|
Leon Audio Speaker Design
|
|
|
Audio Terminology Audio merupakan kata yang paling populer saat ini, tetapi tidak banyak yang memahami pengertian yang lebih mendalam. Beberapa faktor penghambat dalam usaha pemahaman masyarakat terhadap audio al: miskinnya literatur dan informasi yang benar dan bertanggung jawab tentang audio, sebagian orang memperolehnya dari majalah audio, sebagian lagi dari pedagang barang audio, sebagian lagi dengar-dengar dari orang lain, dst, dan sangat sedikit sekali yang benar-benar belajar dari buku khusus audio. Kalaupun ada kadang kadang kita jumpai , seringkali terlalu banyak dipoles dengan istilah-istilah canggih sampai orang jadi bingung dibuatnya. Terjemahan kata audio sendiri sebenarnya hanyalah bunyi/suara, jadi belum tentu merupakan alat elektronik, tetapi dalam konteks ini yang dimaksudkan adalah perangkat elektronik audio yang bekerja pada rentang frekuensi 20 - 20.000 Hertz.Perangkat audio bila disederhanakan, dapat kita bagi menjadi tiga bagian, yang pertama adalah sumber bunyi (tape, cd, ph, tuner, dll), selanjutnya prosesor dan penguat (pre-amp, tone control, equalizer, amplifier dll) , dan yang terakhir adalah alat reproduksi suara (speaker). Apabila kita analogikan pada manusia, maka dapat digambarkan sbb: bakat dan inspirasi kita analogikan sebagai sumber bunyi, paru-paru/nafas sebagai penguat, dan pita suara/bibir sebagai alat reproduksi suara, maka dapatlah anda bayangkan, bila seseorang dengan bakat luar biasa, nafas bak nafas kuda, tetapi sayangnya sedang sakit gigi, bagaimana bunyi yang akan dihasilkannya? Atau seseorang dengan bibir bagus dan pita suara bak buluh perindu dilengkapi pula dengan bakat luar biasa, rasanya juga tidak dapat diharapkan bila nafasnya pendek, bukan? Dan bila kita kembali lagi ke audio, seperti analogi sederhana diatas, hal yang sama berlaku pula untuk perangkat audio yang anda miliki, kesimpulannya, kekurangan pada satu bagian saja dari mata rantai audio akan sangat berpengaruh terhadap hasil akhir system yang bersangkutan, artinya merk terkenal dan mahal tidak menjamin bila tidak didukung oleh perangkat lainnya. Analogi yang lain : kita semua tahu Vetsin adalah penyedap rasa masakan, tetapi tidaklah berarti dengan menambahkan terus-menerus vetsin tadi kedalam masakan, maka masakan akan menjadi lebih enak, malahan mungkin akan mengakibatkan orang sakit, atau bumbu yang semua mahal dan barang impor, ditangan seseorang yang tidak mengerti masak-memasak rasanya akan sulit dapat dinikmati orang lain hasil masakannya. Sebaliknya, tidak sedikit kita jumpai masakan yang sangat lezat walaupun dengan bumbu sederhana dan seadanya. Kesimpulan dari analogi diatas juga berlaku sama terhadap perangakat audio, yang mana ketepatan komposisi dari masing-masing elemen ternyata jauh lebih penting dan menentukan, dari sekedar merk impor atau lokal dan mahalnya harga. High-end Audio Menurut pendapat saya, karena audio merupakan produk dari suatu teknologi , maka pemahaman terhadapnya juga selayaknya dilandasi ratio dan logika, tidak sekedar fanatisme membabi buta dan pensakralan yang berlebihan. Kegandrungan terhadap perangkat audio High-end di Indonesia juga bertumbuh pesat terutama pada masa sebelum krisis ekonomi, baik di Home Audio, Car Audio, Home Theater, dll, tetapi menurut pandangan saya, kecenderungan tsb lebih mengarah pada mengumpulkan dan mengkoleksi produk dan merk. Menurut pendapatt anda manakah yang akan terdengar lebih bagus, seumpamanya Celine Dion kebetulan bersedia anda ajak jalan-jalan bermobil dan duduk disamping anda sambil menyanyi, bila dibandingkan dengan suara Celine Dion yang direpro oleh Sound system mobil anda yang tergolong high-end? Atau suara Julio Iglesias yang bernyanyi secara live diruang tamu rumah anda, bila dibandingkan suara rekaman cd beliau yang direpro oleh perangkat high-end anda diruang yang sama? Kalaupun kita asumsikan perangkat audio anda benar-benar high-end dan mampu merepro 100% akurat, maka hampir dapat dipastikan hasil repro rekaman akan bersuara lebih baik dari penyanyi aslinya sekalipun, dan bila sama baikpun hanya mungkin terjadi bila kondisi dan keadaan ruangan tadi identik dengan ruangan studio tempat rekaman itu dibuat.Rasanya juga sukar dipercaya bila suara Krisdayanti yang bernyanyi dipanggung 17 Agustus di RT anda akan lebih baik dari pada beliau bernyanyi di panggung Indosiar, kesimpulannya , dari semua keadaan tersebut ternyata faktor media/tempat dalam hal ini kondisi ruang sangat berperan penting. Tetapi sayangnya, bahkan majalah audio yang terkemuka di negeri ini dalam meliput system high-end orang ,lebih sibuk menguraikan urutan perangkat lengkap dengan merk dan type dengan nomor urut segala, dan hampir tidak pernah membahas mengenai ruangannya. Audio di Indonesia Pada sebuah artikel dimajalah audio, pernah seorang tokoh dan pakar audio menyatakan dengan entengnya, bahwa perkembangan audio di Indonesia pasca krisis ekonomi masih cukup menggembirakan, tetapi mungkin beliau sekedar menyimpulkan dari data penjualan produk audio di Indonesia, tanpa melirik sedikitpun pada data produsen/pengusaha audio yang satu persatu berguguran baik yang besar maupun kecil. Indonesia rasanya memang layak mendapat penghargaan untuk bidang audio, bila kriteria penilaian adalah dalam hal mengkonsumsi, tetapi kalau dalam hal memproduksi mungkin malah perlu diratapi. Kesimpulannya, ternyata perkembangan yang pesat dari audio di Indonesia tadi ternyata baru dapat dirasakan manfaat dan keuntungannya oleh golongan yang memperdagangkannya atu mengimpornya, sementara bagi konsumennya rasanya masih lebih banyak dirugikan dari pada diuntungkan. Maka tidak heran bila umumnya masyarakat memandang audio sebagai hobby mahal, dan hobby orang-orang yang kelebihan duit, tentu saja pandangan tersebut benar bila seseorang harus mengeluarkan biaya tanpa hasil yang pasti, atau kalaupun didapat hasil yang memuaskan umumnya setelah mengeluarkan biaya yang jauh lebih besar dari hasil yang diperoleh, seperti gonta ganti perangkat, atau project speaker atau rakitan amplifier yang tak pernah final,dst. yang semuanya itu akibat minimnya informasi yang bertanggung jawab yang merupakan kewajiban produsen barang/jasa audio itu sendiri, karena kewajiban konsumen hanyalah membayar. Tak dapat pula dipungkiri, bahwa di Indonesia juga banyak terdapat pakar audio, pakar speaker, pakar dll, dst, tetapi yang mengherankan mengapa di Indonesia sangat sulit diperoleh informasi yang benar tentang audio? Khususnya tentang speaker design, anda tidak akan pernah dapat menemukan buku atau makalah karangan segudang pakar tadi bahkan ditoko buku terbesar di Jakarta sekalipun, apalagi didaerah lain di Indonesia. Oleh karena itu, tidak terlalu salah bila dari kenyataan tsb diatas kita dapat menarik kesimpulan bahwa ternyata pakar-pakar tersebut lebih berpihak pada golongan pedagang/pengusaha dari pada kepada konsumen yang notabene adalah pencinta audio yang walaupun tidak langsung telah menobatkan mereka dengan pengakuan, dan ternyata pihak yang berkepentingan terhadap audio tersebut ternyata lebih menginginkan konsumen/pencinta audio itu untuk tidak usah tahu terlalu banyak Prospek Bisnis Audio di Indonesia Adalah suatu kenyataan bahwa orang Indonesia merupakan pencinta produk elektronik, mulai dari perangkat rumah tangga/dapur, game, audio visual dll, dan tampaknya tidak mungkin akan menyurut apalagi bila AFTA diberlakukan tahun depan dimana barang dari luar akan semakin mudah masuk kewilayah Indonesia yang otomatis juga akan menjadi lebih murah. Dalam konteks audio, sebagai pencinta audio dan orang Indonesia, saya merasa berkewajiban agar manfaat diatas tadi bukan hanya dirasakan oleh konsumen tetapi paling tidak menyentuh juga kalangan produsen lokal kita dimana saya juga termasuk salah satu diantaranya. Tetapi kita juga harus realistis, bahwa dalam mata rantai audio ini, ada bagian yang sudah terlambat untuk dapat kita sentuh, al yang berkaitan dengan elektronika dan komponen elektronika, yang saat ini didominasi oleh produk luar terutama RRC. Rasanya akan terlalu berat bila kita membuat produk elektronika yang 98% komponennya dari RRC, sementara produk sejenis yang sudah jadi buatan RRC juga turut bersaing dipasar, sekarang saja sudah berat apalagi pasca AFTA nanti. Masih segar dalam ingatan kita dengan meriahnya produksi lokal speaker aktif di Indonesia 2 tahunan terakhir ini, tetapi belakangan mulai tersapu oleh produk sejenis buatan RRC, dan akibatnya tidak sedikit produsen lokal yang sudah gulung tikar, akibat tidak mampu bersaing harga. Bahkan saat ini banyak diantaranya yang memasang iklan di koran-koran menawarkan pelayanan siap antar door to door, yang dimaksudkan dengan memperpendek mata rantai penjualan diharapkan harga akan masih kompetitif. Pukulan lebih besar muncul belakangan, dengan semakin membanjirnya amplifier ex RRC yang sudah dapat dibawa pulang dengan uang Rp 250.000,- , yang bahkan hampir semua toko elektronik di kota setingkat kecamatanpun ikut beramai-ramai menjualnya, dan tentu saja tidak mungkin toko-toko tersebut mau menjual barang-barang tersebut kalau demand dari konsumennya rendah. Dan kita juga maklum, toh orang tidak akan membeli sebuah amplifier untuk dipasangkan pada speaker aktif bukan? Kesimpulannya, besar kemungkinan masa kejayaan speaker aktif pada waktu lalu akibat harga amplifier yang pada waktu itu masih cukup mahal, sementara dengan semakin murahnya harga amplifier pada saat ini, hampir dapat dipastikan masa depan speaker aktif tsb sudah tinggal kenangan, dan peluang yang masih tinggal adalah speaker pasif yang cukup baik dan murah, dan hal tersebut masih mungkin dilakukan dengan pengetahuan dan keterampilan yang lebih baik, karena untuk dapat menghasilkan speaker yang baik tetapi murah tentu saja diperlukan keahlian lebih . Seorang pakar speaker yang juga memproduksi speaker High-end pernah mengeluh pada saya akan rendahnya selera dan pengetahuan masyarakat Indonesia terhadap speaker yang berkualitas, sehingga dia harus mengekspor speaker buatannya itu ke luar negeri agar produksi masih bisa berjalan. Menurut pendapat saya, hal tersebut wajar saja terjadi, karena minimnya pengetahuan masyarakat rata-rata terhadap audio yang benar, karena bagaimana mungkin tuntutan orang akan meningkat terhadap kualitas sementara mereka tidak tahu kriteria speaker yang berkualitas. Seperti yang telah saya singgung sebelumnya, sudah waktunya para para pakar dan media tadi juga mendidik masyarakat dengan pengetahuan yang benar disamping menjual produknya, karena hanya yang tahu lebih banyak sajalah yang akan menuntut lebih banyak, dan mulai menghargai dan membutuhkan karya mereka tadi, dan bila tidak mampu untuk adu murah, mengapa tidak adu bagus. Anda dapat bayangkan bila dimasa mendatang, seorang konsumen car audio, atau home audio mendatangi tempat usaha audio dan meminta dibuatkan subwoofer dengan besar box tidak lebih dari sekian, dengan F-3db minimal sekian, spl/1w/1m minimal sekian, system menggunakan 4th atau 6th order Bandpass, dst, maka agaknya hanya segelintir saja jasa audio yang mau melayaninya dengan senang hati, yaitu yang tahu dan menguasai betul akan bidang yang digelutinya..
|
|
Send mail to
leonaudio@telkom.net
with
questions or comments about this web site. Copyright © 2002 Leon Audio Research Last modified:March 21, 2002
|