Logo Oneweb
Catatan Teater

Kesiapan dan Mimpi Rakyat
Dalam kesempitan hidup dan ketakberdayaannya, rakyat hanya bisa bermimpi. Teater Ketjil mengangkat kembali tema Mega, Mega ini dalam bingkai lain. Lebih sunyi dan miskin musik.

Apa yang bisa dilakukan rakyat jelata dalam kesempitan hidup dan ketiadaan harapan untuk meraih kebahagiaan? Mimpi, itulah jawaban tunggal yang masih bisa menampung semua harapan individu dalam satu komunitas yang bernama rakyat. Tiada lagi yang bisa dipegang, kecuali bulan gendut yang bersahabat. Tiada lagi yang bisa dipercaya, kecuali beringin tua yang terus menghibur.

Satu-satunya pihak yang bisa direngkuh adalah sahabat dekat dalam kedukaan dan kebahagiaan kecil sehari-hari. Namun akan jadi tragis kemudian bila mereka pun hilang satu per satu.

Itulah tema yang diangkat Teater Ketjil dalam mementaskan Mega, Mega karya Arifin C. Noer selama 24-27 Februari lalu di Gedung Kesenian Jakarta. Naskah yang ditulis sepanjang 1964-1966 ini kini dipentasulangi untuk mengenang Arifin (almarhum) dan kemunculan kembali Teater Ketjil setelah sekian lama tak berkiprah di panggung teater.

KETAKBERDAYAAN Naskah teater ini memang kuat. Badan pembina Teater Nasional Indonesia memberinya penghargaan sebagai Naskah Drama Terbaik di tahun 1967 dan dimuat di majalah Horison pada tahun yang sama. Arifin dan Teater Ketjil pertama kali mementaskannya di Teater Tertutup TIM pada 11 Juli 1969.

Kali ini dengan komposisi pemain sebagian besar masih pemain lama, ditambah dua pemain baru, Embi C. Noer memegang kendali penyutradaraannya. Namun, terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, harus diakui bahwa kekuatan naskah itu sendirilah yang membuat tontonan ini tetap menarik.

Naskah ini dibuat Arifin pada suatu kurun waktu yang relevan dengan Indonesia kini. Kurun di mana terjadi peralihan kekuasaan dan rakyat yang terpuruk secara ekonomis dan politis. Dengan kata lain, menurut istilah Embi, yang terjadi adalah kemandegan. "Ketidakberdayaan rakyat yang tak terhindarkan ini menjadi sebuah kenyataan," lanjutnya.

Kondisi itu merentankan kehidupan semua orang. Tak cuma fisik, dengan kelaparan dan kejahatan misalnya, tapi juga iman. Tema ini sedikit disinggung Arifin dan cukup mengena dengan menghindari telaah yang bisa terjebak pada keruwetan atau khotbah omong kosong.

Misalnya dalam penggalan percakapan tokoh Mae (baca: Ma'e) dengan seorang pencopet dan maling bernama Panut. "Maksudku kau percaya pada Tuhan, tidak?" tanya Mae. Panut pun menjawab dengan tak acuh: "Seperti setiap orang. Tapi Mas Woto bilang Tuhan itu tidak ada. Tuhan itu racun. Tuhan itu arak. Candu. Tuhan itu asap rokok. Kata Mas Marwoto."

Kerentanan sosial dan ekonomi telah menggerogoti iman manusia-manusia rekaan Arifin ini. Tak cuma itu, bahkan pertanyaan-pertanyaan ontologis (hakikat segala yang ada di dunia) berpuncak pada keputusasaan yang berbahaya sebenarnya.

Dengan cantik Arifin memunculkannya pada monolog Mae. "... Saya tidak lagi dapat melihat apa-apa. Saya mulai menyangsikan semuanya. Saya sangsi apakah saya ada atau tidak ada. Atau apakah yang ada dan apakah yang tidak ada. Apakah saya yang ada dan yang lain tidak ada. Atau apakah yang lain ada dan saya tidak ada. Apakah... tak tahulah! Seluruhnya hanyalah jalanan panjang yang lengang tak berujung. Sementara tapak kaki mulai kabur," tutur Mae di tengah panggung.

Dengan memangkas banyak dialog, Embi memusatkan kisahnya pada tokoh Nenek Mae (Cini Gunarwan) dan pelacur Retno (Jajang C. Noer). Dengan apik Cini memainkan Mae sebagai nenek bijak tapi tersudut dalam kesendiriannya. Mae yang terus menerus merindukan seorang anak, yang tak mampu diperolehnya lantaran mandul, menjadi ibu bagi semua tokoh dalam lakon ini.

Alurnya bergantung dan bermuara pada Mae. Mae yang membuka dan dia pulalah yang menutup seluruh adegan berdurasi 2,5 jam ini. Kehadirannya selalu berada di tengah panggung, di atas sebuah level sederhana dengan sapu lidi di tangan. Blocking (posisi pemain di panggung) terjadi dengan jantungnya pada Mae, sehingga pemain-pemain lain bergerak dan bermain di sekitarnya.

Anehnya, Embi yang dikenal sebagai penata musik Teater Ketjil dan pemusik kontemporer itu justru miskin (atau minimal?) dalam membangun ilustrasi musik pementasan ini. Apakah Embi hendak membangun suatu kesunyian, apalagi ditambah tata cahaya dan seting panggung (digarap Rudjito) yang kelam dan nyaris kosong? Yang jelas, gaya Arifin yang suka bermain-main jadi lenyap, dan akibatnya membuka peluang kebosanan bagi penonton.

HILANGNYA SUASANA Embi berdalih telah memangkas naskah sesuai yang pernah dilakukan Arifin. "Setidaknya ada 45 menit adegan yang dipangkas, terutama pada bagian kedua dari naskah yang dibagi tiga bagian," katanya. Ternyata bagian naskah yang dihilangkan itu adalah bagian yang sebenarnya cukup penting untuk memahami suasana dan konteksnya sendiri.

Kalau Anda pernah ke Yogyakarta, maka akan mudah ditangkap bahwa Mega, Mega berlangsung di Alun-alun Utara Keraton Yogya. Tepatnya di bawah pohon beringin besar di tengah arena. Penyebutan Soboharsono, Pasar Bringharjo, bioskop Indra, dan stasiun kereta api yang diungkapkan para tokoh mengacu pada tempat-tempat di seputar lokasi itu.

Nah, bagian yang hilang adalah adegan para tokoh yang bermimpi berhasil menguasai keraton. Tokoh Koyal (dimainkan Willem) yang bermimpi mendapat lotere senilai Rp 100 juta dan mengajak teman-temannya yang lain berkhayal jadi kaya. Mereka jalan-jalan ke Tawangmangu, ke toko pakaian, makan-makan, akhirnya naik kuda ke mega-mega.

Setelah itu mestinya adegan pengambilalihan Keraton Mataram. Mereka pun berbagi-bagi jabatan dengan Koyal sebagai Sultan Raja Pangeran Takterperi Purnama Maharaja Batara Nirwana. Bisa jadi gelar sepanjang ini merupakan sindiran pada Presiden Soekarno masa itu. Adegan ini merupakan puncak impian mereka sebenarnya, karena setelah itu semuanya menjadi lelah bermimpi dan jatuh tertidur.

Hilangnya adegan membuat lokasi menjadi kabur, kecuali penyebutan beberapa nama tempat, dan lebih abstrak. Tak cukup jelas mengapa Teater Ketjil mengubahnya demikian. Bila ini yang dikehendaki kelompok teater ini, berarti model lain dari Teater Ketjil hendak ditampilkan.

Kurniawan

Mengenang Arifin C. Noer

Tak terasa sudah empat tahun berlalu sejak tokoh teater ini berpulang. Tepatnya pada tahun 1995 lalu, Arifin C. Noer dikuburkan di Jeruk Purut, Jakarta Selatan. Perjalanan kariernya yang panjang menyisakan jejak-jejak yang kentara dalam dunia kesenian Indonesia.

Bisa dibilang hampir semua bidang kesenian pernah disentuh seniman berbakat ini. Puisi digelutinya sejak kecil. Teater digandrunginya kala bergabung dengan Bengkel Teater Rendra semasa sekolah di Yogyakarta. Naskah-naskahnya seperti Kapai-Kapai (1970), Madekur dan Tarkeni (1974), Umang-Umang (1976), dan Interogasi, 1984 (1984), cukup populer dan dipentaskan oleh banyak kelompok teater, baik di dalam maupun di luar negeri.

Di dunia perfilman Arifin sering dicap sebagi sutradara termahal. Meski cap ini pernah disanggahnya, yang pasti film-film buatannya memang tergolong sukses. Sejak film perdananya, Suci Sang Primadona (1977) yang mengangkat artis pendatang baru Joice Erna sebagai aktris terbaik FFI 1978, nama Arifin terus berkibar.

Beberapa filmnya pun jadi populer, seperti Harmonikaku, Matahari-Matahari dan Serangan Fajar. Sedang Pengkhianatan G30S/PKI disebut sebagai superinfra box-office lantaran seringnya diputar.

Dari keseluruhan karyanya, umumnya tema kerakyatan atau kehidupan orang-orang kecil menjadi pokok ceritanya. Para maling, perampok, pencopet, pelacur, dan profesi-profesi kelas terendah masyarakat justru menjadi tokoh-tokoh utamanya. Setelah dia berlalu, yang diwariskannya adalah setumpuk naskah yang menunggu terus untuk diaktualkan.

one


Lihat siapa pengunjung situs ini.