Kisah Mahabharata dan Bharata Yudha penuh intrik politik berdarah sempat dilarang pada penghujung Orde Lama. Mengapa sekarang bagian kisah Anoman lebih populer, bahkan jadi Opera Anoman spektakuler di TMII?
Yang Mulia Sang Batara Guru turun dari kahyangan. Bersila dalam sebuah bola tembus pandang raksasa. Di atas mekar bunga teratai. ''Anoman, akulah bapamu,'' sabda Sang Mahadewa. ''Matahari, bumi, dan manusia adalah saudaramu. Anjani hanyalah sarana saja bagi kelahiranmu. Moyangmu itu alam semesta. Jika matahari kamu jadikan santapan, kehidupan tak mungkin bisa bertahan. Bencana akan terjadi,'' tutur Sang Mahadewa.
RAMAYANA
Bagian akhir dari kisah Anoman Mencari Bapa di Teater Tanah Airku (TTA) TMII Jakarta ini adalah bagian dari lakon klasik Ramayana. Epos India karya Walmiki ini diperkirakan disusun pada abad 3 SM. Epos ini direvisi bentuknya oleh Tulsi Das (1532-1622). Kisah ini penuh parabel, metafor, dan ajaran yang terkait dengan Hinduisme.
Salah satu tafsir menarik dari kisah ini dilakukan dalam roman terbaik Indonesia karya Sindhunata, Anak Bajang Menggirng Angin. Dalang Hadi Sujiwo Tejo melihatnya lain lagi. Dalam suatu kesempatan dia menyatakan, ''Ramayana itu bicara tentang lingkungan, ekologi, bagaimana bersahabat dengan alam. Bukan semata epos.''
Ceritanya sendiri diambil dari Kitab Veda. Ramayana berkisah tentang kepahlawanan Sri Rama bersama tiga tokoh lainnya yang merupakan penjelmaan kolektif (inkarnasi) dewa Wisnu. Garis besar kisah adalah perjalanannnya merebut kembali Dewi Shinta dari tangan Raja Alengka Rahwana.
Perjuangan Rama dibantu oleh pasukan kera yang dipimpin Sugriwa dan Panglima Anoman. Serbuan Anoman ke Alengka membuat negeri itu menjadi lautan api. Ada pula kisah Adhyatma Ramayana, karya populer yang lebih tua, sebagai bagian Ramayana tentang uji kesucian Shinta dengan pembakaran dirinya.
OPERA ANOMAN
Ramayana sangat mempengaruhi kesusastraan dan drama Asia Tenggara. Bahkan kadang terasa lucu. Misalnya bagi orang India dan Indonesia, Anoman dan Rama adalah pahlawan yang dipuja. Sementara bagi masyarakat Srilanka, yang dipuja justru Rahwana, dan Rama dianggap sebagai raja asing yang menginvasi Alengka.
Di Indonesia Anoman sangat populer, bahkan ada lagu dangdut Anoman Obong, komik RA Kosasih, bahkan kasetnya. Secara reguler Sendratari Ramayana dipentaskan di Candi Prambanan, Jawa Tengah, setiap bulan purnama. Sendratari ini masih klasik dan sesuai pakemnya.
Konon Sun Go Kong adalah versi lain dari Anoman dalam tradisi Tiongkok kuno. Film seri Dewa Pengemis saban Kamis malam di Indosiar sekarang ini juga bercerita tentang perjalanan Kera Sakti Sun Go Kong. Entah mengapa film ini jeblok dalam peredarannya. Komik Jepang Son Go Ku dalam Dragon Ball adalah distorsi komikal modernnya. Anoman pun jadi maskot SEA Games ke-19 di Jakarta Oktober lalu karena dia dianggap tokoh yang tercepat, terkuat, dan tertinggi dalam segalanya.
Anoman ini mengesankan Youk Tanzil. Ketika dia menonton di Royal Opera House, New York, Youk mengimpikan gedung opera semacam itu dan mengadaptasi kisah Anoman dalam bentuk opera. Kebetulan almarhumah Tien Soeharto, mendukungnya. Jadilah impiannya itu dalam TTA yang mementaskan Opera Anoman saban Jumat-Minggu. Opera berdurasi 72 menit ini dipentaskan sejak diresmikan 20 April 1998. Sampai hari Minggu lalu (18/10) gedung tetap dipenuhi penonton.
Kelebihan dari opera ini adalah dukungan teknologi dan seabreg seniman seperti Nano Riantiarno (sutradara), Addie MS dan Djaduk Ferianto (musik), dan Sentot S (penata tari). Untuk orkestrasi dipercayakan pada Victorian Philharmonic Orchestra dan musik tradisionalnya dimainkan Kua Etnika.
Pada opera ini terasa betapa lagu dan pengucapannya begitu enak didengar. Wajar saja, karena para pengisi suaranya tak asing bagi kita. Sebutlah Agus Wisman (Anoman), Dewi Gita (Anjani), Farid Hardja (Narator), Gito Rollies (Resi Gotama), dan Harland Hutabarat (Batara Guru).
Sebagai sebuah opera berteknologi tinggi, pertunjukan ini memang spektakuler. Bagaimana tidak? Anoman bisa terbang ke sana ke mari seenaknya. Adegan Anoman menelan matahari dengan dukungan sinar laser tentulah memukau penonton. Seperti Superman dan Batman di komik.
Kemampuan untuk berakting dengan tali penggantung atau teknologi pendukung lainnya itu jelas butuh ketrampilan khusus. ''Si Anoman pasti jago Kungfu!,'' puji seorang penonton. Semuanya memerlukan kelihaian yang lebih dari wayang orang atau ketoprak meskipun basisnya sama. Tapi pada intinya, ini bukanlah opera Eropa semacam Les Misserables atau Phantom of The Opera. Ini opera Indonesia. Inilah ketoprak, inilah wayang orang, dalam versi modernnya.
RAMAYANA ORDE BARU
Tema penokohan kera dalam pertunjukan bukan hal baru. Selain Opera Anoman, di Dufan Taman Impian Jaya Ancol ada pertunjukan Balada Kera dan Wahana Rama Sinta. Ketiganya menggunakan teknologi sebagai kelebihannya. Kera-kera lucu menyanyi dalam Balada Kera mengandalkan sistem playback dan robotika, sedang Rama Sinta mengandalkan teknologi sinar laser.
Bagi Youk dan kawan-kawan lainnya, mengelar opera secara populer ini jelas menguntungkan dan membanggakan. Apalagi sebagai yang pertama. Namun pertanyaannya mengapa tema Anoman yang menjadi pilihan, bukan yang lain? Jawaban yang sederhana adalah karena Anoman maskot TMII dan lakon paling populer. Sementara bagi Youk, kepada Gatra, dia ingin mengganti pahlawan impor dengan pahlawan lokal. Apakah Anoman itu pahlawan lokal, Youk?
Namun ilmuwan GJ Resink, punya pandangan lain. Menurut catatannya, pada waktu peristiwa 1965-1966, lakon-lakon Mahabharata umumnya diharamkan. Resink dalam From the Old Mahabharata to the New Ramayana Order (1975) menunjukkan bahwa sesudah Orde Baru berkuasa, makin banyak lakon yang diambil dari Ramayana.
Pada Orde Lama, istilah-istilah yang terkait dengan Mahabharata dan Bharata Yudha dicapkan pada karakter politik, seperti "dalang", "mendalangi", "goro-goro", "Durno", dan "kedok". Goro-goro, misalnya, menyiratkan krisis politik. Sedang Durno menyiratkan kerusuhan berdarah, kelicikan penasehat, dan intelektual politik, yang menurut Ben Anderson mengacu pada khususnya Dr. Subandrio.
Soeharto dengan Orde Barunya ternyata memilih Ramayana. Representasi dari empat lakon Ramayana, Sendratari Ramayana, Opera Anoman, Wahana Rama Sinta, dan Balada Kera sedikitnya membenarkan pengukuhan Ramayana pada masa Orde Baru. Hal ini disebabkan oleh ideologinya yang dianggap lebih positif dan membangun. Sejajar dengan garis politik dan ekonomi yang dicanangkan Soeharto. Epos Ramayana makin lebih populer karena kandungan kisahnya yang lebih romantis, suatu hal yang lebih mudah diterima di era Orde Baru.
Meski begitu bukan berarti lakon-lakon Mahabharata dan Bharata Yudha tidak diminati. Wayang Orang Bharata di Pasar Senen, Jakarta, berkali-kali memantaskan lakon-lakon itu. Di GKJ mereka menentaskan Karno Tanding (21/10). Rencananya Suyudono Gugur dipentas Nopember mendatang dan Bagong Jadi Sengkuni pada Desember nanti di GKJ juga.
TTA boleh jadi sebuah wahana yang akan menampung kratifitas para seniman panggung. Setidaknya kecanggihan TTA akan diuji dengan akan dipentaskannya Lear versi Asia yang diusung Ong Keng Sen (sutradara) dan Rio Kishida (skenario). Seluruh unsurnya menggabungkan berbagai kemampuan seniman Asia (termasuk Indonesia). Pentas ini akan menggunakan panggung khusus slope dan tata cahaya dan suara khusus yang menciptakan efek psicho drama. Sebuah perpaduan teknik panggung Jepang dan Indnesia akan kita saksikan di awal Februari tahun depan. Kalau masih betah nunggu! (kurniawan)
Ternyata Anoman Bisa Terbang
Ternyata Anoman bisa terbang ke langit. Dia bisa menelan matahari. Dewa bisa mengutuk dan membuat petir berapi. Umumnya dalam teater, adegan semacam ini digambarkan melalui gerakan tangan atau bantuan visual. Tetapi dalam pementasan di panggung Teater Tanah Airku (TTA), adegan tersebut dilakukan sungguh-sungguh.
''Teknologi TTA memungkinkan pemain melakukan adegan sesuai dengan realita, seperti melayang atau masuk ke perut bumi,'' kata Youk Tanzil, Dirut PT Yasawirya Tama Cipta yang mengelola TTA.
Teknologi TTA memang terbilang canggih. Untuk menggerakkan dekorasi dipasang alat flying lines. Alat ini terdiri dari 60 lines dan bisa dioperasikan sepanjang pertunjukan. Dengan cara ini, dekorasi panggung bisa disajikan dalam 60 bentuk yang berbeda dalam waktu sekejap.
Demikian juga yang terjadi pada seting panggung. Panggung mekanik dipakai untuk mengubah seting panggung seberat 10 ton dalam waktu tak kurang dari 10 detik. Jadilah panggung seluas 987 meter persegi itu bisa naik, turun, geser kanan atau geser kiri.
Bagian bawah panggung teater yang berkapasitas 1067 penonton ini juga dimanfaatkan secara efisien sebagai orchestra pit. Di tempat inilah, para pemusik dan konduktor memainkan ilustrasi musik untuk mengiringi adegan di panggung.
Gedung dua lantai dengan luas dasar bangunan 2.400 meter persegi ini juga dilengkapi dengan tata suara berkekuatan 1 Megawatt beserta berbagai efek khusus. Yang tercanggih adalah laser video projector (LVP). LVP satu-satunya di Asia Tenggara ini mampu memproyeksikan gambar hidup pada benda apapun, termasuk benda cair.
Teater yang dibangun di atas tanah seluas 13 ribu meter persegi ini juga dikelola secara profesional. ''Kami mengadaptasi manajemen Broadway,'' ungkap Youk. Artinya, para pemain dan kru diangkat menjadi pegawai. Kurang lebih 150 orang pegawainya bergaji variatif, antara Rp 500 ribu sampai Rp 1,8 juta plus asuransi kesehatan dan berbagai tunjangan.
Setiap hari --kecuali Senin-- mereka diwajibkan datang untuk latihan atau merawat perlengkapan pentas. Karena itulah, pemain tidak boleh meninggalkan grup untuk bermain di teater luar tanpa sepengetahuan manajer TTA.
Memang, kemegahan gedung dan manajemen Broadway ala TTA belum bisa disejajarkan dengan gedung-gedung teater luar negeri, seperti Royal Opera House di London, Sydey Opera House di Australia atau L'Opera di Paris. Tetapi, bagi Youk, TTA adalah sebuah kebanggaan. Tidak saja bagi dirinya. Tetapi juga untuk yang lain. (bintariadi/kurniawan)