Logo Oneweb
Catatan Teater

Lear Versi Asia: Terbunuhnya Seorang Bapak
Seniman dari enam negara berkolaborasi mengadaptasi Lear Shakespeare. Sebuah karya besar pembuka abad baru teater Asia yang membuat iri.

Angin Selatan isyaratkan hujan
di utara angin dingin dan basah
angin Barat mengundang badai
dan angin Timur
siapa yang tahu kapan bangkit kembali

Syair lirih yang disenandungkan dalam irama tembang klasik Jawa itu mengetatkan kesunyian panggung yang muram. Tongkat besar yang dipegang Raja Sepuh jatuh berdentam di lantai kayu hitam. Lelaki tua itu jatuh terduduk dalam kerentaan dan ketakberdayaan.

Tiada lagi yang tersisa. Tahtanya telah direbut paksa Putri Sulung tercinta. Semuanya telah pergi. Pelayan setianya telah buta, badutnya telah berlalu. Tiada lagi yang bisa dibantah, raja-raja sekutunya telah mati. Jaman telah berganti. Dengan arus kali kealpaan aku berdendang. Tentang hari-hari kejayaan.

RELASI GENDER Raja Sepuh (dimainkan Naohiko Umewaka) tinggallah raja terusir dan ayah yang dikhianati. Umewaka memainkan sekaligus dua peran dalam pertunjukan teater Lear: King Lear in Asian Version yang digelar tiga hari sejak 5 Februari lalu di Teater tanah Airku, TMII Jakarta

Umewaka adalah aktor Noh (teater tradisional Jepang) yang berteater sejak usia 3 tahun. Kali ini dia juga memainkan peran roh ibu. Sebuah peran yang tak ada dalam naskah asli Shakespeare sendiri. Penulis naskah Rio Kishida (Jepang) telah merombaknya. Jadilah Lear sebuah karya yang maunya meng-Asia.

Sutradaranya Ong Keng Sen (Singapura) berargumen bahwa pokok pikiran King Lear adalah sebuah dominasi patriarki (kekuasaaan pada bapak) yang direbut perempuan. Sutradara yang beberapa kali mengerjakan pementasan kolaborasi musisi antarbangsa ini melihat wajah Asia yang tengah berubah.

Sistem patriarki yang menggejala di Asia ini ingin dicarikannya alternatif. Ong sendiri menginginkan sebuah tafsir baru dari sudut pandang perempuan. Sistem matrilineal (garis ibu) seperti ditemukannya di Mingkabau, ditimbang jadi alternatif.

Bahkan Kishida mendorong temanya ke kutub yang lebih ekstrem: Putri Sulung (aslinya Gonerill) membunuh ayahnya. Tapi Kishida yang sering menulis drama tentang perempuan ini pula yang menciptakan tokoh ibu bagi putri-putri Raja Sepuh sebagai figur penyelamat.

Ong pun memecahkan masalah gender ini dengan perlintasan gender (gender crossing) dengan memunculkan pemain pria yang memainkan peran perempuan. Seperti peran ganda Umewaka dan tiga Bayangan Putri Sulung yang semuanya pria. Setting dan nama-nama pun dihapuskan, sehingga Lear selanjutnya menjadi sebuah drama simbolik keluarga pada umunya.

KOLABORASI ASIA Harus diakui bahwa inilah karya besar dari dunia teater Asia di penghujung abad ke-20. Karya kolaborasi seniman enam negara ini menampilkan seniman-seniman muda Asia. Hanya penata panggungnya saja dari Australia, Justin Hill.

Dua peran utama, Sang Ayah dimainkan Umewaka dan Putri Sulung dimainkan pemain Opera Beijing Jiang Qihu. Peran lain, Putri Bungsu yang selalu membisu (Peeramon Chomdavat, Thailand), Badut (Hairi Katagiri, Jepang), Pelayan Setia (Lim Yu-beng, Singapura), dan Abdi (Abdul Karim, Indonesia). Selain empat Ibu Pertiwi yang dimainkan seniman Singapura dan tiga prajurit yang dimainkan seniman Indonesia.

Mengapa peran utamanya bukan dari Indonsia? Sutradaranya hanya beralasan bahwa ketika dia keliling mencari para seniman pendukung, dia tak menjumpai aktor Indoensia. Secara diplomatis dikatakannya bahwa itu mungkin hanya karena kurang kenalnya dia dengan para aktor teater di sini. Tapi kalau kita mau jujur, adakah aktor muda Indonesia sekarang yang memenuhi syarat yang diajukan Ong: berwatak dan pandai bernyanyi?

Tata musik dipegang Rahayu Supanggah (Indonesia) dengan seperangkat gamelannya dan Mark Chan (Singapura) yang emnuliskan lirik, menyanyikan requiem dalam prolog, serta memainkan berbagai instrumen lain. Sedang para musisi di antaranya adalah Piterman untuk musik Minang, Junko Handa (Jepang) untuk musik biwa (kecapi), dan lainnya.

Yang juga menonjol dan mewarnai Lear adalah gerak tariannya. Untuk itu koreografi silat untuk prajurit dan abdi yang digarap Boi G. Sakti layak diberi penghargaan. Sementara gerak lembut Bayangan Ibu yang digarap Aida Reza (Malaysia) menambah sempurna tontonan berbiaya besar ini.

Lear juga memberi tempat bagi keluasan bahasa yang dipakai. Sutradara Ong yang berprinsip bahwa projek antarbudaya ini bukan sebagai satu kesatuan yang melebur yang mengurangi perbedaan. Perbedaan yang ada dibiarkan hidup dan meliar menemukan titik temunya sendiri. Baik itu musik, tari, nyanyi, doa, maupun percakapannya.

Walhasil, terjadilah dialog-dialog yang tak lazim dalam teater. setiap pemain berbicara dengan bahasa asalnya sendiri-sendiri. Toh, begitu tampilannya tak menjadi janggal karenanya. Malah menjadi satu kenikmatan tersendiri menyadari betapa luasnya ragam bahasa yang ada. Tapi untuk mudahnya komunikasi, penonton diberikan teks dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris, yang ditampilkan di sisi atas kiri dan kanan panggung.

Umumnya para seniman puas dengan model kolaborasi ini, seperti diungkapkan rahayu Supanggah. "Kolaborasi biasanya punya waktu sempit dan jadinya artificial (buatan), tapi kami punya waktu lebih panjang (satu tahun). Jadilah suatu kolaborasi yang ingin belajar lebih dalam tentang budaya, bahasa, dan lainnya," tutur musisi Solo ini.

Tiket seharga 40 ribu, 20 ribu, dan 10 ribu rupiah pun ludes sebelum hari H pertunjukan. Maka bisa dihitung bahwa total penonton adalah tiga kali kapasitasnya yang mampu memuat 1.070 penonton. Beruntunglah bagi penonton yang sempat menyaksikan pertunjukan spektakuler berskala internasional ini. Setelah Panembahan Reso-nya bengkel Teater, nampaknya baru Lear ini yang bisa menandingi.

Apakah Lear yang dipayungi The Japan Foundation ini akan mendorong kebangkitan teater Asia?
...dan angin Timur
siapakah yang tahu akan bangkit kembali...

(Kurniawan)

Geladak Kelong dan Percakapan Lintas Bahasa

Panggung itu dibangun dari kayu-kayu tebal berwarna hitam. Tidak seperti lazimnya panggung teater, bentuknya melengkung membentuk bukit di pertengahannya.

Panggung itu meniru geladak kelong, yaitu panggung tempat memancing yang biasa ditemukan di pesisir-pesisir Asia Tenggara. Pola dasarnya seperti huruf L dengan sisi panjang di sebelah kiri menjorok ke bagian dalam panggung. Ditambah satu bagian yang menjorok ke depan di sebelah kiri panggung.

Banyak yang berdecak melihat panggung kokoh, besar, dan aneh itu. Menurut associate producer Ratna Riantiarno, panggung itu sudah dirancang Justin Hill. Justin sudah datang ke Indonesia sejak September tahun lalu untuk meneliti lokasinya. Lalu dia pun mengajukan desain dan detil bahan serta konstruksi yang diinginkan. Setelah kontraktor Indonesia yang diajukan bisa diterimanya maka dibangunlah panggung tersebut.

Panggung standar Teater Tanah Airku selebar 17 meter itu pun lenyap berganti panggung ala geladak kelong. Untunglah panggung itu mampu menahan bobot dekor hingga 60 ton. Panggung itu dilengkapi puluhan lampu sorot yang disusun berderet di sepanjang tepi depan, belakang panggung, atas, dan bawah panggung. Ditambah dengan layar-layar dari kain tardisional berbagai negara, jadilah pola-pola pengalihan set yang sederhana namun menarik.

Bentuk panggung yang melengkung ternyata memberi efek menarik bagi pertunjukan itu sendiri. Gerak mendaki dan menurun kemudian menjadi tervisualkan, juga gerak silat para prajurit mencapai tingkat kesulitan lain karena permukaan yang tak datar itu.

Terobosan-terobosan semacam ini memang menarik, meski mudah ditebak bahwa tak mudah untuk membangunnya. Setidaknya biaya yang dibutuhkan tentulah tak sedikit. Padahal pertunjukannya digelar di lima negara. Pentas perdananya di Jepang tahun 1997. Sedang tahun ini digelar di Lyric Theatre Hong Kong, Kallang Theatre Singapura, dan nantinya di His Majesty's Theatre, Perth, Australia. Berarti ada lima panggung di lima tempat yang berbeda. Ah. (Iwan)


Lihat siapa pengunjung situs ini.