satu jam lebih itu sebenarnya cukup menggoda penonton untuk terus bertanya. Misalnya, di manakah korban-korban yang dinyatakan hilang itu berada? Mereka berkumpul di suatu tempat atau berpesta? Atau telah dibunuh? Juga, kapan rentetan peristiwa berdarah di negeri sepatu (baca: negeri militer) ini berakhir?

Tapi, tema besar yang disampaikan, sebuah perlawanan terhadap arus militerisme yang hegemonik, tak muncul secara optimal. Kisah di atas panggung ini seakan hanya menjadi prolog dari konsep besar tema tersebut. Terkesan sekadar berdiri pada akting dan kata-kata, sekadar menyampaikan gerak dan bunyi-bunyian perlawanan.

Padahal, mengutip pengamat seni rupa Agus Dermawan T, panggung sandiwara adalah sebuah kanvas yang besar. Di dalamnya bergerak manusia dan benda-benda yang menciptakan bentuk, kumpulan figur yang menciptakan komposisi, menutulkan noktah dan mencoretkan garis. Lalu hamburan cahaya yang menciptakan nuansa-nuansa warna. Sehingga yang tampak dalam panggung adalah semua yang hidup dan berjiwa.

Sayang memang, pentas teater garapan sutradara Zag Sorga ini tak menjadi kanvas besar gara-gara penataan cahayanya yang kurang cermat. Lighting yang dihadirkan sekadar sebagai pemanis, tidak difungsikan sebagai penguat karakter ataupun adegan. Bangun level justru lebih banyak mengganggu bloking pemain ketimbang menguatkannya. Serta, penataan suaranya yang keteteran.

Kekurangannya itu menurut penulis naskah sekaligus sutradara Zak Sorga, terjadi akibat singkatnya waktu menata panggung yang hanya satu hari dan waktu latihan yang hanya sebulan sehabis Pemilu 1999. ''Soal itu saya akui sebagai kekurangan,'' katanya.

Namun, sambutan tetap pantas disampaikan kepada teater yang belasan kali mementaskan naskah karyanya sendiri ini. Sebuah peringatan disampaikan, bahwa arus militerisasi masih terus berlangsung hingga kini. Termasuk, keharusan kita untuk waspada terhadap diri kita sendiri: Jangan-jangan kita pun bagian dari militerisme pula.

dikki nursa

Teater Kanvas yang Menipis

Sejak berdirinya (1988), Teater Kanvas berupaya menggalang komunitas penontonnya, dan sejauh ini tampaknya berhasil. Sehingga sepanjang pementasannya hingga kini (23 kali pentas) selalu dipadati pengunjung. Para pemuda-pemudi Jakarta yang hasrat akan kebebasan itu seakan mendapat angin untuk merenung lebih jauh ketika menyaksikan penampilan Teater Kanvas yang seringkali menampilkan kritik terhadap penguasa yang mengekang kemerdekaan.

Tema-tema seperti Menumbangkan Kezaliman (1994) dan Konspirasi (1996) adalah contoh bagaimana Teater Kanvas memang berani menampilkan sebuah kritik kepada kezaliman penguasa dan munculnya konspirasi-konspirasi kekuasaan. Pun dengan Melawan Arus Sepatu yang ditampilkan pekan lalu, masih membawa greget kejuangan untuk melawan kekuasaan yang antidemokrasi.

Sayangnya, teater yang konsen terhadap upaya pemerdekaan bangsa dari segala macam penindasan ini, dengan komunitas penontonnya yang relatif beragam asal-usulnya bahkan ideologinya, sekarang tampak menjadi partisan. Teater yang dibidani oleh Zak Sorga, sutradara dan penulis naskah teater yang cukup baik, ini bisa jadi tak lagi dipandang sebagai teater yang aspiratif terhadap suara-suara rakyat melainkan menjadi corong partai semata. Apalagi, posisi lulusan IKJ ini yang menyantel dalam salah satu bidang Seni dan Budaya di DPP Partai Keadilan.

Kekhawatiran ini setidaknya muncul dari seorang penonton yang menyayangkan adanya banyolan-banyolan yang sepertinya menyudutkan partai-partai tertentu. Seperti ''kapalnya kasih warna merah! wong jempol darah saja ada kok,'' dan ''nomor 33 sudah dikubur!'' Padahal, ''Teater Kanvas biasanya menjauhi sindiran partisan seperti itu,'' kata penonton tadi.

Tetapi bagi Zak, keterlibatan dirinya sebagai anggota di Departemen Seni dan Budaya DPP PK tak akan berpengaruh bagi independensi teaternya. Buktinya, ''Tema yang kami pentaskan masih seperti tema-tema sebelumnya, yang mengkritisi kezaliman pemerintah terhadap rakyatnya,'' katanya. Sementara, ''Soal penyebutan jempol darah bukan berarti menyudutkan salah satu partai, tapi maksudnya bahwa dengan itu tidak akan menyelesaikan masalah,'' tambahnya.

Lalu, apakah independensi Teater Kanvas akan terkubur oleh dugaan kepartisannya? Inilah barangkali PR baru Zak untuk menimbang-nimbang bagaimana terbaiknya. Kembali menjadi kanvas besar dalam panggung sandiwaranya atau membiarkan kanvas pemanggungan itu makin tipis karena keterlibatan dirinya dalam partai? Atau kekhawatiran penonton tadi berlebihan? (dikki)


Lihat siapa pengunjung situs ini.