Radar Banyumas, Sabtu Pon, 12 November 2005 

Mengenal Dunia Waria di Trotoar Jalan Purwokerto (2) 

Meski bersaing dengan wanita,  kebersamaan tetap solid

RIDWAN ANSHORI, Purwokerto

Mereka, para PSK (Pekerja Seks Komersial), baik waria maupaun wanita tulen saling bersaing untuk memikat si hidung belang. Adu mulut dan saling jambak bahkan adu jotos, kerap mewarnai persaingan berebut pembeli. Tetapi pada satu titik tertentu, mereka tetap memiliki rasa kebersamaan. Senasib dan seperjuangan.

Mereka yang mencari mangsa si hidung belang di trotoar jalan sekitar Terminal Purwokerto, ibarat sedang berdagang.  Kalimat bernuansa rayuan dengan kata-kata manis menjadi senjata menarik si pembeli. Tampilan kostum seksi, layaknya artis porno juga menjadi jurus penggoda. Semua itu dilakoni demi uang, dan mungkin kepuasan.

Tempat Mangkal: di sekitar terminal bus Purwokerto baik PSK maupun waria melakukan aktivitasnya

Pembagian area penjualan juga menjadi hukum tidak tertulis di antara mereka. Persis, layaknya pembagian kapling di pasar tradisional. Waria menguasai sepanjang Jalan S. Parman sebelah utara, sementara PSK berkelamin wanita tulen beroperasi di jalan itu namum agak ke sebelah selatan dekat dengan terminal. PSK  wanita tulen juga menguasai lahan pengeruk rejeki di Jalan Gerilya sebelah barat dan timur terminal.

Jika ada yang melanggar dengan mangkal di luar area uang telah “disepakati”, bentrok pun bisa terjadi. “Ini wilayah kekuasaan kami. Banci tidak boleh cari pelanggan di sini,” sebut seorang PSK wanita yang namanya emoh dikorankan. “Bencong (waria) punya wilayah sendiri di depan Rajawali (Gedung Bioskop Rajawali 21, red),” imbul PSK yang biasa mangkal di warung makan di pinggir Jalan Gerilya.

Memang sangat sulit menemui waria yang menjual kenikmatan di Jalan Gerilya. Mereka lebih suka berjualan di remang-remang Jalan S. Parman, yang memang  menjadi kapling penjualannya. “Kita-kita  memang biasa di sini. Perempuan tidak boleh mangkal di sini karena sudah ada kesepakatan.” Ujar Kiki, waria yang saat ditemui wartawan menggunakan rok mini hitam dan tank top merah muda.

"Pokoknya kalau ada perempuan mangkal di sini, kita-kita siap melabraknya," ujarnya bersemangat. "Kita-kita memang sedikit jumlahnya dibanding dengan perempuan, tetapi kita-kita tidak takut," kata Kiki yang langsung diamini teman seprofesinya yang juga waria.

Meski waria dan wanita saling bersaing mendapatkan si pembeli, namun tidak selamanya mereka tidak bisa akur. Pada saat tertentu, mereka bisa kompak. 'Tapi bukan selamanya kita dan wanita bermusuhan terus. Kita bisa rukun kalau dalam keadaan tertekan," ujar waria yang mengaku bernama Nina, teman Kiki yang juga satu profesi.

Keadaan tertekan yang dimaksud Nina tak lain adalah saat kena razia petugas. Mereka akan saling membantu jika salah satu di antara mereka tidak punya uang untuk biaya tebus Tipiring (Tindak Pidana Ringan). "Saat kita tertangkap petugas, kita saling pinjam kalau sedang tidak punya uang," ujar waria yang juga satu indekos dengan Kiki. "Habis kalau tidak punya uang, tidak bisa keluar," sambungnya.

Mereka rela meminjami uang agar teman-teman seprofesinya bisa keluar dari jaringan petugas. Mereka sadar, pekerjaan yang digeluti tidak banyak menghasilkan berlembar-lembar uang. "Kerja semalam, biasanya hanya dapat 30 ribu. Kalau tertangkap, sekarang harus bayar 50 ribu," kata Kiki. "Biasanya petugas menangkap pada malam hari yang biasanya kita-kita belum dapat tamu," sambung waria yang doyan rokok kretek ini.

Ternyata, solidaritas itu tidak hanya mengemuka saat mereka tertangkap petugas. Kiki maupun Nina serta wanita penjual seks yang lain akan menunjukkan kebersamaan saat satu di antara mereka mendapat musibah. Salah satunya, ketika seorang waria bemama Vera alias Zainuddin harus mengalami luka yang diduga ditusuk oleh teman kencannya beberapa waktu yang lalu.

Mereka, waria maupun wanita tulen satu profesi berduyun-duyun menolong saat Vera terkapar. Mereka memberikan pertolongan dengan melarikan ke rumah sakit. "Meski terlihat bermusuhan, kita tetap saling menolong jika di antara kita ada yang mendapat musibah,'" kata Kiki yang mengaku saat itu sedang 'cuti' mangkal. "Saat kejadian itu saya sedang mengaji di rumah (kos)," celotehnya.

Seprofesi, senasib dan seperjuangan. Mungkin. itulah alasan mereka untuk tetap saling menolong, meski saat mencari mangsa harus berebut pembeli. Saat mengalami ketertindasan mereka bersatu. Namun saat mencari nafkah, mereka saling bersaing. (bersambung)

back