Logo Oneweb
Catatan Teater

Ejekan Politik Orde Siapa
Kelompok Siluet menyuguhkan naskah "Polisi"-nya Slavomir Mrozhek. Lumayan, pementasan itu cukup menyentuh bagi sebuah kelompok teater yang baru mekar.

Sri Baginda, yang 10 tahun lalu terancam turun dari singgasana kerajaannya, lambat laun makin kukuh. Tak seorang pun bisa menyentuh sepak terjangnya. Kebiadaban perangainya, sistem kepemerintahannya yang otoriter dan kebiasaan buruknya yang menyimpan puluhan selir --hanya untuk memuaskan nafsunya-- malah membungkam suara rakyatnya.

Raja nan lalim itu dianggap bijaksana, bahkan, oleh seorang revolusioner yang sebelumnya memberontaknya. Lebih-lebih, ketika seorang revolusioner --yang selama 10 tahun itu mendekam di penjara-- berubah pikiran dan mengucap sumpah setia pada kerajaan. Hingga kemudian diangkat sebagai Asisten Jenderal dengan pangkat Letnan.

Suasana masyarakat yang diam itu membentuk sebuah negeri yang rakyatnya tunduk patuh terhadap apa pun hukum yang berlaku. Sampai-sampai tak ada lagi orang yang bisa disebut penjahat. Sehingga penjara kerajaan pun sepi. Tak ada satu pun tahanan. Itulah latar belakang bergulirnya drama ''Polisi'' karya Slavomir Mrozhek, yang dimainkan Kelompok Siluet di Graha Bhakti Budaya TIM Jakarta, Sabtu (12/6).

Lakon Polisi yang diberi sub judul Jangan Khawatir.... Masih (akan) Ada Provokator ini, kemudian bergulir lewat kesibukan para petinggi kepolisian dalam menciptakan para penjahat melalui provokasi.

Di tengah diamnya rakyat yang tunduk pada hukum, ide menghadirkan keresahan muncul dalam benak Kolonel Kepala Polisi Penjara Kerajaan (R. Tono). Penjahat (politik) harus diciptakan. Apalagi, setelah tahanan terakhir --seorang revolusioner (Manahan Hutauruk)-- yang ada di penjara telah menyatakan sumpah kesetiaan pada kerajaan, makin membuat Kepala Polisi takut akan kehilangan kekuasaannya.

Lalu, dipilihlah seorang polisi terbaik berpangkat Sersan (Didi Hasyim) untuk menjalankan tugas provokasi tersebut. Sialnya, masyarakat benar-benar sudah kebal pada hasutan untuk menentang pemerintah. Sang Sersan malah menjadi korban amukan massa. Maka, gagallah tugas provokasi itu.

Tetapi, pikiran licik ternyata tak membuat Kepala Polisi kehabisan akal. Lagi-lagi, sang Sersan yang menjadi tumbalnya. Dengan memanipulasi kata 'kesetiaan pada korps', dijadikanlah Sersan --yang sejak TK telah bercita-cita jadi polisi-- menjadi tahanan baru. Tujuannya tercapai: polisi tak kehilangan pekerjaan, dan lembaga kepolisian tetap berdiri.

Kemudian, Kepala Polisi yang haus kekuasaan itu, melakukan rencana barunya. Bekerja sama dengan Letnan (Manahan Hutauruk) yang Asisten Jenderal, menghasut Jenderal (Harrys Utomo) untuk mengujicobakan granat yang pernah dipakai asistennya itu dilempar ke diri Jenderal. Alasannya, untuk membuktikan --seperti kata pemakainya ketika menjadi revolusioner-- bahwa denotatornya memang tidak aktif. Jenderal setuju, dan Sersan pun --atas bujukan Kolonel dan Letnan-- melempar granat itu ke arah Jenderal. Dan, meledaklah granat tersebut.

Nah, ketika sang Kolonel dan Letnan itu mau mengadakan pesta kemenangan, tiba-tiba Jenderal datang dengan beberapa luka di tubuhnya. Kolonel kaget dengan masih hidupnya Jenderal. Di situlah kemudian, kelicikan Kepala Polisi diketahui Jenderal. Tetapi, Kepala Polisi menyalahkan Letnan karena ternyata denotator granat itu masih aktif. Dan... karena itu, sang Jenderal makin gelisah ketika dua orang bawahannya yang dipercaya saling tuding soal digranatnya Jenderal, atasannya sendiri.

Gelegar teriakan pun pecah. Sersan yang menjadi tahanan atasannya sendiri itu berteriak: ''Hidup kebebasan!'' Sebuah kata pamungkas dari kegerahannya selama ini; selama menjadi polisi (provokator), selama menjadi tahanan. ''Ia merasa bebas dari kungkungan keabadian kezaliman,'' kata R. Tono kepada ADIL. Sayangnya, Sri Baginda Raja tetap tak tersentuh.

Pilihan naskah Polisi karya penulis sandiwara kelahiran Polandia 1930 oleh Kelompok Siluet ini, cukup relevan dengan kondisi masyarakat Indonesia yang hingga kini masih diresahkan oleh hadirnya provokator di sebagian kehidupannya. Juga, masih dominannya politik militer di negeri ini. Makanya, tak heran jika teriakan Sersan --saat menjadi tahanan--ketika menyinggung soal penghapusan 'dwifungsi patroli kerajaan' mendapat respons penonton yang hampir memenuhi gedung berkapasitas 800 kursi itu.

Pementasan Kelompok Siluet dari Gelanggang Remaja Bulungan ini, yang merupakan bagian dari Parade Pentas Grup Teater Juara Festival Teater Jakarta yang diadakan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Maret lalu, terbilang baik. Pola pemanggungan dan kelenturan akting yang cukup berhasil menggiring penonton ke esensi cerita, menunjukkan bahwa kelompok teater remaja ini potensial. Pertama kali main di TIM tetapi sudah mampu menguasai atmosfer panggungnya. Selamat, bung! (dikki nursa)


Lihat siapa pengunjung situs ini.