Keterasingan
dan Keintiman dalam Rumah Sastra Banjar
Oleh
Sainul Hermawan
Tulisan
Burhanuddin Soebely, “Ujar Aluh: Yang Sempit Itu Enak” (Radar
Banjarmasin, 11/09/2005) dan tulisan Setia Budhi,
“Membuang Rasa Kagum terhadap Sastra Banjar” (Radar
Banjarmasin, 18/09/2005) memberikan informasi berharga
bagi para orang asing dan para orang dalam yang juga asing
terhadap sastra Banjar mengenai sebagian kondisi mutakhir
sastra Banjar. Orang asing itu—mungkin termasuk saya—bersama
orang dalam yang asing yang juga mungkin sangat banyak
jumlahnya. Dalam hal ini asing dan intim kadang-kadang
batasnya juga remang-remang.
Idealnya,
seorang sastrawan yang telah lama menghidupkan sastra Banjar
dalam segala dimensi sistemnya kurang layak jika berlagak atau
merasa asing dengan sastra Banjar. Tapi jika tiba-tiba hal
yang kontra ideal tersebut terjadi, hal ini dapat kita pahami
sebagai sebuah bentuk keterasingan tuan rumah sastra Banjar
terhadap rumahnya sendiri.
Karena
penghuni rumahnya yang banyak, hiruk-pikuk, kurang disiplin,
meski hidup bersama di bawah satu atap, antara penghuni yang
satu dan yang lainnya tak mau tahu menahu, tak mau saling
bahu-membahu. Setiap penghuninya sibuk mengurusi
popularitasnya sendiri dengan cara pura-pura mabuk dan
pura-pura pingsan, dengan cara selingkuh kecil-kecilan dengan
penguasa, dan sebagainya.
Idealnya,
orang serumah itu musti rukun, intim, saling bisa merasakan,
saling peduli, saling asah dan asuh. Penghuni senior mestinya
mengasihi dan memotivasi penghuni yunior agar terus
mengembangkan kreativitas kesastraannya karena mereka kelak
adalah generasi penerus atau pemegang tongkat estafet sastra
Banjar yang berikutnya. Sastrawan senior dan junior, sastra
Banjar berbahasa Banjar dan sastra Banjar berbahasa Indonesia,
sastrawan kota dan pedalaman dan sastrawan kota, sastrawan dan
pembacanya, dan sebagainya mestinya harus selalu bersanding
merundingkan nasibnya di hadapan godaan globalisasi, bukan
saling bertanding untuk saling mematikan.
Kalau
hal ini dapat berjalan dengan baik, tentu setiap penghuni
rumah sastra Banjar dapat menjelaskan kepada para orang asing
yang ingin intim dengan sastra Banjar ketika orang asing
tersebut menganggap atau sedang membayangkan pasti ada sesuatu
yang sangat berharga dalam sastra Banjar.
Namun
ketika B. Soebely dan S. Budhi pun mempertanyakan sastra
Banjar secara implisit dalam nada yang mungkin agak ngepop,
“Ada apa denganmu?”, ini mengindikasikan bahwa yang merasa
asing dengan sastra Banjar bukan sepenuhnya orang asing, atau
orang-orang kota atau bukan pula orang-orang di negeri angin
yang (dibayangkan) gagah perkasa (meminjam ungkapan S. Budhi).
Jadi,
perdebatan antara guru bahasa dan sastra di pelosok negeri dan
orang-orang kota bukan semata bersifat oposisi biner
antagonistik dan absolut sehingga atribut keterasingan
persepsi terhadap sastra Banjar tak sepenuhnya dapat
disandangkan hanya kepada orang kota dan keintiman emosional
hanya dapat disandangkan kepada orang pedalaman. Keduanya
sama-sama berpeluang untuk intim sekaligus terasing dengan
sastra Banjar. Orang pedalaman masa kini sudah mudah bercinta
dengan televisi seraya mungkin sambil berkata dalam hati, “Go
to hell with Sastra Banjar!”
Di
samping itu, keintiman yang lama dan intens orang pedalaman
dengan sastranya secara psikologis juga berpeluang membuka
ruang bagi proses banalisasi persepsi, otomatisasi
atensi. Ibarat pacaran, karena terlalu intim, kedua pasangan
tersebut jadi bosan. Jadi, ada untungnya ada orang asing yang
masih mau dan mampu menjaga jarak dengan sastra Banjar,
melihat sastra Banjar secara proporsional dan tak terlalu
subyektif sehingga pada akhirnya perhatiannya terhadap sastra
Banjar tetap konstan: tidak bosan dan tak terlalu terkesan.
Kalau
saya apropriasi jawaban untuk pertanyaan S. Budhi yang
mempertanyakan kategori sastra Banjar yang mana—dari sederet
kategori panjang yang dia sebutkan dalam tulisannya—yang
sedang diperdebatkan? Pertanyaan semacam itu bagi
ramuan gembrot tentu sangat mudah dijawab dan landasan
perdebatannya terbentang luas. Persoalannya, siapa yang harus
menjawab: orang asing atau orang dalam?
Sejauh
itu perdebatan ini tidak hampa karena sumber-sumber
perdebatannya ternyata memang ada, seperti telah disinyalir
oleh B. Soebely di akhir tulisannya. Perdebatan ini juga dapat
menjadi langkah awal untuk mengagas langkah berikutnya yang
lebih programatis dalam rangka memperbaiki lahan dan habitat
untuk menegaskan identitas unikum sastra Banjar. Namun,
perdebatan ini bisa saja seketika jadi hampa jika seluruh
penghuni sastra Banjar menyikapinya sebatas obrolan sambil
lalu karena pertimbangan, yang bagi saya, aneh: pertimbangan
yang memandang ada dan tiadanya sastra Banjar tidaklah penting
bagi tuan rumahnya sendiri. Apakah ini merupakan karakteristik
ekstrinsik yang khas dari sastra Banjar?
Ramuan
Gembrot dan Salawar Urang
Definisi
sastra Banjar yang luwes, elastis, lentur, dan luas, bukan
semata dimaksudkan untuk mencaplok wilayah sastra yang bukan
bagiannya meski mungkin saja digunakan untuk itu. Tetapi
definisi luwes selalu berupaya menempatkan kesadaran dan
kewaspadaan terhadap fluiditas identitas sastra Banjar. Apakah
karya Ngarto dan NH Dini dalam kasus karyanya yang disebutkan
B. Soebely dapat dimasukkan ke dalam sastra Banjar?
Kita
lihat dulu bagaimana masyarakat sastra Banjar memposisikan
kedua karya tersebut. Jika masyarakat Banjar mengiyakan, maka
jadilah keduanya sebagai sastra Banjar. Jadi, definisi gembrot
hadir bukan dengan kesadaran singset yang menutup diri
terhadap segala kemungkinan perubahan identitas sastra Banjar.
Ia sangat akomodatif. Ia bisa menerima pandangan bahwa
sempit itu enak untuk satu hal dan belum tentu enak bagi hal
yang lain. Bagi definsi gembrot, klaim bahwa sempit itu enak
tentu sangat kontekstual, tergantung apa yang ingin
dimaksudkannya, bahkan di baliknya pernyataan itu juga bisa
berarti: sempit itu juga tak enak bagi “gairah” yang mudah
layu.
Dengan
kata lain, definisi yang luas pasti jauh dari niatan untuk
mendefinisikan sastra Banjar secara sepihak dalam pengertian
definisi sayalah yang paling benar dan yang lain keliru sama
sekali. Karena jauh dari watak sepihak, definisi yang luas
jelas tak riskan apalagi sampai dapat merendahkan sastra
Banjar.
Definisi
yang luas adalah definisi dinamis yang dapat digunakan untuk
melihat sastra Banjar dalam segala dimensinya. Bahkan definisi
yang luas tidak menafikkan definisi yang singset karena
definisi yang luas ini adalah akumulasi dari definisi-definisi
yang sempit dan sepihak. Definisi yang luas adalah medan
seleksi bagi pemungutan definisi yang relatif adekuat bagi
kepentingan tertentu.
Jadi,
sastra Banjar bisa sastra berbahasa Banjar di mana saja di
seluruh dunia, bisa pula sastra karya sastawan Banjar yang
ditulis dalam bahasa Indonesia yang diproduksi dan dikonsumsi
di Banjar (baik sebagai kategori geografis maupun sebagai
kategori kultur), dan bisa juga selain dua kategori ini, yaitu
segala sastra dalam bahasa apa saja, dikonsumsi di mana saja,
yang oleh masyarakat Banjar diklaim sebagai sastra Banjar.
Sejauh
ini lamunan saya tentang sastra Banjar mungkin tak jauh beda
dengan ruh lamunan sajak “Lamunan” karya B. Soebely dalam La
Ventre de Kandangan (2004: 200).
Sehabis
bercakap di inti diri, kukenangkan sejenak
apa-apa
yang terluput dari hidup, dan membayangkan
ke
mana perginya ruh setelah ketiadaan agar terdapat
titik
pinasti bahwa setelah saat itu masih akan ada
hidup
yang lain
Tetapi
aku tak menemukan apa-apa, kecuali segumpal
Awan
dari tanyaku yang terasa demikian asing lantaran di
tiap
ujung bayang-bayang yang datang Engkau jualah yang
meletakkan
pandang. Memperdalam Hening.
Keterasingan
orang Banjar terhadap khasanah sastranya begitu terasa
keheningannya sehingga, untuk sementara, saya bisa menyatakan,
meski tak sedikitpun berpretensi untuk menyimpulkan secara
mutlak, bahwa inti diri atau core identity sastra
Banjar adalah sastra yang hening dari atensi publiknya, baik
senimannya maupun pembacanya. Karenanya, mengharapkan guyuran
gagasan dari gumpalan awan yang dihadirkan S. Budhi adalah
harapan untuk mempertegas sudut pandang mengenai eksistensi
sastra Banjar atau sebagai salah satu sumber energi baru bagi
kebangkitan kembali sastra Banjar.
Jamal
Sang Penyair
Tetapi
niat saya untuk intim dengan sastra Banjar, dengan cara yang
saya lakukan selama ini telah dituduh sebagai sikap arogan
oleh Jamal yang merasa sebagai Mr. Big dalam—mungkin juga owner—rumah
sastra Banjar. Keinginan untuk intim yang diniatkan agar
sempat mengembangkan kebiasaan pembacaan kritis terhadap
keberadaan sastra di Banjar justeru telah dipandang sebagai
keengganan mengakui keberadaan sastra Banjar (Lihat “Masalah
Eksistensi dan Problem Pengembangan,” RB, 2/10/2005)
hanya karena pernyataan saya bahwa sastra Banjar dalam hal
tertentu bersifat agnostik: ada tetapi tidak ada.
Tetapi
tak apa-apa karena inilah satu lagi bukti dampak keterbatasan
bahasa yang saya gunakan dan keterbatasan resepsi penerimanya.
Sebenarnya permintaan Jamal dalam tulisannya agar saya
menjelaskan dengan argumen logis dan lebih realistis mengenai
maksud keagnostikan sastra Banjar telah dijawab secara logis
dan realistis oleh tulisan Jamal sendiri. Sebagian jawaban
lain juga tersampaikan secara tersirat dalam tulisan B.
Soebely dan S. Budhi.
Mari
kita lihat pada paragraf 7-9
dalam tulisan “Masalah Eksistensi....”. Ketika
Jamal mengatakan di akhir paragraf 7 bahwa kondisi sastra
Banjar jauh lebih terjepit daripada sastra Jawa dan, pada
paragraf 8, menyatakan bahwa persoalan yang dihadapi sastra Banjar menyangkut persoalan pengarang, pembaca, media
penerbitan, dan kritik sastra, serta, pada paragraf 9,
menyatakan bahwa sistem sastranya tidak kondusif, hal ini
sebuah kenyataan agnostistik bagi saya: sastra Banjar lebih
banyak berada dalam angan-angan dan nostalgia daripada dalam
kenyataan yang hidup dan meriah. Adalah “fitnah” jika saya
dianggap tak mengakui keberadaan sastra Banjar.
Bahkan
saya sangat mengakui eksistensinya dalam perspektif yang
gembrot, luwes, lentur, elastis, “tuyul”, dan (kata Jamal)
dengan cara “anak bau kencur” yang miskin pengetahuannya
soal hakikat eksistensi sastra Banjar. Saya sangat bersimpati
dengan apresiasi yang menganggap cara saya menyikapi sastra
Banjar seperti ini sebagai salah satu bentuk upaya untuk
berpartisaspi dalam pengembangannya. Tetapi cara fitness
pikiran gembrot saya memang tidak saya tujukan untuk mencapai
kesingsetan yang kekar dan perkasa pada akhirnya. Ya, ini
sekedar cara hidup sehat dengan mensyukuri karunia Tuhan: otak,
hati, mata, dan jemari. Jika niat ini pun disalahpahami, ya
terserah.
Begitu
pula dengan pertanyaan Jamal soal parameter keberadaan sastra
Banjar sebenarnya juga sudah dijawab sendiri olehnya dalam
tulisan itu: parameternya bukan semata soal kuantitatif dan
kualitatif, melainkan juga soal sistemik dan programatikanya
(meminjam istilah B. Soebely). Jadi, ketika semua itu ada pada
sastra Banjar berarti secara kaffah sastra Banjar
memang ada, tetapi jika hanya ada sebagian, maka keberadaannya
berarti agnostik: ada, tapi sebagian (kalau tak bisa dikatakan
sudah benar-benar lenyap dan belum berganti). Dalam
tulisan-tulisan sebelumnya Jamal seringkali melakukan hal
semacam ini: pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada orang
lain sudah dijawabnya sendiri sehingga orang lain tak perlu
lagi menjawabnya meskipun pertanyaannya sebenarnya bukan
pertanyaan retoris.
Apapun
keputusan publik sastra tentang polemik ini, dialektika
tulisan saya dan Jamal, serta tulisan-tulisan lainnya baik
yang sudah maupun yang akan muncul, akan saya kenang sebagai
sebentuk “percintaan klasik” antara akademisi sastra dan
sastrawan sambil merenungkan sajak “Jangan Bercinta dengan
Penyair” karya Faiizi L. Kaelan (2003: 27).
Aku
menghuni sunyimu
dengan
simponi angin mengiringi pencari kayu
engkau
melambung ke angkasa
langit
yang entah berbatas mana
lalu,
kutitikkan untukmu puisi:
setetes
madu lebah putih
dari
rimba tempat Arjuna mengelana
“Aku
kekasih paling kekasih,”
begitulah
bisikan penyair
tapi
karena engkau terlanjur percaya
pada
kata-kata para pujangga zaman romantik
maka
tak juga jera
engkau
menjadi yang kesekian,
yang
keberapa
Sekarang,
bilang!
“Aku
musuh penyair, aku musuh penyair
mereka
yang lahir dan mati di taman bunga
tanpa
pernah tahu, kalau dunia ini sepenuhnya neraka!”
Sekarang,
katakan!
bahwa
cinta adalah Rahwana
dan
Shinta tak pernah lahir untuk Rama
bertualanglah
dengan siapa
sampai
engkau merasa yakin
bahwa
selain aku,
semua
yang membual padamu
adalah
bajingan!
Karena
keintiman percintaan, mungkin, seperti dalam sajak ini, sang
penyair merasa sah-sah saja menggunakan “licentia poetica”-nya
sebagai “pemilik asli” sastra Banjar untuk sarik
pada siapa saja yang mau mengusik keotentikan romantiknya.
Nuansa semacam inilah yang sangat terefleksikan dengan kentara
pada paragraf 5 tulisan Jamal. Mereka yang asing, berlogika
tuyul, bajingan dan bau kencur dalam soal sastra Banjar,
silahkan minggir. So, who is the most arrogant and
unrealistic? Selamat berpuasa, mohon maaf lahir dan batin.
SKH
Radar Banjarmasin, 23 Oktober 2005
|