Koran Tempo,  Kamis, 4 Oktober 2007  

Mereka membagikan makanan sahur gratis

Sebungkus Nasi dari Kaum Pinggiran

"Bagaimana membedakan waria yang beneran dengan yang jadi-jadian," ujar Sri Sulistyanti, 70 tahun. Belasan muda-mudi yang duduk di tikar hanya saling memandang sambil menahan geli atas pertanyaan si nenek.

Ines, salah seorang waria, akhirnya memecah kebuntuan. "Kita nggak bisa salahkan mereka. Mereka jadi banci karena tuntutan ekonomi," kata Ines, yang disambut tawa rekannya yang lain.

Diskusi dadakan tersebut dilakukan di Panti Jompo Waluyo Sejati Abadi, Jalan Kramat V, Jakarta Pusat. Enam orang jompo, semuanya tahanan dan narapidana politik pada masa Orde Baru, bertanya kepada 17 anggota Arus Pelangi — komunitas lesbian, gay, biseks, dan transgender — tentang keberadaan mereka sesaat sebelum sahur akhir pekan lalu.

Anggota komunitas tersebut bersemangat menjawab pertanyaan para sepuh itu. Sangat kentara para nenek dan kakek itu masih menyisakan kemampuan intelektualnya. Terbukti beberapa potong kata yang mereka gunakan hanya dipahami mereka yang berpendidikan.

Sementara itu, anggota yang lain, yang pria, hanya bisa berceletuk sambil bergaya lemah gemulai. Adapun yang wanita, duduk selayak seorang tentara menghadap atasannya. Sebuah pemandangan yang tidak wajar atau jadi bahan tertawaan masyarakat awam. "Kami ingin menunjukkan bahwa kami sama dengan masyarakat yang lain," kata Ketua Arus Pelangi Rido Triawan.

Sebelum mengunjungi panti jompo tersebut, Rido bersama rekannya yang lain dengan menggunakan sepeda motor melakukan sahur on the road. Kegiatan ini berupa membagikan makanan sahur kepada setiap gelandangan, pemulung, dan petugas kebersihan yang mereka temui.

Pria berjanggut ini mengaku telah menyiapkan seratusan bungkusan makanan dengan menu telur, sayur, dan nasi untuk dibagikan kepada warga. Tujuannya agar warga tidak lagi asing dengan keberadaan mereka. Bahkan mereka hanya tertawa ketika segerombolan anak meneriaki mereka "bencong" di perempatan Manggarai. "Emang dasarnya bencong," ujar Ines sambil tertawa kenes.

Antoni Panjaitan, salah seorang gelandangan yang diberi nasi, mengaku tidak ragu menerima bingkisan meski yang memberi sering dianggap aneh di masyarakat. "Biar yang ngasih banci, yang penting bisa dimakan," katanya.

Rido menjelaskan kegiatan ini hanyalah bagian kecil dari bentuk perjuangan mereka agar bisa diterima masyarakat. Ia dan sekitar 300 anggota yang lain sadar jika butuh waktu yang panjang dan energi ekstra agar keberadaan mereka dianggap normal.

Ia mencontohkan komunitas gay dan lesbian di Belanda membutuhkan waktu 300 tahun memperjuangkan lahirnya undang-undang yang mengakui keberadaan mereka. Begitu juga dengan sebagian negara bagian di Amerika Serikat. Khusus untuk Indonesia, ia mengaku tidak tahu kapan peraturan itu akan lahir. "Yang penting kami su dah memulainya," katanya.

Setidaknya apa yang Rido dan rekan-rekan di pagi buta itu tidak sia-sia. Penghuni panti jompo itu tak henti-hentinya tersenyum bahagia. Rasa ingin tahu mereka tentang kehidupan gay, lesbian, dan waria tertuntaskan. "Kami bahagia kalian perhatikan meski kalian dianggap asing di masyarakat," kata Lestari, salah seorang nenek.

back