Renny Djajoesman rupanya nekat mentas. Dengan Teater Yuka-nya dia mengusung lakon garapan Seno Gumira Ajidarma. Cukup sederhana, meski masih pas-pasan.
Selamat malam duhai kekasih
Sebutlah namaku menjelang tidurmu...
Lagu dangdut Selamat Malam yang biasa dinyanyikan Evie Tamala itu mengalun dari bibir Tumirah. Nada yang berat dan sedih di tengah suasana muram sebuah rumah bordil. Cahaya meredup menimpa sesosok tubuh perempuan setengah baya yang meratapi kematian kekasihnya.
Adegan ini menyusul babak-babak akhir lakon Tumirah Sang Mucikari yang digelar di Gedung Kesenian Jakarta, Jumat (28/1) malam lalu. Lakon yang dimainkan kelompok Teater Yuka ini dipimpin Renny Djadjoesman.
Malam itu menjadi malam yang istimewa bagi Renny. Betapa tidak, inilah masa ketika dia menginjak usia ke 40 dan putrinya, Yuka, mencapai 17 tahun. Malam itu pula teater yang berdiri sejak 1984 itu mementaskan karya perdananya.
Kalau boleh dibilang, Teater Yuka dan Tumirah Sang Mucikari adalah sisi romantis dari Renny. Teater ini berdiri sesaat setelah Renny bercerai dengan Putu Wijaya. "Saya tidak dipakai lagi di teaternya Putu, maka aku dirikan ini. Aku mau buktikan bahwa aku bisa membuat kelompok teater sendiri," katanya.
Momentum yang dipilihnya adalah saat putrinya berulang tahun yang ke-17. Pementasan tunggal malam itu merupakan hadiah bagi putrinya itu. Jelas sekali terkesan sentimentil. Entah ini berpengaruh atau tidak, nyatanya pementasan malam itu masih jauh dari sempurna.
Meski saban hari Minggu anggota teater ini berlatih, namun persiapan khusus untuk pementasan tergolong pendek. Naskahnya sendiri baru selesai setelah Hari Natal tahun lalu. Latihannya pun praktis digenjot di tengah suasana Puasa dan Lebaran.
Meski dengan segala kekurangannya, kelompok ini mentas dan para undangan yang kebanyakan adalah sahabat-sahabat Renny sendiri banyak berdatangan. Adalah tak adil mengatakan bahwa pentas Tetaer Yuka sama sekali lemah. Ada beberapa hal yang bisa dimajukannya.
Nakah drama Tumirah sesungguhnya layak dipertimbangkan. Naskah ini ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma. Awam diketahui bahwa Seno adalah seorang sastrawan muda dari sedikit yang ada yang diakui para kritikus sastra memiliki bobot.
Tumirah bercerita tentang seorang mucikari bernama Tumirah (dimainkan Renny sendiri) yang berusia 40 tahun dan menjadi ibu bagi belasan pelacur. Rumah bordil yang dimiliki janda dua kali cerai ini terletak di daerah operasi militer. Sedari awal ilustrasi musik (digarap Fariz RM) yang tampil adalah desingan-desingan peluru dan ledakan bom nun jauh di sana.
Meski sebagai penjaja seks, nasib malang menyergap kelompok ini. Pada suatu hari rumah mereka disatroni ninja berpakaian hitam-hitam dengan wajah bertopeng. Para ninja itu membakar rumah dan memperkosa para pelacur.
Tumirah pun kemudain didatangi pihak-pihak berkepentingan. Pengacara, wartawan, polisi, dan intel bergantian mendekatinya. Pada adegan ini drama yang sarat kritik dan humor itu menemukan keleluasaan ruang geraknya. Dari mulut renny keluar kritik-kritik pedas terhadap profesi mereka. Dengan ringan Tumirah mencaci dan menggoblok-gobloki mereka.
Pada adegan ini pula Yongki Drakula yang berperan sebagai intel bermain cukup menarik berpasangan dengan Renny. Laku dan omongannya mampu memancing tawa hadirin malam itu.
Rupanya ramuan komedi dan kritik sosial menjadi menu utama lakon Tumirah ini. Dan pada kenyataannya menu inilah yang cukup banyak penggemarnya. Model ini dipakai misalnya oleh Teater Koma. Bedanya Teater Yuka terkadang terlalu lepas dalam berkomedi sehingga terjebak menjadi dagelan ala Srimulat.
Didik Nini Thowok yang malam itu menjadi penari yang biasa mangkal di rumah bordil tersebut menyalami penonton dengan kemunculan tiba-tiba dari belakang posisi penonton. Dia berjalan sambil menari di tengah ruang menuju panggung untuk menunjukkan kebolehannya.
Didik --meski di katalog tidak tercantum-- rupanya sudah diplot oleh Renny untuk bermain dalam pementasan ini. "Didik sejak awal saya inginkan main juga. Dia datang dan turut berlatih dengan anggota lain sejak 23 Januari lalu," jelas Renny.
Padahal dilihat dari temanya, drama ini cukup berat. Tema kekerasan, politik, keperempuanan, dan kemanusiaan dijalin dalam alur nasib Tumirah dan pelacur-pelacurnya. Sampai akhir cerita para ninja pemerkosa tak jua terungkap identitasnya. Bahkan sebaliknya, kekasih Tumirah, Sukab, menjadi korban lewat suatu pengadilan rakyat. Pengadilan brutal yang merenggut nyawa kekasihnya.
Sisi keperempuanan sebagai bagian dari tema yang ingin diketengahkan sesungguhnya bisa menjadi kekuatan teater ini. Keterpecahan batin dan ketersiksaan yang tak terperikan akibat pemerkosaan dan dilema yang dihadapi mereka sebagai pelacur sesungguhnya kontroversial. Pengungkapan kepedihan itu akan menjadi sebuah ekspresi yang menarik dan menyentuh.
Sementara panggung yang digunakan sangat sederhana. Sebuah tiang-tiang dari bambu dan tali-tali yang menjela menjadi panggung tunggal untuk semua adegan. Perubahan setting dan waktu hanya mengandalkan penataan cahaya yang ada.
Kesimpulannya, pementasan perdana Teater Yuka ini cukup mampu meraih derajat kesederhanaan. Setidaknya dalam pilihan kostum dan tata panggung. Meski dalam berakting tak semuanya menunjukkan keaktoran. Praktis Renny yang paling menonjol meski banyak improvisasi dilakukan dan sesekali suara "rock"-nya monoton.
Sayangnya pementasan ini hanya satu kali. Adi Kurdi yang juga menonton malam itu juga menyayangkan ini dan berharap semestinya karya ini juga dipentaskan di TIM. Menggapi ini Renny sendiri berencana akan mementaskan ulang pada bulan Maret depan dan memilih GKJ sebagai tempatnya. "Saya nggak mau di TIM. TIM sudah tidak seperti dulu lagi," kilahnya. Yah, selamat datang Teater Yuka di dunia teater Indonesia yang kembang kempis ini. (Kurniawan)