(aka. Politik dan Pemerintahan Cina)
Nur Rachmat Yuliantoro
Semester Ganjil 2005-2006, Jurusan Ilmu Hubungan Internasional FISIPOL Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta 55281
Telp. dan Fax. (0274)563362, e-mail : nur.rachmat@ugm.ac.id
[Pengantar] [Tujuan Perkuliahan] [Bahan Perkuliahan] [Situs Pilihan] [Tugas, Ujian, dan Penilaian] [Rancangan Kuliah Mingguan] [Home]
Sejarah Republik Rakyat China (RRC, untuk selanjutnya kita sebut China) terkesan membingungkan dan dramatis: kadangkala tragis di satu saat, namun bisa jadi menyenangkan di saat yang lain. China adalah negara dengan begitu banyak masalah, termasuk penduduk terbanyak di dunia; tetapi ia juga sebuah bangsa dengan potensi yang sangat kaya. Tingkat pertumbuhan ekonomi China akan segera membuatnya menjadi sebuah negara adikuasa ekonomi. Juga perlu dicatat, bahwa mengingat China telah menjadi salah satu negara pemilik senjata nuklir, maka China akan menjadi salah satu aktor yang berperan penting dan strategis dalam setting politik dan militer global. China juga menarik perhatian internasional karena di tengah-tengah gelombang transisi yang mengarah pada demokrasi ternyata negara ini tetap bersikukuh mempertahankan ideologi komunisme dan sistem partai tunggalnya.
Memahami politik dan ekonomi kontemporer China sangatlah penting. Tujuan mata kuliah ini adalah membentuk dan mengembangkan pemahaman yang lebih baik tentang dinamika politik dan ekonomi China dewasa ini. Kita akan mulai upaya itu dengan tinjauan sekilas tentang geografi, kebudayaan, dan sejarah China, sebelum nantinya kita masuk pada diskusi tentang inti kehidupan politik dan perkembangan ekonomi China. Kemudian di akhir kuliah kita akan bersama-sama membahas peran China yang terus berkembang dalam komunitas global. Topik-topik penting ini akan dibahas dalam bentuk ceramah, diskusi, serta penugasan makalah individu, yang kesemuanya diharapkan dapat selesai dalam 14 kali pertemuan. Namun demikian, topik-topik yang tidak diberikan di perkuliahan bukan berarti tidak penting; para mahasiswa diharapkan juga mempelajari topik-topik tersebut guna memperluas pemahaman mereka.
Mata kuliah ini menganjurkan pesertanya untuk membaca buku J.C.F. Wang, Contemporary Chinese Politics: An Introduction, New Jersey, Prentice-Hall, 1994. Sejumlah buku, jurnal, dan artikel berikut ini juga dianjurkan untuk dibaca (semuanya terdapat di Perpustakaan Fisipol UGM atau disediakan oleh pengajar), khususnya pada bagian-bagian tertentu yang disebutkan dalam Rancangan Kuliah Mingguan:
Sebagai tambahan bahan bacaan di atas, mahasiswa juga diminta untuk selalu mengikuti perkembangan terakhir politik dan ekonomi China. Di samping melalui berita audiovisual maupun cetak, berikut beberapa sumber berita online dengan liputan yang luas tentang China:
Situs-situs berikut ini memberikan informasi yang sangat kaya, informatif, dan dan menarik tentang China:
Di samping situs, juga tersedia beberapa artikel pilihan tentang China untuk keperluan perkuliahan.
Partisipasi dalam kelas.
Perlu dicatat bahwa kuliah ini tidak mewajibkan pesertanya untuk selalu hadir dalam setiap pertemuan. Meski demikian, mahasiswa dianjurkan untuk tetap mengisi daftar hadir yang disediakan. Setiap pertanyaan, komentar, dan diskusi yang ekstensif dalam kelas akan sangat dihargai.
Ujian.
Kuliah ini tidak akan mengadakan ujian tengah ataupun akhir semester. Satu-satunya tugas yang harus dikerjakan oleh mahasiswa adalah membuat makalah dengan ketentuan-ketentuan berikut: (1) Ditulis sebanyak 7 hingga 10 halaman dengan jarak baris 1.5 atau 2; (2) Menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar serta mengikuti kaidah penulisan ilmiah (cara menulis referensi dapat dilihat di sini); (3) Disampuli dengan menggunakan Lembar Sampul Tugas Individu � tidak dengan sampul selainnya.
Topik untuk makalah dianjurkan sejalan dengan apa yang disampaikan di kelas. Meski demikian, mahasiswa boleh menulis topik di luar itu dengan terlebih dahulu mengkonsultasikannya dengan pengajar.
Pada prinsipnya, mahasiswa boleh mengumpulkan makalahnya sepanjang kuliah berjalan sampai dengan waktu ujian akhir bagi kuliah ini. Tanggal yang ditetapkan Fakultas untuk ujian akhir kuliah ini menjadi tenggat waktu terakhir bagi pengumpulan makalah.
Penilaian.
Nilai akhir untuk kelas ini diperoleh dari penilaian utama, yaitu melalui makalah. Namun, dalam keadaan-keadaan tertentu, kehadiran dan atau partisipasi kelas dapat pula dipertimbangkan menjadi bagian dari komposisi nilai akhir.
PERHATIAN!!
Mengingat tugas membuat makalah telah disampaikan sejak awal kuliah, maka tidak ada alasan apapun bagi mahasiswa yang terlambat mengumpulkan melewati tanggal ujian akhir untuk kuliah ini. Dalam kasus ini, penilaian untuk makalahnya adalah nihil. Nilai nihil juga diberikan kepada mereka yang melakukan plagiat/penjiplakan dalam makalahnya.
Kuliah I.
Kita akan memulai kuliah ini dengan mengajukan pertanyaan: Mengapa kita belajar
politik China? Jawabannya sebagian terletak pada pentingnya China dalam politik
internasional sebagai negara dengan penduduk terbesar di dunia. China juga
dipandang sebagai negara yang paling cepat berkembang dalam hal perekonomian dan
kekuatan militer. Banyak kalangan memperkirakan China akan menyaingi AS sebagai
yang terbesar dalam kedua hal ini pada satu dekade mendatang. Namun, di sisi
yang lain China bisa jadi akan mengalami sejumlah perselisihan internal dan
mungkin perang saudara yang mengarah pada perpecahan. Bila hal ini terjadi,
dampaknya akan sangat luas. China juga menarik karena ia adalah sebuah negara
komunis yang berhasil mengadakan transisi dari totaliterisme kepada
otoriterianisme dan dari ekonomi terencana ke pasar terbuka. Kita juga akan
melihat geografi dan sejarah awal China serta hubungannya dengan perkembangan
kebudayaan politik dan lembaga politik China.
Bacaan : Wang, Ch.1 (khususnya
pp.1-6); China's
maps.
Kuliah II.
Kita akan mempelajari sejarah tradisional dan
modern China dengan penekanan pada evolusi lembaga politik, kebudayaan politik,
dan ideologi. Di sini kita akan membahas politik tradisional China, dampak
intervensi Barat, runtuhnya dinasti Qing, dan munculnya kaum Nasionalis.
Bacaan: Wang, Ch. 1 (pp. 6-14).
Blecher,
Part 1.
Roper,
Ch. 1 dan 3.
Kuliah III (18 September
2004). Topik minggu ini adalah
munculnya komunisme di China, didirikannya Partai Komunis China (PKC),
kemenangan Mao Zedong atas kaum Nasionalis, dan pembentukan Republik Rakyat
China (RRC). Beberapa pertanyaan penting di sini, misalnya mengapa komunisme
menarik bagi rakyat China? Apakah PKC itu asli bentukan bangsa China atau
dibentuk oleh Soviet? Apakah Mao yang mengalahkan Nasionalis, atau Nasionalis
yang sengaja mengalah?
Bacaan: Wang,Ch. 2.
Blecher,
Part 2.
Bakri,
Bab I.
Roper,
Ch. 5 dan 6.
Kuliah IV.
Kali ini kita akan melihat organisasi, kekuatan serta peranan PKC dan pemerintah
China. Kita juga akan membahas hubungan mereka, bagaimana mereka saling bekerja
sama, dan di mana pusat kekuasaan terletak. Kedua organisasi ini, bersamaan
dengan militer, merupakan pusat-pusat kekuasaan politik di RRC. Pertanyaannya:
Bagaimana hubungan antara partai dan pemerintah China dalam teori dan praktek?
Siapa yang mendominasi? Mengapa?
Bacaan: Wang, Ch. 3 dan 4.
Blecher,
Part 4.
Wibowo,
Negara dan Masyarakat, Bab 2.
Hunter
dan Sexton, Ch. 4.
Kuliah V.
Di minggu ini, topik kita adalah peranan militer. PKC dan Tentara Pembebasan
Rakyat (TPR) tumbuh dan berkembang bersama. Bahkan Mao mengatakan, "Kekuasaan
politik berasal dari laras senapan". RRC dibentuk oleh kemenangan militer
terhadap kaum Nasionalis. Kemudian, hanya mereka yang punya pengalaman militer
mampu berkiprah sampai dengan posisi puncak dalam partai dan pemerintah. Ketika
partai tidak mampu menanggulangi krisis akibat Revolusi Kebudayaan, tampillah
militer mengambil alih fungsinya dan juga fungsi pemerintah. Dengan menganalisis
peranan militer dan pemerintah secara bersamaan, kita akan melihat kampanye dan
gerakan-gerakan lainnya yang dilancarkan oleh PKC, dan kadang-kadang oleh
militer, sebagai sarana untuk memobilisasi massa dan mendapatkan kemenangan
politik.
Bacaan: Wang, Ch. 6.
Yuliantoro, 2000.
Kuliah VI.
Minggu ini kita akan membahas pemerintahan Mao Zedong dari tahun 1949 hingga
periode Lompatan Jauh ke Depan. Mao, dalam banyak hal, adalah China itu sendiri.
Sebagian orang mengatakan bahwa Mao adalah seorang kaisar sekaligus diktator,
tetapi ia juga merupakan seorang pemikir komunis yang unik. Pertanyaan yang
perlu dijawab: Apakah Mao seorang populis? Apakah benar dia seorang diktator?
Apakah dia seorang penyumbang utama bagi ideologi komunis? Sampai sejauh mana
dia membangun China? Mengapa akhirnya program Lompatan Jauh ke Depan mengalami
kegagalan, sebuah kegagalan yang menurut sebagian pengamat menjadi awal dari
kejatuhan Mao?
Bacaan: Wang, Ch. 2 dan 3.
Blecher,
Part 2.
Dahana,
Bagian I.
Roper,
Ch. 7 dan 8.
Kuliah VII.
Kuliah kali ini masih membahas Cina di bawah pemerintahan Mao, khususnya periode
pasca kegagalan Lompatan sampai dengan jatuhnya Mao pada tahun 1976. Kegagalan
Lompatan diikuti dengan serangkaian kampanye 'pembersihan', yang diawali dengan
Kampanye Tiga Anti dan Lima Anti dan berujung dengan Revolusi Kebudayaan. Secara
khusus, kuliah ini akan membicarakan secara cukup detail Revolusi Kebudayaan,
mulai dari awal peluncurannya sampai dengan pembersihan kelompok garis keras
Maois yang menandai akhir kekuasaan Mao.
Bacaan: Roper, Ch. 9 dan 10.
Kuliah VIII. Sekarang kita akan
membahas China pada era Deng. Deng Xiaoping mulai berkuasa pada tahun 1978
dengan mendorong China ke arah politik yang lebih kanan dan mengubah penekanan
dalam politik dari kampanye dan mobilisasi kepada pembangunan ekonomi dan
menjadikan China sebagai salah satu kekuatan dunia. Secara khusus, kuliah ini
akan menitikberatkan pada kajian tentang reformasi ekonomi China sebagai 'tanda
kesuksesan' kepemimpinan Deng. Deng membuat banyak perubahan dalam lapangan
ekonomi, termasuk dasar-dasarnya. Secara ekonomi dia mengubah China dari
komunisme ke kapitalisme (yang disebutnya sebagai "sosialisme dengan ciri-ciri
Cina"). Sebagai hasilnya, China mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat
menakjubkan sejak tahun 1978. Kita bisa bertanya: Apa sajakah yang telah
dijalankan oleh Deng untuk mengubah perekonomian China? Apa implikasi dari
perubahan ini terhadap politik domestik? Terhadap hubungan luar negeri? Dapatkah
China dijadikan sebagai model pertumbuhan ekonomi? Dapatkah komunisme
direformasi dengan menggunakan pendekatan Deng?
Bacaan: Wang, Ch. 9.
Blecher,
Part 6 dan 7.
Bakri,
Bab V.
Dahana,
Bagian II.
N.
Soebagio, 'Pembaharuan di Cina: Sebuah Tinjauan Ekonomi Politik', Global.
Huter
dan Sexton, Ch. 3.
Kuliah IX.
Bila di kuliah sebelumnya kita membahas 'kesuksesan' pemerintahan Deng, di sini
kita akan melihat secara lebih rinci salah satu episode kelam dalam
pemerintahannya, yaitu apa yang disebut sebagai Tragedi Tiananmen 4 Juni 1989.
Penumpasan massa pro-demokrasi oleh militer China dalam peristiwa itu telah
membuat tidak saja pertumbuhan ekonomi China yang masih tergantung pada bantuan
asing menurun secara signifikan, tetapi juga China harus menerima getah berupa
kecaman dan kutukan keras dari segala penjuru dunia.
Bacaan: D. Morrison (ed.), Massacre in Beijing: China's Struggle for
Democracy, New York, TIME Books, 1989.
T.
Watson, Tremble and Obey: An ABC Correspondent's Account of the Bloody
Beijing Spring, New South Wales, ABC Books, 1990.
G.W. Gong, Tiananmen: Causes and Consequences, Center for Strategic and
International Studies.
Kuliah X. Di sini kita akan memulai
serial Isu-isu Kontemporer Politik dan Ekonomi China dengan membahas isu
reformasi politik dan meluasnya korupsi. Argumen bahwa desentralisasi kekuasaan
politik merupakan sebuah conditio sine qua non bagi pembangunan ekonomi
tampaknya berjalan cukup baik di China. Meski demikian, kita tetap bisa
mengajukan pertanyaan, seperti sejauh mana kekuasaan politik beralih dari pusat
kepada provinsi-provinsi dan pemerintahan lokal. Yang lebih penting adalah
apakah desentralisasi membantu perkembangan demokrasi, yang antara lain
dicirikan dengan pemisahan tugas dan wewenang antara partai dan pemerintah.
Begitu juga dengan korupsi yang sudah begitu hebat mewabah, sebuah kondisi yang
membuat China menjadi salah satu negara terkorup di dunia.
Bacaan: Yang Guobin, 'The Co-Evaluation of the Internet and Civil Society in
China', Asian Survey, vol. 43, no. 3, May/June 2003, pp. 405-22.
Bo
Zhiyue, 'Economic Development and Corruption: Beijing beyond 'Beijing',
Journal of Contemporary China, vol. 9, no. 25, 2000, pp. 467-87.
Hao Yufan dan M. Johnston,
Reform at the Crossroads: An Analysis of Chinese
Corruption,
Dept. of Political Science, Colgate University, January 1995.
Pei Minxin, 'Will China Become Another Indonesia?',
Foreign Policy, Fall 1999, pp. 94-109.
Kuliah XI.
Isu kontemporer yang akan dibahas
kali ini adalah soal hak asasi manusia (HAM). China adalah salah satu negara
yang dianggap memiliki tingkat pelanggaran HAM yang tinggi di dunia, sebuah
penilaian yang muncul sebagai akibat Tragedi Tiananmen. Banyak kasus, mulai dari
penahanan para aktivis pro-demokrasi tanpa pengadilan sampai dengan penyensoran
situs-situs internet dan penutupan internet cafe di sejumlah kota, telah
membuat China senantiasa menjadi sasaran dari mereka yang menganggap dirinya 'pejuang
HAM', misalnya Amerika Serikat.
Bacaan:
J. Chan, 'Human Rights and Confucian Virtues', Harvard
Asia Quarterly, 22 March 2001.
J.A. Dorn, 'Trade and Human Rights: The Case of
China', CATO Journal, vol. 16, no. 1, Spring/Summer 1996, pp. 77-98.
J.N.
Wasserstrom, 'Human Rights and the Lessons of History', Current History,
vol. 100, no. 647, September 2001, pp. 263-8.
Kuliah XII.
Seri terakhir isu-isu kontemporer yang akan didiskusikan kali ini adalah tentang
masalah penduduk, lingkungan hidup dan ketimpangan pembangunan. Kehendak untuk
memajukan pembangunan di segala sektor dalam banyak kasus telah mengorbankan
kualitas lingkungan hidup China. Simak saja krisis energi atau kasus pembangunan
bendungan Three Gorges. Yang menarik juga fakta bahwa pembangunan ekonomi
bukan saja merusak lingkungan, tetapi juga tatanan sosial: kebijakan pemerintah
China membuat ketimpangan pembangunan terjadi antara propinsi-propinsi di tepi
pantai timur dan kota-kota besar dengan propinsi-propinsi di 'pedalaman' dan
kota-kota kecil yang relatif tidak begitu tersentuh reformasi.
Bacaan:
C. Karasov, 'On the Different Scale: Putting China's
Environmental Crisis in Perspective',
Environmental Health Perspectives, 108/10, October 2000.
Qian Zhihong dan Tan-Chee Wong, 'The Rising Urban
Poverty: a dilemma of market reforms in China', Journal of Contemporary China,
9/23, 2000.
Zhao
X.B. dan Tong S.P., 'Unequal Economic Development in China, 1985- 1995', Regional Studies,
34/6, pp. 549-61.
D. Jones, Cheng Li dan A.L. Owen,
Growth and
Regional Inequality in China during
the Reform Era, William Davidson Working Paper No. 561, May 2003.
Yao Shujie dan Liu Jirui, 'Economic Reforms and
Regional Segmentations in Rural China', Regional Studies, vol. 32, no.8,
1998, pp. 735-46.
Kuliah XIII.
uDalam kuliah ini, kita akan membahas politik
luar negeri China selayang pandang, mulai dari prinsip-prinsip hubungan
internasional yang dianut China sampai dengan perkembangan mutakhir politik luar
negeri China. Penekanan diberikan kepada hubungan-hubungan utama China dengan
Amerika Serikat (AS), Russia, Jepang, India, dan Asia Tenggara serta 'kiprah'
China dalam ranah ekonomi internasional.
Bacaan: akan ditentukan kemudian.
Kuliah XIV. Penutup dan Evaluasi:
kuliah terakhir ini akan kita pergunakan untuk meringkas seluruh topik yang
telah kita bicarakan sebelumnya dan mengajukan pertanyaan tentang masa depan
China. Kita perlu mendiskusikan kemungkinan "China Raya" serta mencoba
menganalisis hubungan Beijing dengan kesatuan politik China lainnya: Hong Kong,
Makau, Taiwan, Singapura, dan China perantauan. Kesemuanya akan dibahas untuk
melihat kemungkinan peran internasional China yang jauh lebih besar di masa
datang.
Bacaan: Blecher, Part 9.
Hunter
dan Sexton, Ch. 8
[Home]
Halaman Web ini terakhir diperbarui pada tanggal 2 Agustus 2005, 12.48 WIB.