Logo Oneweb
Catatan Teater

Umang-Umang Menjarah Semesta
Teater Tetas bangkit setelah 11 tahun tertidur. Dengan lakon Umang-Umang, mereka ingin mendobrak kebosanan terhadap teater yang terlalu verbal dan mengabaikan bahasa laku.

Ada sebuah panggung gelap dengan latar kelabu terbangun di Graha Bhakti Budaya TIM Jakarta. Di latar depan dengan posisi menjorok terdapat sebuah benda berbentuk aneh berwarna perak. Di posisi agak belakang terdapat dua panggung kecil berselubung kain hitam. Di atasnya tiga sosok manusia dalam posisi duduk, dua di kiri dan dua di kanan.

Beberapa orang berpakaian seperti laskar duduk melingkar di tengah panggung. Beberapa dari mereka bergiliran bangkit dan memanggil-manggil ''Waska! Dimana kau Waska!'' Lalu muncul tokoh Semar, dibawakan Zainal Abidin Domba, yang menjadi pembawa cerita lakon ini memberikan pengantar dengan gaya kebanci-bancian.

Inilah awal pembukaan pementasan perdana Umang-Umang, Atawa Orkes Madun IIA yang dibawakan Teater Tetas pada Rabu (16/12) lalu. Kelompok yang awalnya merupakan grup teater remaja bernama Teater Gombong ini berdiri tahun 1978. Mereka berubah menjadi Teater Egg yang kemudian berganti nama menjadi Teater Tetas di tahun 1984.

Pementasan kali ini adalah pementasan pertama setelah hampir 11 tahun kelompok ini tidak mentas. Terakhir mereka mementaskan Geger Indraprasta dan Wisanggeni di tahun 1986. Sebelumnya teater ini telah mementaskan banyak naskah, seperti Oedipus Berpulang karya Sophokles, Kereta Kencana karya Ionesco versi WS Rendra, atau karya ciptaan mereka sendiri.

Mengapa kelompok yang oleh banyak kalangan senior perteateran dianggap potensial ini menghilang selama 11 tahun? Sutradara Ags. Arya Dipayana mengungkapkan adanya kebosanan dan kekesalannya atas dunia perteateran di masa sebelas tahun lalu. Dia mengkritik pementasan kelompok-kelompok yang terbilang senior waktu itu sebagai 'tidak bunyi.'

''Saya melihat bahasa lakuan yang menjadi bahasa utamanya pertunjukan teater itu nggak ada, sedangkan waktu itu mereka amat menonjol. Bahkan karyanya Mas Arifin yang terakhir waktu itu, Ozon kalau nggak salah, itu sangat verbal dan saya melihat kata-kata itu nggak ada artinya, asal bunyi saja,'' jelas Dipayana. ''Saya ingin kembali ke teater ke bahasanya, bahasa lakuan,'' lanjutnya.

Menghilangnya kelompok ini hampir satu dekade ini tentulah sedikit banyak mempengaruhi penampilan Teater Tetas malam itu. Sutradara Ags. Arya Dipayana mengakui hal itu. ''Yang tua-tua tidak ada kesulitan. Kalau pun ada itu karena sudah 11 tahun tidak pentas, sehingga tidak bisa mengenal lagi badannya. Yang muda-muda memang masih kesulitan, yang adaptasinya kepada panggung masih kurang. Namun secara umum tidak ada kesulitan.'' kata dedengkot kelompok ini.

Sederet pemain lama tampil seperti Zainal Abidin (memainkan peran ganda Semar dan Waska), Ferry Fadly (seniman Jonathan), Eko D Zenah (Borok), dan Sulistyo Surjomurtjito (Ranggong). Selain itu Titi Dwijayanti (Bigayah) yang sering main sinetron turut bermain kali ini.

Dari penampilan di panggung tampak beda kematangan antara generasi lama dan baru dari Teater Tetas. Walhasil pemain-pemain matang tampak menonjol sekali, sedang yang lebih muda tenggelam dalam penguasaan panggung mereka. Zainal Abidin misalnya tampil memukau memerankan tokoh utama Waska dan Semar sekaligus.

Namun bukan berarti kesalahan-kesalahan yang muncul adalah buah kekurangmatangan pemain muda. Sebaliknya yang lebih senior pun membuat banyak kesalahan, terutama dalam dialog, dan gagal berimprovisasi.

Menurut awak Teater Tetas, latihan untuk persiapan pertunjukan ini relatif singkat. Total waktunya tiga bulan, namun masa efektif barulah satu bulan terakhir. Apa boleh buat, lamanya tidak tampil ditambah masa pendek latihan akan menghasilkan penampilan yang tidak prima.

Waska yang Kontroversial

Naskah Umang-Umang adalah bagian dari caturlogi Orkes Madun. Nakah yang merupakan perjalanan batin Arifin C. Noer ini mulai digagasnya sejak 1976. Arifin dengan Teater Kecilnya memainkan lakon ini dengan model teater arena yang mengandalkan komunikasi dengan penonton. Teaternya memuat unsur teater rakyat seperti lenong dan melodi pesisiran. Dengan model inilah teaternya dekat dengan publik.

Sementara Aji, panggilan akrab Arya Dwipayana, memandang bahwa naskah Arifin itu tidak cuma mengungkap masalah horisontal (manusia-manusia) tapi juga vertikal (manusia-Tuhan), selalu ada dimensi-dimensi spiritual di dalamnya. Pilihan Arifin dengan teater arena memang membuat tontonan yang lebih komunikatif.

Namun, ''Kelemahannya, ada dimensi yang hilang dengan menggunakan konsep teater arena. Karena yang muncul adalah hubungan antara manusianya, yang dalam naskah itu muncul dalam bentuk-bentuk banyolan, kejenakaan-kejenakaan begitu. Sementara permenungan-permenungan yang tidak kalah pentingnya seringkali terabaikan,'' kritik Aji.

Dengan alasan itulah maka Teater Tetasnya memilih model teater prosenium. Yang artinya memberi jarak dengan penonton, supaya kemungkinan untuk mempersoalkan hal-hal yang memerlukan permenungan itu bisa lebih muncul.

Plot Umang-Umang merupakan perjalanan hidup tokoh Waska. Awalnya dia mulanya seorang yang humanis, humoris, dan bisa menertawakan dirinya sendiri. Sayangnya nasib buruk selalu membuntutinya. Waska berada di lembah kemiskinan yang menyeretnya jadi pemimpin gerombolan penjahat dan dipuja nyaris seperti nabi. Dia dilukiskan begitu dekat dengan Sang Nabi tapi juga dekat dengan Dajjal.

Setengah abad lebih Waska menunggu saat yang tepat untuk melaksanakan rencana besarnya. Dia menggagas penjarahan semesta yang mengerahkan seluruh penjahat dan menjarah seluruh kota. Di tengah sakit yang parah dia mengomandoi penjarahan itu tanpa bisa dihalang-halangi oleh peringatan tokoh Jonathan, sahabat senimannya.

''Waska itu menjadi tokoh kontroversial, di satu sisi dia penjahat besar, di sisi lain kita lihat Waska dengan Tuhan itu dekat sekali. Tapi dia tergelincir seperti itu,'' tutur Aji.

Spiritual dan Kemiskinan

Seperti umumnya naskah Arifin, Umang-Umang mengumandangkan pula suatu dimensi spiritual. Kehadiran dua tokoh nabi dan Dajjal misalnya bukan sekedar memaknai kehadiran yang harfiah tapi mewakili kehadiran Tuhan.

Umang-Umang bicara tentang banyak hal yang merupakan masalah eksistensial manusia, baik itu di tengah masyarakatnya maupun di hadapan Tuhannya. Aji mencontohkan bahwa peristiwa penjarahan itu misalnya, lebih sebagai metafora atau perlambang saja. ''Kalau dia bilang lapar, bukan hanya perutnya nggak makan, tapi juga jiwanya nggak makan,'' katanya.

Tema sentral dari naskah ini adalah tema kemiskinan yang sudah menjadi sebuah struktur. Akumulasi permasalahan di dalamnya menciptakan ledakan berupa penjarahan. Tema yang digagas Arifin puluhan tahun lalu ini ternyata masih relevan hingga kini. Dan atas dasar inilah tetaer tetas mengangkat naskah ini kembali ke pentas sebagai upaya untuk mengingatkan kembali pokok masalah negeri ini.

Dunia Waska dan gerombolannya ini toh berada di dunia asing yang absurd. Pengarah Artistik Roedjito dan Pimpro Edi S. Supadmo sengaja meletakkan semacam satelit di latar depan panggung. ''Satelit'' mini itu seolah menandai bahwa negeri Waska ada nun jauh di sana, entah di planet mana. Namun bisa saja ditafsir sebagai bentuk masyarakat yang terasing dari dunianya.

Ketukan monoton dol sebagai ilustrasi musik yang diarahkan oleh Embi C. Noer dan Ohan Putra menambah asing dunia Waska. Ketukan itu menambah sunyi suasana pementasan yang sesungguhnya hingar bingar oleh carut marut dan tindakan kejam dan menyedihkan dari para pemainnya.

Kurniawan


Lihat siapa pengunjung situs ini.