Logo Oneweb
Catatan Teater

Teater Koma:
Bau Kolusi Ikan-ikan Asin
Teater Koma menelanjangi keganjilan sosial kini dengan meminjam Brecht dan seting masa kolonial. Ikan asin jadi metafornya. Apa sih enaknya mencicipi ikan asin yang bau itu?

"Inilah opera para pengemis. Indah dan brengsek, brutal dan menyakitkan, konyol dan getir --sehingga para gelandangan saja yang bisa membayangkan. Gratis, karena pengemis tidak akan sanggup membeli karcis," kata Sri Dadi Adhipurnomo, lelaki berbadan besar dan bermuka ceria itu, mengantar dimulainya pertunjukan.

Dengan berpakaian rompi gelap, baju lengan pendek beraneka warna mencolok, dan celana pendek dengan beberapa saku besar, ia jadi tukang celoteh di panggung. Kostum kedodorannya menambah lengkap humornya. Itulah bangun suasana Opera Ikan Asin yang digelar ulang Teater Koma di Graha Bhakti Budaya, TIM Jakarta, 10-24 April.

Panggungnya mengesankan sebuah potret kawasan yang akrab bagi kaum pencoleng, pengemis, dan pelacur. Dimulai dengan adegan segerombol polisi yang rame-rame ber-tap-dance, jejingkrakan, dan menyanyikan lagu-lagu yang ditata khusus oleh Idrus Madani dan O'han Adiputra.

IKAN YANG BAU. Opera saduran dari The Threepenny Opera karya Bertolt Brecht ini berkisah tentang persahabatan dua tokoh, Mekhit si Raja Bandit dan Kartamarma si Komisaris Polisi. Persekongkolan penjahat dan polisi ini belakangan diwarnai kehadiran Raja Pengemis yang anaknya dikawini secara diam-diam oleh si Raja Bandit.

Menjelang babak akhir, Mekhit ditangkap dan dihukum gantung. Tapi ketika pihak istana ikut ambil bagian, Mekhit dilepas, bahkan dianugerahi gaji, mobil, dan jabatan kehormatan sebagai Volksraad (Dewan Perwakilan Rakyat zaman kolonial).

Bagaimana bisa kejahatan malah dihargai? ''Kenyataannya memang begitu. Tapi kok ada yang bebas, ini juga pertanyaan kita semua. Jawabnya tentu ada pada Gubernur Jenderal yang tidak kelihatan. Siapakah dia? Impossible!'' kata Nano.

Ikan asin sendiri jadi metafora segala persoalan bersama. "Meski ikan asin itu banyak jenis dan harganya, namun satu hal yang tetap melekat: ikan asin itu bau!," katanya. Anehnya, masyarakat akrab dengannya. Di sini ikan asin mewakili dua kepentingan, kelas atas dan bawah. Dua kelas yang sejak dulu dipertentangkan tapi sebenarnya saling membutuhkan.

Mereka menghadapi situasi yang membingungkan, tapi opera ini hendak menelanjangi itu. "Semua ada dan transparan. Di tengah situasi serba tak pasti dan membingungkan itu, dengan ketelanjangannya tontonan ini ingin mengungkap itu semua,'' kata Nano.

Ada beberapa alasan Nano Riantiarno mengubah naskah Brecht. Dalam katalog pementasan dipaparkan soal kesulitan persisnya latar budaya masyarakat Inggris (The Beggar's Opera) atau latar budaya masyarakat Jerman (Die Dreigroschen Oper). Padahal kedua negeri itulah yang menjadi sumber naskah opera ini.

Namun ada peluang ditemukan pada tema umum Brecht. Brecht bicara tentang manusia. Manusia di mana pun pasti memiliki impian dan harapan, rasa sakit akibat kekecewaan dan cinta. Isinya sama meski bungkusnya berbeda. Sehingga ada kelonggaran mengadaptasinya. Misalnya dengan memindah setting Batavia tahun 1952-an.

MASIH KOMEDI. Ketika Mekhit dan Poli resmi jadi suami istri, alur lakon menanjak tegang. Tapi, panggung tidak lalu jadi muram, apalagi seram. Yang jadi bangkai panggung ialah suasana yang dibentuk sebagai hasil paduan dinamis musik, nyanyi, dan gerak. Semua serba enak dan meriah di telinga maupun di mata. Permainan akting lalu tak lagi dominan. Namun, toh penampilan Nano, Budi Ros, Ratna, Sriyatun Arifin, dan O'han Adiputra secara personal tetap mampu menarik perhatian.

Sampai adegan terakhir, Nano sebagai pemain sekaligus sutradara mampu terus menjaga irama dan gerak laju pentas tanpa menenggelamkan penonton dalam larutan emosi. Agaknya ia setia dengan konsep teater epiknya Brecht. (Lihat boks).

Koma pun tetap tak meninggalkan langgam komedinya. Menghibur sambil mengajak kita senantiasa sudi bercermin. Adegan pelukan persahabatan (persekongkolan) antara Mekhit dan Komisaris Polisi Kartamarma misalnya, disambut aplaus penonton karena kelucuannya.

Begitu pula ketika Natasasmita Picum melayani calon anggota pengemisnya, tingkah para pengemis sendiri yang memakai kostum khusus (yang bisa membuat iba orang). Atau para bandit yang keceplosan menceritakan ulah si Raja Bandit pada istri barunya anak Raja Pengemis.

Begitulah pertunjukan Opera Ikan Asin oleh teater Koma yang berdurasi 3 jam. Padat, liat, nakal, dan memikat. Tak terasa waktu sepanjang itu jadi terasa singkat. ''Pertunjukan Koma tetap bagus,'' kata Dedi Petet usai pertunjukan, Senin (12/4/1999) lalu. Sedangkan akting Nano sendiri menurut Dedi sangat mempengaruhi permainan. Titik sentral permainan ada pada Nano. ''Nano masih luar biasa. Semua pemain terinspirasi olehnya,'' katanya. (dikki)

Merebut Opera, Menyingkirkan Brecht

Entah sejak kapan hingga kini, kita masih berkutat dengan masalah ketidakadilan, korupsi, persekongkolan, kecurigaan, intrik, dan mental pengemis. Tema itu kini bukan lagi hanya milik orang Jerman, melainkan milik siapa saja. ''Opera Ikan Asin bisa menjadi 'milikku' tanpa 'aku' harus 'menyingkirkan' Becht,'' kata Nano.

Seberapa jauh Nano dan Teater Koma "menyingkirkan" Brecht? Bagi seniman Jerman ini, untuk menghasilkan teater yang revolusioner, diperlukan "pemisahan unsur-unsur" teaterikal. Dalam catatan penting di naskah Mahogany, Brecht memilah separasi kata, musik, dan adegan dari Gesamtkunstwerk ala Wagner.

Wagner, komposer Jerman ini, dikenal dengan kemegahan opera-operanya. Bahkan pernah dipuji-puji W.F. Nietszche. Dia menyatukan unsur-unsur teater dalam suatu cara yang mampu menggiring penonton mencapai totalitas estetik. Hasilnya sebuah opera yang megah, agung, dan sangat memikat.

Sebaliknya dengan Brecht, unsur-unsur itu dipecah. Setiap unsur mempertahankan otonominya dan "berkomentar" terhadap yang lain, bahkan sering kontradiktif, untuk mempertahankan kesadaran dan pandangan kritis penonton. Dalam film Brecht Kuhle Wempe, misalnya, dilukiskan bagaimana seorang pemuda pengangguran yang memainkan musik organ dengan romantis kala pulang ke rumah setelah gagal mencari kerja. Citra romantis dan manis dalam musik berbentur dengan adegan kesedihan.

Brecht dikenal dengan konsep teater epik. Teater epik mempertahankan jarak antara dunia panggung yang cuma khayali dan kenyataan di dunia. Jarak ini mencegah empati dan identifikasi pada situasi dan karakter dan membuka sikap kritis dalam akting drama.

Brecht mengembangkan sebuah tipe baru teater yang disebutnya Lehrstuck (drama pendidikan). Bisa jadi karena pengaruh "gurunya" Karl Korsch, intelektual Marxis yang mengkritik Leninisme dan Stalinisme. Lehrstuck dilukis Brecht mirip seminar politik, sebuah pertemuan politik kolektif dengan penonton yang berpartisipasi aktif.

Lehrstuck ini dapat pula dijumpai dalam The Threepenny Opera (Opera Tiga Gobang). Tahun 1928 Kurt Weill dan Brecht menggarap naskah itu yang digubah berdasarkan The Beggar's Opera (Opera Pengemis) karya John Gay dari abad ke-18.

Kini Teater Koma menggubahnya sebagai Opera Ikan Asin. Namun, pemisahan unsur-unsur teaterikal itu masih terasakan. Lihat saja bagaimana komposisi musik Kurt Weill bertemu dengan suasana Hindia Belanda tahun 1925-an dengan pemain-pemain pribumi berbahasa Indonesia.

Penontonnya beragam. Ada orang Cina, Jawa, Sumatera, bule. Ada mahasiswa, seniman, wartawan, pejabat, intel, politikus, pegawai negeri. Semuanya punya kepentingan, apresiasi, dan sikap politik sendiri-sendiri. Dan mereka sama-sama mencicipi ikan asin Koma dan bisa berdebat soal apa sih rasa ikan asin sebenarnya. (iwan)


Lihat siapa pengunjung situs ini.