SAJAK-SAJAK 1 9 9 7
1
Kukibas birunya
harum meruap mendekap
fuck you !
2
Apa yang dicari seorang perempuan
di cafe-cafe bingar merah biru ungu
secawan anggur kental
sebatang rokok putih menyala
asapnya gumpal bulat membentur plafon coklat
Jakarta 1 Juli Dini Hari
di layar seorang pangeran pidato panjang membosankan
panggung mendentam
let's rock
let's rock
let's rock
satu juli dini hari hongkong: kembang api di langit
yeah!
raung gitar listrik mencabik telinga berdarah-darah
yeah!
gelas-gelas bir beradu: cring.
yeah!
peduli setan
yeah!
satu juli dini hari di sini : pedagang siomay ditabrak pemabuk
untung belum mati
KALAU ADA
Kalau Tuhan ada. Kupikir dia sudah tak adil lagi
Tak pernah diturunkannya duta surga di Singkarak
Enggan pula dituliskannya ayat suci di batu sungai Mahakam
Mungkin dia takut kami jadikan jimat pengusir demit
Mungkin dia takut kami rajam duta besarnya,
sebagaimana kami lakukan pada kebanyakan orang berpikiran beda
Kalau Muhammad ada. Mengapa dia tak lahir disini? (*
Mungkin tanah ini terlalu subur untuk sebuah jihad
Meski darah selalu menetes di bumiku sepanjang sejarah negeri
Terlalu kotorkah untuk menimang kesucian
Kalau keadilan ada. Pohon-pohon tak akan tercekik oleh tali jerat orang-orang putus asa
....
Kramat Jkt Juli 1997
*) Sting pernah membuat lagu dengan lirik yang mirip
bertajuk "All This Time" dengan kata-kata:
Father, if Jesus exists, why he didnt live here?
KETIKA DIA DATANG
Ketika dia datang, aku berharap dia berjalan ke pasar
sambil membawa obor dan menyeru di tengah kerumunan orang
seperti yang dilakukan Socrates dengan orakel Delphi-nya.
tapi itu tak dilakukannya. mungkin dia bukan tipe orang yang suka sensasi.
............
Dia Datang Kala Rinai Tiba
Dia datang di tengah rinai menetesi aspal hitam berbercak darah seorang sekretaris perempuan direktur korporasi anu yang terbunuh tadi pagi kala mentari sepenggalah usai pesta orgi-ekstasi tiga malam yang mencekam dari night club ke puncak.
Masih awal rinai menempiasi atap-atap mall delapan lantai pukul dua belas yang mestinya dipijari suhu mentari. Dia datang dan mengusap sedikit rambut hitam basahnya.
Dia datang lagi rinai dengan sebatang sigaret kecil menyala di bibir merah lipstik.
Dia menyibak kerumunan orang lalu lalang dalam kejenuhan kerja dan ketakbermaknaan benda yang terseret-seret mereka usung tanpa arah di sepanjang jalan tol yang terus macet.
Rinai tak lagi menyegarkan langit dan bumi yang terlanjur gersang dan penat dibebani keputusasaan putraputri adam.
Perempuan M dan lelaki Y
kepada D
Perempuan itu bertemu Y di parak siang
belum cukup memang waktu untuk menjamin kesetiaan
tapi apa itu seperti anjing yang menjaga tuan butanya menyusuri jalan penuh lubang
atau geram nelayan Pulau Baai yang membakari pukat harimau
Perempuan itu bertemu Y yang lain
mereka kencan di kafe-kafe ruang maya jaringan internet
mereka setubuhi kata dan imaji piktorial
apakah kesetiaan itu, D?
bahwa mawar bisa tumbuh di sebuah pot kecil di kamar sumpek di tengah kota
bahwa anggrek bisa mekar di sekeping kayu tua
marilah, D
kita susun keping-keping pemahaman primordial primata
jangan dirumuskan jadi aksioma yang mengandaikan kepastian
biarkan hipotesa ini diuji kembali dan terus diuji oleh anak cucu peradaban
demikianlah hidup, D, yang terus menyisakan misteri
Kramat Raya, 27111997
Aku bukan, katamu
Aku bukan dian yang membawamu keluar dari goa Plato
katamu
aku tak kenal Platomu, Socratesmu, Nietzshcemu,
persetan semua itu
aku bukan dinding tegar tembok Cina
......................
MAWARKU
apakah mawarku
adalah bunga yang menuntut air saban gerah menyergap
kelopak-kelopaknya rentan rapuh pada tiupan angin iseng
akarnya pendek mencengkeram segenggam tanah waktu
adalah bunga bangkai temuan Rafles di Taba Penanjung
besar megah langka dengan jeritan tinggi kala lahirnya
namun menyebar busuk menggoda serangga terbang
adalah bunga rumput di padang savana
lembut membuai seolah pasrah diinjak kerbau
esok pagi tepat di embun pertama dia kembali mekar menyapa surya
adalah apa
itu sebuah keputusan bukan sebuah penerimaan, sayang
Kramat 27111997
NEGERI KAMI PENUH TALI
Hatta negeri kami penuh tali
merantai bocah pencuri mangga
mencekik upah buruh dan guru
Tali-tali di negeri kami
tak pernah habis meski krisis moneter terjadi
tali-tali itu malah membelah diri
semakin banyak dan semakin banyak saja setiap hari
sampai daratan negeri kami tertimbun tali
menjalar melata di gedung wakil rakyat dan istana
di pasar dan mal-mal megah
di stasiun, bandara, dan perhentian bus kota
Raja negeri kami
memerintahkan untuk membakari tali-tali
bergalon-galon minyak tanah ditumpahkan
ketika disulut, negeri kami jadi lautan api
asap hitamnya membumbung tinggi
40 hari 40 malam warga negeri kami kena batuk dan asma
40 hari 40 malam negeri kami menjadi kelam
Ketika kebakaran padam
negeri kami menjadi aneh: tanpa gedung, mal, dan pasar
hanya istana yang tersisa di tengah tumpukan arang dan abu
Meski begitu negeri kami harus terus tegak berdiri
karena kami terlahir dari darah pejuang yang berselempang pedang dan doa
maka kami bangun lagi mal, pasar, dan gedung
Raja kami mengundang tauke Karun
dengan hartanya yang setinggi gunung
mudah bagi kami untuk membuat jalan-jalan tol
40 hari 40 malam sangat singkat untuk menghias kembali negeri kami
dengan pencakar langit dan jembatan-jembatan tanpa sungai
Herannya, di hari ke 50 tali-tali itu datang lagi
negeri kami jadi penuh tali lagi
jalan-jalan bertaburan tali
mal-mal penuh sarat dengan tali warna warni
gedung-gedung sesak oleh tali
negeri kami memang tak pernah kehabisan tali rupanya
Semua takjub. Semua bingung.
raja kami pusing tujuh keliling
sampai datang seorang tua berjubah panjang
sebatang tongkat digengaman tangan
di depan Pasar Senen dia membuat keajaiban
tongkat dilemparnya ke tumpukan tali
tongkat itu berubah jadi tali raksasa
dengan rakus tali itu memakani tali-tali kecil
tali besar mencekik tali kecil
setelah habis tali itu jadi tongkat lagi
semua takjub semua bingung
Orang tua itu menawarkan tongkatnya kepada raja kami
dia minta tongkat itu ditukar dengan nyawa raja kami
keruan saja semua protes
kami mencintai raja kami karena kami sudah terbiasa dengan senyumnya
kami tak mau kehilangan raja kami yang sangat kami kasihi
biarlah negeri kami penuh tali asal raja kami tidak mati
Orang tua berjubah bertongkat itu lalu pergi dengan kecewa
sebagian kecil dari warga kami mengikut di belakangnya
mereka itu kami lempari dengan telor busuk dan tai anjing
dan kami soraki sebagai orang bodoh dan gila
Negeri kami betul-betul penuh tali
tapi kami sudah terbiasa dengan tali-tali itu lama-lama
bahkan kami kini dijuluki negeri paling tali di seluruh dunia
dan kami bangga karenanya
kini banyak pedagang tali dan industri pertalian
tali-tali kami sekarang makin halus dan makin tak kelihatan
tali telah jadi mode, jadi pakaian kami keseharian
bahkan kini tali jadi makanan pokok negeri kami
Kabar terakhir dari negeri kami:
para pengikut orang tua berjubah hilang tak tentu rimba
konon mereka ditali di suatu tempat yang banyak tali
Kramat Raya111997
SAJAK-SAJAK 1 9 9 8
LARASGITA
00.
nyali yang beradu di ambang maut malam
sulutkan rindu di peranginan
mungkin berabad mungkin taksempat
01.
setubuhku dengan batubumi
semadi kosmis yang dijalin ulat sutra puluhan generasi
menggagas benak semesta raya dirakit sembilan bintang
kapan lahir kapan berakhir kapan
apa dicari siapa dalam bening kemengapaan
lagunya keentahan tak menutup diskusi ini
kawan
hayo bukalah simposium
kupaslah kelopak bunga mawar merah
substansi ketiadaan membuatmu terperangah
apa yang sedang kukerjakan di depan layar kaca:
mengunyah popcorn siaran langsung baseball
ah, ada mode bra terbaru paris dilempar jacko dari somalia
wallstreet guncang katanya waktu badui dikasih teve
harganya 99.999.999 rupiah pake kartu plastik ajaib
faksimili dari jepang hari ini:
"pasar bebas pasar bebas pasar bebas"
diasong dari bogor sampai tokyo
sebentar lagi harga cabe turun!
lantas yogya dan semarang banjir di tengah otb-otb
Selamat para pendengar
02.
apalagi ini?
di Kalimantan barusan wabah muntaber
dan Purwokerto ditemukan pengidap AIDS
kita masih tenang-tenang saja menghisap lisong dan secangkir kopi panas
di pojok temaram kedai
03.
Aku terpukau aku terpaku
di tengah riuh pesta ini
yang datang yang pergi yang lalu
yang tinggal yang merindu atau tak berarti apa-apa
jejak waktu adakala diingkari
ah, itu kan dulu
dan masa depan jadi keraguan
04.
ini gita tak mesra
tak bisa merayu perawan kencur
yang masih percaya dongeng Roro Mendut-Pronocitro
dan ketololan Romeo yang yang bunuh Juliet
Toh orang masih mencari
sekeping cinta dalam tong sampah kota
Adakah?
05.
Akhirnya kita pacaran, kawin, dan kau beranak
lalu anak kita besar, pacaran, dan kawin juga
anak kita memberikan cucu yang dewasa juga dan
ah, syukurlah kalau tidak patah hati dan bunuh diri
atau jadi bujangan seumur hidup
Tapi dia akhirnya kawin juga dan menambah penduduk dunia
jadi 5 miliar satu
Lantas apa?
Kita masih berkubur tanah
di atasnya rembulan bulat diam saja
06.
hai
pemuja anginsenyap
timbunan mimpimu cuma lara senja
yang mengaliri dindingdinding sungai hidup
gumamkan terali masa
07.
ini gita maunya selaras
kalau sumbang biar pekak saja
Bukankah begitu, Gita?
08.
ini gita tak berpunya
tak berarti apa-apa
mungkin bisa merenung di tepian sawah sambil menyiulkan
kenangan lama
mungkin dibakar saja dan abunya dibuang ke padang tak bernama
atau bisa apa saja, kan.
Klebengan02011998
Kami Terus Kibarkan Bendera Reformasi
Kemarin kawan kami mati
epitafnya tak ditetesi air mata
tapi kepalan seribu tangan
Kini kami mendatangimu
dengan keberanian yang kau kira lumpuh
Jutaan kami sebar merpati putih
di hadapan laras dan peluru
langit Jakarta yang menekan
Apa yang kami tanya
hanya satu: kemana amanat rakyat pergi
Apa yang kami minta
hanya satu: mimpi sederhana anak negeri
Merah putih akan terus kami kibarkan
di puncak gedung ini sampai kau paham
jiwa kami tak pernah mati
Mei 1998
STANZA CINTA ANAK NEGERI
Kau bilang negeri ini milik kami
tapi kami kau usir dengan beringas
kami cuma kasih sebatang melati dan seselip mawar
tapi kau injak dengan sepatu larsmu
kami cuma ingin bicara tentang res publika
tapi kau jawab dengan tembakan salvo
kami sekali lagi datang
cuma dengan ikat kepala putih
tapi kau jawab dengan pelor
ikat kepala kami penuh darah