Panggung di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) malam itu agak berbeda. Gedung pertunjukan tonil peninggalan Belanda itu biasanya dikunjungi orang-orang asing dan kalangan elit metropolitan. Yang datang umumnya pria berdasi, perempuan bergaun malam, atau yang berpakaian santai tapi mahal.
Namun malam itu tak terlihat keglamoran dan plat-plat mobil kedutaan asing yang biasa memenuhi lapangan parkir. Yang datang biasa-biasa saja, yang dipertunjukkan pun bukan musik klasik atau pertunjukan serius lainnya, tapi ketoprak.
Jumat malam itu (8 Januari 1998) memang ada Ketoprak Humor di GKJ. Lakon yang diangkat adalah Dalang Soponyono dengan bintang tamu pelawak Kirun asal Madiun dan dalang kondang Ki Mantep Soedarsono.
Seperangkat gamelan dan pengrawit serta sinden memenuhi sisi bawah depan panggung. Di panggung ada seperangkat kursi, tombak, dan sebuah penyekat ruang kayu. Perangkat itu membangun suasana resmi tentang ruang kebangsawanan. Dan benarlah, itu sebuah ruang pertemuan Kadipaten Paranggarudho.
Adipatinya, Grudhopati, sedang berbincang dengan para hulubalangnya. Tiba-tiba muncul putranya, Raden Joyosari, yang sedang gandrung berat. Layaknya jejaka gandrung, Joyosari terkesan agak bingung dengan mulut terus memuja-muja kekasih hatinya. Nyatalah sang raden sedang jatuh cinta pada Dewi Rayungwulan, putri Adipati Puspo Andong Joyo dari Carangsoka.
Kelakuan aneh Raden Joyosari segera memancing tawa penonton. Apalagi setelah Wedana Yuyurumpung (dimainkan Timbul) muncul dengan gaya orang gagap berhasil mengocok habis perut penonton malam itu. Suasana tambah seru pada babak kedua dengan setting Desa Mbakaran tempat tinggal Dalang Soponyono. Para pelawak, seperti Kirun, Nurbuat, dan Doyok, pun menyemarakkan panggung. Sayang Doyok agak keteter dibanding rekan lainnya ketika terbangun lawakan berbahasa Jawa yang kental.
Kekonyolan lewat adegan-adegan lucu dan pernyataan penuh asosiasi yang diplesetkan menjadi menu yang medapat banyak tepuk tangan penonton. Sesekali muncul lawakan yang agak serius, seperti kesalahan pemain dalam berbahasa dengan seorang adipati. Seperti Raden Joyosari yang salah ketika menyebut karo koe dengan ambek sampeyan. Hirarki bahasa dalam bahasa Jawa pada konteks ini muncul kembali dan menemukan kebakuannya.
Lakon malam itu adalah episode pertama dari tiga episode yang akan ditayangkan di RCTI pada Sabtu malam (23 Januari 1998) mendatang. Kerjasama RCTI, GKJ, dan Yayasan Paguyuban Kesenian Samiaji ini mengulang sukses tayangan wayang kulit di Indosiar.
Menonton di panggung secara langsung memang lebih mengasyikkan. Tidak dipotong iklan dan pandangan lebih leluasa. Sehingga setiap adegan para pemain bisa dilihat, tidak seperti di televisi yang karena permainan kamera membuat penonton sering kelolosan adegan lucu dan menarik di sisi lain panggung.
Pertunjukan itu mentas dua kali sebulan di GKJ. Sambutannya ternyata tak jauh beda dari tayangannya. Menurut staf GKJ, penonton yang datang rata-rata memenuhi 60-70 persen kapasitas tempat duduk. Kenyataannya malam itu sekitar 70 pesen tempat duduk terisi. Mengapa penonton, yang bisa dengan mudah dan gratis menonton Ketoprak Humor di televisi, sekarang mau bersusah-susah datang ke GKJ dengan membeli tiket seharga Rp 15 ribu dan Rp 20 ribu.
''Ada kerinduan untuk menonton kesenian tradisional,'' kata Wisnu Sulistyo, seorang penonton yang malam itu datang bersama istri dan seorang anaknya. Menurut pengakuan Wisnu yang datang jauh-jauh dari Rawa Wadas, Tanjung Priok, itu cukup sulit menemukan tempat-tempat untuk menonton pertunjukan tradisional di Jakarta. Sehingga tayangan wayang dan ketoprak di televisi sangatlah disyukurinya.
Wisnu yang berasal dari Jawa Timur itu memang akrab dengan ketoprak dan wayang. Anaknya yang masih kelas satu Sekolah Dasar saja sudah ketularan bergadang semalaman untuk menonton wayang, baik di televisi atau di panggung. Keluarganya biasa nonton sama-sama di televisi setiap malam dan hari Jumat.
''Saya sering nonton Wayang Orang Bharata di Pasar Senen. Ketoprak di GKJ ini saya tonton terus sejak Desember lalu,'' katanya. Selain itu, ''Saya ingin tahu bagaimana bintang-bintang panggung yang sudah terkenal seperti Doyok dan Kirun itu tampil di ketoprak. Kayak apa sih?'' katanya sambil tersenyum.
Wisnu dan tetangga-tetangganya di Rawa Wadas memang pendatang dari Jawa Timur dan Jawa Tengah. Warga di kawasan itu memang masih kental budaya Jawanya. Hal ini terbukti dari kebiasaan mereka untuk nanggap (mengundang) wayang kulit setiap tanggal satu Suro penanggalan Jawa.
Wisnu mungkin dapat dikatakan sebagai wakil dari masyarakat penggemar ketoprak. Maka tampaklah bahwa jenis kesenian tradisional ini utamanya didukung oleh masyarakat Jawa yang masih dekat dengan budaya asalnya. Generasi yang lebih muda, yang lebih kosmopolit, dan sering dituduh kebarat-baratan oleh generasi yang lebih tua pada kenyatannya memang sudah jauh akar budayanya.
Apalagi di kota metropolitan semacam Jakarta yang kafe-kafe dengan musik impor yang hingar bingar lebih laku ketimbang Gedung WO Bharata. Akibatnya sudah mahfum di benak kita, bahwa kesenian tradisional semacam ketoprak makin surut saja keadaanya. ''Bahkan sudah sangat mengkhawatirkan!'' tandas dalang Ki Mantep setengah emosi.
Ketoprak on the stage (di panggung) dengan bumbu humor versi sutradara Timbul ini ternyata juga berhasil di luar tabung kaca RCTI. Toh pihak GKJ baru berani mementaskannya dua kali sebulan. Namun bila para penonton GKJ malam itu masih setia dan penonton-penonton baru berdatangan, serta penampilan Timbul dan kawan-kawan tetap menarik, maka kehadiran ketoprak tampaknya masih penuh harapan. Semoga saja. (Kurniawan)
Bila Gatotkaca Anaknya Gareng
Ketoprak dengan bumbu humor versi Timbul masih terikat dengan tradisi. Alur cerita dan penokohan tetap dipertahankan. Apakah tidak ada peluang untuk mengubah lakon dan karakter tokohnya?
''Itu namanya diplesetkan,'' kata Timbul. Ketoprak memang memiliki pakem yang tampaknya tak boleh diganggu gugat. Tapi bukankah inovasi kadang-kadang menuntut perubahan besar? Tokoh Cinderela dalam film Ever After misalnya, ternyata bukan babu yang memelas, tapi seorang gadis yang berani dan penuh perlawanan.
Sampai dimana batas inovasi yang mungkin dalam ketoprak? ''Selama masih sesuai dengan sejarahnya,'' kata Timbul. Bagi Timbul tak masalah mengangkat misalnya sejarah Cut Nya Dien asal sesuai dengan aslinya. Itulah sebabnya Timbul sekarang sedang menyiapkan karya inovasinya, sebuah ketoprak dari kisah 1001 malam dengan setting Baghdad tempo dulu.
Bagi Ki Mantep Soedarsono inovasi itu boleh-boleh saja sepanjang tindak merusak pakemnya. ''Ketoprak kontemporer atau plesetan boleh saja muncul, tapi jangan memlesetkan tokoh-tokoh baku,'' katanya. ''Damarwulan dibuat jelek. Lakon Juminten edan, Juminten ora edan misalnya. Apa berani kita membuat Gatotkaca anaknya Gareng? Di mana pun Gatotkaca itu anaknya Werkudoro!'' jelas dalang yang terkenal dengan sabetan-nya ini.
Menurut Ki Mantep akar dari lakon baku itu jangan ditinggalkan. Penciptaan lakon baru justru didukungnya. Itulah sebabnya dia sekarang berencana untuk mementaskan wayang kulit berdasarkan naskah Bengkel Teater Rendra, Panembahan Reso. Tokoh-tokohnya dibuatnya sendiri dan musiknya disesuaikan dengan kebutuhan lakon itu.
Dengan demikian tampaknya baik Timbul maupun Ki Mantep sama-sama menolak perubahan total dalam lakon ketoprak tardisi. Entahlah kalau ada seorang mahasiswa lulusan sekolah seni jurusan seni pertunjukan yang tiba-tiba muncul dengan lakon yang berbeda. Misalnya dengan cerita Gatotkaca anaknya Gareng, atau Semar mengkudeta Alengka. Siapa berani? (Kurniawan)