Eksperimen
Regenerasi Prosais Kalsel
(Catatan
Kompetisi Cerpen Pelajar dan Mahasiswa 2005)
Oleh
Sainul Hermawan
Berangkat
dari semangat untuk menumbuhkan gairah menulis prosa di
kalangan pelajar dan mahasiswa di Kalimantan Selatan (Kalsel),
Fakultas Keguruan dan Pendidikan (FKIP) Universitas Lambung
Mangkurat (UNLAM) bekerja sama dengan Dewan Kesenian Daerah (DKD)
Kalsel, dan Radar Banjarmasin (RB) menggelar
kompetisi menulis cerpen untul pelajar dan mahasiswa (KCPM)
se-Kalsel. Jaringan kerjasama ini berkeyakinan bahwa rekayasa
sosial untuk membudayakan membaca dan menulis sastra harus
dilakukan bersama oleh lembaga pendidikan, pemerintah, dan
media massa.
Di
era informasi seperti saat ini, media massa cetak memiliki
andil sentral dalam mendorong institusi-institusi sastra yang
lain. Media massa diharapkan memberikan ruang bagi ekspresi
sastra bagi setiap warga Kalsel yang ingin menunjukkan
eksistensi karyanya, meskipun sekali dalam sepekan. Saat ini
yang dapat dinilai memiliki komitmen itu barulah Radar
Banjarmasin yang punya rubrikasi tetap setiap edisi Minggu,
yaitu Cakrawala Sastra dan Budaya. Lebih dari sekedar
menyediakan ruang interaksi seni kata, harian ini juga turut
memprakarsai dialog antara sastrawan, pembaca awam, dan
mahasiswa bahasa dan sastra, dan kritikus sastra.
Gairah
semacam ini perlu terus disemai, dipupuk, dikembangkan agar
semua elemen yang terlibat dapat secara bersama-sama
memperoleh manfaat. Muara akhirnya adalah rekayasa positif
budaya tradisi menulis, budaya pemikiran, dalam rangka
menumbuhkembangkan semangat kearifan kultural dalam menyikapi
dominasi ruang publik yang penuh intrik, politik, depresi,
kekerasan, dan semacamnya. Setidaknya kegiatan ini dapat
diharapkan jadi upaya mengurangi stigmasi yang pernah
dilontarkan Taufik Ismail bahwa bangsa kita adalah bangsa yang
rabun membaca dan lumpuh menulis.
Sampai
hari terakhir pendaftaran naskah, terkumpul sebanyak 46 naskah
cerpen, yang ditulis oleh 36 penulis putri dan 10 penulis
putra. Jika dibanding dengan jumlah sekolah dan kampus yang
ada di Kalsel, tentu jumlah peserta sebanyak ini merefleksikan
betapa budaya menulis seni, menulis indah, menulis estetis,
belum menjadi orientasi penting pelajar dan mahasiswa.
Apalagi rentang waktu kompetisi relatif panjang yaitu
sejak akhir Mei sampai akhir September 2005, dan peserta tak
dipungut biaya apa pun. Tapi mungkin ada sebab-sebab lain
sehingga mereka terkendala untuk terlibat dalam kompetisi di
kesempatan ini. Misalnya, informasi tentang lomba ini yang
hanya disampaikan melalui RB Minggu sehingga sulit
menjangkau seluruh SMA di Kalsel. Meski demikian kenyataan ini
pun menunjukkan betapa seni sastra masih dipandang lebih
rendah daripada bentuk seni yang lain, seperti seni tari, seni
musik, dan seni rupa. Malah mungkin seni sastra masih
dipandang bukan bagian dari seni, tetapi lebih dipandang
sebagai bagian dari bahasa.
Sepuluh
cerpen yang dianggap cukup potensial diumumkan di RB
pada 9 Oktober 2005. Mereka yang berhasil masuk ke posisi 10
besar adalah Meilani Wulan Sari (MWS), pelajar SMAN 2
Banjarbaru dengan cerpen Bulan Tak Berbentuk; Putri
Kurniajinata, dari SMAN 7 Banjarmasin, dengan cerpen Cinta
Teladan?; Nina Idhiana (NI), pelajar SMA 1 Banjarbaru,
dengan cerpen Dari Sebuah Rumah Lanting; Hadiyansyah
(H), pelajar SMA 1 Banjarmasin, dengan cerpen Di
Persimpangan Jalan; Ira Setiana Khairunnisa (ISK), pelajar
SMAN 2 Banjarmasin, dengan
cerpen Natasya; Isnin Ermawati (IE) dari SMAN
2 Banjarbaru dengan
cerpen Tentang Putih dan Kekasihnya; Ria Agustina (RIA),
mahasiswa FK Unlam, dengan cerpen Aku dan Para Penghuni
Rumah; Rismiyana
(RIS) mahasiswa PBSID FKIP Unlam dengan cerpen Hanya Daun
dan Ranting; Ratih Ayuningrum (RAY), mahasiswa PBSID FKIP
Unlam, dengan cerpen Lelaki di Titik Sepi; dan F. As'ad
(FA), mahasiswa D3 English for Business FKIP Unlam, dengan
cerpen Puisi Air Mata Terakhir untuk Gie (ke-10 cerpen
ini selengkapnya dapat dibaca secara online di www.oocities.org/ejabudaya).
Dewan
juri yang terdiri atas Drs. H. Syarifuddin R (SYA), Drs. Daud
Pamungkas (DP), Drs. Jarkasi (JAR), Sandi Firly (SF), dan saya
(SH) sendiri menyaring sepuluh karya potensial tersebut
berdasarkan pada kriteria akurasi penggunaan bahasa, kebaruan
ide, dan keunikan kreatifitas. Kesepuluh cerpen tersebut
relatif luar bisa dibanding dengan cerpen-cerpen lain yang
menjadi pesaingnya dalam ketiga dimensi tersebut. Namun kesan
awal itu harus dipertanggungjawabkan oleh penulisnya di
hadapan dewan juri pada 12 Oktober 2005 di Ruang Sidang FKIP
Unlam. Pertanggungjawaban proses kreatif itu berdasar pada
asumsi bahwa sastra mustahil lahir dari kehampaan budaya. Tak
ada karya sastra yang langsung—atau tiba-tiba—jadi tanpa
jejak-jejak kepenulisan yang panjang.
Meski
demikian menentukan juara 1, 2, 3, dan juara harapan 1, 2, 3
bukanlah persoalan yang gampang dikompromikan karena setiap
dewan juri punya ukuran subyektif yang berbeda dalam memaknai
kebaruan ide dan keunikan kreatifitas. Awalnya sebagian dewan
juri hendak menyerahkan mekanisme penentuan akhir peringkat
juara pada hasil akhir skor yang merupakan akumulasi dari skor
tahap I dan skor tahap II (audiensi). Tapi ketika ada satu
saja yang tak sepakat maka dewan juri yang lain harus melayani
tawaran untuk membuka aturan bermusyawarah yang baru untuk
mencapai mufakat yang dapat diterima oleh semua anggota dewan
juri. Seandainya niatan awal itu yang mau dipakai maka yang
mengisi peringkat juara tersebut adalah Nina Idhiana (skor
akhir: 1663), Meilani Wulan Sari (skor akhir: 1608), Ratih
Ayuningrum (skor akhir: 1603), Rismiyana (skor akhir: 1596),
Isnin Ermawati (skor akhir: 1589), dan F. As’ad (skor akhir:
1564).
Pada
dasarnya semuanya sangat potensial dan dapat diberi nilai
sama, tetapi sejak awal KCPM telah menawarkan peringkat juara,
maka dewan juri harus menilai kandidat satu lebih tinggi atau
lebih rendah daripada kandidat yang lain. Ternyata cara ini
pun tak sepenuhnya berhasil dilakukan. Hampir setiap dewan
juri sempat memberikan skor yang sama pada lebih dari satu
kandidat.
Maka
berkumpullah kembali para dewan juri secara informal di kantor
PBS FKIP Unlam pada 13 Oktober 2005 untuk beradu argumen
sebelum menjatuhkan pilihan. Perdebatan berlangsung sekitar 4
jam, mulai jam 10.30 sampai jam 14.00 wita. Puasa terasa
sekali sensasinya. Setelah melewati perdebatan yang pandang,
mempersoalkan ukuran apa yang paling bijak untuk menyikapi
cerpen dan segala hal yang melingkupinya, disepakatilah
mekanisme evaluasi yang lain untuk mendudukkan kandidat pada
proporsi yang tepat, yaitu dengan meminta setiap dewan juri
untuk membuat peringkat juara menurut versi mereka
masing-masing dan dihasilkanlah tabel sebagai berikut:
|
Juara
|
Versi
Dewan Juri
|
|
SH
|
SYA
|
SF
|
DP
|
JAR
|
|
1
|
IE
|
NI
|
NI
|
ISK
|
RIS
|
|
2
|
RAY
|
RAY
|
RIS
|
NI
|
RAY
|
|
3
|
RIS
|
RIS
|
MWS
|
IE
|
NI
|
|
Harapan
1
|
NI
|
IE
|
FA
|
RAY
|
IE
|
|
Harapan
2
|
H
|
MWS
|
IE
|
MWS
|
MWS
|
|
Harapan
3
|
MWS
|
H
|
RAY
|
H
|
H
|
Tabulasi
ini menjadi panduan akhir semua dewan juri untuk tak lagi
melihat angka-angka dan tinggal melihat siapa yang secara
hierarkis menampakkan diri sebagai cerpenis yang lebih banyak
diunggulkan oleh setiap juri. Tabel tersebut menghasilkan
urutan juara sebagai berikut: NI, RAY, RIS, IE, MWS, H. Ada
perubahan yang berarti. Cerpenis H yang semula tak masuk,
berhasil mengisi posisi ke-6. Sedangkan RIA dan FA yang cukup
potensial di tabulasi awal terpaksa harus keluar dari daftar.
RIA dan FA, meskipun cerpen mereka cukup bagus, mungkin memang
laik keluar dulu karena dalam catatan proses kreatif mereka
menunjukkan keduanya sama-sama samasekali baru atau baru kali
ini mulai bereksperimen menulis cerpen atau karya sastra yang
lain. Hasil inilah yang kemudian disepakati sebagai penentu
juara KCPM 2005. Mungkin kurang memuaskan keinginan semua
pihak, tetapi ini bukan akhir dari segalanya. Rencananya KCPM
akan menjadi agenda tahunan bersama antara FKIP UNLAM, DKD
Kalsel, dan Radar Banjarmasin menyambut Bulan Bahasa.
Semoga even ini dapat jadi orientasi kreatif para pecinta
sastra di Kalsel.
NI
sebagai juara I memang baru hadir di dunia prosa. Selama ini,
mahasiswi Teknik Pertambangan UNLAM ini aktif menulis puisi
untuk beberapa antologi bersama para penyair Banjarbaru. Warna
lokal yang cukup kental dalam cerpennya membuat dua dewan juri
menganggap cerpennya cukup punya orientasi kultural yang
relatif kuat meski penulisnya sendiri melihat masih banyak
kelemahan dalam cerpennya. RAY, sebagai juara II, jika dilihat
dalam biodata yang diberikan kepada juri, memang penulis sajak
yang sangat handal. Dalam empat tahun terakhir dia telah
megikuti sekitar 6 lomba penulisan. Wajar jika kekuatan
bahasanya menjadi penyergap penting perhatian juri terhadap
cerpennya. RIS, juara III, juga penulis yang sangat tangguh.
Dia punya sekitar 6 nama samaran yang dia cantumkan dalam
tulisannya yang tersebar di banyak media. Cerpennya sangat
visioner. Dia hampir punya alasan untuk setiap detil dan
kata-kata yang digunakan dalam cerpennya.
Juara
harapan hampir seluruhnya jatuh pada siswa SMA: IE, MWS, dan
H. Ketiganya, berdasarkan biodata cerpenis muda ini, memang
telah sering mengadu karyanya di beberapa lomba. Ketiga
cerpennya unik dan tertarik pada teknik penceritaan yang
eksperimental. Meski masih SMA mereka bisa keluar dari bingkai
cerita remaja yang cenderung mengarah pada tema percintaan
yang umum. IE dan MWS dalam cerpen mereka mencoba mengangkat
tema percintaan yang “aneh.” Mereka punya argumen yang
menarik ketika ditanya latar penciptaan cerpen tersebut. H,
meski masih SMA, berani bermain dengan teknik sudut pandang
yang unik, dan dia bicara di depan dewan juri seakan tanpa
beban.
Tradisi
prosa Kalsel bisa berharap banyak kepada mereka. Semoga mereka
bisa menjadi inspirator, penggugah semangat, remaja di banua
ini untuk mengangkat pena atau menarikan jemari di atas
keyboard komputer, dan menuangkan kreatifitas seni kata,
merajut makna.
Para
juara kali ini tetap perlu belajar pada etos kreatif para
penulis besar bahwa kita perlu banyak diskusi dengan banyak
orang, perlu banyak baca, atau kalau perlu bikin kelompok baca/diskusi
dalam rangka proses kreatif, untuk membuat karya yang jauh
lebih hebat lagi. Hampir
seluruh cerpenis yang masuk sepuluh besar masih Chairil Anwar
dan Taufik Ismail minded
dalam soal puisi, dan Putu Wijaya dan Seno G. Adjidarma minded
dalam soal cerpen. Keterbatasan bacaan atau acuan semacam ini
bisa jadi merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi daya
ungkap cerpen yang masuk ke-10 besar masih cenderung klise,
kaku, bahasanya kurang imajinatif dan kurang asosiatif,
plotnya terlalu linear, tokohnya terlalu stereotipikal,
temanya agak kaparah, dan sebagainya. Bagaimanapun, Anda telah
jadi juara. Beban di pundak Anda kini bertambah. Semoga Anda
memang cerpenis-cerpenis yang kami anggap layak menyandangnya.
Mewakili dewan juri, setulusnya saya ingin mengucapkan selamat.
Terus berkarya sampai titik tinta penghabisan.
SKH
Radar Banjarmasin, 16 Oktober 2005
|