Logo Oneweb
Catatan Teater

Pemasungan dan Perlawanan Wanita Jawa
Yerma karya Lorca yang berlatar budaya Spanyol dicoba dititiskan ke diri Sri yang hidup di tengah kultur Jawa. Hasilnya, Sri hanyalah wanita yang terpinggirkan lalu membunuh lelaki yang memasungnya.

Wanita. Asalnya dari sanepan Jawa. Yakni, wani ditata. Artinya, berani diatur. Sanepan ini ampuh. Apalagi dalam budaya patriarki.

Sekian puluh tahun, kemunculan tokoh perempuan sangat minim. Kaum hawa cuma objek penderita. Ia bukan sosok pengambil keputusan. Begitulah bias gender. Topik usang yang terus dibicarakan dan saat ini kian menguat itulah yang dipentaskan Teater Garasi lewat lakon Sri pada Festival Kesenian Yogyakarta XI-1999, di Gedung Societet Militer, 27-28 Juni lalu.

Sri adalah adaptasi dari naskah Yerma karya Frederico Garcia Lorca. Meski kemasannya belum sempurna, namun Garasi mencoba menitiskan Yerma dalam diri Sri. Yerma yang dilatarbelakangi oleh budaya kekerasan penuh darah di negeri Spanyol, dicoba didekatkan pada kehidupan pedesaan dengan budaya patriarki yang menyelimutinya.

Jadilah, Yerma yang lekat dengan jarik, lurik, tetembangan cah angon (anak gembala), dan ngrasani (bergosip). Melalui piranti kejawaan, Sri berupaya untuk memotret stereotipe sosok wanita lebih membumi.

WANITA KALAH. Isi ceritanya tidak istimewa. Sederhana dan gampang dicerna. Sri mengisahkan sepasang suami-istri yang mendambakan kehadiran anak. Sri dan Bondan sudah lama merajut mahligai rumah tangga. Sri ingin menimang bayi yang lahir dari kandungannya sendiri. Namun, tangis cenger seorang orok tidak kunjung tiba. Siapa yang mandul? Sri atau Bondan.

Sri bingung dan gamang. Ketidakmampuan melahirkan anak telah menghantui perasaannya. Lebih celaka lagi, suaminya bersikap cuek. Bondan tidak peduli kepada istrinya yang terlunta-lunta. Baginya, soal melahirkan anak semata-mata urusan perempuan sehingga ia tak perlu memikirkannya.

Kegelisahan, kecemasan Sri, dan sikap Bondan menegaskan peran perempuan --seperti dalam ungkapan Jawa-- cuma sebatas manak (melahirkan), selain masak dan macak (merias diri). Di sisi lain, keacuhan Bondan --justru ia menyuruh istrinya untuk mengambil anak angkat-- menandakan lelaki malu mengakui kelemahannya sendiri. Mungkin saja, sikap Bondan itu cuma dalih untuk menutupi dirinya yang tidak mampu memberikan keturunan.

Kultur Jawa yang tinggi hubungan kekerabatannya telah menempatkan soal anak-pinak sepasang suami-istri menjadi urusan sosial di sekitarnya. Dan wanita selalu berada di pihak yang kalah. Sri jadi bahan gunjingan sanak-saudara, teman-teman, dan tetangganya. Ia dianggap sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas kemandulan. Ini jelas teror baginya.

Sudah begitu, Sri masih terpasung dan terpinggirkan dari pranata sosial. Gerak-geriknya dibatasi hingga pekarangan rumah. ''Perempuan tidak baik meninggalkan rumah,'' kata Bondan kepada istrinya. Sebaliknya, lelaki mempunyai wilayah luas yang memudahkan dirinya mengakses dunia luar.

Ini tergambar dari kegiatan Bondan mengajar di sekolah, pergi ke Balai Desa, dan Damar, mantan kekasih Sri, yang pergi ke kota untuk mencari pekerjaan. ''Bagi laki-laki, semua tempat sama. Namun, bagi perempuan tidak,'' ujar Sri dengan nada sendu. Sri tak berposisi sebagai pengambil keputusan. Bahkan untuk dirinya sendiri sekalipun. Ia cuma bisa pasrah.

PERLAWANAN. Seperti dalam naskah Yerma, Garasi mengusung pentas Sri pada gagasan sosok wanita Jawa yang keras dan kuat. Kepasrahannya pada Allah mulai pudar. Sri bergulat untuk merumuskan kewanitaannya dengan caranya sendiri. Rentetan pertemuan Sri dengan tetangga telah membuka matanya. Terutama Nyi Keling. Kepergian Damar juga turut menghela langkahnya.

Kian hari rumah mereka kian panas. Sri menolak mengambil anak angkat dan ngacir ke Nyi Keling untuk mengadu. Itu beberapa bentuk perlawanan Sri kepada suaminya. Penghadiran cahaya yang remang --hanya lampu senter yang disorotkan Sri ke wajah Bondan seperti Bondan menyorotkan ke wajah Sri, menunjukkan betapa konflik horisontal suami-istri itu sudah tajam. Klimaksnya, Sri kehilangan kesetiaan. Lalu ia menghabisi nyawa Bondan.

Pembunuhan mengakhiri kebelengguannya? Ya, tapi dalam batas penyelesaian personal. Sebagai pribadi, Sri lepas dari cengkeraman Bondan. Tapi, yang dihadapi kaum perempuan Jawa tak sesederhana itu. Bagaimana memberontak terhadap kultur Jawa? Dalam hal ini, Sri gagal menuntaskannya. Padahal, hal itu yang jadi penyebab kaum perempuan terus tertindas, bukan Bondan.

Sebab, jika Bondan biang kehancuran rumah tangganya, mestinya Sri tidak menolak tawaran Nyi Keling yang hendak menjodohkannya dengan anak laki-lakinya. Ketidakhadiran konflik struktural saat pranata sosial feodal dimunculkan pun telah melemahkan posisi tawar wanita di depan lelaki.

Gagasan untuk menampilkan Sri sebagai sosok perempuan Jawa yang kuat dan keras untuk melawan kultur, carut-marut dengan perkembangan alur cerita. Karena karakter Sri diombang-ambingkan. Yang terlihat dari kegelisahan dan kegamangan Sri cuma sebatas gambaran sosok perempuan yang menyikapi keterbelahan identitas keperempuannya di antara kultur Jawa.

Memang, perumusan karakter perempuan Jawa dalam pentas Sri masih jauh dibandingkan Yerma. Maklum, kultur budaya dan struktur sosial Spanyol berperan dalam membentuk karakter Yerma sehingga kuat dan keras. Posisi bargaining Yerma pun sanggup mengimbangi laki-laki.

Meski demikian, Sri telah menawarkan kembali perdebatan identitas perempuan di belantara dunia yang dikuasai kaum laki-laki. Tawaran ini digambarkan dalam hubungan antara kaum Adam dengan Hawa di strata yang terbawah; keluarga. Dengan harapan, wanita tidak seperti sanepan Jawa. (akar)


Lihat siapa pengunjung situs ini.