Logo Oneweb
Catatan Teater

Senarai Seni Rupa


Pusaran Teater Lembaga
Menelusuri karya Tennessee Williams bagaikan masuk ke lorong jiwa-jiwa yang sakit. Dalam A Streetcar Named Desire yang diterjemahkan penyair Toto Sudarto Bachtiar menjadi Pusaran, pusat kesakitan itu adalah Blanche Dubois (Epoy S. Pradipta).
Luka batin mendalam akibat kehilangan pekerjaannya sebagai guru karena ketahuan berselingkuh, membuat Blanche meninggalkan rumahnya di Belle Reve mencari atmosfir hidup baru. Dengan naik trem Desire sampailah ia di New Orleans, mengunjungi adiknya Stella Kowalski (Linda Djatnika), mencari perlindungan.
Suasana ceria yang semula menyambutnya segera berubah menjadi neraka. Diam-diam adik iparnya Stanley Kowalski (Pitt Ermass) telah menyiapkan perangkap untuk mencaploknya ke dalam pelukannya. Perempuan berkepribadian kuat, berintuisi tajam, intelek, namun suka berilusi dengan fantasi yang indah-indah ini kemudian diperkosa Stanley. Dan ilusi yang indah-indah itu lalu buyar.
Blanche kian hanyut menjadi alkoholik, pemimpi, dan pendusta, serta rasa percaya dirinya menipis lalu hilang. Jawaban baginya hanyalah rumah sakit jiwa atau bunuh diri. Itulah drama dua babak yang dipentaskan Teater Lembaga di Gedung Kesenian Jakarta, 9-13 Juli lalu.
Garapan sutradara Joseph Ginting terhadap pementasan ini tak beranjak jauh dari tema sentral absurditas menjadi eksistensial manusia. Betapa hidup riil ini nyaris tak pernah bebas dari dikotomi keindahan dan keanggunan perempuan dengan agresifitas kaum pria yang tak jarang berperilaku seperti binatang. Tampilan Ginting dengan Pusaran-nya pada akhirnya hanya berkutat pada bagaimana Blanche berupaya mengendalikan nafsu kebinatangan Stanley.
Tema serius ini pun lalu melahirkan dialog-dialog yang serius pula. Dua jam pertunjukan pertama yang sarat percakapan berat antara Blanche-Stanley-Stella ikut membuat kebosanan penonton. Kemunculan Mitch (Parlin Tampubolon) yang naif, Eunice (Donna Harun) yang cerewet, atau Steve (Ucok Siregar) yang tegas itulah yang lalu mencairkan kebosanan.
Lalu, repertoar yang ditulis pada 1947 yang merupakan satu di antara naskah paling penting Tennessee Williams ini, dan meraih penghargaan drama terbaik The New York Drama Critics Circle Award serta Pulitzer, pada 1948, ini pula, di tangan Ginting terasa sekali adanya pemaksaan percepatan waktu pertunjukan. Sehingga ada beberapa poin penting yang ditahan. Juga tampilan tokoh Stanley si orang Polandia yang kurang garang, dalam beberapa dialognya malah terkesan mbanci. Bahkan, menurut teaterawan Putu Wijaya, bila yang menjadi tokoh Blanche adalah Donna Harun akan lebih menarik. ''Blanche itu mestinya tokohnya kayak Donna,'' katanya kepada ADIL.
Padahal, lakon yang pernah difilmkan Hollywood pada 1950-an, dengan Marlon Brando, Jessica Tandy, dan Vivian Leigh sebagai pemeran kunci ini, dan membuat Brando besar, adalah hasil karya seorang penulis hebat yang masih bisa menembus segala-galanya; dari pesan moral hingga kalimat-kalimat yang menarik. (dikki)

27 Tahun Wayang Orang Bharata
Cobalah tengok sebuah gedung tua yang rapuh, di Jalan Kalilio 15, Jakarta Pusat, di mana Wayang Orang (WO) Bharata bermarkas sekaligus menjadi tempat pertunjukannya. Tempat yang biasanya sepi dari segala keperhatian, tiba-tiba meriah. Ratusan pengunjung memadati gedung satu-satunya tempat mentas wayang orang di Jakarta, Senin malam pekan lalu.
Rupanya, malam itulah hari ulang tahun (HUT) ke-27 WO Bharata. Sehingga pertunjukan wayang orang yang setiap malamnya biasanya hanya dikunjungi oleh rata-rata 10 orang, malam itu jumlah penonton berlipat ganda banyaknya. Semua mata tertuju pada kepiawaian para seniman wayang orang yang menggelar lakon Sang Wira Manggala. Sebuah cerita mengenai suasana kian kacaunya sebuah negeri serta tabiat para punggawanya yang saling curiga mencurigai akibat ulah provokator. Selain WO Bharata, tampil pula para model cantik dari Yayasan Model Muda Jakarta. Lenggak-lenggoknya yang menawan dengan iringan musik gambang suling menambah aroma nafsu pengunjung untuk bertahan hingga akhir acara.
Malam itu pula, menjadi pertanda bagi harapan baru kesenian WO Bharata. Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso menjanjikan bahwa Agustus mendatang, gedung yang telah bocor-bocor itu akan dipugar, dan dalam waktu setahun, gedung tersebut akan kembali menjadi permanen. Karena itu, para seniman yang tergabung dalam WO Bharata bersiap mementaskan wayangnya dengan cara mengamen. Mereka, selama setahun, akan ngamen keliling di enam tempat. Di Gedung Kesenian Jakarta, Gelanggang Remaja (GR) Bulungan Jakarta Selatan, GR Jakarta Barat, GR Jakarta Utara, GR Jakarta Timur, dan GR Jakarta Pusat. (dikki)

Lakon Sri Teater Garasi
Teater Garasi Yogyakarta menggelar lakon Sri pada 27-28 Juni ini di Gedung Sositet Taman Budaya Yogyakarta. Lakon yang diadaptasi dari Yerma, naskah sastrawan Spanyol, Frederico Garcia Lorca.
Pentas teater berdurasi dua setengah jam itu mengangkat tema tentang sosok perempuan Sri Suyerma yang keras dan liar. Gugatan Sri terhadap posisinya sebagai istri berpuncak pada pembunuhan atas suaminya sendiri. Tak ayal ini akan mengangkat wacana sosial politik ke permukaan.
Selain temanya yang aktual, hal menarik dari lakon ini adalah bagaimana sutradara Cindhil G. Maryanto dan rekan-rekannya memindah seting ke bumi Indonesia. Perbenturan nilai jelas akan jadi masalah dan membuka wacana nilai natural macam apa yang sebenarnya berlaku universal itu. (one)

Kekacauan dalam Keos
Panggung Graha Bhakti Budaya, TIM, ditutupi bentangan kain putih. Sebuah kepala menyesak muncul di tengah-tengahnya. Sebuah kepala yang bercerita dan menangisi dunia yang kacau balau. Kepala itu mnilik aktor Putu Wijaya yang malam itu mementaskan semacam monolognya, Keos, dengan dibantu beberapa pemain teater Mandiri.
Dalam dunia yang porak poranda, apa yang bisa lagi dilakukan manusia? Menjadi gila, mungkin menjadi pilihan yang tampaknya logis. Kegilaan, kepribadian ganda, dan pengalaman yang menumpuk menjadikan tokoh monolog Putu manusia yang absurd.
''Akulah matahari, matahari yang terang benderang. Aku telah mengalahkan matahari,'' jerit Putu di atas tumpukan meja-kursi dan menatapi terpaan cahaya matahari yang divisualkan cahaya merah besar di belakang panggung. Kegelapan menyergap, menyeret, dan kesunyian akhirnya menyelesaiakna segalanya.
Menyaksikan pementasan monolog ini, mengingatkan kita pada gaya teater tradisional butoh Jepang. Putu yang berkali-kali melawat ke Jepang rupanya cukup mampu memanfaatkan medium butoh ini menjadi miliknya. Permainan dengan kain dan tata cahaya seperti wayang kulit merubah panggung menjadi penuh sesak. Kain-kain itu bisa berubah menjadi layar lebar, bisa menjelma menjadi hantu-hantu yang tangannya menggapai kesana kemari. (kurniawan)

Lihat siapa pengunjung situs ini.