Ironi Wartawan di Era Kebebasan
Apa hasil reformasi yang digerakkan mahasiswa hingga Seoharto tumbang pada Mei 1998? Yang paling konkrit adalah kebebasan pers. Lihatlah, sejak saat itu pers bebas menulis apa saja, dan tak ada lagi pembatasan untuk membuat perusahaan pers, baik cetak maupun elektronik.
Tapi sungguh, wartawan dan media juga yang menjadi korban efuria kebebasan ini. Kalau zaman dulu, wartwan dan media selalu mendapat ancaman dari aparat negara untuk memuat atau tidak memuat berita, pada masa reformasi ini, musuh wartawan adalah masyarakat.
Itulah data yang disajikan oleh AJI Indonesia dalam bukunya Ganananya Satgas, Kejamnya Milisi Timtim yang dieditori oleh Solahudin. Buku yang dikeluarkan pada akhir tahun lalu itu setidaknya mencatan 106 kekerasan terhadap wartawan dan media yang terjadi sepanjang Mei 1999-April 2000. Sebagian besar kasus kekerasan itu,yakni 61 kasus dilakukan oleh masyarakat.
Nah, masyarakat macam apa yang bertindak seolah sebagai aparat rezim Orde Baru? Salah satunya yang paling menonjol adalah kelompok-kelompok yang berbendera Islam, seperti Laskar Jihad Ahlu Sunnah Waljamaah. Selain itu satgas-satgas partai politik, seperti Satgas PDIP sadalah kelompok yang paling senang mengancam memukul dan menganiaya wartawan.
Di luar itu terdapat kelompok (preman) yang disewa oleh orang tertentu yang tidak menyukai pemberitaan yang dilansir oleh satu media. Salah satu kasus yang menonjol adalah penganiayaan dan penculikan terhadap seorang wartawan Samarinda. Gara-garanya, sanga wartawan menulis kasus korupsi yang melibatkan pejabat dan pengusaha lokal.
Di bagian lain buku itu juga menceritakan secara lebih detail tentang kasus pembunuhan dua wartawan di Timtim pada massa peralihan. Seorang wartawan Belanda, Sanders, dan wartawan Indonesia Agus Mulyawan, meninggal secara tragis karena dianiaya oleh Milisi Pro Indonesia.
Kasus tersebut hingga saat ini masih diselediki oleh pihak PBB, dan bukan tidak mungkin nanti ada beberapa tokoh Milisi Timtim yang terkena dampaknya. Juga beberapa pejabat militer Indonesia di Timtim saat itu. (dik)
Profil Organisasi yang Tengah Gamang
Kalau Anda ingin mengetahui organisasi macam apa Aliansi Jurnalis Independen, ada baiknya Anda baca buku, 6 Tahun AJI: Profesional dan Independen, yang diterbitkan oleh AJI Indonesia dalam menyambut ulang tahunnya yang ke-6.
Buku ini bertutur singkat tentang perjalanan AJI selama enam tahun terkahir. Dalam satu satu sesinya, digambarkan, bagaimana organisasi ini mengalami kegamangan, pada saat negeri berubah menuju ke alam yang lebih bebas, menyusul tumbangnya Soeharto.
AJI adalah salah satu organisasi wartawan yang illegal pada zaman Orde Baru. Mereka aktif bergerak di bawah tanah, salah satunya dengan dengan menerbitkan majalah Independen yang banyak mengungkap hal-hal yang tidak mungkin disampikan oleh media umum. Akibat kegetolannya dalam mempertahankan nilai-nilai kebebasan pers itu, beberpa aktivis AJI dijebloskan ke penjara.
Bagaimana performance AJI setelah Soeharto tumbang? Ini sisi lain yang coba dipaparkan oleh para aktivis dalam buku tersebut. Mereka kini berkutat pada upaya peningkatan proifesinalisme jurnalis. Selain itu, waktunya juga terkonsentrasi untuk membangung serikat pekerja pers.
Salah satu yang menarik dari buku ini, adalah kumpulan tulisan dari beberapa pengamat dan tokoh pers, yang diberi kesempatan luas untuk mengritisi sepak terjang AJI. Parni harni misalnya, menulis bahwa AJI tidak kritis lagi sama pemerintah."Mungkin karena para aktivisnya terlalu dekat dengan Gus Dur," katanya.
Gusdurian Vs Pers
Pembredelan Departemen Penerangan oleh Presiden Gus Dur menandai berakhirnya kontrol pemerintah terhadap pers. Namun, yang mencemaskan, kontrol itu beralih ke masyarakat dalam bentuk intimidasi terhadap pers.
Berbagai bentuk intimidasi masyarakat, baik mengatasnamakan agama, organisasi pemuda, atau partai politik, itulah yang diungkapkan dalam buku "Amuk Massa Gus Dur: Laporan Kekerasan terhadap Jurnalis dan Media Massa Mei 2000-April 2001" (AJI Indonesia, 2001).
Buku yang disusun oleh Solahudin dkk ini mengungkapkan bagaimana di era kebebasan pers seperti sekarang, jurnalis jadi profesi berbahaya. Karena, jurnalis bisa menulis dengan bebas segala bentuk penyimpangan dan penyelewengan yang berisiko memojokkan orang, bahkan mengancam periuk nasi si curang. Tentu saja, orang-orang curang ini akan marah. Mereka akan mengancam, bahkan mencoba melukai si jurnalis.
Buku yang terbit dalam dua bahasa, Indonesia dan Inggris itu, mengungkapkan banyak data tentang intimadasi massa terhadap pers. Soal kaum pembela Gus Dur yang mengintimidasi pers mendapat pembahasan khusus dalam buku ini.
Buku ini terbagi dalam tiga bagian. Bagian pertama menyoroti tekanan terhadap pers, terutama dari kaum Gusdurian, dan sikap Gus Dur terhadap media. Kasus yang paling besar dan penting tentunya permusuhan antara NU dan Jawa Pos.
Bagian kedua membahas nasib jurnalis di wilayah-wilayah konflik, seperti Aceh dan Ambon. Sedang bagian ketiga berupa data naratif kasus-kasus tekanan terhadap pers selama satu tahun terakhir ini.(One)
Menjadi Jurnalis
Peter Henshall & David Ingram
Institut Studi Arus Informasi, Jakarta
April 2000
979-8933-26-5
Menjadi Jurnalis
Solusi Buat Para Jurnalis "Kagetan"
oleh Agus Sudibyo
detikcom Selasa, 18/7/2000
Tumbangnya rejim Orde Baru merupakan berkah tak ternilai bagi segenap insan pers di Indonesia. Kontrol negara terhadap pers menjadi sedemikian longgar, pembredelan tak lagi menjadi momok yang menakutkan, demikian juga dengan bentuk-bentuk represi negara yang lain. Bersamaan dengan semakin menggeloranya semangat reformasi, bermunculan pula media-media baru dengan corak yang egaliter, kritis, dan lugas dalam menyoroti realitas sosial-politik.
Lahirnya media baru berarti semakin banyak tenaga yang dibutuhkan bidang kerja pers. Persoalannya adalah tidak banyak tersedia sumber daya manusia (SDM) jurnalistik yang siap pakai atau berpengalaman. Media-media baru juga tak punya banyak waktu dan biaya untuk menlatih calon wartawannya. Padahal, mereka harus berpacu dengan isu-isu politik, SARA, KKN, dan HAM yang terus bergulir kencang dan mengusik naluri bisnis mereka.
Tak pelak lagi, kondisi tersebut memicu lahirnya wartawan-wartawan "kagetan". Dengan kemampuan jurnalistik yang serba terbatas, para anak muda dari berbagai tingkat dan latar belakang pendidikan menceburkan diri menjadi wartawan. Mereka belum sempat mempelajari seluk-beluk kerja jurnalistik secara komprehensif dan bisa jadi hanya dibekali petunjuk untuk menghadapi konferensi pers dan seminar. Namun apa boleh buat, kasus-kasus yang sensitif dan krusial menjadi santapan sehari-hari mereka.
Pada titik inilah, keberadaan buku Menjadi Jurnalis ini sangat penting untuk memperkaya wawasan para wartawan "kagetan" itu. Buku ini membahas seluk-beluk kerja jurnalistik dan berusaha mengantarkan pembaca untuk mempelajari dasar-dasar peliputan dan penulisan berita. Kelebihan buku berjudul asli The News Manual ini terletak pada bahasanya yang mudah dicerna. Contoh-contoh kasus yang diberikan juga mudah dipahami dan cukup kontekstual dengan problem praktek jurnalistik dunia ketiga. Walaupun terkesan agak menggurui, saran dan instruksi yang diberikan sangat membantu pembaca untuk memahami praktek jurnalistik, demikian juga dengan latihan-latihan yang diberikan. Oleh karena itu, buku ini sangat cocok untuk para wartawan yang tidak punya banyak waktu untuk membaca, namun dituntut meningkatkan kualitas kerjanya.
Fakta dan Opini
Persoalan mendasar yang cukup dominan dalam berita media massa di tanah air belakangan adalah pencampuradukkan antara fakta dan opini. Bisa jadi hal ini berawal dari kesulitan teknik produksi berita, dimana wartawan dibebani untuk membuat sekian laporan dalam waktu yang sangat terbatas. Namun bisa juga hal itu disebabkan oleh ketidaktahuan sang wartawan tentang batasan-batasan fakta dan opini. Bab VI dari buku ini memberi petunjuk bagaimana wartawan harus memisahkan fakta dan opini, melakukan atribusi dan mengutip pernyataan sumber berita secara benar. Wartawan juga diingatkan untuk tidak gegabah dalam menghadapi fakta dan opini.
Buku ini juga relevan untuk mengendalikan kebiasaan wartawan menggunakan sumber-sumber berita yang tidak jelas dan kabur. Dalam pemberitaan pers kita belakangan semakin sering ditemukan penyebutan "sumber-sumber terpercaya", "sumber-sumber di lapangan", dan "sumber-sumber terkait" dan lain-lain. Sumber berita yang tidak jelas ini tentu saja mengurangi validitas dan akurasi informasi yang disajikan oleh media karena unsur who (siapa) telah diabaikan oleh awak media.
Persoalan lain yang juga dibicarakan dalam buku ini adalah penggunaan frase "seperti diyakini secara umum bahwa", "sudah dimengerti bahwa" dan lain-lain. Frase-frase semacam ini menyiratkan kecenderungan wartawan untuk mengeneralisir fakta dan menonjolkan opininya sendiri dalam laporan yang mereka buat. Awak media bukan sekedar mendeskripsikan fakta-fakta yang mereka dapatkan di lapangan, akan tetapi juga mengomentari, memberikan evaluasi, bahkan "menghakimi" fakta. Di sini timbul permasalahan yang sangat mendasar. Sebab, mengutip pernyataan wartawan senior, Saur Hutabarat, tugas insan pers adalah sebatas mendeskripsikan fakta (to descript), dan bukannya menerangkan (to explain), menafsirkan atau lebih ekstrem lagi menilai fakta.
Buku ini juga mengingatkan kalangan wartawan untuk tidak cenderung menggunakan istilah-istilah yang bermakna konotatif (Bab VII). Hal ini sangat penting karena belakangan dapat disaksikan betapa besarnya kecenderungan penggunaan hiperbola, metafora, eufemisme, dan disfemisme dalam praktek jurnalistik kita. Beberapa media seakan-akan tidak mempedulikan perbedaan antara bahasa jurnalisik yang mengacu pada fakta dan bahasa sastra yang mengacu pada dunia maya. Sebuah berita yang mengandung hiperbola atau eufemisme sudah barang tentu bukan berita yang akurat. Sebab, berita tersebut mengandung dramatisasi, dimana fakta tidak ditampilkan sebagaimana adanya, namun dilebih-lebihkan atau sebaliknya direduksi.
Buku ini juga dilengkapi dengan berbagai ilustrasi (termasuk komik) untuk memperjelas paparan pengarangnya. Sebagai sebuah manual, paparannya cukup rinci, bahkan pada hal-hal yang mungkin sering terlupakan oleh wartawan sendiri, seperti bagaimana memilih jenis buku catatan yang baik atau pilihan-pilihan kata yang lebih baik untuk kenyamanan pembaca (tentu ini merupakan usulan dari pengarangnya).
Wartawan-wartawan "kagetan" sudah terlanjur lahir dan mewarnai kehidupan pers di tanah air. Sungguh sulit untuk mempermasalahkan kualifikasi mereka, karena kenyataannya tenaga mereka memang dibutuhkan. Yang perlu digalakkan pada titik ini adalah kesadaran untuk mempelajari kembali apa itu jurnalisme dan bagaimana menjadi jurnalis yang profesional. Di sela-sela menjalankan tugas-tugas rutinnya, mereka perlu meluangkan waktu untuk membaca buku semacam ini. Mereka perlu memperkaya wawasan jurnalistik sehingga pada akhirnya mereka bukan hanya bekerja berdasarkan perintah atasan, namun juga berdasarkan konsep yang jelas. Singkat kata, buku semacam ini adalah sebuah solusi bagi kalangan wartawan "kagetan" untuk bekerja sambil belajar."
Agus Sudibyo adalah alumni Jurusan Ilmu Komunikasi Fisipol UGM
Konflik Multikultur (Panduan Meliput bagi Jurnalis)
Nur Zain Hae, Rusdi Marpaung, Hawe Setiawan
Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP), Jakarta
Juni 2000
979-9381-02-9
Konflik Multikultur
Pilih Jurnalisme Perang atau Jurnalisme Damai?
Luqman Hakim Arifin
detikcom
Kamis, 28/09/2000
Mengabarkan sebuah konflik seperti pedang bermata dua. Sebuah berita dapat menjadi penenang konflik dan penyulut konflik sekaligus.
Bayangkan diri Anda seorang jurnalis yang ditugaskan di daerah konflik seperti di Ambon misalnya. Bagaimana Anda harus mengabarkan peristiwa yang terjadi? Kalau Anda muslim dan kesulitan masuk ke daerah Kristen, bagaimana anda dapat menghasilkan berita yang lengkap dan seimbang?
Masalah lain, keselamatan jiwa anda pun tengah terancam. Dan sialnya lagi, berita-berita yang telah anda buat harus pula disensor oleh media tempat anda bekerja. Apa yang harus anda lakukan? Dan yang paling penting, bagaimana peristiwa-peristiwa itu harus anda kabarkan dengan jujur dan obyektif? Pertanyaan-pertanyaan demikianlah yang hendak dijawab oleh buku kecil berjudul Konflik Multikultur (Panduan Meliput bagi Jurnalis) ini.
Buku yang ditulis oleh Nur Zain Hae, Rusdi Marpaung, dan Hawe Setiawan (ketiganya adalah mantan wartawan) sebenarnya merupakan penerbitan keempat LSPP dalam rangkaian seri multikultur, setelah "Negeri dalam Kobaran Api", "Dari Keseragaman Menuju Keberagaman", dan "Pemilu 1999: Demokrasi atau Rebutan Kursi".
Mengabarkan sebuah konflik seperti pedang bermata dua. Sebuah berita dapat menjadi penenang konflik dan penyulut konflik sekaligus. Repotnya, berita-berita seputar konflik kerap kali justru memperparah konflik itu sendiri. Kadang dilebih-lebihkan, lebih seru dan lebih seram, atau sebaliknya, malah ditutup-tutupi.
Suratkabar, majalah, radio, televisi, dan situs warta seakan-akan telah menjadi penebar horor yang menakutkan. Kehadiran media dengan berita-beritanya justru menciptakan mimpi buruk berkepanjangan, dan bukannya perdamaian yang diidam-idamkan. Inilah masalah yang dihadapi para jurnalis.
Buku ini membahasnya dengan bertitik tolak dari kesadaran akan tiga hal. Pertama, bahwa multikultur dan konflik adalah kenyataan hidup yang akan selamanya ada dan bisa terjadi dimana-mana. Ia selalu membawa dua sisi: bahaya dan peluang. Tinggal sekarang bagaimana kenyataan multikultur dan konflik itu dapat diolah menjadi peluang yang positif.
Kedua, masyarakat Indonesia adalah masyarakat multikultur yang sarat dengan konflik. Konflik-konflik yang sering terjadi sebenarnya sudah cukup jelas menunjukkan bahwa bangsa ini belum cukup lihai untuk mengolah konflik menjadi peluang yang positif.
Ketiga adalah kesadaran akan besar dan pentingnya peran media (dan jurnalisnya) dalam memperparah ataupun meredakan konflik yang terjadi. Memang akan sangat naif, jika dikatakan, media adalah satu-satunya penyebab parahnya konflik, tapi lebih sangat naif lagi, jika dikatakan, media tidak berperan sama sekali dalam memperparah sebuah konflik.
Berdasarkan atas tiga hal itu pula, buku ini sejak lembara-lembar awalnya sudah sangat menekankan bahwa seorang jurnalis pada hakikatnya adalah seorang penutur dunia multikultur dan bukan penghancur. Media, jika memang bisa turut menciptakan peperangan, mestinya media juga becus menawarkan perdamaian. Hal ini senada seperti ditandaskan Bertolt Brecht dalam Kumpulan Cerita Tentang Tuan Keuner bahwa "jika koran dipandang sebagai sarana membuat kekacauan, koran pun dapat digunakan sebagai sarana untuk menciptakan ketertiban."
Tapi bagaimana peran itu mesti dimainkan? Buku yang dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi lucu, tabel-tabel, dan alamat-alamat NGO Internasional ini, mula-mula mengajak kita untuk memahami aspek ontologis dari konflik: apa itu konflik, dimana ruang-ruang konflik itu terjadi, bagaimana tahapan-tahapan konflik itu berjalan, dan siapa-siapa saja yang terlibat didalamnya (Bab II).
Ruang konflik bica bermacam-macam bentuknya, bisa konflik data, konflik kepentingan, konflik struktural, konflik hubungan antarmanusia, atau konflik nilai. Seorang jurnalis setidaknya harus tahu konflik apa yang sedang terjadi, karena akan berpengaruh terhadap solusi apa yang paling tepat untuk menyelesaikannya. Seorang jurnalis mesti paham tahapan-tahapan konflik apa yang tengah terjadi: apakah sudah termasuk konflik yang terbuka atau masih konflik tersembunyi.
Selanjutnya, buku ini juga memaparkan persoalan-persoalan media dan jurnalis dalam peliputan konflik (Bab III). Misalnya, lemahnya pemahaman seorang jurnalis atas sistem sosial budaya setempat akan berakibat sangat fatal. Oleh karena itu, media-media yang menerjunkan jurnalisnya ke daerah-daerah konflik, sebaiknya menerjunkan jurnalis yang benar-benar faham atas bahasa dan adat istiadat daerah konflik tersebut agar jurnalis terhindar dari kesalahtafsiran atas fakta-fakta yang ada.
Persoalan-persoalan lain adalah masalah framework prapeliputan yang sering kali membatasi ruang gerak jurnalis. Selain itu juga masalah keselamatan dan keamanan selama bertugas yang tak terjamin dan sensor media. Itulah titik-titik kritis yang menentukan apakah sebuah media dapat menjadi penutur yang baik bagi masyarakat multikultur, atau sebaliknya menjadi penghancur berdarah dingin.
Yang menarik dari buku ini adalah paparannya tentang jurnalisme perang dan jurnalisme perdamaian, yang ditegaskan sebagai sebuah pilihan yang harus ditentukan. Secara singkat, jurnalisme perdamaian adalah jurnalisme yang berorientasi pada perdamaian, kebenaran, lebih mementingkan kepentingan masyarakat luas, dan selalu menawarkan solusi penyelesaian. Sebaliknya, jurnalisme perang justru lebih menekankan pada orientasi perang, propaganda salah satu pihak, lebih mementingkan kepentingan golongan elit tertentu, dan persoalan kalah menang yang diutamakan. Dalam buku ini perbandingan dua model jurnalisme tersebut ditabelkan dengan jelas ( Hal 65-67).
Buku ini, muluk-muluknya, begitulah ungkapan Rusdi Marpaung dalam sekapur sirihnya, bermaksud memberi semacam panduan dan renungan bagi para jurnalis dalam meliput konflik multikultur. Tapi, sebenarnya buku ini tidak juga terlalu muluk-muluk. Buku ini sesungguhnya cukup berhasil untuk memahami dan memahamkan kepada setiap orang, apalagi jurnalis, bagaimana sebenarnya konflik itu harus diolah, dikabarkan, dan diselesaikan."
Luqman Hakim Arifin, Mantan Pemimpin Redaksi Majalah BALAIRUNG UGM Yogyakarta.
Kasus Udin: Liputan Bawah Tanah
Tim: Heru Prasetyo, Heru Catur Nugroho, Tarko Sudiarno, LN Idayanie, M Achadi, Miftahuddin, Daniel Tatag, Willy Pramudya, Triatmoko Sukmo Nugroho, Sulistyo Budi Nurcahyo, dan Purwani Dyah Prabandari, dkk
YLBHI
Agutus 2000
Kasus Udin
Sebuah Tragedi dan Peran Tim Kijang Putih
Bagus Kurniawan
detikcom Sabtu, 26/08/2000
Peluncuran buku ini menandai empat tahun kasus tewasnya wartawan Bernas Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin. Kasus Udin ini hingga kini belum jelas penyelesaiannya.
Yogyakarta, Buku Kasus Udin: Liputan Bawah Tanah hari ini, Sabtu (26/8/2000), diluncurkan dan didiskusikan di Gedung DPRD I DIY Jl Malioboro, Yogyakarta. Dalam acara diskusi buku tersebut hadir sebagai pembicara, antara lain Dadang Juliantara (LSM), Raihul Fadjri (Ketua AJI Yogya), Kaditserse Polda DIY Senior Intendent Drs Toto Sunyoto, Asril Sutan Marajo (TPF PWI Yogya), dan Ketua Lembaga Pembela Hukum Triyandi Mulkan SH MM.
Buku setebal 172 halaman yang diterbitkan oleh YLBHI itu sebenarnya sudah cukup lama diselesaikan oleh para penulis, kira-kira tahun 1996-1997, tetapi baru dapat dicetak pada bulan November 1999. Peluncuran buku tersebut sekaligus menandai empat tahun kasus tewasnya wartawan Bernas Fuad Muhammad Syafruddin alias Udin. Kasus Udin ini hingga kini belum jelas penyelesaiannya.
Buku Kasus Udin: Liputan Bawah Tanah itu ditulis beberapa orang wartawan, antara lain Heru Prasetyo, Heru Catur Nugroho, Tarko Sudiarno, LN Idayanie, M Achadi, Miftahuddin, Daniel Tatag, Willy Pramudya, Triatmoko Sukmo Nugroho, Sulistyo Budi Nurcahyo, dan Purwani Dyah Prabandari. Sedangkan kata pengantar ditulis oleh JE Sahetapy, Marzuki Darusman, dan Bambang Widjojanto, serta diedit oleh Rusdi Marpaung.
Dalam kata pengantar, Bambang Widjojanto selaku direktur eksekutif YLBHI mengatakan bahwa tanggal 16 Agustus 1996 merupakan hari kelabu bagi dunia pers Indonesia. Pada hari itulah Fuad Muhammad Syafruddin yang biasa dipanggil dengan nama Udin, menghembuskan nafas terakhirnya setelah terbaring beberapa hari di rumah sakit. Udin meninggalkan keluarga, rekan-rekan, dan handai taulannya karena satu alasan: berita yang ditulisnya.
"Ini sebuah tragedi yang kembali berulang dalam rezim pemerintahan Orde Baru, dimana cara-cara teror dan kekerasan dikedepankan sebagai cara ampuh untuk mempertahankan kekuasaan mereka," kata Bambang.
Udin menjadi korban rezim teror, sebagai upaya Orde Baru untuk membungkam sikap kritis masyarakat khususnya dari kalangan jurnalis agar tidak menyatakan sikap kritisnya dan berusaha membongkar kebusukan dan kebobrokan mereka.
Udin mengambil sikap kompromi dalam menunaikan tugasnya, di antaranya membongkar banyak kasus yang ada di Pemda Bantul dan terakhir mengenai berita kesanggupan Bupati Bantul Sri Roso Sudarmo waktu itu untuk menyetorkan uang Rp 1 miliar kepada Yayasan Dharmais pimpinan Suharto agar terpilih kembali sebagai bupati Bantul.
Buku yang berisi 14 bab itu dimulai dari periode Agustus 1996 yang menulis mengenai rumor adanya rapat rahasia Pemda Bantul untuk memperkarakan Udin. Harian Bernas kedatangan tamu dua orang sekitar dua jam sebelum Udin terbunuh. Bab ini juga mengungkap bahwa Udin teraniaya hingga tewas sampai peranan Kuncoro Cs yang ikut mengantar ke rumah sakit.
Pada bab selanjutnya, periode September 1996, menyangkut masalah PIL (pria idaman lain) dan WIL (wanita idaman lain) yang dimunculkan penyidik ketika memeriksa Marsiyen istri Udin. Saat itu dimunculkan nama Tri Sumaryani yang diberi iming-iming sejumlah fasilitas jika mau mengaku sebagai selingkuhan Udin.
Pada bab ketiga atau periode Oktober 1996 dimulai dengan munculnya nama Dwi
Sumaji alias Iwik yang dituduh sebagai pelaku pembunuh Udin serta munculnya tamu-tamu misterius yang mengaku kenalan Kapolda di rumah ayah Udin, Wagiman
Jenggot.
Pada bab keempat ditandai dengan kejadian menarik, yaitu adanya pergantian mendadak jabatan Kapolres Bantul Letkol Ade Subardan kepada Letkol Yotje Mende, sedangkan Ade harus dimutasikan ke Irian Jaya. Dibahas pula peranan Tim Kijang Putih (TKP) dalam melakukan investigasi, Udin di mata masyarakat, Udin di mata rekan-rekannya, serta sosok Udin sebagi pemuda desa yang berani.
Pada akhir bab buku ini diungkap pula tercerai-berainya tim wartawan Bernas yang tergabung dalam Tim Kijang Putih (TKP) dalam melakukan investigasi kasus Udin. Ada yang dipindah, ada yang diminta mengundurkan diri, dan ada yang langsung mengundurkan diri.
Selain itu, dibuat pula semacam catatan kecil sebagai bahan rekomendasi untuk dapat dilanjutkan pemeriksaan dengan dimintai keterangan secara maksimal seperti mantan Bupati Bantul Sri Roso Sudarmo, Mulyono Sulaiman (mantan Kapolda DIY), Ade Subardan (mantan Kapolres Bantul), Edy Wuryanto (mantan anggota serse Polres Bantul), Noto Suwito (kades Argomulyo Bantul), Ny Nur Suleman 9penjual mie didepan rumah Udin, Ny Ponikem (pegawai Ny Nursuleman), Ayik Fathonah, Kuncoro Cs dll.
M Achadi salah seorang penyusun buku tersebut mengatakan sebenarnya buku tersebut sudah cukup lama disusun, yakni antara tahun 1996 setelah Udin meninggal hingga awal tahun 1997. Meski penerbitan buku itu sedikit terlambat kira-kira 4 tahun setelah kasus Udin, tetapi tetap relevan. "Masyarakat juga perlu tahu apa saja yang telah dilakukan rekan-rekan wartawan yang tergabung dalam Tim Kijang Putih (TKP) dalam melakukan investigasi untuk menuntaskan kasus Udin itu," katanya."
Sepuluh Petunjuk Praktis untuk Reportase Berita Bisnis dan Ekonomi di Negara Sedang Berkembang
Paul Hemp
Yayasan Pattiro, Jakarta
979-95809-0-0B
Reportase Berita Bisnis
Sedikit Statistik dan Tidak Membosankan
Kurniawan
detikcom - Jakarta Jumat, 7/7/2000
Berita bisnis dan ekonomi umumnya memunculkan dua masalah bagi pembaca: rumit dan membosankan. Untuk memecahkan masalah ini sederhana saja: tuliskan laporan yang mudah dimengerti dan menarik.
Paul Hemp adalah mantan reporter The Wall Street Journal di London dan Brussels yang kemudian belakangan jadi redaktur bisnis The Boston Globe. Hemp sudah menyelenggara seminar profesional tentang reportase bisnis dan ekonomi di Nigeria, India, Slovakia, dan Bulgaria. Berdasarkan pengalamnnya sebagai wartawan dan seminar-seminar itulah nampaknya buku kecil ini dibuat, yakni didesak oleh kebutuhan untuk memperbaiki penulisan berita ekonomi dan panduan yang ringkas.
Buku ini sudah demikian ringkasnya, jadi adalah percuma bila disini diringkas kembali isinya. Namun, ada baiknya beberapa pokok yang penting disajikan disini sebagai perbandingan dibanding sekian buku panduang reportase lain yang ada.
Berita bisnis dan ekonomi umumnya memunculkan dua masalah bagi pembaca: rumit dan membosankan. Untuk memecahkan masalah ini sederhana saja: tuliskan laporan yang mudah dimengerti dan menarik. Namun, Hemp mengingatkan, bahwa umumnya wartawan ekonomi adalah "kelompok yang senang membanggakan diri". Mereka enggan mengakui ketidaktahuannya. Bila "harga diri" ini sudah terlampaui, bolehlah melangkah ke hal berikutnya: membuat tulisan jadi menarik. Untuk ini, Hemp memberi kiat sederhana: fokuskan sedikit pada statistik dan beri perhatian lebih pada pelaku ekonominya.
Inilah titik tolak penulisan berita bisnis. Selanjutnya Hemp memaparkan sepuluh petunjuk praktis yang dapat membantu wartawan ekonomi dalam penulisan beritanya. Selain itu, Hemp melampirkan pula puluhan istilah ekonomi sepanjang 25 halaman.
Sebenarnya, buku Hemp ini menarik, setidaknya mengingatkan kepada wartawan ekonomi untuk menjadikan berita-berita ekonomi lebih "manusiawi" dan lebih dekat dengan pembaca dari segala tingkatan. Namun, anak judul "di Negara Sedang Berkembang" pada buku ini nampaknya tak banyak relevansinya dengan keseluruhan isi buku ini."
Reformasi dalam Perspektif Sanjoto
Sanjoto Sastromihardjo
Yayasan Obor Indonesia
Desember 1999
979-461-338-X
Reformasi dalam Perspektif Sanjoto
Komentar-komentar dari Buletin Bussiness News
Kurniawan
detikcom - Jakarta Kamis, 27/07/2000
Buku ini merupakan kumpulan karangan Sanjoto Sastromihardjo yang termuat dalam editorial buletin Bussiness News, sebuah buletin berita sederhana yang mengkhususkan diri pada ekonomi dan keuangan.
Buku ini merupakan kumpulan karangan Sanjoto Sastromihardjo yang termuat dalam editorial buletin Bussiness News, sebuah buletin berita sederhana yang mengkhususkan diri pada ekonomi dan keuangan. Sanjoto adalah pemimpin redaksi buletin tersebut. Membaca buku ini berarti membaca pula sebuah sikap seorang pemimpin redaksi sebuah media tentang masalah-masalah aktual saat itu. Dengan kata lain, ada sebuah rekaman sejarah dari satu sudut pandang tertentu yang terjalin disana.
Editorial sebuah media dalam jurnalistik adalah sebuah jendela bagi pembaca atau orang di luar media tersebut untuk memahami sikap media tersebut atau kebijakan redaksi media tersebut. Seberapa jernih media tersebut menyikapi sesuatu dan seberapa jauh keberpihakannya pada sesuatu dapat terbaca disini.
Dalam buku ini, pembaca dapat membaca bagaimana seorang jurnalis yang terbilang senior (setidaknya dalam usia) mengomentari segala peristiwa yang berseliweran di depannya. Komentarnya kadang pedas, kadang lucu, kadang biasa saja. Meskipun buletinnya khusus ekonomi, tapi pada kenyataannya, kita bisa menemukan bahwa peristiwa-peristiwa politik lebih banyak dikomentari dalam buku ini.