Logo Oneweb
Baca Sastra

SAJAK-SAJAK 1994-1996

SAJAK-SAJAK 1 9 9 4

KALAU KAMI MATI

kalau kami mati
itu bukan suatu penguburan
dengan epitaf darah
tanpa zikir dari semangat perjuangan
yang terbunuh di fajar sidik

kalau kami mati
itu mati yang kesekian kalinya
mungkin kami dulu pernah hidup
mungkin pula tak pernah hidup

kalau kami mati
kami tidak sempat menuliskannya
di dinding-dinding sejarah baku

bulaksumurjanuari1994

KUTAKMAU

Kutakmau
merengkuhmu
beri aku segenap
atmamu yang tersembunyi
di balik gaun dan coklat kulitmu
dapatkah kucumbu ruhmu yang
terbelenggu rantai masa
atau kubiarkan mataku
menelusuri segenap porimu
tanpa tahu darah
merah mengalir
di bawahnya.

CINDERELLA

ternyata bukan babu
dia putri konglomerat
dan sang pangeran
hanyalah berandalan
anak tukang tambal ban
dan buruh pabrik
yang dipehaka karena
aksi pemogokan

SAJAK-SAJAK 1 9 9 5

SURAT

00. Klebengan 16011995
01. Aku di hadapannya
      seperti untuk pertama kali
      Atau untuk kali terakhir, juga?
(Sitor Situmorang, Cermin)

02. Bukan salahku
 Kalau memori mendesak maju
 meninggalkan pal demi pal tuju kotamu, kan?
 Aku ingin jelas. Aku ingin terang. Aku butuh cahaya!
 Aku ingin hancurkan rembulan yang bertahta dalam malamku.
 tapi purnama selalu datang
 meski tak kulihat dari tepi sungai Code atau puncak Merapi.
 Dalam gelap sering kuintip purnama dari balik tiraiku

03. Kadang
 dalam denyut detak jantung dan langkahku
 dalam riuh canda sahabat sebaya
 kucari rembulan lain di sudut-sudut yang mungkin
 kucari bulan kudapat awan
 tertiup angin lalu hilang
 dimana dia?
 takada
 atau aku terlalu berharap?

MERAH SAGA

Ini aum
cakar mencuat
siap menyobek itu mulut yang meletet-letet
saban hari jilati spatu tuan
gerogoti nilai dan makna
hancurkan genealogi kata
jadi sampah di comberan kamus

Ini gerau
nuntut jujur
di mata di mulut di hati
meski leleh darah
dari mata dari mulut dari hati
darahku suci, tuan
bukan biru tidak bau
tapi merah tapi saga
kalau dia jatuh ke tanah
bumi menghirupnya
dalam aorta nadi sejarah perjuangan manusia

Ini geram
semerah saga
jangan sempat taringku
nancap dalam jantungmu!

22101995

MEMINANG MAE

kupinang kau dalam gelegar rollingstones ditingkahi anomanobong
ini pagi juga dualapanoktober basah gerimis semalam
kuangkat scotch wiskey pitulasan
inthenameofgod-violin-dyonisius. long life music
keindahanmu menyerbu perjamuan megah sejarah musik klasik
pukau aku yang masih asyik menggeseki dawai-dawai siter
memuja benda-benda dan membolakbalik "polemik kebudayaan"
sambil meratapi febby dan inneke tersayang di pita seluloid
terboyakboyak di selokan munafiq
kencing busuk buduk dalam derita Syphilus sang gembala
di madah Fracastorius yang agung

kupinangkau perawan metropolis yang menggesek dawai pop
karena kita anak haram generasi ekstasi-internet-aids
menafas karbon monoksid menyusui Sirez dewi Italia yang subur
bakar aku bakar aku di kunci Ge
liukkan pinggangmu ramping belia putih cemerlang
genangi lantai dengan darah Bach Mozart Yngwie Idris Sardi Lulu
kita berkubang dengan restu amor vati
mendesakkan gairah purba ke lobang hitam tata surya
di balairung datudatu bersaksi
Cupid mainkan harpa sumbang
di altar paripurna Troilus dan Cressida

SAJAK-SAJAK 1 9 9 6

EPISTEMOLOGI CINTA

di pasar: sebuah lipstik merah dibeli, sebuah jins digadai

***
Baru pertama kali ini dicatat dalam sejarah umat manusia Iblis bertobat,
tapi sayang, perempuan mengubahnya menjadi setan. (*

***
Kematian adalah harga yang paling mahal dibayar untuk setangkai mawar .(**

***
Bah ...

catatan: dibuat tahun 1996
*) Mohammad Said Al Aryan, Anak-Anak Sungai Nil
**) Oscar Wilde, Nightingale and The Rose

ENTITAS KERINDUAN

kegerahan bersemayam di segelas ice cola
laser dan compact disk, video game, dan novel
dan komik, berpantomim sunyi
secangkir kopi dingin dan segelas puntung di asbak
dering telepon, bukan
dering telepon, bukan,
dering telepon, bukan
dering telepon, bukan. apa harus mendering telepon
lelaki itu mematikan rokok dan mengambil kunci kontak

PESAN IBU BUAT ANAK SEMATA WAYANG

Bus butut jurusan Jogja sedang panaskan mesin
seorang ibu mengelus rambut anaknya yang memeluk tas besar dengan sayang
tanpa bicara diberinya sang anak buku tuntunan sholat lengkap
sambil komat kamit berdoa khusyuk
di pojok lain seorang ibu mengangsur bungkusan ke tangan anaknya
bisiknya: ini madilognya tan malaka, hati-hatilah
di pojok lain seorang ibu memberi segumpal benang pada anak perawannya
merajutlah kalau senggang, senyumnya
di pojok lain seorang ibu menunjuk ke tas sambil berbisik pelan
ada magnum dan sebutir peluru titipan ayahmu,
berikan pada orang yang menginjak kakimu.
di pojok lain seorang ibu berujar,
di jogja banyak virus, di salah satu kantong jinsmu ada kondom: pakailah.
di pojok lain seorang ibu mengusap air matanya
dengan ujung setagen hitamnya
di pangkuannya cuma ada sebungkus nasi.

klebengan 30101996

STANZA CINTA ANAK KOS

  (buat fitri atas permintaan sony)

Kubuat stanza bukan dengan kecengengan tapi darah
karena kata tak lagi dipercaya dan metafor terlahir sungsang
para pecinta terbakar bukan merengek tapi marah
tidak memuja tidak onani tapi memperkosa dengan garang
mawar-mawar enggan bernyanyi enggan bersurat tapi menyorong dada
para penonton menjilatnya dengan tatapan nyalang
iklan datang mencabik celana dalam dan membongkar kamar mandi tiba-tiba
mereka berfilsafat tentang epistemologi toilet dan metafisika kutang
tepat di depan hidung cendikiawan yang bicara tentang kuota paha
untuk Timor, Afganistan, Bosnia, Myanmar, dan Irak tersayang
disini kami kelaparan dan makan mi instan yang katanya bergizi dan murah
sambil mengopi dan mnyuil kelentit pelacur berambut pirang
di pojok si pemikir bersenggama dengan Barthes, Eco, Foucault, dan Derrida
di teras si mahasiswa mengunyah Marx, Adorno, Habermas, Gramschi sampai petang

Kubuat stanza bukan dengan tinta hitam tapi merah
kerling perawan menawar salam kujawab dengan pedang
karena begitu ajaran bapakku tentang tari perang dan invasi tuan tanah
begitu kata Zaratthustra, begitu kata Machiavelli, begitu kata Mussolini sambil bakar kemenyan
kubuat stanza kubuat stanza kubuat stanza dengan nanah
dari luka abadi di leher sejarah pembunuhan manusia dengan cengang
dan kita adalah zombi-zombi yang berahi pada rahim mamah
yang merajam Oeidipussambil membo'ol Pertiwi yang tinggal buntang
karena orang tidak lagi percaya kalau masih memiliki tanah
yang dapat dipakai untuk membangun bendungan, jalan, hotel, atau cuma pancang
dan kami juga tak jelas bertanah di ranah mana antah berantah
kalau kamu bunting dan kunikahi di padang ilalang gersang
maharnya diktat bio-politik dan dangdut di Purawisata
kita tripping di bawah lampu lima watt sepanjang malam.

Klebenganoktober1996


Lihat siapa pengunjung situs ini.