Logo Oneweb
Resensi Buku

Sastra Asing dan Terjemahan (2)

Burden of Proof
Fuadah dan Nawal el Sadawi
Hannibal
Kafe yang Kosong
Kitab Lupa dan Gelak Tawa (1)
Kitab Lupa dan Gelak Tawa (2)
Mesin Waktu Michael Crichton
Negeri Hujan
Orang-orang Negro
Patriot
Pay It Forward
Pemogokan Maxim Gorki (1)
Pemogokan Maxim Gorki (2)
The Cassandra Compact
The Sky is Falling
Perdagangan Realitas


Burden of Proof

Novel "Presumed Innocent" adalah fiksi pertama dalam satu dekade terakhir ini yang melambungkan nama Scott Turow sebagai novelis populer yang berbakat yang mampu jadi pesaing ketat John Grisham. Kini, dalam sebuah karya berikutnya, "Burden of Proof (Beban Pembuktian)" (Gramedia, 2001), Torrow mengukuhkan reputasinya sebagai novelis yang lihai meramu perdebatan hukum, konflik keluarga, dan kelicikan dalam satu nampan hangat.

Kisah dibuka dengan kepulangan Alejandro "Sandy" Stern, tokoh pengacara dalam "Presumed Innocent", ke rumahnya dari sebuah kerja yang melelahkan. Pengacara itu menemukan istri, Clara, yang telah setia menemaninya selama 30 tahun, telah memutuskan untuk bunuh diri, tergeletak di jok mobilnya. Kematiannya meninggalkan misteri yang sukar dipecahkan dari sebuah hubungan rumit antara misteri, uang, dan rasa bersalah.

Kala Stern berusaha memburu jawaban-jawaban atas misteri tersebut. Dia menemukan betapa banyak hal yang selama ini tak diketahuinya. Dia menyesali betapa selama ini tak memperdulikan istrinya, kesedihannya yang disimpannya dalam-dalam.

Namun, dalam waktu yang bersamaan, dia dipaksa pula menghadapi Pengadilan Federal yang mengancam kliennya yang kaya, berkuasa, tapi juga paling bermasalah, sepupunya Dixon Hartnell.

Setelah kehidupan yang kini sukses, Stern butuh lebih banyak kebenaran dari yang selama ini dituntutnya di pengadilan. Kebenaran tentang keluarganya, tentang ketidakpastian masa depannya, dan kasus istrinya.(One)


Fuadah dan Nawal el Sa'dawi

"Birokrat profesional hanyalah sekrup dalam mesin yang terus bergerak yang memberikan sebuah rute perjalanan yang pasti baginya," tulis sosiolog legendaris Max Weber tentang macam apa birokrasi itu.

Namanya Fuadah, seorang sarjana sains yang bercita-cita jadi peneliti besar. Sayang, sarjana ini dipaksa berhadapan dengan tembok-tembok adat klasik keluarga. Padahal, perempuan ahli kimia dan biologi itu terlanjur jatuh hati pada Marie Curie, penemu Radium yang meraih Nobel Kimia 1911. Marie yang cerdas, dan jago kimia itu telah menggoda seorang Fuadah untuk mengikuti jejaknya.

Fuadah telah susah payah mewujudkan mimpinya. Sebuah laboratorium kecil telah dibangunnya. Namun, masyarakat patriarki di negrinya terlalu kuat mengekang dirinya. Ruang-ruang pengembangan diri jadi barang mahal dan langka bagi seorang Fuadah.

Meski demikian, di tengah keterjepitan itu, Fuadah terus meneliti sembari menantikan kedatangan kekasihnya, Farid, teman kuliahnya di kampus yang sama. Namun, Farid tak pernah datang. Belakangan, baru dia tahu bahwa kekasihnya itu telah dipenjara karena pemikiran-pemikiran radikalnya.

"Kabar Dari Penjara" (Tarawang, 2000) adalah sebuah novel karya pengarang feminis Mesir, Nawal el Sa'dawi. Perkenalan publik Indonesia dengan pengarang ini adalah lewat sebuah karyanya yang memukau dan penuh gugatan terhadap budaya patriarki, "Perempuan di Titik Nol". Selain itu, "Catatan dari Penjara Perempuan" dan Matinya seorang Mantan Mentri" adalah dua karya lainnya yang telah terbit edisi bahasa Indonesianya. Nawal tak pernah lelah menggugat sistem patriarki, demikian pula lewat buku ini dan pembaca barangkali juga tak jemu menimbang kembali ketimpangan sosial seperti yang dihadapi tokoh Fuadah.(One)


Hannibal

Horor tentulah hal yang paling menarik bagi Thomas Harris, pencipta Dr Hannibal "Kanibal" Lecter. Dari tangan wartawan kriminal Associated Press di New York City itu telah lahir trilogi Hannibal. Pembaca di Indonesia barangkali baru mengenal dua, "The Silence of the Lambs" (yang difilmkan dengan judul sama dan dibintangi Anthony Hopkins dan Jody Foster) dan "Hannibal". Secara urut, dua buku itu adalah buku kedua dan ketiga dari trilogi Hannibal. Buku pertamanya adalah "Red Dragon" (difilmkan dengan judul "Manhunter").

Dalam "Red Dragon", Hannibal menolong FBI melacak sebuah pembunuhan berantai. Di buku kedua, Hannibal memberi nasehat kepada agen FBI Clarice Starling melacak pembunuhan, kemudian melakukan pelarian yang brilian dan berdarah.

Tujuh tahun kemudian --di sinilah mulanya novel "Hannibal" (Gramedia, 2001)-- Sang Psikopat telah berganti peran jadi Dr Fell, sarjana dan kurator Palazzo Capponi di Italia. Tentu saja, dia bisa menduduki kursi kehormatan itu dengan membunuh kurator sebelumnya (dengan kerja beberapa detik dan dua sak semen). Tapi, dia meraih posisi itu secara adil setelah mendemonstrasikan kemampuan linguistiknya di hadapan Belle Arti Committee: menerjemahkan bahasa Italia Abad Pertengahan dan Latin dari manuskrip Gothic.

Hannibal hidup nyaman sambil memainkan Variasi Goldberg karya Bach. Tapi, ada dua orang yang tak pernah melupakan dan terus memburunya: Clarice dan Mason Verger. Yang terakhir ini adalah korban keenam Hannibal yang bertahan hidup walau tak lagi berwajah.(One)


Kafe yang Kosong

Najib Mahfoudz adalah sastrawan peraih Nobel Sastra 1988 dan dijuluki Menahem Milson, peneliti sastra dari Harvard University, sebagai filsuf novelis. Hingga kini, Mahfoudz telah menghasilkan lebih dari 50 novel, cerpen, dan naskah drama.

Sebagai sastrawan Arab modern, dia telah mengawinkan sastra klasik Arab dan bentuk naratif modern. "Kritikus Arab merasa yakin bahwa sastra Arab akhirnya telah menghasilkan Dickensnya, Balzacnya, dan Dostoevskynya," tulis Milson dalam "Najib Mahfuz: The Novelist-Philosopher of Cairo".

Dalam kumpulan cerpen "Zahiya (Kafe yang Kosong)" (Tarawang Press, 2000) ini, ada 20 cerpen yang diterjemahkan dari "The Time and the Place (and Other Stories)" (Anchor Books, 1994). Kita akan menemukan sebuah dunia yang asing, misterius, juga indah, kadang menyakitkan dan mengancam. Semuanya dituturkan Mahfoudz dengan lancar, efektif, terkadang dengan repetisi yang signifikan.

Tema kisahnya berpusat pada sebuah dunia kecil di pojok kampung Kairo, ruang-ruang yang biasa saja dalam keseharian. Namun, hal-hal sederhana itu di tangannya menjadi sebuah kisah yang kuat, simbolik, dan secara kontekstual menyoroti masyarakat Mesir.

Misalnya dalam "Masuk Sekolah". Cerpen ini menggambarkan bagaimana sebuah proses kehidupan itu berjalan hanya dalam tempo setengah hari. Seorang bocah berangkat sekolah, belajar segala macam di sana, hingga akhirnya pulang, dan menemukan sebuah dunia yang sudah berubah dan membuatnya kebingungan, tak berani menyeberang jalan. Hingga seorang pemuda mendatanginya dan bilang "Kek, mari kubantu menyeberang".


Kitab Lupa dan Gelak Tawa

Milan Kundera membuka novelnya, "Kitab Lupa dan Gelak Tawa" (Bentang Budaya, 2000), dengan sebuah humor: Suatu hari, pemimpin komunis Klement Gottwald berpidato didampingi kameradnya, Clementis. Bahkan kala salju turun, Clementis segera mencopot topi bulunya dan menyerahkan kepada Gottwald. Foto mereka berdua itu kemudian menjadi ikon persaudaraan dan kesetiaan.

Empat tahun kemudian, Clementis dituduh sebagai pengkhianat dan diganjar hukuman mati. Foto Clementis dan Gottwald yang tampak akrab bersama di podium dihilangkan. Yang kini muncul adalah foto Gottwald seorang diri di podium dengan topi Clementis tersisa di atas kepalanya.

Kitab Lupa ini mirip biografi Kundera sendiri. Kundera adalah sastrawan kelahiran Ceko. Kala mudanya dia sempat masuk Partai Komunis Ceko. Dewasanya, dia menjadi pengajar sinematografi terhormat di Institut Praha.

Namanya mulai dikenal ketika dia mempublikasikan The Joke (1965). Lalu, beberapa karya penting lain diterbitkannya dan makin mengukuhkan namanya sebagai sastrawan, di antara buku itu adalah Laughable Love (1968), The Unbearable Lightness of Being (1984), dan Immortality (1990).

Namun, ketika Rusia menduduki Ceko, segala kedamaian yang dimilikinya musnah. Dia kehilangan pekerjaan dan karyanya dicekal. Penerbitan buku Kitab Lupa malah membuatnya kehilangan kewarganegaraan Cekonya.

Bisa jadi apa yang ditampilkan Kundera dalam Kitab Lupa tak lain dari kesan-kesannya atas derita yang menimpanya. Pembaca akan menangkap kesannya yang mendalam atas suasana kebatinan Ceko di masa pendudukan Rusia. (One)


Kitab Lupa dan Gelak Tawa
Milan Kundera, Marfaizon Pangai (penerjemah)
Bentang Budaya
Mei 2000

Kitab Lupa dan Gelak Tawa
Kundera Mengurai Kegetiran

Ariyanti

detikcom Kamis, 24/08/2000

Pemimpin komunis Klement Gottwald yang berpidato didampingi rekannya Clementis. Ketika salju turun, Clementis mencopot topi bulunya dan menyerahkan kepada Gottwald. Foto mereka berdua kemudian menghiasi poster-poster propaganda komunis.

Roland Barthes boleh berpendapat pengarang mati bersamaan dengan karyanya jadi. Namun, tak dapat dipungkiri karya pengarang tak bisa dilepaskan dari pengalaman hidup pengarangnya. Bahkan, beberapa karangan adalah otobiografi pengarangnya. Demikian pula Kitab Lupa dan Gelak Tawa karya Milan Kundera, pengarang kondang asal Cekoslowakia.

Kundera merupakan korban politik hitam negaranya. Lahir di Ceko 1 April 1929, anak pianis ini di masa mudanya sempat menceburkan diri ke Partai komunis Ceko tepat setelah PD II. Insiden Praha 1948 membuatnya keluar dari partai dan berturut-turut bekerja sebagai buruh, pemain jazz, hingga akhirnya mendalami dunia sastra dan film. Di awal tahun 1960-an ia sempat menjadi pengajar di Institut Praha, mengajar sinematografi lanjut. Salah seorang muridnya adalah Milos Forman, pemrakarsa 'sosialisme New Wave' dalam industri film Ceko.

Setelah invasi Rusia 21 Agustus 1968 yang menumbangkan pemerintahan sosialisme Alexander Dubcek, kehidupan sosial Kundera pun terampas. Dia kehilangan pekerjaannya dan karya-karyanya dicekal hingga akhirnya harus mengungsi ke Perancis dengan istrinya pada 1975. Penerbitan buku Le Livre du rire et de l'oubli (yang disini diterjemahkan dengan Kitab Lupa dan Gelak Tawa) membuatnya kehilangan kewarganegaraannya tahun 1979. Tepat jika sastrawan Amerika, John Updike, mengibaratkan Kundera seperti Adam yang berkali-kali terusir dari surga.

Kisah hidupnya ini terwakili oleh tokoh Mirek di bagian pertama buku ini. Dikisahkan bagaimana Mirek mencoba meminta kembali surat-surat cinta yang pernah dikirimkannya kepada Zneda, mantan kekasihnya 20 tahun lalu. Ia ingin membuang surat-surat ini untuk membersihkan dirinya dari kecurigaan pemerintah yang ingin menangkapnya. Di masa mudanya Mirek adalah anggota partai yang ambisius, lalu keluar dari partai karena menganggap tujuan partai melenceng dari yang diidamkannya. Keahliannya membuat Mirek tidak segera 'dihanguskan', namun komentar-komentarnya yang berani membuatnya dikucilkan, kehilangan pekerjaan, bahkan kemudian ditangkap. Ketidaksetujuan Mirek akan partainya, dilukiskannya karena kekuasaan ditanamkan dengan membuat rakyat melupakan sejarah bangsanya. Bagi Kundera, disini berlakulah bahwa perjuangan melawan kekuasaan adalah perjuangan melawan lupa.

Pengalaman hidupnya pula yang membuat Kundera menjadi sosok yang skeptis, sinis, dan meramu karyanya dalam humor getir atau noir, yang menyelimuti keseluruhan isi bukunya ini. Secara keseluruhan novel ini lebih pantas disebut cerita panjang yang terpisah karena masing-masing bagian tak saling berhubungan - kecuali tokoh Tamina yang muncul di beberapa bagian dari tujuh bagian yang ada. Setiap bagian menceritakan tokoh yang berbeda, yang dapat diringkas temanya berupa perjuangan manusia melawan lupa (masa lalu) dan bagaimana gelak tawa manusia akhirnya kehilangan maknanya.

Di bagian pertama Kundera membuka dengan adegan bak cerita komik: pemimpin komunis Klement Gottwald yang berpidato didampingi rekannya Clementis. Ketika salju turun, Clementis mencopot topi bulunya dan menyerahkan kepada Gottwald. Foto mereka berdua kemudian menghiasi poster-poster propaganda komunis. Empat tahun kemudian, ketika Clementis dianggap pengkhianat dan dihukum mati, foto-foto tentangnya pun dihapuskan, termasuk yang bersama Gottwald. Kini muncul foto Gottwald seorang diri di podium, dengan topi Clementis tersisa di atas kepalanya.

Selain digambarkan lewat tokoh Mirek, perjuangan manusia melawan lupa juga digambarkan lewat tokoh Tamina di bagian keempat. Melarikan diri dari negerinya Ceko bersama suaminya, Tamina tinggal di Eropa Barat. Ketika suaminya sakit lalu meninggal, ia berusaha mengingat kenangan tentang suaminya dan masa lalunya, yang dilambangkan dengan mengingat potret tentang suaminya di passport.

Meski Kundera menolak motivasi politik dalam karya-karyanya, tak dapat dipungkiri bahwa buku ini sarat dengan korban kegetiran politik. Lihat misalnya dalam sebagian adegan 'Para Malaikat' di bagian kedua, Kundera mengisahkan gadis R, seorang editor mingguan bergambar yang terpaksa kehilangan pekerjaannya karena ketahuan mempekerjakan seorang buangan seperti Kundera.

Dalam 'Perbatasan' di bagian ketujuh, lewat sindiran hitamnya, Kundera ingin mengatakan bawa di mata dunia betapa tak berartinya invasi Rusia ke negerinya dibanding dengan invasi burung-burung hitam ke kota. Katanya, "Kita dengan cemas mengikuti apa yang kita anggap penting sementara apa yang kita anggap tidak penting melancarkan perang gerilya di balik punggung kita, mengubah dunia tanpa sepengetahuan kita dan akhirnya menyerang kita secara mendadak. (halaman 321).

Menurutnya, perbatasan juga berarti wilayah yang membatasi tindakan manusia yang berarti dan yang kehilangan maknanya. Gerakan seks yang dilakukan secara berulang-ulang oleh tokoh Jan dan gadis penjual alat-alat olahraga yang tergila-gila akan orgasme, akhirnya kehilangan maknanya dan nyaris menjadi ledakan tawa (hal. 334). Atau hilangnya makna sakral ketika topi paman Clementis terjatuh di lubang kuburan Passer ketika upacara pemakaman dilakukan (hal. 364).

Masih banyak lagi makna tersembunyi yang dapat digali dari novel ini. Karena Kundera menggabungkan banyak hal di karyanya ini: biografinya, sejarah negerinya, legenda, kritik sastra, dan filsafat seperti yang dikemukkan oleh John Leonard dari The New York Times. Harus diakui, buku yang merupakan karya terbesar Kundera ini cukup representatif untuk memperkenalkan siapa dia sesungguhnya. Namun untuk memahami latar belakang dirinya, bagaimana sense of humor dan writing-nya dibangun, ada baiknya membaca karya-karyanya yang lain. Apalagi nama Kundera belumlah biasa di telinga pembaca sastra tanah air.

Karya-karyanya mulai dikenal ketika ia menerbitkan The Joke (1965), kumpulan cerpen yang bernada religius dan berkutat dengan absurditas kehidupan manusia. Warna ini masih kental dalam karyanya berikutnya, Laughable Love (1968). Karya lainnya adalah Life is Elsewhere (1969), The Farewel Party (1975), The Unbearable Lightness of Being (1984), Immortality (1990), Slowness (1994) dan terakhir Identity yang sempat menjadi pertentangan di tahun 1996. Kundera juga menulis puisi dan naskah drama, sayang tak begitu terkenal.

Sejak awal Kundera sudah berkutat dengan absurditas dan mistisme, yang mempertentangkan unsur agama konvensional dan ide-ide spiritual yang mendasar. Seperti dari dua karya awalnya. Namun mistisme yang memperkaya karyanya tidak mirip dengan Jorge Louis Borges yang berangkat dari tradisi negerinya. Mistisme bagi Kundera merupakan sesuatu yang tersembunyi atau belum diketahui.

Dalam novel ini, mistismenya adalah filosofi 'tawa' yang hambar, kehilangan makna. Dalam bukunya ini, Kundera nampak terpesona oleh seks, baik secara filosofi maupun cara mengungkapkan adegan seks itu sendiri. Bisa jadi itu merupakan gaya bertuturnya yang 'Kafkanis' ketimbang gaya 'Motinggo Busye'. Ini pula yang membuat buku ini 'memuakkan' sekaligus 'memabukkan' untuk dibaca.

Tentu saja tak mudah menyelami buku ini. Butuh perenungan untuk menyimak apa yang dimaksud pengarang. Terlebih karya yang luar biasa ini memang tak biasa. Namun karya ini dapat memperluas wacana sastra kita, membelajari kita bagaimana melihat manusia secara universal yang hidup di dunia lain, yang kini masih ada keberadaannya meski mulai diabaikan. Dan membuat kita merenungi hidup kita yang mulai kehilangan makna, tawa kita yang tak lucu lagi."

Ariyanti
Penerjemah dan penuli lepas, tinggal di Yogyakarta


Mesin Waktu Michael Crichton

Michael Crichton, pengarang buku-buku terlaris seperti "Jurasssic Park", "The Lost World", "Airframe", "The 13th Warrior", dan "Congo", kini kembali dengan karya terbarunya, "Timeline". Dan, seperti novel-novel sebelumnya, buku ini pun sempat bertengger lama dalam daftar buku laris di Eropa dan Amerika. Bahkan, Timeline sempat menggeser peringkat tertinggi yang dipegang buku serial Harry Potter karya JK Rowling.

Bila dalam "Jurasssic Park" dia bicara tentang rekayasa genetika yang mampu membangun kembali struktur DNA dinosaurus dari setetes darah dalam tubuh nyamuk purba, dalam "Timeline" dia bicara tentang rekayasa Lubang Hitam dan "quantum foam wormhole" yang memungkinkan Anda dikirim ke dimensi lain pada suatu masa.

Inti novel ini adalah petualangan sejumlah mahasiswa Arkeologi dan Arsitektur yang dikirim ke Perancis pada tahun 1357. Mereka terlempar di masa kala dunia dipenuhi satria berkuda dan kehormatan dipertaruhkan dengan pedang dan tombak panjang. Misi utama tim ini adalah menyelematkan profesor yang sekaligus pemimpin proyek penelitian mereka di sebuah situs di Perancis. Sebenarnya, mereka berada di tempat yang mereka teliti, hanya saja pada suatu masa yang berbeda.

Seperti novel-novel yang lain, Crichton mendemonstrasikan pengetahuannya tentang sejarah, teknologi, dan ilmu pengetahuan. Dengan imajinasinya, keping-keping catatan sejarah itu disusun hingga menjadi sebuah dunia yang utuh dan hidup, lengkap dengan kesunyian, angin, dan derap kuda. (One)


Negeri Hujan

Pira Sudham adalah satu dari sedikit pengarang Thailand yang punya kursi istimewa dalam sastra dunia. Dia terlahir sebagai anak petani di sebuah kampung kecil di Esarn, Timur Laut Thailand, 59 tahun yang lalu. Di kampungnya dia menggembala ternak dan membantu orang tuanya di sawah.

Usia 14 tahun, Pira ke Bangkok dan mengabdi pada sebuah kuil Budha sambil berjualan souvenir kepada turis-turis. Berkat beasiswa dari pemerintah New Zealand, Pira melanjutkan studi bahasa Inggris dan Sastra di Auckland University dan Victoria University. Di New Zealand-lah, kemampuan sastra Pira mulai terlihat dengan mulai dipublikasikannya cerita-cerita pendeknya.

Ketika kembali ke Thailand, dia menyaksikan dunia di sekitarnya secara lain. Dia mencatatnya, seperti tertulis dalam "Monsoon Country" (Breakwater, 1990) yang diindonesiakan jadi "Negeri Hujan" (Yayasan Obor Indonesia, 2000), begini:

"Saya kembali ke kampung halaman saya untuk mencatat apa yang saya ingat dan apa yang saya lihat, memperhatikan kronologi perubahan, mengidentifikasi unsur-unsur perubahan.... Bagaimanapun, saya melihat dengan perasaan bercampur baur ketika kata-kata seperti 'tabrak,' 'protes' dan 'penghisapan' pada suatu kali tidak terdengar di desa-desa itu, sekarang digunakan media massa, lambat laun merangkak perlahan ke dalam pikiran seperti unsur perubahan yang gelap... Saya bertanya sendiri: Berapa lama ketenangan dan cara hidup desa itu, yang saya kenal sejak masa kanak-kanak saya, bertahan? Mestikah saya, pada suatu hari, menjadi alat perubahan itu?". (One)



Orang-orang Negro
Jean Genet, Birul Sinariadi (Penerjemah)
Yayasan Aksara Indonesia,Yogyakarta
April 2000

Orang-orang Negro: Dialektika Hitam dan Putih

oleh Husni Munir

detikcom Senin, 03/07/2000

Dibandingkan Ionesco maupun Becket, di republik ini Jean Genet adalah uap di kaca jendela. Padahal ia merupakan salah seorang dramawan besar Perancis yang paling fenomenal. Tak kurang Sartre, Cocteau, Salacrou, Derrida dan Foucault mengakuinya.

Dia lahir 19 Desember 1910 di Paris. Tanpa mengenal ayahnya, Genet dipelihara di sebuah rumah yatim piatu. Di usia belasan ia telah berjabat tangan dengan dunia kriminal yang membawanya ke ruang pengap panti rehabilitasi di Mettray. Tahun 1930 ia lari dan menggelandang di pelabuhan-pelabuhan Eropa, bergaul dengan pelaut dan turis dalam jalinan homoseksual. Ia juga mengemis dan mencuri sehingga banyak berurusan dengan polisi.

Namun, di penjara pula ia menujukkan dirinya. Pertama-pertama sebagai estetikus, kemudian lewat magnum opus-nya Notredame des fleurs --seperti yang ditulis Sartre dalam kata pengantar novel besar itu-- ia dibaptis menjadi seniman. Lewat karya-karyanya yang kebanyakan ditulis di penjara, Genet mendetoksikasi dirinya sendiri dan masuk ke dunia luar. Ia tidak puas dengan hanya memberikan pengobatan, tetapi mengkonkretkannya.

Dalam roman biografinya Journal du voleur (1949) diungkapkan alasan perjalanan hidupnya yang kelam, yang selalu bersentuhan dengan dunia hitam. Tumbuh di luar keluarga normal, Genet merasa ditinggalkan oleh keluarganya, sehingga secara wajar mendekatkannya pada dunia di luar tatanan masyarakat. "Aku menolak dunia yang menolakku!" katanya.

Ketertolakan sekaligus penolakan itu merupakan bahasa khas orang-orang pinggiran agar tetap bertahan hidup dan eksis. Dengan memeriahkan ketertepisan mereka, merayakannya dengan gairah Dyonisan, membuat mereka mampu menemukan tubuh mereka sendiri, sebuah teritorial eksklusif, tempat mereka tak lagi gemetar oleh picingan mata orang-orang "normal".

Ketertolakan atau marginalitas itu menjadi kunci penting untuk membaca Orang-orang Negro, karya Genet yang diterjemahkan oleh Birul Sinariadi, alumnus Sastra Perancis UGM yang kini bekerja sebagai Direktur Penerbitan Pabrik Tontonan, sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di bidang tontonan yang semenjak kelahirannya mengidentikkan dirinya dengan marginalitas Jean Genet.

Orang-orang Negro dimulai dengan sebuah catatan sosiologis kelahiran naskah drama yang dipublikasikan pertama kali tahun 1959 dan secara sukses dipentaskan oleh Roger Blin di Teater LutSce: "Suatu malam seorang pemain sandiwara memintaku menulis sebuah lakon yang akan dimainkan oleh orang-orang kulit hitam. Tetapi apa itu hitam? Dan lagi warna apa itu?" (hal. 5) Dua kalimat terakhir itu, adalah kalimat Kulit Putih yang selalu menutup hidungnya terhadap ras berkulit hitam.

Posisi ini diakui sendiri oleh Genet kemudian: "Lakon ini, aku ulangi, ditulis oleh seorang kulit putih, ditujukan kepada penonton kulit putih."

Tetapi, tentu saja hal itu menciptakan konflik-konflik baru. Mungkinkan sebuah pementasan kulit hitam ditonton oleh kulit putih? Pesakitan ini kemudian menggadangkan beberapa jalan: pertama, jika kecil sekali kemungkinannya, maka pada pementasan di depan penonton kulit hitam, seorang kulit putih harus diundang, laki-laki atau perempuan. Penyelenggara tontonan akan menyambutnya secara resmi, memberinya pakaian upacara dan mengantarkannya ke tempat yang paling disukai, di tengah deretan pertama kursi terdepan. Orang-orang bermain untuknya. Di atas orang kulit putih itu secara simbolis sebuah lampu sorot diarahkan padanya selama tontonan berlangsung. Kedua, apabila tidak seorang kulit putih pun menerima pementasan ini, kepada penonton kulit hitam dibagikan topeng-topeng kulit putih di pintu masuk. Ketiga, seandainya orang-orang kulit hitam menolak topeng-topeng itu maka digunakan sebuah boneka.(hal. 5)

Dari sini tampak jelas sekali, Jean Genet memainkan hitam tidak berhenti kepada sosok Negro. Kehitaman Negro adalah pintu masuk pertama, makna terdekat, untuk kemudian bergulat secara lebih liat dengan kehitaman itu sendiri. Dunia selama ini tersusun dalam interaksi-interaksi oposisi biner yang hirarkis: atas/bawah, hidup/mati, gerak/diam, laki/perempuan, ordinat/subordinat, putih/hitam, di mana kata pertama selalu superior dari kata kedua.

Relasi ini oleh Marx dimasukkan dalam kategori kerja yang mengandaikan hubungan manusia dan alam. Kategori ini dibedakan dengan komunikasi yang berjalan di atas rel equalitas, meskipun seperti yang diakui Marx sendiri dua kategori ini saling bias dan sulit dipilah. Tampaknya, Orang-orang Negro dibangun di atas fondasi dua kategori ini.

Genet memulainya dengan afirmasi, pengafirmasian stereotype-stereotype Negro oleh orang kulit putih. Terbunuhnya seorang perempuan tua kulit putih oleh seorang Negro dianggap sebagai usaha Holocaust. Sehingga Sang Ratu Kulit Putih bersama Pembantunya didampingi Gubernur, Misionaris, Archibald, dan Hakim ngluruk ke Afrika (gambaran invansi Perancis ke Benua Hitam itu) untuk mengadili seluruh Kulit Hitam. Hakim (dengan licik): "...Ia telah membunuh dengan kebencian. Kebencian terhadap warna putih. Itu pembasmian terhadap seluruhh bangsa kami dan membunuh kami sampai akhir zaman." (hal. 110)

Kemudian secara diam-diam dia mengajukan negasi lewat imajinasi-imajinasi gelap, pertanyaan-pertanyaan eksistensialis dan ontologis, serta psikologisme Jung. Ramuan ini oleh Genet diblender sebagai senjata dekonstruksi hitam atas putih yang ia semburkan lewat mulut Felicite, Mama Negro yang penuh wibawa dan kegagahan Dunia Ketiga. Felicite: "Lihatlah-lihatlah Nyonya. Malam yang Anda minta, ada di sini, dan bersama kami anak-anaknya yang mengerumuni. Mereka mengawal kejahatan untuknya. Bagi Anda hitam adalah warna bagi para pastor, para pengiring peti jenazah dan anak-anak yatim piatu. Tapi itu semua telah berubah. Apa yang manis, baik, ramah dan lembut adalah hitam-juga opera, kemana pun kita pergi, hitam dalam roll roys hitam, hormat dari raja-raja hitam, dengarkan nusik di bawah lampu-lampu kristal hitam.." (hal. 119)

Keadaan kemudian menjadi genting. Segala landasan Kehitaman dan Keputihan di pertanyakan dan segalanya berakhir dalam sebuah puncak yang luar biasa tragis, tetapi disajikan dengan gaya enteng, dengan iringan manuet Don Juan. Sebuah bunuh diri yang riang. Tempat Ratu dan seluruh orang-orang kulit putih menguliti wajah mereka sendiri dan menjadi orang yang berperan sebagai Ratu, sebagai Gubernur, Pelayan, Archibald, Hakim. Orang-orang Kulit Putih itu kini menjadi hitam, seperti permainan itu sendiri, seperti layar-layar yang melatarbelakangi mereka. Hitam. Tapi jangan salah. Menjadi Hitam di sini bukan berarti kekalahan Kulit Putih oleh Kulit Hitam, sebab pertama-pertama para pemeran dalam naskah ini adalah Orang Hitam, yang kemudian berandai-andai menjadi Orang Kulit Putih. Kembali kepada Hitam, bagi Genet adalah pembongkaran dunia-dunia koruptif Kulit Putih. Inilah sebuah dunia dialektik. Sebuah drama. Sebagaimana "uap" ini mempercayai bahwa drama adalah genre yang paling komunikatif."

Husni Munir
Mahasiswa Pasca Sarjana Sosiologi UGM


Patriot

Bukan suatu kebetulan yang menyenangkan sebenarnya, bila di suatu hari yang cukup nyaman, seorang mantan marinir AS yang jadi sejarawan tiba-tiba jadi pahlawan bagi Inggris. Namun, itulah takdir yang diterima Dr John Patrick Ryan, tokoh utama dalam novel karya Tom Clancy, "Patriot Games" (Gramedia, 2001).

Tom Clancy adalah novelis techno-thriller (gaya penulisan yang mencampur keping sejarah, rincian teknologi tempur, dan fantasi) yang sukses sejak menerbitkan "The Hunt for Red October" (1984). Novel-novelnya begitu hidup dan dihargai oleh kalangan militer AS, itu sebabnya dia bisa mengakses data Pentagon, diijinkan masuk ke pesawat tempur dan kapal selam. Clancy menciptakan tokoh Ryan sebagai pahlawan dalam novel-novelnya belakangan.

Kali ini Ryan serta istri dan anaknya tengah berkunjung ke Inggris untuk melakukan sebuah riset kecil sekaligus berlibur. Secara tak sengaja mereka menyaksikan sebuah aksi teroris bersenjata Kalashnikov dan granat. Naluri keprajuritannya telah mendorong Ryan bertindak melumpuhkan dua teroris yang menyerang sebuah Rolls Royce. Dia tak tahu bila isinya adalah Pangeran dan Putri Wales.

Ryan berhasil, meski bahunya tertembus peluru. Inggris pun mengakuinya sebagai pahlawan, Ratu menganugerahinya gelar kebangsawanan khusus, Knight Commander of the Victorian Order. Namun, jalan hidupnya berubah. Sejak itu, ULA (Ulster Liberation Army) mengejar-ngejarnya, sedang Ryan sendiri hanya punya dua senjata untuk menghadapinya: beberapa tahun pelatihan militer saat dia jadi marinir dan otak cemerlangnya. (One)


Pay It Forward

"Namaku Chris Chandler dan aku reporter penyelidik. Setidaknya dahulu begitu. Sampai aku mengetahui bahwa semua tindakan ada konsekuensinya, dan tidak semua hal bisa kukontrol. Sampai aku mengetahui bahwa aku sama sekali tidak bisa mengubah dunia, namun seorang bocah laki-laki berusia dua belas tahun mampu mengubah dunia secara total --menjadi lebih baik dan untuk selamanya-- bekerja tanpa apa pun, cuma mengandalkan sifatnya yang selalu mendahulukan kepentingan orang lain,..."

Dan demikianlah Catherine Ryan Hyde membuka cerita tentang Trevor McKinney, tokoh utama dalam novel "Pay It Forward (Rangkaian Kebaikan)" (Gramedia, 2001). Cerita ini dituturkan dari sudut Chris Chandler, wartawan yang menuliskan bagaimana perbuatan baik yang dimulai oleh seorang anak kecil bisa mengubah begitu banyak hal.

Barangkali benar adanya pendapat bahwa gagasan novelis ini mirip dengan moto "Think Globally, Act Locally". Gagasan itu diterapkan Trevor ketika hendak mengambil nilai tambahan untuk tugas ilmu sosial yang diajukan guru barunya, Reuben St Clair, dengan tema "Pikirkanlah tentang sebuah ide yang mengubah dunia dan laksanakanlah ide itu".

Trevor memilih gagasan sederhana: sebuah perbuatan baik terhadap tiga orang dan balasannya dengan meminta setiap orang itu untuk berbuat baik pada tiga orang lainnya. "Maka, sembilan orang akan menerima pertolongan. Dan orang-orang ini harus melakukannya pada 27 orang lainnya... Dan berkembang seterusnya" demikianlah pikir Trevor.


Pemogokan

Para pekerja kereta trem di Naples mogok. Gaji mereka terlampau kecil untuk menanggung dinginnya udara dan melilitnya perut. Tentu saja, aparat keamanan tak membiarkan itu terjadi. Stasiun kereta itu dikepung. Para buruh itu bertahan dengan berbaring di rel kereta.

Namun, ending cerita pendek "Pemogokan" karya Maxim Gorki ini tidak seperti film-film Hollywood (kesuksesan seorang koboi FBI meredakan pemogokan). Sebaliknya, setelah melewati ketegangan-ketegangan cukup lama, kisah ini berpuncak pada sebuah drama: para aparat yang diperintahkan untuk mengambil alih kereta itu malah berbalik menggantikan para pemogok berbaring di rel kereta.

Ada 27 cerpen lain dalam buku "Pemogokan: Kumpulan cerita Pendek dari Italia" (Yayasan Aksara Indonesia, 2000) karya pengarang berjuluk Bapak Realisme Sosialis ini. Buku ini diterjemahkan dari "Tales of Italy".

Selain cerita pendek "Pemogokan", ada beragam tema dalam buku ini, misalnya, cerita tentang perjalanan sosialisme dalam diri Giovani (dalam "Bagaimana Giovanni Menjadi Seorang Sosialis") dan kisah tentang kekecewaaan seorang ibu terhadap anaknya yang jadi mengkhianati bangsanya (dalam "Ibu Seorang Penghianat").

Cerita-cerita ini tampaknya diinspirasikan oleh pengalaman Gorki ketika dibuang ke Italia karena keterlibatannya dalam Revolusi Rusia 1905. Gorki memang seorang sastrawan yang sosialis. Dia bergabung dengan Partai Sosial Demokratik ketika tinggal di St Petersbug. Namun, perpecahan dalam tubuh partai menyeretnya pada konflik yang lebih buruk: dia dibunuh.


Pemogokan: Kumpulan cerita Pendek dari Italia
Maxim Gorki
Yayasan Aksara Indonesia
Cetakan Pertama, Juli, 2000

Pemogokan
Sosialisme dan Romantisme Bapak Realisme Sosial

Husni Munir

detikcom

Selasa, 29/08/2000

Inilah buku Gorki kedua yang secara lengkap diterjemahkan dalam bahasa Indonesia setelah Ibunda yang dulu diterjemahkan oleh Pramoedya Ananta Toer dari novel The Mother, yang merupakan magnum opus Gorki.

Yayasan Aksara Indonesia adalah sebuah penerbit kecil di Yogyakarta yang memiliki interes tertentu pada genre realisme sosial. Lewat beberapa buku yang telah dipublikasikannya, seperti Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis, Surat Perintah 11 Mei, dan Cerita-cerita dari Sayap Kiri, kini penerbit ini menerbitkan buku terbarunya, Pemogokan: Kumpulan cerita Pendek dari Italia.

Pemogokan merupakan terjemahan dari Tales of Italy karya Maxim Gorki, sastrawan yang dijuluki sebagai Bapak Realisme Sosialis. Inilah buku Gorki kedua yang secara lengkap diterjemahkan dalam bahasa Indonesia setelah Ibunda yang dulu diterjemahkan oleh Pramoedya Ananta Toer dari novel The Mother, yang merupakan magnum opus Gorki.

Gorki terlahir sebagai Aleksei Maximovich Peshkov pada tanggal 28 Maret 1866 di tengah sebuah keluarga kelas pekerja di Nizhni Novgorod, Rusia. Gorki sempat menjadi penjaga tokoh sepatu, pembersih geladak kapal-kapal yang berlayar di sungai Volga, tukang roti, penjaga malam, dan gelandangan sebelum dikenal sebagai penulis cerita pendek, novelis, esais, dan penulis otobiografi.

Nama Gorki yang berarti "pukulan" adalah pengabadian dari derita kejelataan tersebut: tempeleng bertubi-tubi majikannya, kelaparan, dan penyakit. Itulah mengapa ia -melalui karya-karyanya- membaptis dirinya sendiri sebagai corong impian kaum buruh.

Tetapi, Gorki bukan sekedar sastrawan, ia adalah juga seorang revolusioner. Diawali tahun-tahun ketika ia tinggal di St. Petersbug (1899-1906), Gorki menjadi seorang Marxis dan mendukung Partai Sosial Demokratik. Setelah perpecahan partai di tahun 1930, lelaki yang kematiannya diklaim dibunuh oleh Blok Kanan dan pendukung Trotsky itu bergabung dengan sayap Bolshevik. Keterlibatannya dalam revolusi Rusia tahun 1905, membuatnya ditangkap, meski kemudian dibebaskan kembali karena tekanan dari berbagai kalangan.

Karena aktivitasnya, tahun 1906 Gorki diusir dari Rusia dan tinggal di Capri, Italia. Di sinilah Gorki memperoleh inspirasi bagi cerpen-cerpennya dalam kumpulan ini, tentang kehidupan, konflik, dan solusi sederhana masyarakat Italia Selatan.

Pemogokan terdiri dari 27 cerpen sarat muatan ideologi. Lihat saja judul-judul seperti "Bagaimana Giovanni Menjadi Seorang Sosialis", "Juru Propaganda", atau "Pemogokan" sendiri. Keseluruhan cerpen dalam buku ini setidaknya dapat dibagi dalam tiga gaya dan tema: gaya ideologis lugas, ideologis romantik, dan romantik.

Cerita pendek "Pemogokan" berkisah mengenai para pekerja kereta trem di Naples yang mogok karena gaji yang terlampau kecil sampai mereka tak dapat memberi makaroni untuk anak-anaknya. Kisah ini merupakan merupakan contoh dari kategori ideologis romantik. Cerpen ini dibangun di atas sinisme tertentu, misalnya kesigapan, disiplin, dan keteraturan. Ketiga hal ini oleh militer merupakan keutamaan, tapi oleh Gorki dicemooh sedemikian rupa dengan gelak tawa dan siul orang kebanyakan yang menonton di tepi jalan ketika mereka menyaksikan persiapan para prajurit.

Dalam gaya ini tidak ada koar sosialisme yang dilontarkan secara eksplisit, semua dijalin dalam konflik yang rapi dan sedikit mengecoh seperti yang diperlihatkan dalam puncak yang dramatis: ketika para prajurit yang diperintahkan mengambil alih kereta ternyata tidak menyerang para pemogok, namun sebaliknya menggantikan mereka berbaring di atas rel. Cerpen ini sendiri diakhiri Gorki dengan manis, kemenangan gemilang para pemogok dan kerling serta senyuman para penumpang.

Lain halnya dengan "Bagaimana Giovanni Menjadi Seorang Sosialis" dan "Juru Propaganda" yang dipenuhi oleh koar sosialisme. Meski kedua cerpen ini dibangun di atas back tracking perjalanan Giovanni, Si Pengudak Anggur dan Juru Propaganda kemudian menjadi seorang sosialis. Tetapi kisah itu hanyalah alat untuk menunjukan bagaimana sosialisme begitu manusiawi dan naturalnya, dengan klaim-klaim kesetaraan universal dan serangan terhadap agama sebagai candu dan tak manusiawi.

Jenis ketiga adalah cerpen-cerpen seperti "Ibu Seorang Penghianat" yang hanya mendongengkan kecintaan ibu akan kehidupan sehingga ia rela mengorbankan anaknya yang mencintai kehancuran untuk mati di tangannya sendiri. Cerita ini dipenuhi oleh perbincangan filosofis yang menunjukkan heroisme dan kegagahan sikap masing-masing. Sebuah pertarungan antara afeksi ibu dan ayah. Sang ibu akhirnya membunuh dirinya sendiri dengan pisau yang masih hangat oleh darah anaknya di bawah pandangan takjub pengikut-pengikut sang penghianat.

Kumpulan ini walau dijubali propaganda sosialisme di sana-sini, tak membuatnya kehilangan wilayah estetik. Pamflet-pamfletnya begitu basah dan metaforik, sesuatu hal yang tak realis tentunya. Hal itu tergantung bagaimana dan di mana halte tempat kita bersanggah kaki. Buku ini adalah bekal berguna bagi perkembagan genre ini selanjutnya. Juga bagi musuh-musuh mereka, sebab inilah wajah welas asih aliran yang dipandang sebagai patron Uni Soviet tersebut."

Husni Muni, Mahasiswa Pasca Sarjana Sosiologi UGM


The Cassandra Compact

Maret 2001. Novelis gaek yang merajai dunia fiksi thriller politik, Robert Ludlum, meninggal bulan Maret lalu. Projek terakhirnya, The Covert-One Series, baru terbit judul pertama, "The Hades Factor" (St. Martin's Press, 2001). Namun, projek itu tetap diteruskan.

Pada tanggal 15 Mei, seri keduanya, "The Cassandra Compact: A Covert-One Novel" (St. Martin's Press, 2001) yang ditulisnya bersama novelis Philip Shelby diterbitkan. Bahkan, judul ketiga, "Paris Option" sudah dijadwalkan pula. Seri ini nampaknya berhutang banyak pada seri Op-Center yang dibikin Tom Clancy dan Steve Pieczenik.

Dalam novel Ludlum ke-21 ini, tokoh-tokoh dalam seri pertama The Covert-One kembali dihadirkan. Mereka adalah peneliti medis dan mata-mata Letkol. Jonathan Smith, agen CIA Randi Russell, mantan agen SAS Peter Howell, dan ultrasecret spymaster Nathaniel Klein.

Awalnya, Smith --yang pensiun dari Army Medical Research Unit for Infectious Diseases setelah kematian tunangannya-- hendak berkunjung ke Venisia untuk menjumpai seorang ilmuwan Rusia. Sayang, ilmuwan itu terbunuh di tangan bajingan Sisilia sebelum sempat memperingatkan Smith bahwa sampel virus cacar telah dicuri dari fasilitas penelitian biologi Rusia.

Virus itu belum sempat dibikin vaksinnya dan diperkirakan akan jadi ancaman besar umat manusia bila tidak diamankan. Maka adalah tugas Covert-One, tim agen super-rahasia pribadi presiden AS, turun tangan. Yang mereka hadapi adalah konspirasi militer-pengusaha di tingkat dunia yang melibatkan NASA, Pentagon, dan KGB.(One)


The Sky is Falling

Sosok Winthrops yang populer dan kharismatik telah memikat perhatian dunia lewat kemurahan hati dan gaya hidup glamornya. Tapi, dalam setahun, lima anggota keluarga Winthrops terbunuh dalam sebuah kecelakaan beruntun.

Dana Evans, pembawa berita Washington Television Network. Jurnalis muda dan cantik ini baru saja kembali dari ibukota Balkan. Namun, hal itu tak membuatnya ketinggalan mengikuti berita-berita seluruh dunia, dari Washington sampai Aspen, Dusseldorf, Roma, Brussels, Moscow, dan Siberia. Setiap kunjungan pendeknya seperti sebuah kartupos: satu atau dua tanda , restoran lokal yang menarik, dan keping-keping lain dari sebuah teka-teki yang membuatnya menyadari mengapa anggota keluarga Winthrops harus meninggal.

Anehnya, mengapa dia kota sebesar Washington, tak ada orang kecuali Dana yang menyadari adanya pola dalam kasus Winthrops atau bahkan bisikan kata vendetta keluarga. Dia percaya bahwa ada sesuatu yang lebih buruk di balik kematian mereka. Dia mulai menginvestigasi dan mulai menyingkap sekumpulan bukti yang sulit dipercayanya. Namun, setelah itu, dialah yang kemudian menjadi yang diburu.

Dalam novel terbaru Sidney Sheldon, "The Sky is Falling" (William Morrow & Co, 2000) ini, tokoh Dana muncul lagi. Dia pertama kali muncul dalam novel laris Sheldon, "The Best Laid Plans". Sheldon adalah satu dari pengarang terlaris dunia. Dialah satu-satunya pengarang yang meraih empat penghargaan: Oscar, Tony, Edgar, dan masuk dalam Guinness Book of Records sebagai pengarang yang bukunya paling banyak diterjemahkan.(One)


Perdagangan Realitas (Virtual Trading)
Michael Ridpath
Gramedia
1999
9796554119

Perdagangan Realitas
Intrik di Pasar Modal dan Dunia Virtual

Kurniawan

detikcom Rabu, 07/06/2000

Ridpath menjalin kisah intrik perdagangan saham dan dunia virtual yang terbangun dengan bantuan peranti lunak dan keras mesin komputer.

Michael Ridpath yang pernah menulis tentang perdagangan di bursa saham lewat "Free to Trade, Kolusi Bursa"(Gramedia, 1997), kini menerbitkan buku keduanya, "Perdagangan Realitas". Pengalamannya di bursa saham sebagai bond trader membuatnya sangat memahami dunia yang terkadang susah dipahami awam lantaran istilah-istilah mereka yang rada sulit itu.

Dengan modal itu, Ridpath dengan mudah dan gamblang memaparkan keriuhan dan sisik melik dunia perdagangan saham. Dalam novelnya kali ini, Ridpath menjalin kisah intrik perdagangan saham dan dunia virtual yang terbangun dengan bantuan peranti lunak dan keras mesin komputer.

Di sisi lain, dibahas pula perdebatan tentang realitas virtual itu sendiri. Perdebatan tentang kelompok yang menganggapnya sebagai berkah dan kelompok yang melihatnya sebagai potensi malapetaka.

Sinopsis

Mark Fairfax seorang trader muda di bursa saham London. Kakaknya , Richard, merintis perusahaan bisnis realitas virtual (RV) FairSystems. Ketika Richard tewas terbunuh, Mark terpaksa menggantikan kedudukannya di perusahaan. tapi seolah ia terjun ke dataran tak dikenal, karena belum pernah bersentuhan dengan dunia RV yang canggih itu. Ancaman bertubi datang dari investor Jepang dan Amerika yang tahu bahwa realitas komputer itu memiliki nilai bisnis jutaan dolar. Berbagai cara mereka gunakan untuk membuat FairSystems bangkrut, sehingga mudah diakuisisi. Masalah lain datang dari sekelompok orang yang takut realitas maya itu akan mengubah peradaban. Bagi mereka, RV sama seperti pornografi di internet, orang yang biasa berbuat jahat di dunia cyber, akan melakukannya juga di dunia nyata. Mereka beranggapan realitas yang tidak alami itu akan meracuni masyarakat, dan perusahaan yang mengelolanya adalah perusahaan setan! Perkembangan RV harus dicegah, kalau perlu dengan kekerasan dan teror! Mark harus berusaha mati-matian menyelamatkan FairSystems. Namun nuraninya terusik juga, karena kalau benar RV membangkitkan naluri primitif manusia yang kejam, suka menyiksa, dan memerkosa, berarti ia ikut merenggut nilai-nilai kebajikan manusia yang kini sudah langka itu.... ?"



CATATAN:
[ ] Semua artikel berinisial One adalah tulisan saya pribadi.


Lihat siapa pengunjung situs ini.